Cinta Wanita Kumal

Cinta Wanita Kumal
Masalah Yang Rumit


__ADS_3

Suasana mencekam, Marco marah kepada Santa melalui sambungan seluler. Bahkan mengeluarkan kata kata kasar. Santa tidak berani kembali ke D'Oreon. Bahkan para pengintai yang di tugaskan Marco juga kecolongan. Andai saja Elizabeth tidak beralasan pergi ke kamar kecil tentu semua tidak akan terjadi. Awalnya Elizabeth berada di depan kasir untuk membayar beberapa obat obatan yang di belinya. Suasana tidak begitu ramai, tetapi obat yang di belinya belum sempat dia bawa.


"Aku ke kamar kecil. Tolong bayarkan obat obatan ini." Ucap Elizabeth ke pada Santa. Sambil menyodorkan beberapa lembar uang.


"Biar aku menemanimu ke kamar kecil."


"Orang lain akan menganggap kita aneh. Kamu bantu aku saja dan biar cepat selesai."


Santa mempercayai ucapan Elizabeth. Bahkan mata mata yang menyamar juga tidak berani mengikutinya.


Elizabeth menghilang lewat pintu lain, jalan yang di laluinya kebetulan langsung menuju gang kecil. Sayangnya Elizabeth harus terluka karena gang kecil yang di lewatinya banyak di tumbuhi tanaman berduri. Santa baru menyadari kalau Elizabeth terlalu lama berada di dalam kamar kecil. Perasaan curiga akhirnya muncul, melihat kamar kecil yang berderet dan kosong, hatinya kesal merasa di bohongi. Nyawanya sebentar lagi akan melayang, dia tau bos Kendrick sangat mencintai sekaligus membenci Elizabeth. Santa berjalan mondar mandir sambil berpikir walaupun akhirnya dengan berat hati menghubungi Marco.


Sementara itu Elizabeth sudah tiba di tempat yang di janjikan oleh Juan. Sebuah rumah kecil di pinggiran kota. Rumah yang tidak begitu bagus namun terlihat bersih. Banyak tanaman hijau di sana. Ketika Nina melihatnya untuk pertama kali tentu saja menganggap sebuah kejutan, dia berlari tanpa memikirkan kakinya yang kesakitan terkena batu kerikil.


"Mama!" Nina berlari dan mrlompat ke pelukan Elizabeth.


"Anak pintar, rambutmu semakin panjang dan wangi."


"Bibi Julia yang memandikan aku."


"Di mana bibi Julia?"


"Di dapur, dia sedang memasak banyak sekali makanan, katanya akan ada tamu penting. Ternyata itu mama. Bibi Julia sudah membuat aku terkejut."


"Apa kamu merindukan mama?"


"Tentu saja. Kapan kita akan tinggal bersama. Aku capek kalau harus berjauhan dengan mama. Kenapa mama tidak mau membawaku pergi? Nina akan berlaku baik." Ucapan Nina membuat air mata Elizabeth berderai. Siapa yang tidak mau tinggal bersama putri tercintanya. Tetapi membawa Nina notabene anak dari Duarte tentu saja menjadi momok bagi Elizabeth. Dia tidak tau perlakuan Kendrick terhadap Nina nantinya.


Elizabeth menyembunyikan air matanya, mengusapnya dengan ujung lengan bajunya. Terpaksa dia tidak menjawab, semakin menjawab dengan kebohongan akan semakin tersiksa.


Elizabeth mencubit pipi Nina yang gembul itu, saat berbicara ekspresi wajahnya terlihat lucu, apalagi bibirnya saat cemberut, begitu lucu. Siapapun yang mengenal Nina akan merasa gemas. Elizabeth memasuki rumah dan langsung menuju ke dapur, menyadari kedatangannya Julia teriak gembira dan memeluk Elizabeth. Tetap saja Elizabeth tidak bisa menahan air matanya hingga menggenang di pelupuk mata Elizabeth, menyaksikan mereka hidup sehat dan selamat saja sudah cukup. Bahkan tidak lagi memikirkan tujuan Juan menyandera mereka.


"Sudah mulai matang, sebentar lagi kita makan bersama." Ucap Julia. Nampak kesenangan di wajah Nina. Bahkan dia tidak sabar ingin makan bersama mamanya.


Makanan sudah tersaji di meja, masakan sederhanan begitu lezat, namun perjumpaan yang membuat mereka bahagia.


"Nina kamu duduk di sebelah mama ya."


Nina mulai menyantap makanan yang di sodorkan oleh mamanya, melahapnya hingga habis. Selepas makan kemudian Nina bermain di kamar, rumah ini hanyalah rumah yang sangat kecil dan bukan rumah yang biasa mereka tempati. Julia dan Elizabeth masih melanjutkan pembicaraan, bahkan keduanya terlihat tidak semangat.


"Katakan padaku. Apa yang di lakukan Juan padamu? Apa dia berlaku kurang ajar padamu?"


"Maksud kamu apa?"


"Dia mengatakan padaku kalau dia jijik padamu."


Julia terdiam, tidak ada yang keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Aku...aku.."


"Katakan! Jangan membuatku kecewa!"


"Aku salah! Ku kira dia menyandera Nina karena dia menyukaimu. Makanya aku menawarkan diri siapa tau berubah pikiran."


"Pemikiran yang konyol!"


"Tapi aku tidak menyukainya. Sumpah! Semua kulakukan karena aku tidak tega dengan Nina." Ucap Julia lirih, dia menundukkan wajahnya. Elizabeth menggenggam tangan Julia, mengusap air matanya.


"Aku berterima kasih padamu, tapi Juan bukan orang baik. Kamu tidak tau tujuannya menyandera Nina."


"Apa? Kalau bukan karena mencintaimu terus apa lagi?"


Elizabeth menelan ludah kasar. Sulit menerangkan kepada Julia, Tapi bagaimanapun dirinya saat ini sudah melibatkan Julia.


"Juan menyandera nina bukan karena alasan itu, tapi ada sesuatu yang tidak bisa di mengerti dengan mudah."


"Jelaskan padaku."


"Tapi sebelumnya, berjanjilah padaku kamu tidak menyukai Juan."


"Kebodohanku hanya cukup bersama Embre, aku tidak mau mengulang kebodohan yang sama."


"Bagus."


"Maksud kamu terjadi apa? Jangan membuatku takut!"


Elizabeth menarik napas kasar, dia menatap lekat wajah sahabatnya.


"Yang panting kamu berjanji dulu."


"Ok aku berjanji."


"Temui laki laki bernama Matheo. Katakan kalau sebenarnya Nina adalah anakku. Dan katakan padanya Kendrick jangan sampai tau."


"Siapa Matheo?"


"Laki laki yang sangat membenciku. Tapi aku tau kalau sebenarnya dia sangat baik."


"Tapi kalau juan mencariku dan Nina?"


"Tidak akan."


"Kenapa kamu seyakin itu?"


"Karena aku tau. Dengarkan aku, Juan mencari uang dan obat obatan terlarang milik kakaknya yang bernama Duarte."

__ADS_1


"Apa hubunganmu dengan Duarte?"


"Duarte adalah lelaki yang memperkosa aku."


"Apa?"


"Jangan keras keras!"


Julia menutup mulutnya, ke duanya sangat menjaga agar Nina tidak curiga.


Genggaman tangan Elizabeth ke tangan Julia semakin erat.


Ke duanya saling memberikan kekuatan dan perlindungan.


"Kamu tau, peristiwa itu membuat aku depresi berat. Bahkan aku kehilangan memori ingatanku selama tiga tahun lebih. Yang aku ingat seorang laki laki memasuki apartemenku dan berniat memperkosaku. Selebihnya aku tidak ingat."


"Jadi Nina?"


"Itulah aku belum yakin dia anak siapa. Tapi perlakuan Kendrick kepadaku dan ucapannya sepertinya aku benar benar di perkosa." Elizabeth menundukkan wajahnya. Dia tidak tau lagi bagaimana cara menerangkan pada Julia.


"Sebenarnya aku tidak berniat kembali kepada Kendrick. Bagiku hidup bersama Nina sudah cukup. Hanya saja Juan menjebakku dengan ambisinya. Bahkan aku belum mengetahui di mana letak uang itu. Jika saja aku mendapatkan. Akan lebih mudah lepas dari Juan ataupun Kendrick."


"Kenapa kamu tidak jujur saja kepada Kendrick?"


"Dengan mengatakan aku memiliki anak dari Duarte? Jangan mimpi, bisa bisa aku di bunuhnya. Apalagi dia sudah mengetahui Juan adalah adik Duarte."


"Kenapa kita tidak kabur sekarang saja?"


"Jika aku melakukan itu ada nyawa seseorang yang terancam di club tempat aku tinggal. Parahnya baik Kendrick ataupun Juan pasti memburuku." Ucap Elizabeth yang di maksudnya adalah Santa.


Keduanya terdiam, otak seperti kosong. Hanya terisi pemikiran masing masing.


"Kemarahan Kendrick padaku bukan itu saja, tapi kematian mamanya juga ada sangkut pautnya denganku."


"Maksud kamu?"


"Menurut Diego, aku menikahi laki laki yang ternyata adalah kekasih dari mamanya, dan mamanya bunuh diri karena masalah itu."


"Rumit sekali."


"Ya. Dan aku harus menyelesaikan satu persatu."


Kemudian tangan kanan Elizabeth masuk ke kantong celananya. Mengeluarkan secarik kertas yang terlipat.


"Ini alamat Matheo, bahkan nomor teleponnya. Berjanjilah padaku jika ada sesuatu temui dia. Seperti yang aku katakan padaku, rahasiakan keberadaan Nina."


Trimakasih yang menyukai novelku. Jangan lupa Like Komen and Vote. Berharap naik Level tapi susah banget. Padahal updite sudah rutin. Gracias

__ADS_1


__ADS_2