
Pajangan itu berubah menjadi serpihan kecil, guci mahal yang di datangkan dari negri tirai bambu tidak berbentuk lagi. Kendrick menahan kemarahan mendengar kalau Elizabeth di bully untuk ke dua kali bahkan pingsan beberapa jam. Walaupun tidak sampai di larikan ke rumah sakit tetapi tetap saja menjadikan Kendrick terganggu.
Perasaan tidak nyaman dan berkecamuk, antara kemarahan dan perasaan membuncah.
Di kantor utama Kend Grup, Kendrick merasa gundah. Setelah rapat pemegang saham berlangsung sangat lamban, hanya karena perbedaan pendapat tentang ekspansi ke semua negara di asia. Walaupun berjalan sangat alot tetapi semua sudah sesuai dengan yang di inginkan Kendrick.
"Apa lagi? Dia sudah menderita karena ulahmu." Ucap Matheo mencoba mengingatkan.
"Tapi aku belum cukup puas."
"Dia sudah cukup menderita karena pembalasanmu, sebaiknya biarkan dia bekerja. Atau jangan jangan kamu mau menjualnya."
Ucapan Matheo ada benarnya, dari awal dia sudah mengingatkan tentang hubungannya dengan Elizabeth.
"Bila perlu."
"Gila, kamu jangan mengambil keputusan yang salah. Jangan kamu ulangi kesalahanmu. Jika sampai kakak ipar tau, bisa mati Eliz atau Elizabeth apapun itu namanya. Lagi pula dia masih menyangkal kalau dia Elizabeth."
"Cih, orang lain bisa di bohongi. Tapi hanya dari aroma tubuhnya aku tau kalau dia Elizabeth. Bahkan dari jarak satu kilometer."
"Terserah kamu. Jangan sampai kamu menyesal."
"Hanya aku yang berhak menyiksanya!"
Matheo tidak merespon sama sekali, dia sudah mengenal sifat Kendrick yang seperti itu, urusan pekerjaan dan perkembangan bisnis Kendrick nomor satu, tetapi untuk urusan wanita dia menjadi tumpul otak.
Matheo berdiri dari sofa hitam yang berada di ruang kantor milik Kendrick, merasa cukup lama di dalam satu ruangan bersama Kendrick akan menaikkan tensi darahnya, memutuskan pergi untuk menghindari ketegangan. Saat ini Matheo sudah tidak bekerja lagi untuk Kendrick dia sudah memiliki kantor sendiri bergerak di bidang hukum. Tetapi dia masih setia membantu Kendrick jika di perlukan.
Hari berganti malam, suasana kota sudah tidak ramai lagi, penduduk kota Bogota menikmati malam indah ini di peraduan, tetapi tidak dengan club malam D'Oreon, hingar bingar musik dan tarian erotis, serta menikmati anggur merah sekedar penghilang rasa penat.
Di sudut kamar kecil, dengan sedikit lampu penerangan, seorang wanita dengan berpakaian minim, tengah menangis hingga terisak, tangisnya begitu memilukan hanya karena kesedihan yang di alaminya. Tangisan tanpa ada air mata, seolah air matanya mengering tak berbekas.Wanita itu adalah Elizabeth. Jika saja dia berani dan orang misterius sudah membebaskan anaknya, dia akan pergi hidup berdua dengan Nina. Elizabeth berdiam diri cukup lama, dia hanya ingin menenangkan pikiran.
Sebuah ketukan kasar sangat mengagetkannya di pintu kamar kecil. Bergesas menyapu matanya yang kering dan Memutar gagang pintu, kemudian mendorong sedikit.
__ADS_1
"Kamu tidur ya? Enak sekali bahkan sempat bermimpi! Cepat ke VIP lantai Empat, jangan sampai kamu di seret lagi. Ini kesempatan terakhir, kalau tidak kamu di tendang dari club ini." Ucap Santa. Santa adalah teman sesama wanita pendambing tamu. Walaupun dia bersikap kasar tetapi Santa tergolong baik dari pada teman yang lainnya.
"Baik VIP lantai empat, aku segera ke sana." Ucap Elizabeth hendak melangkahkan kaki setengah berlari.
"Eh tunggu, wajah kamu. Tentunya kamu masih harus memoles lagi, sangat berantakan!"
Santa mencoba mengingatkan, karena ini adalah perintah langsung dari Marco, tentunya jika Marco turun tangan pasti bos yang sekarang datang bukanlah bos sembarangan atau kaleng kaleng, pasti ini bos besar.
"Ini kelas kakap, kamu harus tampil lebih cantik. Jika bos itu meminta kamu melakukan apapun turuti saja. Karena ini adalah kesempatan terakhir kalau tidak ya terpaksa aku sendiri yang akan menendangmu. Lihat saja maskaramu luntur dan meninggalkan jejak hitam di sekitar matamu, seperti pantat panci saja. Paling tidak biarpun tidak cantik rawatlah wajah kamu. Sudah jelek tidak mau berkaca lagi."
Santa membantu menghapus riasan di wajah Elizabeth dengan toner yang di bawanya.
"Ini make up milikku, kamu bisa memakainya. Tapi ingat jika kamu mendapatkan banyak uang dari bos besar ini, kamu harus menggatikan makeupku yang sudah kamu pakai. Paham?"
Elizabeth menganggukkan kepalanya, dia masih belum mengerti siapa bos besar sesungguhnya. Kenapa Santa harus heboh?
"Sudah benar! Ingat kata kataku. Ini kesempatan terakhirmu. Menurutlah apa mau bos besar inginkan, bahkan jika dia menginginkan kamu menjilat sepatunya kamu harus bersedia melakukan."
"Jangan banyak bicara apalagi bertanya, naikkan sedikit rok kamu!"
Elizabeth sedikit menolak, dengan menaikkan rok, paha miliknya akan terekpos.
"Tidak mau! Biarkan begini saja." Ucap Elizabeth mencoba membantah.
"Kamu jangan jual mahal, apa kamu mau di pecat dari club malam ini, sudah tidak butuh uang? Kalau begitu tidak usah repot repot menunggu, aku yang akan menendangmu, sekarang cepat angkat kaki dari sini. Di belain malah bertingkah. Jangan sok suci, siapapun yang bekerja di club malam ini tidak ada satupun wanita baik baik. Paham?"
Elizabeth tidak menyangkal ucapan Santa. Bagaimanapun juga ucapan seniornya semuanya benar. Jika dia di tendang dari club malam ini, bagaimana dengan Nina? Elizabeth tidak mau egois.
"Baik, tapi bisakah kamu membantuku. Setelah ini minta tolonglah pada kak Marco agar memindahkanku ke bagian kebersihan."
"Akan aku pikirkan lagi. Cepatlah, Marco sudah berkali kali mengirimku pesan, sepertinya bos besar itu sudah tidak tahan lagi."
Santa setengah mendorong tubuh Elizabeth agar segera meninggalkan kamar kecil itu, kemudian dia membisikkan sesuatu di telinga Elizabeth.
__ADS_1
"Senangkan dia, kamu akan mendapatkan uang banyak. Apalagi jika kamu bisa tidur dengannya, apapapun bisa kamu dapatkan, bahkan membeli dunia ini sekalipun!"
Elizabeth menganggukkan kepalanya, sebesar apa sebenarnya bos besar kali ini? Apa sepadan dengan bos Roberto? Atau bos yang terakhir yang di temuinya?
Elizabeth tidak mengetahui kalau sebenarnya bos Roberto ataupun bos terakhir yang membullynya sudah berakhir sengsara, di tempat terpencil mereka harus memulai bisnis baru. Bogota memang keras, jika bukan hanya kekuasaan dan harta yang menjadi taruhannya, manusia akan tersingkir. Apa lagi tidak memiliki kekuasaan sama sekali. Bahkan nyawa bisa terancam.
Elizabeth memasuki lift kapsul menuju lantai empat. Di lantai empat banyak terdapat kumpulan kamar VIP dengan masing masing ruangan yang sangat lebar, hanya bos dengan kekuasaan besar yang sanggup menyewanya. Ruangan dengan interior warna merah di padu padankan dengan asesoris warna emas.
Suara sepatu Elizabeth begitu terdengar menggoda, lantai empat adalah lantai yang di kususkan untuk para bos yang menyalurkan hasratnya. Aroma wewangian yang di semprotkan secara otomatis dari semua sudut lorong, aroma sensual yang sangat menggoda tercium masuk ke dalam pori pori otak dan menghipnotis, membuat siapapun mabuk kepayang.
Elizabeth melangkahkan kakinya hingga mendekati ruangan yang di tuju.
"Eliz cepat!" Bentak Marco, suara sedikit nyaring hingga mengagetkan Elizabeth.
"Hmmm Kak Marco."
"Cepat sedikit!" Ucap Marco sekali lagi, dia sedikit emosi karena sudah lama Marco menunggu Elizabeth di depan pintu VIP.
"Siapa yang..." Belum selesai pertanyaannya, Marco sudah motongnya dengan sebuah kalimat sanggahan.
"Jangan banyak nanya, persiapkan saja dirimu. Jangan sampai gagal. Jika kamu masih tidak bisa menyenangkan tamu, untuk kali ini aku tidak bisa menolongmu lagi. Paham?" Tanya Marco untuk meyakinkan.
Elizabeth menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Marco mengetok pintu sedikit pelan bahkan hampir tak terdengar, kemudian dia mendorong pintu perlahan. Elizabeth berusaha menyesuaikan pandangannya. Ruangan minim penerangan, tetapi telinganya menangkap suara ******* dua orang yang tengah menyalurkan hasratnya.
Tanpa di sadarinya Marco sudah meninggalkan dirinya sendiri di ruangan itu. Elizabeth mencium gelagat yang tidak benar. Adrenalinnya tiba tiba naik melesat hingga memecahkan pori pori kepalanya. Keringat dingin membasahi seluruh permukaan kulitnya.
Elizabeth belum bisa menangkap banyangan sosok manusia yang ada di depannya hanya saja dirinya sadar tidak seharusnya berada ruangan yang di kususkan untuk pasangan mesum. Elizabeth membalikkan badan dan hendak pergi meninggalkan ruangan itu. Pintu terkunci, seharusnya pintu terbuka otomatis jika seseorang membukanya dari dalam ruangan. Mencoba beberapa kali bahkan mengumpat dalam hati, Marco sialan!
Lampu tiba tiba menyala, walaupun sedikit terang tapi cahayanya sanggup menerangi wajah ke dua orang yang ada di depannya. Mulut Elizabeth terbuka lebar, terkejut dan syok.
Hayo siapa yang tau, siapa yang beradegan mesum di ruangan itu. Semoga kalian bisa menebaknya. Jangan lupa Like dan Komen juga Vote ya. Gracias๐๐
__ADS_1