Cinta Wanita Kumal

Cinta Wanita Kumal
Sekali Lagi Di Korbankan


__ADS_3

Perdebatan antara Luci dan Carlos berlangsung lama. Tapi seperti biasa Carlos akan tetap mengalah, karena bagaimanapun juga Luci adalah wanita yang sangat di cintainya.


Hari sudah menjelang sore, Elizabeth mempersiapkan diri untuk pergi ke rumah sakit. Jadwal yang sudah di janjikan dokter adalah satu jam lagi, dia sudah tidak sabar, apa lukanya sangat parah? Elizabeth masih menunggu Jade, Luci dan Carlos.


Elizabeth memakai setelan rok selutut berwarna putih, terlihat anggun dan rapi.


Di belakangnya Sosa berdiri, ke dua tangannya menggenggam erat dorongan kursi roda. Cukup lama keduanya menanti. Hingga akhirnya terdengar langkah kaki mendekat. Sosa mundur ke belakang, memberikan tempat buat majikannya yaitu tuan Jade.


Jade mendorong kursi roda milik Elizabeth, menuju area parkir mobil di kastil milik Carlos. Ada perasaan asing di hati Elizabeth.


Luci menunjukkan wajah senang dan bangga melihat kedekatan Jade Eman dan Elizabeth. Demikian juga dengan Carlos, tak di pungkiri walaupun dia mengasihani putri semata wayangnya yang baru di temuinya, tetap saja Carlos lebih takut kehilangan akan hartanya.


Dulu dia tidak berpikir menyerahkan bisnis swalayan kepada Jade, tetapi setelah kemunculan Luci, dia mulai berpikir akan lebih baik jika putrinya juga mendapatkannya.


Sementara itu Jade paham akan niatan Carlos dan Luci. Dia juga bukan laki laki baik. Menganggap Elizabeth sebagai alat demi melancarkan niatnya, mendapatkan harta Carlos secara mutlak.


Mereka sudah memasuki mobil milik Jade, Jade mengangkat tubuh Elizabeth untuk di dudukkan di kursi bagian depan. Sementara Carlos dan Lusi duduk di bagian belakang.


Jade mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, ke duanya sama sekali belum pernah bertegur sapa. Sebenarnya di dalam hati Elizabeth ada banyak sekali pertanyaan, kalau memang bertunangan kenapa Jade tidak pernah berbicara? Mengapa dulu Elizabeth menyukai laki laki seperti itu?


Elizabeth hanya menatap pemandangan jalanan yang di lewatinya. Dia sama sekali tidak tertarik untuk terlibat pembicaraan antara Carlos dan Jade. Ke duanya hanya membicarakan persaingan bisnis dan uang.


Sementara itu Luci sangat bangga, seringai ke luar dari sudut bibirnya. Luci sama sekali tidak sadar kalau sudah dua kali mengorbankan Elizabeth demi kepentingannya.


Demikian juga Carlos, dia laki laki yang hampir memanfaatkan anak kandungnya sendiri.


Tiba di rumah sakit besar, Jade mendorong kursi roda Elizabeth di ikuti Carlos dan Luci di belakangnya. Memasuki ruangan dokter spesialis estetika, suasana ruangan dokter sangat tenang, warna kamar di dominasi warna biru muda.


Setelah berbasa basi sebentar, dokter pria itu mulai memeriksa keadaan Elizabeth, karena hari ini adalah waktu yang sudah di tentukan oleh dokter tentu saja dokter mulai membuka kain kasa yang ada di wajah Elizabeth.


Setelah semua kain kasa dan plester itu terlepas, terlihat wajah mulus Elizabeth, ada kepuasan di wajah dokter.


Demikian juga dengan Carlos dan Luci, sementara Jade hanya tersenyum menyeringai.


Seorang perawat wanita menyodorkan sebuah cermin kecil berwarna biru muda.


Elizabeth menerima cermin itu dan menggesernya sedikit. Elizabeth menatap wajahnya, tapi sayangnya dia tidak mengenali wajah yang ada di dalam pantulan cermin itu.


Tangan kananya mengusap sebelah pipinya. Tubuhnya bergetar, Elizabeth tak senang.


"Kenapa seperti ini?" Tanya Elizabeth lirih, ini sama sekali bukan wajahnya. Wajah ini memang cantik tetapi sangat berbeda dengan wajah yang selama ini di kenalnya.


"Ini bukan aku, aku..."


"Kenapa? Bukankah ini lebih cantik dari wajah aslimu?" Ucap Jade sedikit ketus.

__ADS_1


"Maksud kamu? Aku lebih menyukai wajahku yang dulu."


Elizabeth menundukkan wajahnya, kenapa merubah wajahku tanpa ijin dariku?


"Ini demi kamu, saat itu kamu di temukan dengan wajah hampir keseluruhan hancur, jadi kami terpaksa mengoperasinya."


"Separah apa?"


"Hampir tidak bisa di kenali, jika saja tidak di temukan identitas milikmu mungkin kamu sudah mati di jalanan." Ungkap Jade.


Ini kali pertama Jade mengajaknya berbicara, tapi kalimat yang keluar dari mulutnya begitu pedas.


"Ini sungguh bagus, kamu belum terbiasa." Ucap dokter meyakinkan Elizabeth.


Kalimat itu lagi ' Kamu belum terbiasa'.


Mengapa semua mengatakan seperti itu? Ada apa dengan kalimat 'Belum terbiasa?'


Wajah Elizabeth memang berubah, tapi bagi orang yang sangat mengenal Elizabeth tentu lambat laun akan menyadari kalau pemilik wajah itu adalah Elizabeth.


Saat ini Jade dan Elizabeth berada dalam satu mobil, sementara Luci dan Carlos menggunakan mobil lain. Elizabeth tidak banyak berbicara, dia sangat takut pada lelaki di sampingnya.


Jade begitu perhatian, memasangkan sabuk pengaman yang di kenakan oleh Elizabeth. Kepala Jade mendekat di hidung Elizabet, jarak antara rambut dan hidung Elizabeth begitu dekat. Aroma parfum Jade sangat sensual, begitu maskulin dan menggoda. Tapi bagi Elizabeth aroma seperti itu membuatnya mual. Tetapi Elizabeth tidak berani mengatakannya.


Berulang kali Elizabeth mencoba membuka diri tapi sangat sulit. Elizabeth benar benar menutup diri.


"Bisa kamu pelankan sedikit? Toh kita tidak terburu buru."


Jade tidak langsung menjawab, sekali lagi seringaian keluar dari mulutnya.


Padahal dalam hati Jade, lebih berharap mobil ini celaka dan menabrak sesutu.


Jade menginginkan kematian wanita yang ada di sampingnya, tapi tidak sekarang. Nanti sesaat setelah menikah.


Jade mengurangi kecepatan, mengubah wajahnya dan lebih ramah.


"Apa kau takut?"


Elizabeth menganggukkan kepalanya.


Ke duanya kembali terdiam, entah apa yang ada di dalam otak ke duanya.


"Jade boleh aku bertanya?"


"Ya. Apa?" Ucap Jade sedikit kasar.

__ADS_1


"Apa benar kita bertunangan?"


"Tentu saja. Kenapa?"


"Tapi... kenapa tidak ada satu fotopun di kastil?"


"Maksudmu foto apa?"


"Foto pertunangan."


"Memang tidak ada. Aku melamar kamu secara sederhana, dan kita belum meresmikan. Yang penting kamu sudah memakai cincin pertunangan kita." Ucap Jade.


Elizabeth baru menyadari kalau ada cincin melingkar di jari manisnya.


Elizabeth memutar cincin bermata berlian itu. Bentuknya tidak besar, kecil tapi mewah.


Elizabeth merasa heran saat dirinya memutar cincin itu di kulit jari manisnya tidak ada bekas sama sekali, seolah olah cincin ini baru saja di kenakan beberapa hari yang lalu.


Elizabeth mulai mengingat ingat. Apa benar yang di ucapkan oleh Jade?


"Jadi bagaimana? Apa kamu meminta pertunangan yang resmi dan meriah?"


"Tidak!"


"Lalu kenapa wajahmu masam?"


Elizabeth tidak menjawab, otaknya bekerja keras untuk mengingat apa yang terjadi.


"Mengapa aku tidak mengingat sama sekali?"


Jade menghentikan mobilnya di pinggiran jalan kota Medelin, kota ke dua terbesar setelah Bogota. Kota yang terkenal dengan keindahannya.


"Kamu tau mengapa kita harus menikah?"


Elizabeth menggelengkan kepala. Dia menunggu jawaban Jade.


"Karena sebelum kecelakaan kamu sangat menyukai aku, dan bahkan mengejarku. Aku harap kamu tidak berubah sekarang."


Elizabeth seperti sapi di cocok hidung, percaya akan ucapan Jade. Jade mencubit dagu Elizabeth dan mendekati wajahnya, kemudian bibir ke duanya bertemu. Jade memainkan lidahnya, Elizabeth memejamkan matanya.


Jade begitu menikmati ciuman ini, sebagai laki laki normal tentu saja menyukai apapun wanita yang ada di depannya.


Elizabeth tidak menikmati ciuman itu, ada kilatan wajah seseorang yang tidak dia kenal, ciuman ini terasa asing. Kaku dan memuakkan.


Elizabeth mendorong dada Jade dengan ke dua tangannya dengan keras, karena kekuatan Jade, Elizabeth sangat kesusahan, tetapi kemudian Elizabeth menggigit bibir Jade, ada bau besi berkarat, Jade menghentikan ciuman itu.

__ADS_1


Trimakasih untuk yang menunggu Novelku. Jangan Lupa Like Komen and Vote. Gracias


__ADS_2