
Dua jam berlalu, bahkan setiap waktu Elizabeth menghitung detik dan menitnya, terasa lama dan membosankan. Tepatnya menakutkan! Ruangan yang kecil dan pengap itu minim penerangan dan pencahayaan. Tidak akan ada yang sanggup berdiam diri di sini. Tapi karena Elizabeth adalah wanita tangguh, demi keselamatan anaknya dia akan berjuang sampai titik darah penghabisan. Ponsel di genggamannya belum berbunyi, beberapa kali dia menatap layar ponselnya. Sinyal yang tak begitu bagus, di tambah batrai yang semakin menipis membuat keresahan di hati Elizabeth. Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya. Kemudian di susul sebuah panggilan. Ada nama Juan di layar ponsel, tanpa warna tanpa foto pada layar ponselnya. Elizabeth menekan tombol sebelah kanan.
"Aku setuju dengan syaratmu."
Dengan suara yang berbisik menekan intonasi.
"Baik, aku tunggu kamu di rumah pondok." Yang di maksud rumah pondok adalah rumah kecil yang di tempati oleh Julia dan Nina walau sementara.
"Tapi agak sedikit sulit, aku sekarang di kurung di gudang kosong tepatnya di bagian bawah D'Oreon."
"Apa? Ada tempat seperti itu di club milik bajingan itu?"
"Bantu aku untuk ke luar dari klub ini. Tapi sebelum aku sampai bebaskan dulu Julia dan Nina. Aku pasti menemuimu di rumah gubuk."
"Ya setelah kamu sampai. Dan kenapa harus menunggu dua hari? Seseorang akan menyusup untuk membantumu." Ucap Juan.
"Aku masih penasaran dengan barang yang kamu minta. Jika sebelum dua hari aku menemukannya, kita kembali pada kesepakatan awal."
Juan tidak langsung menjawab, jika saja dia berani mengakui, perasaan menyukai Elizabeth juga timbul secara tiba tiba. Di tambah keberadaan Nina membuat Juan semakin tertarik. Dia paham tidak sekaya Kendrick, tapi sejujurnya dia tidak membutuhkan barang yang di carinya, semua timbul dengan kebetulan. Balas dendamnya kepada Kendrick memang sudah lama, dari sebelum kematian Duarte beberapa kali dia mencoba membunuh Kendrick. Duarte mencetak Juan menjadi sosok pembenci Kendrick. Di tambah kematian Duarte membuat Juan semakin berniat mencelakai Kendrick. Semuanya semakin jelas dan terarah. Juan tau beberapa tahun yang lalu bagaimana Kendrick seperti seekor burung rajawali yang kehilangan sayapnya. Kematian ibunya, kepergian wanita pujaannya. Bahkan sekarang di khianati kekasih yang di carinya selama ini.
__ADS_1
Kejadian sebenarnya tentang kematian Duarte memang Juan ikut andil di dalamnya. Kronologi sebenarnya Duarte memerintahkan dirinya untuk mencuri key card milik Kendrick. Kunci Apartemen Kendrick yang di tempati oleh Elizabeth. Juan memang terlatih sebagai penjahat profesional, baik di lakukan sendiri ataupun bayaran. Baginya Duarte bukan hanya seorang kakak, tetapi seorang senior yang mengajarkan keahlian dalam kejahatan, sama yang terjadi pada Kendrick. Juan dan Kendrick adalah lawan seimbang dalam dunia gelap. Hanya saja Kendrick lebih beruntung bertemu dengan Matheo, mengamankan semua uang hasil mengemisnya dan mendorong Kendrick untuk hidup lebih baik. Bahkan sampai saat ini harta kekayaan Kendrick tidak akan habis sampai tujuh turunan.
Pencuri key card adalah Juan, dia memberikannya kepada Duarte, niat awal Duarte ke apartemen milik Kendrick hanyalah mencari barang haram dan uang milik orang Asia. Padahal belum lama dia lolos dari tawanan Kendrick. Kondisinya sangat memprihatinkan. Beberapa hari tak tersentuh air bahkan perutnya belum terisi makanan sedikitpun. Andai saja Elizabeth tidak berada di apartemen itu atau tidak memergoki dirinya saat masuk apartemen Kendrick, mungkin semua aman aman saja. Sayangnya Elizabeth berada di tempat yang salah.
Saat itu Duarte tidak berniat memperkosa Elizabeth, hanya saja penampilan wanita itu sangat menggoda. Bukan salah Elizabeth, dia mengenakan pakaian menantang bukanlah di tempat umum, di dalam kamar apartemen hanya ada dirinya. Tetapi sebagai lelaki yang terbiasa hidup dengan dunia malam tentu kehadiran wanita di depannya sangat menarik sisi buruknya. Bagaikan binatang yang kelaparan dia ingin sekali menerkam Elizabeth, menelannya bulat bulat. Duarte tidak sempat menikmati tubuh Elizabeth, perlawanan gigih Elizabeth tidak sia sia. Kendrick menemukan tubuh Duarte hanya mengenakan ****** ***** yang kumal dengan posisi tertelungkup dan bersimbah darah. Sementara itu Elizabeth berada di kamar mandi dengan posisi shower yang masih menyala tanpa mengenakan sehelai benangpun. Itulah awal mula Elizabeth menderita depresi berat, percobaan pemerkosaan yang di lakukan Duarte ternyata membuat otak Elizabeth berubah menjadi dingin dan mati. Hanya saja sampai sekarang Elizabeth tidak berani menggali memorinya kembali. Ketakutan ataupun tekanan Kendrick saat ini semakin membuat dirinya menutup ataupun membentengi dari kedekatannya dengan Kendrick. Begitu pula dengan Kendrick, enggan mengatakan pada Elizabeth kalau Duarte di temukan mati dengan ****** ***** masih menempel di tubuhnya. Kendrick menganggap itu bukanlah sesuatu yang penting, dan lagi Kendrick juga tidak mengetahui kalau ada nasib Nina di baliknya. Padahal dampaknya akan begitu besar.
Duarte menemui ajal setelah mendapat perlawanan dari Elizabeth. Luka tusukan oleh pisau yang di bawanya sendiri bak senjata makan tuan.
Dua hari telah berlalu, sesuai kesepakatan, Juan memasukkan mata mata ke club D'Oreon untuk membantu melepaskan Elizabeth. Tapi sayangnya semua tidak sesuai rencana. Marco memasuki gudang pengap itu, melihat tubuh Elizabeth meringkuk di atas tikar lusuh sungguh membuat hatinya tidak tega.
Mengetahui ada yang datang, dengan cepat Elizabeth bangun dari tidurnya.
"Marco?"
"Marco, kita kemana?"
"Nanti anda akan mengetahuinya."
"Marco, aku tidak mengerti, mengapa Kendrick semarah ini. Kalau hanya aku pergi untuk keperluanku. Bagaimana dia semarah ini. Dan lagi bagaimana nasib Santa sekarang, apa dia baik baik saja? Atau benar yang di katakan Kendrick kalau dia membunuhnya?"
__ADS_1
"Seperti yang di katakan bos Kendrick, itu benar!"
"Jadi...."
Elizabeth sangat sedih karena dirinya seseorang menjadi korban.
"Ya." Ucapan Marco berbanding terbalik saat awal di temuinya. Tanpa sadar ke dua tangan Elizabeth mengepal kencang, meremas kemeja yang di kenakannya hingga mengkerut.
Elizabeth di bawa Marco kembali ke ruangan VIP yang biasa di tempatinya. Pendingin ruangan itu bahkan sepertinya sudah lama di aktifkan hingga terasa begitu membeku.
"Silahkan anda mandi, setelah itu pelayan akan mengantarkan makanan kemari."
Betapa senangnya Elizabeth, beberapa hari tidak terkena air sama sekali. Bagaimana wajah dan aroma tubuhnya jangan di tanyakan lagi. Dengan langkah cepat Elizabeth memasuki kamar mandi, menyalakan kran shower, terlebih dahulu melepas semua pakaian. Ada cermin di sana, sedikit cekungan di kedua pipinya. Begitu kurus!
Pikiran yang melayang, dan otak yang berisi beberapa pertanyaan. Mengapa Kendrick melepaskannya bahkan Elizabeth mendapat ijin kembali ke ruang VIP ini. Apa Kendrick tidak marah lagi? Ataukah Kendrick punya rencana lain?
Ada ketakutan di hati Elizabeth, jika saja marahnya mereda mengapa sampai sekarang Kendrick belum menemuinya? Pikiran yang bercampur di tambah ingatannya kepada Nina mengakibatkan Elizabeth sama sekali tidak berkonsentrasi. Bahkan seseorang memasuki ruangan itupun Elizabeth tidak menyadarinya, dia masih berdiam di bawah shower. Di tambah sangat menikmati ritual mandi yang tidak di dapatkan beberapa hari yang lalu. Elizabeth merasa tubuhnya segar, bahkan seakan terbebas dari gelas botol tanpa kesulitan apapun. Menyadari mandinya cukup lama, di tambah badannya cukup segar, Elizabeth mematikan kran air dan bergegas ke luar dari kamar mandi, sialnya dia lupa membawa handuk mandi. Sedikit kebingungan, tetapi menyadari di dalam kamar tidak ada satupun orang selain dirinya tentu Elizabeth merasa santai.
Membuka pintu dengan cepat, berlari kecil menuju lemari penyimpanan peralatan mandi. Pintu lemari itu terdapat sebuah kaca berbentuk oval dan besar, Saat dia membuka pintu lemari tentu saja pantulannya langsung terlihat dari semua sudut ruangan.
__ADS_1
Mulutnya menganga, pipinya memerah dan jantungnya berdebar. Seseorang tengah duduk di atas kasur dan bersandar di kepala ranjang. Orang yang di takuti bahkan di hindari. Mengapa dia melihat saat keadaan Elizabeth seperti ini? Mulut Elizabeth menganga, bahkan seolah tidak bisa menutup untuk selamanya. Malu! Sangat Malu! Padahal bukan yang pertama kali dia seperti ini.
Hai pecinta Novelku. Trimakasih ya sudah meninggalkan jejak. Tenangkan pikiran dan hatimu, dan berbahagialah setiap saat.