
Elizabeth keluar dari pintu gerbang kastil dengan aman, melewati penjagaan yang ketat tanpa halangan sedikitpun, untung saja hari ini tidak turun hujan, sehingga dia dapat leluasa jalan kaki hingga ratusan meter menuju jalan utama Bogota.
Hari ini Elizabeth bersyukur sekali, bahkan angkutan umum dapat dengan mudah di dapatnya. Tidak seperti biasanya bahkan taxipun jarang melewati wilayah komplek.
Mengenakan sepatu flat warna putih, dan setelan kemeja kasual, mengikat rambutnya ke atas, tidak lupa mengenakan topi sekedar menutupi identitas.
Elizabeth tidak memberitahu Noela tentang kepergiannya, lagi pula jika dia berpamitan, Noela akan lebih cerewet melebihi orang tuanya. Beruntungnya Leyton dan Nina belajar dengan guru private hari ini. Tak ada beban, semua berjalan lancar saja.
Elizabeth tiba di rumah sakit besar Bogota memakan waktu tiga puluh menit dari kastil, memasuki kamar rawat VIP yang di tempati Juan, sekali lagi ada perasaannya lega. Bahkan pengawal yang berjagapun tak ada. Eliana menemukan kamar Juan, menekan handle kemudian mendorong pintu.
Dia melihat Juan dengan beberapa kabel dan selang yang menggantung sebagai penunjang kehidupannya Juan laki laki yang kuat dan bersemangat itu kini terbaring lemah. Dia tidak memiliki hubungan kusus dengan Juan, tetapi lelaki itu yang pernah menolongnya dari Kendrick.
Elizabeth meraba telapak tangan Juan. Berpikir sejenak siapa yang tega memcelakai dirinya dan Juan, apakah Kendrick ataukah Jade? Jika saja Juan siuman tentu akan ada jawabannya.
Tiba tiba terdengar derap langkah kaki mendekat, Elizabet mengira suara itu adalah suara langkah kaki perawat ataupun dokter yang berjaga, tetapi suaranya semakin mendekati kamar Juan. Elizabeth tidak curiga sama sekali.
Tiba tiba pintu di buka paksa dari luar, suara hentakan benda tumpul membuat Elizabeth terkejut.
Betapa terkejutnya Elizabeth, Kendrick memasuki ruangan serba putih di ikuti Marco dan beberapa pengawal. Kendrick menarik kursi kemudian duduk tepat di samping Elizabeth, melipat satu kakinya dan bertumpu di atas kaki lainnya. Wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang proposional di tambah penampilannya yang kharisma, siapapun akan terpikat bila melihatnya.
Elizabeth kecewa dan takut, bukan seperti ini yang dia mau, Elizabeth bukan takut karena ancaman tapi dia adalah Kendrick, akan menghukum siapapun yang sudah membohonginya.
"Kendrick?" Ucap Elizabeth terbata. Mencoba tenang dan berusaha merayu.
"Ya! Kejutan bukan?" Kendrick marah, kenapa Elizabeth perhatian pada Juan, apa Elizabeth buta atau amnesia. Jade adalah adik dari Duarte, orang yang melecehkannya.
"Enggak, iya. Maafkan aku, sebenarnya..." Pikiran Elizabeth jadi kacau, bahkan tidak tau harus berkata apa. Kendrick sudah melarangnya menemui Juan, entah apa yang di kuwatirkan oleh Kendrick. Hanya menemui pasien koma.
"Marco seret dia bawa kembali ke kastil." Perintah Kendrick, dia langsung berdiri dan meninggalkan kamar rawat. Elizabeth mencoba menghalangi. Dia tidak mau membuang waktunya percuma.
"Kendrick ijinkan aku melihat kondisinya, aku bersumpah tidak ada apa apa antara aku dan Juan." Tangis Elizabeth memohon, dia menarik tangan Kendrick.
__ADS_1
Tapi Kendrick menepis tangan Elizabeth.
"Baiklah aku bersedia menikah denganmu." Bujuk Elizabeth.
"Kendrick menghentikan langkahnya, berpikir sejenak kemudian berbalik menghadap Elizabeth.
"Tanpa ijinmupun aku akan tetap menikahimu!"
Laki laki macam apa ini, menikahi seseorang tanpa ijin yang bersangkutan.
Batin Elizabeth. Ingin rasanya menggetok kepala Kendrick agar sadar dengan ucapannya.
"Seret dia!" Lagi lagi sambil berteriak. Marco sedikit ragu namun tidak berani membantah lagi.
"Nona mari ikut denganku." Ucap Marco dengan sopan.
"Ini apa apaan aku tidak melakukan kesalahan!"
Elizabeth di paksa masuk ke dalam mobil Maybach milik Kendrick, merasa kesal dan jengah.
Hanya melihat kondisi Juan yang koma! Salahnya di mana? Bukankah itu wajar. Tapi mengapa Kendrick semarah ini?
Elizabeth tidak tau kalau keberadaan Juan ada hubungannya dengan Duarte musuh Kendrick di kala itu.
Elizabeth tiba di kastil satu jam kemudian, turun dari mobil dengan langkah lesu, Kendrick tidak langsung pulang. Entah ke mana dia dan apa yang di lakukannya.
Elizabeth berjalan menunduk, begitu banyak masalah yang di pikirkannya, hingga tiba tiba langkahnya terhenti saat matanya menangkap sebuah bayangan kaki jenjang, begitu kurus dan mulus.
"Sudah menemukan pria pujaanmu?" Eva berdiri dengan menyilangkan tangan di atas dada. Gaya bicara yang congkak dan sombong.
Elizabeth tidak perduli ucapan Eva, dia melewatinya begitu saja. Hari ini cukup banyak masalah yang di hadapi. Merasa di abaikan kekesalan Eva memuncak. Memancing kemaran Elizabeth adalah tujuan utamanya.
__ADS_1
"Bukannya berterima kasih sudah aku lancarkan tujuannya." Sindir Eva, dia tidak merubah posisinya, tetap berdir di atas anak tangga teras kastil.
Elizabeth berhenti sejenak tanpa mengerti maksud ucapan Eva. Tangannya masih menempel pada gagang pintu kayu besar.
"Kamu menginginkan kebebasanmu bukan?" Tanya Eva sarkas. Suasana kastil begitu sepi, beberapa pelayan juga sibuk dengan tugasnya masing masing. Hanya tersisa kepala pelayan yang masih mengawasi interaksi antara Eva dan Elizabeth.
"Sepertinya tidak bagus jika berurusan dengan seteru, apalagi orang semacam kamu." Jawab Elizabeth, dia tau manusia model apa kakaknya itu. Mungkin lebih pantas di sebut ratu tega. Karena kakaknyalah yang menjadikan Elizabeth jaminan hutang. Di situlah awal mula kebencian Kendrick padanya.
"Jangan sombong, sebentar lagi kamu akan mendapatkan kejutan besar jika kamu butuh sesuatu kamu bisa mencari aku, tapi jika aku masih ada hasrat." Ucap Eva, kemudian dia menepiskan satu tangannya seakan menyibak angin. Eva tersenyum mencibir. Kemudian dia berjalan meninggalkan teras kastil barat menuju kastil timur.
Elizabeth melanjutkan tujuannya memasuki kastil, menaiki tangga dan membuka pintu kamar Leyton, nampak Leyton bersama Nina di dampingi guru private tengah belajar. Elizabeth menarik napas panjang. Merasa ada sesuatu yang aneh jika melihat wajah dan ekpresi Leyton, apa karena Leyton begitu mirip dengan Kendrick?
Belum juga Elizabeth memasuki kamar, tiba tiba ponselnya berdering. Ada nama Marco di sana.
Elizabeth tidak mau mengangkat ponselnya. Dan kemudian melemparkan ponsel itu ke atas kasur.
"Hari yang melelahkan!' Dengusnya.
Sayangnya ponsel miliknya tak berhenti berdering. Elizabeth terpaksa menggeser tombol hijau ke kanan.
"Ya Marco, ada perintah apa lagi dari bosmu?" Kalimat kekesalan keluar dari mulut Elizabeth, dia kesal dengan Marco, sikapnya berubah tidak sama dengan Marco yang awal di kenalnya.
"Tidak hanya saja....." Ucap Marco ragu.
"Cepat katakan, aku butuh ketenangan!" Elizabeth makin kesal.
"Nona saya harap peristiwa ini hanya kebetulan saja."
"Katakan cepat, aku sedang malas!"
"Baik, baru saja pihak rumah sakit mengabarkan kalau Juan meninggal dunia."
__ADS_1
"Kamu bercanda! Sama sekali tidak lucu." Tentu saja Elizabeth tidak percaya karena dia melihat Juan dalam kondisi yang baik, dan sekarang di temukan tak bernyawa. Sadis! Ini pasti perbuatan Kendrick!