
Malam semakin larut, hingar bingar musik club malam D'Oreon sungguh memekakkan telinga. Tetapi setiap nadanya membuat penikmat dunia malam semakin bersemangat. Walaupun serupa dengan kedai minuman biasa saja dan memiliki kesamaan penjualan, tetapi penampilannya di tata dan berkelas. Baik ruangan ataupun penyajian. Tetapi klub malam D'Oreon berbeda dengan bar ataupun club lain, selain diskotik dilengkapi ruang tarian dan layanan DJ yang memainkan musik dengan iringan tarian yang erotis di situ juga menyediakan kamar kamar VIP untuk para pelanggan bar, di lantai atas. Tidak sembarangan orang yang dapat menyewa kamar di D'Oreon, selain berduit mereka juga orang yang terpilih.
Di salah satu kamar VIP Elizabeth merasakan kesedihan yang begitu berat. Kendrick meninggalkan sebuah kunci di atas nakas. Antara perasaan takut dan was was. Apakah itu kunci suatu ruangan ataukah kunci sebuah lemari. Elizabeth sama sekali tidak mengira kalau kunci yang di tinggalkan adalah di sengaja. Jebakan yang di siapkan oleh Kendrick. Tetapi perasaan cintanya ke pada Kendrick tak membuatnya semangat untuk meneruskan pesan Juan. Elizabeth menggenggam anak kunci itu dengan erat, menimbang dan memikirkan langkah yang akan di lakukan.
Elizabeth berjalan menuju pintu, dia yakin seseorang selalu berdiri di depan pintunya. Elizabeth perlahan membuka pintu itu, dan benar! Santa berdiri di sana.
"Santa. Bisakah kamu mengembalikan anak kunci ini kepada Kendrick?" Tanya Elizabeth, tangan kanannya menyodorkan anak kunci kepada Santa.
"Oh tentu bisa, akan ku berikan ke pada Marco. Biar nanti di serahkan ke pada tuan Kendrick."
"Hmmm." Ucap Elizabeth singkat. Santa terlihat kaku, tidak seperti biasanya. Elizabeth menyadari bahwa Santa di perintahkan oleh Kendrick untuk berjaga di depan pintunya.
"Santa, emmm bisakah kamu membantuku?"
"Ya? Apa?"
"Aku ingin ke makam papaku. Bahkan sejak ayahku meninggal, aku hanya sekali ke makamnya. Jika kamu berkenan, bisakah menyampaikan ke pada Marco?"
Santa berpikir sejenak, Elizabeth paham Santa selalu melaporkan kejadian mengenai dirinya kepada Marco, bukan langsung kepada Kendrick.
"Akan aku coba. Kamu masuk saja, aku akan menemui Marco dan pintunya akan aku kunci dari luar."
"Trimakasih Santa."
Santa mengunci kamar VIP yang di tempati Elizabeth dari sisi luar. Memberikan kunci kepada Marco, hanya saja Marco saat ini sudah tidak tinggal di D'Oreon lagi. Marco tinggal di apartemen pemberian Kendrick. Tentu saja Marco membutuhkan waktu untuk tiba di club D'Oreon.
Tak lama kemudian Marco sudah menemui Santa. Keduanya terlibat pembicaraan cukup serius.
"Tapi dia meminta padaku untuk menyampaikannya ke padamu." Ucap Santa kepada Marco. Santa memberikan anak kunci kepada Marco. Marco menggenggam anak kunci itu dengan erat. Terlihat rasa was was di wajahnya, bagaimana nanti jika bos Kendrick kecewa. Mempersiapkan jebakan tetapi gagal total.
"Sebenarnya itu kuci apa? Sepertinya itu kunci gudang bawah ya? Aku pernah melihat kunci seperti itu. Kenapa bos Kendrick memegang kunci gudang?" Selidik Santa.
"Diam!" Bentak Marco. Seketika Santa menarik lidahnya.
"Bagaimana tentang permintaan Elizabeth, akan makam ayahnya."
"Belum bisa memutuskan. Akan ku sampaikan padanya." Ucap Marco. Santa berniat meninggalkan Marco namun lagi lagi marco menghentikannya.
"Kamu diam di sini. Aku akan menelepon bos Kendrick sekarang."
__ADS_1
Marco meraih ponselnya yang berada di atas meja. Cukup lama dia menghubungi Kendrick, tetapi ternyata ponsel Kendrick tidak aktif.
"Sampaikan kepada Elizabeth kalau bos Kendrick tidak bisa di hubungi. Kemungkinan besok pagi jawabannya."
"Baiklah."
Santa pergi meninggalkan Marco dan meuju kamar Elizabeth. Semua wanita penghibur di situ mengenal Santa sebagai wanita senior, tidak ada yang berani mengganggunya. Demikian juga dengan Elizabeth. Elizabeth di kenal sebagai wanita simpanan Kendrick, seantero Bogota sudah tau kalau Kendrick sudah memiliki istri dan anak, hanya Elizabeth yang tidak tau akan hal itu.
Pintu kamar terbuka, tampak Santa masuk sambil membawa segelas minuman berwarna merah.
"Bagaimana? Apa jawaban Marco?"
"Kata Marco, ponsel bos Kendrick tidak aktif, kemungkinan besok baru ada jawaban."
Elizabeth menampakkan wajah kecewa, Santa paham hal itu. Kemudian dia menyodorkan minuman anggur berwarna merah kepada Elizabeth.
"Minumlah, ini bisa menenangkan kamu."
"Trimakasih."
Elizabeth menerima botol itu, dan berdiri untuk mengambil dua gelas bertangkai. Mengisi dua gelas kosong itu dengan anggur merah.
"Maaf, aku tidak meminumnya, kamu tau aku masih bekerja. Untukmu saja. Aku lihat suasana hati kamu sedang tidak baik."
"Ya, aku akan berusaha meminta ijin pada Marco. Dan tentunya kamu tidak bisa pergi sendirian."
"Aku tau."
"Aku akan meminta pada Marco, biar aku yang menemanimu." Ucap Santa.
"Trimakasih, itu lebih baik."
"Tidurlah, jika membutuhkan sesuatu, aku berada di luar."
Elizabeth mengangguk sambil tersenyum. Dia hanya bisa berharap cepat pagi. Ijin kepada Kendrick yang di sampaikan lewat Santa dan marco membuat hatinya sedikit gelisah.
Sebenarnya selain ingin ke makam ayahnya dia berjanji akan menemui Nina dan Julia. Dia tidak bisa menahan lagi perasaannya. Sesuai janji Juan dia memberikan ijin kepada Elizabeth untuk bertemu Nina tiga bulan sekali, dia tidak akan menyia nyiakan kesempatan ini. Tetapi untuk keselamatan Nina, dia harus merahasiakan dari Kendrick. Perlakuan Kendrick siang tadi tak urung membuat dirinya bertanya tanya. Tak lama kemudian Elizabeth terhanyut dalam dunia mimpinya, tidak begitu indah tetapi secercah harapan membangkitkan semangatnya.
Hari sudah pagi bahkan Elizabeth sudah membersihkan tubuhnya. Dia tidak sabar menunggu jawaban dari Kendrick. Elizabeth membuka pintu, sayangnya tidak ada siapa siapa di sana. Tidak mau menunggu lagi, Elizabeth melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Seperti biasa club D'Oreon terlihat sepi pada siang hari. Tak ubahnya seekor kelelawar yang akan tidur di siang hari. Elizabeth tidak perduli, tujuannya adalah menemui Nina sudah tidak terbendung. Baru saja kakinya melangkah ke luar pintu gerbang. Suara panggilan mengagetkannya.
__ADS_1
"Elizabeth!" Teriak Santa.
"Ah."
"Kamu berniat pergi tanpaku? Apa kamu sengaja melakukan itu. Agar aku terkena masalah dan Marco membunuhku?"
"Apa?"
"Ya, tentu saja!"
"Aku tidak mungkin melakukan itu. Tadi sebenarnya aku juga mencarimu. Tapi.."
"Ah sudahlah, kamu tidak akan mengerti. Balas dendam bos Kendrick lebih berharga dari nyawaku."
"Apa?"
"Ah sudahlah. Kamu tidak akan mengerti."
Sebelumnya Marco menyampaikan ijin yang di berikan Kendrick kepada Elizabeth. Tetapi semua tidak berjalan begitu saja. Mata mata yang di pasang untuk mengintai kepergian Elizabeth dan Santa. Tentunya keberadaan mata mata itu tanpa di ketahui oleh Elizabeth.
Elizabeth tidak menggunakan mobil yang di sediakan oleh Marco, berdua menggunakan taxi sebagai transportasi mereka. Suasana sedikit hujan, tapi kabut yang gelap menghalangi jarak pandang pengemudi taxi itu. Jarak pemakaman tidak begitu jauh, namun medan yang di tempuh sedikit sulit, sehingga pengemudi taxi tidak berani melanjutkan. Ditambah lagi daerah sekitar pemakaman sangatlah rawan, tempat berkumpulnya bandar obat obatan terlarang. Bahkan supir taxi juga mengingatkan.
"Tapi saya benar benar harus ke sana pak!"
"Tidak aman, sebaiknya jangan sekarang. Cuaca tidak mendukung harus ada laki laki yang menemani anda." Ucap supir taxi.
"Sebaiknya besok saja, kita mengajak Marco, ok." Sela Santa.
Pengemudi taxi tetap menganggukkan kepalanya. Akhirnya Elizabeth juga menyerah.
"Baiklah pak aku berubah pikiran, tolong antarkan kami ke alamat ini." Ucap Elizabeth sambil menyodorkan sebuah kertas. Pengemudi itu menyanggupi, mobil berputar arah dan segera pergi menuju alamat yang di tuju.
"Kita kemana? Apa tidak sebaiknya kita kembali saja?" Ucap Santa, dia menghawatirkan kemarahan Kendrick.
"Sebentar saja. Tolong jangan katakan ini kepada Kendrick."
Santa menyanggupi dengan terpaksa.
Tetapi di tengah perjalanan Elizabeth menghentikan perjalanan. Mengatakan kepada Santa kalau dia harus berhenti di toko obat, tetapi Santa tidak mengijinkan. Dengan bujuk rayu Elizabeth akhirnya Santa percaya dan memberinya ijin.
__ADS_1
"Baiklah, jangan lama!"
Elizabeth mengangkat tangannya dan menunjukkan dua jari. Taxi berhenti di depan toko obat, Elizabeth berlari kecil, di belakangnya Santa mengikutinya. Saat di dalam toko obat Elizabeth membuat cara agar bisa kabur dari Santa. Dan itu berhasil.