
Bunga sakura berguguran, musim kali ini terasa sangat dingin, kelopak bunga yang jatuh ke tanah, membuat jalanan di sekitar taman berubah menjadi pink ke unguan. Seorang wanita tengah berjalan dengan laki laki berperawakan tinggi, matanya sedikit sipit dan hidungnya yang mancung, di atas bibir tumbuh kumis yang melintang sangat rapi. Rambut yang klemis dan di pangkas rapi pula. Tinggi badannya seratus tujuh puluh centi meter dengan tubuh sedikit kerempeng. Menggunakan mantel yang cukup tebal, tangannya tak pernah melepaskan tangan wanita yang ada di sampingnya. Mereka benar benar pasangan yang serasi.
Wanita itu tampaknya adalah istri dari laki laki itu, bahkan di sekitar rumah sakit tak jauh dari taman itu sudah mengenal mereka. Ke duanya menikmati makanan ringan dan susu hangat, duduk di taman bunga sakura adalah kegiatan rutin mereka.
"Bagaimana dengan pasien koma itu?" Tanya sang istri menyelidik. Menyesap susu hangat yang di sodorkan oleh suaminya.
"Masih sama, tapi setidaknya dia sudah bisa merespon walaupun hanya bola matanya yang bergerak, setidaknya tidak seperti mayat hidup." Ucap lelaki itu, kemudian dia mengeluarkan sapu tangannya yang ada dalam saku celananya, mengusap bibir istrinya.
"Kamu biasa seperti ini, apa tidak bisa lebih rapi, jangan terburu buru. Habiskan makanan dan susunya." Ucap suami menesahati. Sang istri menunduk dan tersipu malu.
Belum juga tandas makanan yang di pegang laki laki itu, tiba tiba suara seorang wanita memanggilnya. Dari nada suaranya terdengar kalau si pemanggil begitu tergesa gesa.
"Dokter, dokter Artur." Teriak wanita itu mengulang.
Laki laki yang tak lain adalah dokter Artur memutar kepalanya.
"Ada apa? Kenapa kamu berlari? Bukankah tidak ada jadwal operasi dan terapi siang ini?"
"Tapi dok, bukan itu."
"Lalu?"
"Emmm pasien Noela bisa menggerakkan tangannya."
__ADS_1
Dokter Artur segera berdiri. Suatu kemajuan pasien rujukan dari Kolombia bisa pulih lumayan cepat. Tetapi dia enggan meninggalkan istrinya sendirian duduk di taman bunga sakura. Siang ini adalah makan siang terindah baginya. Dia akan menikmati moment ini, memanfaatkan sebaik baiknya.
Dokter Artur membalikkan kepalanya, menatap wajah istrinya dengan sendu, seakan memohon ijin. Usia dokter Artur tak muda lagi, usia empat puluhan adalah usia yang matang, seumuran dokter Arthur seharusnya sudah memiliki anak remaja, tetapi dia baru saja menikah dan istrinya baru saja mengandung enam bulan. Jarak usia dengan istrinya terpaut cukup jauh, tetapi tidak masalah bagi ke duanya untuk memiliki ikatan.
Wanita itu mengangguk tanda setuju. Tak masalah jika suaminya meninggalkannya untuk bekerja, apalagi mengobati pasien koma itu.
"Nyonya dokter, mohon maaf. Kalau begitu aku kembali ke rumah sakit." Ucap perawat itu sungkan.
Dalam hatinya memuji 'Nyonya dokter sangat cantik dan baik, tapi sangat di sayangkan...' Perawat itu menggelengkan kepalanya, menyayangkan pikirannya yang tak terarah. Ini bukan urusannya!
Dokter Artur akhirnya benar benar meninggalkan istrinya, duduk sendirian di taman. Susu hangat masih tersisa banyak, dia sudah berjanji pada suaminya akan pulang sendiri dan tidak menunggu kepulangan suaminya karena ini akan sangat melelahkan dan lama.
Wanita itu berjalan seorang diri di jalan kecil menuju rumahnya, menuju jalan setapak yang sedikit basah. Kepalanya selalu menunduk, dengan rambut yang di cepol ke atas. Mirip penampilan putri Shida.
Kendrick berjalan di ikuti Marco di di belakangnya, melewati lorong rumah sakit besar yang bersih dan rapi. Sesekali bertemu sesama pengantar atau pesakitan, mereka akan saling menundukkan kepala jika berpapasan. Pikiran kendrick melayang entah kemana, bahkan nomor kamar yang seharusnya di masukinya, hanya di lewatinya. Marco merasa heran, ada apa dengan bosnya.
"Bos, sebelah sini!" Panggil Marco menunjukkan nomor kamar yang benar.
Luka karena kehilangan Elizabeth secara tragis bahkan terjadi di depan matanya, perasaan bersalah akhirnya muncul lagi, sosok manusia misterius bahkan tiba tiba muncul berjalan di depan matanya.
"Marco, apa kamu tadi melihat wanita yang berjalan sambil menunduk?"
"Bos, saya tidak melihat siapa siapa." Ucap Marco, sukses membuat Kendrick kecewa. Benar ini sebuah ilusi saja. Kendrick menarik nafas panjang. Beruntung urusan di Kolombia sudah selesai walaupun berakhir menghilangnya Jade. Kali ini Kendrick fokus terhadap kesembuhan Noela.
__ADS_1
Marco membuka pintu kamar dan mendorongnya, kemudian dia berdiri di balik pintu.
Dalam ruangan serba putih, hanya satu warna yang berbeda yaitu korden penyekat warna biru tua. Ada seikat bunga di dalam vas berbentuk kaca. Bunga yang masih baru. Noela masih tertidur lelap, dokter yang dulunya penuh semangat kini terbaring lumpuh. Gerakan tangan yang tak seratus persen normal, hanya bisa terangkat dan bergeser saja. Melahirakan normal yang di alami oleh Noela ternyata merusak beberapa syaraf pada tubuhnya.
Kendrick mengusap anak rambut yang terselip di bawah dahi Noela. Gerakan itu membuat Noela terbangun, pertama kali yang di lihatnya adalah wajah tampan Kendrick, Noela tersenyum, sudut bibirnya tertarik ke atas satu baris.
"Kamu sembuh ya, tidakkah kamu merindukan anak Kita?" Ucap Kendrick kemudian dia mengotak atik layar ponsel dan menunjukkan foto Eliana yang lucu. Noela memberi jawaban dengan isyarat kedipan mata. Ada kristal bening di sudut matanya.
"Kamu merindukan Eliana?" Lagi lagi di jawab dengan kedipan mata.
"Kalau begitu cepatlah sembuh. Aku akan menemui dokter sekarang."
Kendrick keluar pintu kamar perawatan Noela, dan mencari keberadaan dokter spesialis yang merawat Noela.
"Selamat siang, saya suami pasien Noela, dokter...." Sapa Kendrick kepada seorang dokter yang tengah memeriksa file pasien.
"Dengan saya dokter Artur." Ucap dokter Artur menyodorkan tangan, ke duanya bersalaman.
"Bagaimana kondisi istri saya?"
Artur menerangkan secara rinci, keadaan Noela cukup mengalami kemajuan. Tetapi untuk sembuh seratus persen itu tidaklah mudah. Karena syaraf yang sudah bermasalah akan menghambat dan mempengaruhi gerak motorik nantinya. Tetapi kemungkinan sembuh pasti ada. Dengan kata lain jika nanti sembuh tidak akan seratus persen sembuh total. Kedepannya akan menjadi orang cacat. Bagi Kendrick tidak masalah tetapi yang penting dia bisa menebus kesalahannya pada Noela dan tidak masalah dia merawatnya.
"Maaf pembicaraan kita hentikan sampai di sini. Bukankah tuan Kendrick tinggal lama di Jepang. Karena istriku tengah menugguku di taman." Ada perasaan kesal pada dokter Artur bahkan terlihat kaku. Tubuh dokter Artur yang kerempeng terlihat sangat tinggi walaupun Kendrick lebih tinggi darinya.
__ADS_1
Kendrick meminta maaf dan memohon diri. Dia berpikir sejenak, menatap kepergian dokter Artur yang kaku. Dia sadar sikap dokter Artur seakan menghindarinya.