Cinta Wanita Kumal

Cinta Wanita Kumal
Demi Nina


__ADS_3

Elizabeth tersadar karena aroma kaporit yang menusuk hidungnya. Selang berisi cairan obat tanpa warna mengalir pelan masuk ke dalam urat nadi tangannya, mengalir setetes demi setetes. Kepalanya terasa berat, luka di sekujur tubuhnya menyisahkan keperihan hingga menusuk ke dalam tulang. Warna putih mendominasi ruangan, dia tertidur di atas brankar sempit, di sampingnya ada nakas kecil berwarna putih pucat. Di atas nakas terdapat air putih dan beberapa obat yang masih terbungkus rapi.


Lampu menyala terang, pendingin ruangan menyala dengan temperatur sedang.


Elizabeth masih mengingat dengan jelas kejadian terakhir, Roberto dengan ganas menghajarnya, muntahan darah segar dari mulutnya dan hidung bersamaan. Tapi lebih baik berakhir seperti ini terkapar tak berdaya, dari pada harus berakhir menjadi pemuas napsu birahi lelaki hidung belang. Pendirian Elizabeth hanyalah tidak mau merendahkan dirinya hanya demi uang. Tujuannya saat ini hanyalah menyelamatkan anak dan kakaknya, apalagi saat ini lelaki misterius itu juga menangkap sahabatnya.


"Air..." Ucap Elizabeth lirih.Tidak ada sahutan sama sekali, karena tidak ada orang lain di ruangan itu selain Elizabeth. Bibirnya memutih kering dan pucat. Tenggorokannya tercekat bahkan untuk menelan ludahpun dia merasa kesulitan.


Suara sepatu wanita mendekati ruangan perawatannya. Dan pintu lamar terdorong ke dalam. Dokter yang sangat cantik, hanya saja perawakannya tinggi dan terlihat seperti bodi laki laki.


Dokter cantik itu tersenyum kepada Elizabeth, senyumannya terlihat menyejukkan untuk siapapun yang melihatnya.


"Sudah sadar? Apa haus?"


Dokter itu menyodorkan gelas berisi air putih, membantu Elizabeth untuk meminumnya. Elizabeth mengangkat sedikit kepalanya dengan bantuan dokter Noela.


Elizabeth mencubit pakaian yang di kenakannya, pakaian itu bukanlah pakaian yang di kenakannya sebelumnya.


"Kenapa? Tidak masalah, itu pakaianku, kamu boleh meminjamnya. Dua hari yang lalu kamu di bawa ke rumah sakit dalam keadan tidak sadar diri dan tidak memakai pakaian yang pantas."


Elizabeth merasa malu, merasa dirinya tidak mengenal wanita di depannya, dan ini baru pertama kali melihatnya. Tetapi wanita itu sudah baik pada dirinya


"Perkenalkan aku dokter Noela. Kamu bisa memanggilku apa saja. Jika ada yang sakit sampaikan saja padaku. Aku akan mengobatinya. tapi lukamu cukup parah, jadi untuk sementara kamu bisa istirahat."


Noela di bantu seorang perawat membersihkan luka Elizabeth, memberinya obat antibiotik dan mengganti kain perban. Cukup lama ke duanya bergulat dengan luka yang ada di sekujur tubuh Elizabeth, mengobatinya satu persatu. Setelah selesai perawat meninggalkan Noela sendiri bersama Elizabeth.


Bayangan kekerasan fisik yang di alami oleh Elizabeth masih membekas. Ketakutan dan Depresi untuk yang ke dua kali. Mulutnya seperti terkunci, otaknya membeku. Matanya bergerilya memandang gerakan dokter Noela.


"Kamu cantik, pantas saja Kendrick sangat mencintaimu." Saat menyebut nama Kendrick wajah Noela terlihat berbeda, hal itu juga di sadari oleh Elizabeth.


Mendengar Noela menyebut nama Kendrick, Elizabeth sedikit ketakutan. Lelaki yang dulu pernah di cintainya dengan sepenuh hati sekarang berubah menjadi monster. Monster yang rela melemparkan wanita yang pernah di cintainya menjadi bulan bulanan lelaki mesum.


Noela memeriksa kantong dan selang infus memastikan agar cairan itu dapat mengalir dengan lancar. Tangannya bergerak lincah.


"Kendrick lelaki yang baik, dia sahabatku. Bahkan aku mengenalnya lebih baik darimu."


Elizabeth membantu membersihkan sudut mata Elizabeth yang basah. Menggunakan kain kertas dan setelah itu dia menarik kursi yang ada di samping brankar.


Noela duduk di samping Elizabeth. Berusaha untuk mengakrabkan diri.

__ADS_1


Elizabeth tidak tau tujuan apa di balik kebaikan Noela padanya. Yang pasti saat ini Noela sudah membuat hati Elizabeth nyaman dan percaya.


"Kendrick berubah sejak kamu menghianatinya. Kenapa kamu tega membunuh mamanya? Kendrick sangat terluka"


Elizabeth menggelengkan kepalanya. Dia ingin menjawab kata 'Bukan aku pelakunya' Tapi bibirnya seakan terkunci. Anggapan sebelumnya Kendrick murka padanya karena dia sudah berkhianat ternyata tidak sesederhana itu.


Sayangnya kejadian itu terjadi saat dia depresi parah.


"Apa kamu lapar? Dua hari kamu tidak sadar."


Noela terlihat beberapa kali memancing pembicaraan. Namun Elizabeth tetap terdiam.


Dari expresi dan gerak geriknya dapat di rasakan oleh Elizabeth kalau sebenarnya Noela adalah dokter yang baik.


"Dia lelaki yang baik."


"Aku... Aku bukan Elizabeth. Namaku Eliz."


"Kamu tidak usah mengelak, bahkan aku mengenalmu sebaik Kendrick, saat kamu mengalami pelecehan, akulah yang menolongmu. Dan bolehkah aku tau bagaimana kamu bisa mendapatkan luka tembak itu?"


Noela menatap wajah Elizabeth, pertanyaan singkat tapi wajah Elizabeth menandakan ke tidak percayaan pada dirinya.


"Aku hanya ingin sendiri." Ucap Elizabeth lirih.


"Trimakasih dokter. Bisakah aku meminta pertolongan? Ponselku.."


"Panggil saja Noe, aku akan menyuruh seseorang membawakan bubur untuk kamu. Tentunya kamu lapar bukan?"


Elizabeth menganggukkan kepalanya. Noela membuka laci nakas dan menarik ponsel yang ada di dalamnya. Memberikan ponsel itu ke pada Elizabeth.


Trimakasih." Ucap Elizabeth kepada Noela, dan di balas dengan sebuah senyuman.


Baru saja ponsel itu berada di dalam genggamannya, sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya.


Angkat telepon! Bukankah dokter wanita itu sudah pergi?


Elizabeth membolak balikkan kepalanya, mencari siapa sebenarnya lelaki misterius yang selalu mengintainya, bahkan mendominasi Elizabeth dan orang terdekatnya. Bagaiman bisa pria misterius itu bisa tau kalau Noela baru saja pergi meninggalkan kamarnya. Apa pria misterius itu membajak CCTV?


Telepon berdering, Elizabeth bergegas menggeser tombol hijau.

__ADS_1


"Hallo."


"Hmmm. Bagaimana keadaanmu? Masih hidup?"


Kalimat pria misterius itu sangat kasar dan menakutkan.


"Seperti yang anda lihat. Bukankah anda memata matai saya?"


"Hahaha. Kamu memang cerdik."


"Tidak salah aku memang memata matai kamu. Bahkan saat kamu menjadi bulan bulanan Roberte di club D'Oreon pun, aku juga ada di sana, melihatmu terkapar."


Elizabeth hanya terdiam, meremas ponsel dengan keras. Genggaman tangannya berkeringat dingin. Jika lelaki misterius itu ada di lokasi kejadian, di antara lelaki yang melihatnya di lecehkan, siapa di antara mereoa? Elizabeth menebak nebak, tetapi percuma tidak ada yang pantas di curigai


"Kalau anda mengetahui dan bahkan anda berada di satu ruangan dengan saya, kenapa anda tidak menolongku? Apa anda tidak menyesal kalau jika saja aku mati, tidak ada lagi yang akan membantumu untuk menuntaskan tujuan anda!"


"Jangan mimpi, jika kamu mati masih banyak cara untuk mendapatkan orang guna menuntaskan urusanku. Dan jika dua hari yang lalu kamu mati, bagaiman dengan anakmu? Tentunya kamu tidak mau kan Nina aku jual di Club D'Oreon kelak?"


Elizabeth ingin menangis dan berteriak sekeras kerasnya. Tapi dia sadar yang di lakukannya percuma.


"Jadi kamu harus terus hidup, jika kamu ingin Nina baik baik saja."


"Sampai kapan aku tetap berada di club D'Oreon?"


"Jangan buru buru. Terlebih dahulu kamu harus mendapatkan cinta Kendrick kembali, kemudian baru kamu beraksi. Dan satu lagi kamu tidak boleh jatuh cinta pada dirinya. Paham?"


"Katakan apa yang harus aku lakukan?"


"Kenapa tidak sabar?"


"Bagaimana seorang ibu bisa bersabar jika nyawa anaknya di jadikan taruhan?" Ucap Elizabeth sedikit membentak.


"Aku senang dengan kalimatmu, jelas kamu berbeda dengan mama kamu saat memperlakukan dirimu. Betul tidak? Hahahaha."


Kalimat itu sangat menusuk hati Elizabeth, dia membenci mamanya hingga masuk ke tulangnya.


"Tapi paling tidak biarkan aku bertemu Nina, sebentar saja."


"Tidak untuk saat ini. Tetapi karena kemurahan hatiku, akan ku kirimkan foto Nina padamu."

__ADS_1


Belum sempat Elizabeth mengajukan kalimat protes, lelaki misterius itu sudah menutup telponnya tanpa mengucapkan salam. Tak lama kemudian sebuah notivikasi masuk, bahkan notivikasi berbunyi lebih dari satu kali.


Trimakasi untuk tetap setia dengan novelku.😘😘😘


__ADS_2