
Kendrick duduk di atas kursi taman, dia memandang Marco yang tengah menyiksa anak buahnya. Pukulan dan tendangan silih berganti, mereka tidak berani berteriak kesakitan.
Kegagalan anak buahnya dalam mengejar anak buah Jade tentu menampar muka Kendrick. Kendrick meludah kasar, menatap semua anak buah Marco satu per satu.
"Tunjukkan satu dari kalian yang bertanggung jawab sore tadi!" Semua saling menatap, apa selanjutnya yang di perbuat Kendrick? Membunuh satu persatu atau membebaskannya. Semua saling pandang dan bingung, kecuali satu orang yang selalu menghindari tatapan Kendrick dan Matheo. Bahkan seolah olah dia rela mengorbankan temannya.
"Hai kau." Tunjuk Kendrick.
"Siap bos." Jawab pengawal jangkung.
"Saat nona Elizabeth pergi siapa yang bertugas menjaga gerbang?" Pertanyaan jebakan Kendrick.
"Bukan saya bos, saya tengah berasa di kastil timur." Jawab pria jangkung itu. Kemudian Kendrick memanggil Marco, Marco mendekat, kepalan tangannya terlihat berdarah.
"Marco selidiki dia sampai mengaku." Perintah Kendrick, dia tidak mungkin menolak perintah Kendrick tentu bosnya memiliki alasan tersendiri hingga menuduh pria jangkung itu.
"Bos kenapa dia? Loyalitasnya tidak mungkin di ragukan lagi." Bantah Marco setengah membela.
"Tapi jika dengan iming iming uang oleh seseorang? Kamu keberatan?" Tanya Kendrick dengan wajah marah.
"Tentu tidak bos." Jawab Marco sungkan.
Marco menyeret salah satu pengawal yang di maksud Kendrick. Menyeretnya ke dalam gudang yang telah lama kosong. Bukan Marco lagi yang menyiksa tapi algojo yang di persiapkan untuk eksekusi. Pengawal itu mencoba meronta tapi percuma saja, Marco dan pengawal yang lain membelitnya.
"Jalan!" Teriak Marco sambil menendang pengawal jangkung itu.
Marco manusia terganas setelah Kendrick, beberapa orang bayaran sudah menuju wilayah timur.
"Hancurkan proyek Cahaya Timur, ratakan dan bumi hanguskan." Perintah Marco kepada orang bayaran. Jade sudah melanggar perjanjian, dengan menginjakkan kaki ke wilayah Barat, maka sama juga Jade menantang. Kendrick akan memotong satu kakinya agar tidak bisa berulah, yaitu kerja sama bisnis. Bisnis yang di tengahi oleh penguasa timur.
Bagi Kendrick tidak masalah kehilangan satu proyek kerjasama, karena uang yang di miliki sangatlah banyak. Lain halnya dengan Jade, proyek Cahaya Timur adalah salah satu sumber utama keuangannya. Kendrick memantau dari satelit yang di sewanya dari pemerintahan. Dia melihat layar besar berisi gambar bergerak, gambar tentang kehancuran proyek Cahaya Timur, tampak senyum kepuasan di sudut bibirnya.
"Marco kamu cerdas." Puji Kendrick. Bagi Ke duanya menghancurkan satu proyek adalah hal mudah.
Tampak pada layar pusat pertokoan dan perkantoran Cahaya Timur ludes terbakar. kepanikan pekerja dan pengunjung juga terlihat. Tidak ada rasa kasihanpun di mata Kendrick, sejujurnya dari awal dia memang tidak tertarik proyek ini hanya saja penguasa timur merayu mengajak kerjasama. Awalnya sedikit keberatan karena dia juga mengajak Jade di dalam proyek itu. Tetapi karena sebagian uangnya sudah masuk maka proyek di lanjutkan, sekarang Kendrick tidak butuh lagi proyek itu, di samping banyak kebocoran dana, juga ada Jade di dalamnya.
Bos mafia wilayah timur menghubungi Kendrick, menanyakan perihal musnahnya proyek Cahaya Timur, tapi sekali lagi Kendrick menanggapinya dengan ringan.
"Kamu salah memilih partner." Jawab Kendrick, dia tidak perduli lagi dengan kekacauan yang di lancarkan di wilayah timur.
"Aku akan mengganti kerugianmu dengan proyek baru yang ada di wilayahku, dengan catatan, aku mengatur mitra bisnismu. Semua melewati satu pintu. Paham!"
__ADS_1
Tentu saja ucapan Kendrick seperti angin surga, buat sang mafia timur, mengganti proyek baru di tempat strategis pula.
Kemudian Kendrick menutup hubungan telepon secara sepihak, dia tidak tertarik lagi dengan kepala mafia timur. Dia lebih tertarik dengan seorang wanita yang berjalan mendekatinya.
Kendrick memanjangkan kakinya di atas kursi rotan yang ada di teras, melihat Elizabeth yang datang mendekatinya, langkahnya bak harimau kelaparan sungguh memiliki daya tarik tersendiri.
Kendrick melihat Elizabeth mendekat, ada senyum kesenangan di sana. Dia puas sudah membawa pulang Elizabeth.
"Kendrick." sapa Elizabeth lirih.
"Duduklah." Ucap Kendrick sambil menepuk nepuk kursi rotan yang ada di sampingnya. Elizabeth menuruti isyarat Kendrick. Cuaca yang cerah menambah keromantisan ke duanya.
"Ada apa?" Tanya Kendrick, kemudian jari tangannya menyisir anak rambut Elizabeth, menyibakkannya dan menyelipkannya ke belakang telinga.
"Aku... ingin menanyakan sesuatu." Bisik Elizabeth.
"Tentang?" Tanya Kendrick dengan suara seraknya.
"Sesuatu yang mungkin membuatmu marah."
"Ok kalau begitu jangan katakan."
Eluzabeth menatap manik mata Kendrick, ada ke sedihan yang sama dengan matanya.
"Kalau begitu cepat katakan saja."
Elizabeth masih terdiam, menundukkan kepala seolah ragu.
"Tentang Carlos Eman." Ucap Elizabeth menjeda, dia nampak menarik wajahnya semakin ke dalam.
"Hmmm." Kendrick mulai tau arah pembicaraan Elizabth.
"Apa benar aku anak hasil perselingkuhan mama dengan Carlos Eman?"
"Siapa yang mengatakannya padamu?" Tanya Kendrick sambil mencubit dagu Elizabeth.
"Jade." Jawab Rlizabeth ragu akan kemarahan Kendrick.
"Untuk kali ini ucapan Jade benar. Dan hubungan Jade denganmu tidak ada sama sekali, dia anak adopsi Carlos."
"Saat itu menurut cerita Diego aku menikah dengan Carlos."
__ADS_1
"Ya di gagalkan Diego, kamu patut berterima kasih padanya dan saat ini kamu tau Diego ada di mana? Dia berlibur di Madred, dia sudah sembuh dari penyakitnya."
"Lalu mamaku?"
"Hmmm" Jawab Kendrick sambil menganggukkan kepalanya.
"Mamamu ada bersama Jade, dia bekerja sama untuk menikahkanmu dengan Jade."
"Apa kamu kesal?" Selidik Elizabeth seolah menakar kadar kecemburuan Kendrick.
"Kesal? Tentu saja, karena Jade mencoba merebut milikku. Aku tidak suka berbagi barang dengan orang lain."
'Barang' Elizabeth hanya di anggap barang oleh Kendrick dan setelah bosan dia akan membeli yang baru, jika rusak dia akan membuangnya.
Elizabeth tidak seberani Julia sahabatnya, akan menentang jika tidak menyukainya. tetapi Elizabeth lebih memilih memendam perasaannya.
Minggu ini berjalan dengan santai, semua berjalan dengan semestinya hingga suatu siang ponsel Elizabeth berdering, nampak nomer yang tidak di kenal. Awalnya Elizabeth mengabaikannya hingga dering ke tiga akhirnya Elizabeth menyerah.
"Hallo, siapa?" Elizabeth.
"Tentunya kamu masih merindukan aku bukan?" Jade.
"Masih kurang yang sudah di lakukan Kendrick padamu?" Elizabeth.
"Maksud kamu proyek Cahaya Timur?" Jade.
Elizabeth tidak menjawab, masih menunggu reaksi lawan bicaranya.
"Bukan hal besar, masih banyak pundi uang yang bisa aku dapatkan, kamu datang saja ke selatan." Jade.
"Dalam mimpi!" Elizabeth.
"Ok tidak masalah, oh iya kamu tidak ingin berkenalan dengan ayah angkatku tercinta?" Jade.
"Aku sudah mengenalnya."
"oh, bagus. Masalahnya saat ini Carlos dan Luci tengah berbulan madu di tengah hutan." Jade menyindir.
"Bukan urusanku." Elizabeth tidak perduli dengan Carlos dan Eman, bahkan dia malu mengakui memiliki mama seperti Luci.
"Tolong sampaikan pada Kendrick kalau Carlos dan Eva tengah tidur bersama besi rongsokannya." Kemudian Jade tertawa kemudian menutup sambungan telepon.
__ADS_1
Elizabeth tidak tenang, dia harus mengatakan ini kepada Kendrick.