Cinta Wanita Kumal

Cinta Wanita Kumal
Key Card


__ADS_3

"Akkkhhhh."


Teriakan melengking tajam, pisau yang di genggam Elizabeth tengah di rebut paksa oleh lelaki buruk rupa, telapak tangannya tergores dan berdarah. Tetapi karena gerakan itu akhirnya Elizabeth dapat melarikan diri. Pintu kamar di dorong Elizabeth dan tertutup hingga terdengar suara 'Blamm'


Lelaki itu membuka pintu dengan kasar berlari dan melompat mengejar Elizabeth. Lelaki itu tiba tiba berdiri mematung, dia hanya menggunakan ****** ******** yang kumal, jaket maupun kaos dan juga celana panjang sudah di tanggalkannya. Kulitnya yang penuh tato dan berminyak penuh buliran keringat. Rambut lepek tak tersentuh air beberapa hari. Matanya terlihat helaian helain serabut warna merah, dan warna merah itu semakin lama menjalar dan memenuhi matanya. Matanya berubah menjadi merah darah.


Nafsu birahi memenuhi otaknya, ingin sekali menikmati tubuh wanita di depannya. Wanita milik Kendrick, dia akan melakukan pembalasan setimpal. Masa bodoh apakah ini wanita bayaran ataukah bukan. Setidaknya wanita di depannya bisa menghangatkan tubuhnya. Dia sudah tak memikirkan lagi uang incarannya atau serbuk haramnya, matanya sudah tertutup napsu.


Lelaki itu merobohkan dua kursi makan kecil kemudian menyingkirkan meja makan yang ada di hadapannya.


'Blam'


Suaranya cukup keras sayangnya tidak ada yang mendengar atau memang tidak ada yang perduli.


Lelaki itu semakin mendekat dan mendekat, bau alkohol dan keringat melebur jadi satu, jika saja keadaan normal Elizabeth akan lari terbirit birit mendapati aroma yang tak sedap seperti itu.


Elizabeth beringsut dan semakin terpojok, Eli semakin pasrah tak berdaya. Bibirnya tanpa sengaja bergumam 'Kendrick tolong aku'.


Lelaki itu berhasil mendorong Elizabeth hingga terjerembab ke belakang, kepala Elizabeth terantuk ujung meja yang terbalik. Tangan dan tubuhnya sudah mati rasa dia kembali pingsan, luka di telapak tangannya mengalir darah segar dan membasahi seluruh lantai, sebagian rambut di kepalanya terlepas. Pakaian yang di kenakannya tak karuan. Lelaki itu semakin beringas melepas kain yang membekas di seluruh tubuh Elizabeth.


Sementara itu Di club malam D'Oreon hingar bingar dunia malam semakin terasa, baru saja Kendrick meninggalkan Elizabeth dengan perasaan kesalnya. Sebenarnya mereka sudah berbaikan hanya saja Kendrick merasakan kalau Elizabeth sedikit berubah, atau memang sebenarnya sifat aslinya seperti itu. Elizabeth hanya mengukur segalanya dengan uang. Ambisinya sangat besar, mengapa tidak sadar diri? Gumam Kendrick.


Kendrick baru saja melakukan pelepasan dengan wanita pendatang baru di club ini. Wanita yang masih muda dan biasanya wanita pendatang baru tidak di perbolehkan menerima tamu lain sampai Kendrick bosan.


Keringat masih membanjiri kulitnya, kepuasan masih terpancar di wajahnya. Kendrick meraih ponsel dan melihat beberapa panggilan hanya saja yang membuatnya heran, mengapa Elizabeth tidak pernah mengubunginya kembali? Sebenarnya beberapa saat yang lalu dia menghubungi Elizabeth tetapi tidak ada jawaban, melirik jam yang ada di tangannya sudah tepat di angka dua belas.

__ADS_1


Kendrick merasa ini terlalu malam, dan mungkin juga sudah tidur. Kendrick kembali memakai celana jins biru dan kemeja putihnya, lengan yang tergulung rapi dan sesaat kemudian dia merasakan ada yang hilang tetapi entah apa itu dan dia merasa janggal. Kendrick kembali di kursi yang menyerupai ruang kantor, pengawal marco memberikan sebotol anggur dan gelas kosong.


"Bagaimana hari ini?" Tanya Kendrick dengan suara khasnya yang serak.


"Semua lancar bos."


Keduanya terdiam, Marco berdiri di depan meja kerja Kendrick kemudian menuangkan anggur ke dalam gelas kosong tersebut. Tanpa sengaja anggur itu terciprat sedikit di kemeja putih Kendrick, dengan sigap Kendrick berdiri dan mengibaskan tangan di kemeja putih miliknya. Seketika ingatannya kembali.


"Key kard!"


Key card tidak ada di kemejanya, Kendrick berusaha mengingat di mana dia menjatuhkannya. Marco paham berlari ke kamar Vip yang di kususkan untuk Kendrick. Membuka kain selimut berwarna merah yang masih berantakan dan mencarinya di sudut bahkan di kolong tempat tidur. Tetap tidak ada.


Kendrick teringat seseorang yang menabraknya.


"Kurang ajar!"


"Bos di sini."


Kendrick memasuki mobil dan Marco mengendarainya.


"Ke apartemen!"


"Baik."


Marco menyetir mobil operasional dengan kecepatan penuh, bahkan marco tidak tau apa yang terjadi dengan bosnya. Kenapa bisa panik hanya karena key card?

__ADS_1


Sebenarnya ketakutan Kendrick sangat berdasar, saat memasuki club sore tadi, pengunjung mulai berdatangan, seseorang mengenakan jins warna hitam dengan kemeja abu abu dan jaket coklat, wajahnya tidak terlihat karena menggunakan topi yang menutup sebagian wajahnya.


Lelaki itu tidak mengatakan 'Maaf' hanya menganggukkan kepala dan segera pergi berlalu. Awalnya Kendrick merasa kejadian itu tidaklah di sengaja, tetapi sekarang Kendrick baru menyadari kalau ternyata lelaki itu melakukannya dengan unsur kesengajaan.


"Bisa lebih kencang?"


"Ini sudah ngebut bos. Kalau aku tambahin kecepatannya kita yang akan masuk rumah sakit."


Kendrick beberapa kali mengumpat. Merutuki kebodohannya. Biasanya dia tidak pernah membawa key card, dia cukup menekan nomor sandi ulang tahunnya. Tapi kenapa saat melihat key card di atas meja rias dia langsung memasukkan key card itu ke dalam kantongnya.


Udara malam begitu mencekam. Langit membentangkan awannya yang berwarna putih kelabu. Sedikit lagi mobil memasuki kawasan apartemen, sayangnya terjadi kecelakaan di persimpangan jalan. Kendrick mengacak rambutnya dengan kasar.


"Berhenti. Tepikan mobil, biar aku berjalan saja."


"Tapi bos, sedikit lagi."


"Cepat hentikan mobil ini, brengsek!"


Marco terkejut, Kendrick memiliki hati dingin dan tidak pernah bekata kasar. Tetapi kenapa bisa mengucapkan kata kata seperti itu.


"Baik bos."


Marco mengurangi kecepatan dan meminggirkan mobilnya, kendrick tidak sabar, bahkan sebelum mobil itu belum benar benar berhenti dia sudah membuka pintu dan keluar. Marco melihat dengan terheran heran.


Kendrick berlari tanpa melihat apapun yang ada di depannya. Bahkan security check pun dia tidak menghiraukannya. Untung saja semua satpam sudah mengenalnya sehingga mereka membiarkan Kendrick melewati pintu masuk.

__ADS_1


Lift begitu lama, berkali kali Kendrick menekan angka pada tombol pintu lift. Kendrick sudah tidak sabar menunggu lift. Akhirnya dengan kekuatan yang tersisa karena baru saja dia berlari, Kendrick menaiki anak tangga. Apartemennya di lantai lima belas. Setiap dua lantai Kendrick berhenti untuk menarik napas dan mengambil jeda sejenak. Jantungnya seakan berpacu kencang. Tiba di depan kamar apartemennya, dengan tangan gemetar Kendrick menekan angka yang ada di pintu. Karena ke gugupannya angka yang di tekan selalu salah. Tetapi setelah tujuh kali akhirnya pintu itu terbuka. Pertama kali yang di lihatnya adalah ruangan yang berantakan, melalui cahaya lampu lorong terlihat telah terjadi sesuatu. Suasana sepi tidak ada suara apapun yang terdengar. Kendrick mencari saklar lampu dan terlihatlah pemandangan yang mengerikan. Di belakangnya Marco dan seorang satpam berdiri mematung. Bahkan mereka ngeri melihat ceceran darah yang menggenang di seluruh lantai.


Trimakasih yang menyukai novelku. Untuk menghargai para penulis jangan ada plagiat ya. Jangan lupa like Komen dan Vote. Trimakasih.


__ADS_2