Cinta Wanita Kumal

Cinta Wanita Kumal
Kebakaran Di Caldas


__ADS_3

Aparat keamanan yang di terjunkan oleh pemerintah bergerak cepat, kebakaran salah satu kota Caldas dan perang senjata. Asap hitam pekat mengepul dari segala penjuru lokasi kebakaran. Banyak korban dari para penyelundup, aparat sudah mengungsikan warga sipil ke tempat yang aman. Namun kerugian materi tidak bisa di hindarkan. Para penduduk menangis mendapati hancurnya kota itu, tentu saja mereka harus menata ulang dan itu tentu memakan waktu lama. Beberapa bangkai kendaraan hangus terbengkali dan masih mengepulkan asap. Roda mobil berserakan di mana mana dengan api yang masih menyala. Beberapa toko rusak akibat penjarahan.


Kota di bawah kekuasaan Jade Eman benar benar tidak bisa di tolong lagi. Polisi dan angkatan perang berjaga di segala penjuru dengan memegang senjata laras panjang.


Di tempat lain Jade Eman begitu murka, salah satu kota yang di andalkan sebagai penyetor penghasilan terbesar luluh lantak akibat perang antara penyelundup dan aparat pemerintahan. Jade murka karena informasi penjualan senjata telah bocor, sehingga aparat mengetahui dan bertindak cepat.


Jade melampiaskan kekesalan pada anak buahnya. Keuangan mafia selatan benar benar terpuruk. Satu tahun terakhir bahkan merugi hingga tembus level teratas.


Jade memiliki seorang kepercayaan dan merangkap pengawal bernama Moro, Moro berkebangsaan Afrika yang memiliki temperamen yang ganas. Loyalitas pada Jade sangat tinggi. Moro berhutang nyawa pada Jade. Dulu Jade menyelamatkan Moro dari penjualan organ tubuh manusia.


"Ada kabar apa hari ini?" Tanya Jade pada Moro. Jade duduk di atas sofa ruang kantornya. Salah satu kakinya di letakkan di atas kaki yang lain dengan posisi menyilang. Wajah tampan dan rambut pirang mirip pria blasteran. Padahal Jade berasal dari suku asli Bogota.


Ke dua jari tangannya menenekan pelipis. Jade sangat heran, mengapa sekarang pemerintah bertindak tegas padahal tidak sedikit upeti yang di kirimnya. Hingga terjadi konflik di kartelnya. Biasanya dengan mudah Jade menangani bisnis narkoba, penyelundupan senjata, pemerasan, hingga manipulasi pemilihan umum demi mendapatkan uang dan memperluas wilayah kekuasaan. Sayangnya sekarang seperti menemui jalan buntu.


Moro dengan ragu melaporkan hasil temuannya. Laki laki berkulit gelap itu mengatakan kerusuhan kondisi kartel yang tidak baik.


"Kirim upeti sekarang, dan berikan pada mereka." Yang di maksud mereka oleh Jade adalah kepolisian setempat.


"Sepertinya tidak bisa lagi bos, dua bulan yang lalu saat saya menyuruh seorang kurir khusus, untuk mengirim upeti, mereka langsung mengembalikannya tanpa memberikan alasan. Bahkan kurir khusus, kena ancaman hukuman karena terbukti tertangkap tangan menyogok salah satu petinggi di sana.


Yang di maksud upeti adalah emas ataupun tumpukan uang dengan jumlah yang tak sedikit.

__ADS_1


"Sial!" Ujar Jade sambil menggebrak meja.


"Lalu kamu lepas tangan mengenai masalah ini?"


Suara telepon memecah ke sunyian di kantor milik Jade. Suara ponsel Moro mengundang perhatian Jade.


"Keluar!" Usir Jade, Jade paling tidak suka jika tengah membahas tentang Kartel tiba tiba ada suara dering telepon, hal itu sangat mengganggu. Moro berjalan keluar sebelumnya memohon maaf, menundukkan kepala.


Belum lama Moro meninggalkan ruang kantor, dia kembali lagi ke dalam dengan membawa sebuah kabar.


"Bos, tempat penyimpanan peti kemas terbakar, termasuk gudang persembunyian!"


Ucap Moro dengan lantang. Mendengar kabar itu Jade langsung berdiri dari tempat duduknya dan berlari ke area tempat penyimpanan peti kemas.


Tidak seperti biasanya jalanan tampak lengang, apalagi melewati kota Caldas. Sisa sisa kerusuhan masih terlihat, bahkan mulai terlihat beberapa orang merapikan sisa kerusuhan.


"Kenapa kamu lewat belakang kota? Ini terlalu lama!"


Ucapan Jade tidak tegas, kemudian di jelaskan oleh Moro. Demikian juga supirnya, karena mereka harus melewati beberapa kemarahan warga sipil sipil. Petugas keamanan bisa di hadapi, bahlan musuhpun sanggup. Tapi kemarahan penduduk jika melihat anggota mafia yang mengakibatkan kerusakan kota mereka, tentu akan kembali memancing ikan di air keruh.


"Bos, masih banyak petugas dan jalanan di tutup."

__ADS_1


Terpaksa Jade percaya kepada mereka. Yang membuat Jade kuwatir bagaimana nasib dari Carlos dan Luci. Bagaimanapun juga Carlos adalah orang yang membesarkan dirinya.


Beberapa saat kemudian Jade Eman sudah memasuki pinggiran hutan, jalan yang sepi dengan lapisan aspal yang mulai mengelupas. Kanan kiri di tumbuhi tanaman liar yang tumbuh semakin menutupi bahu jalan. Jalan hutan ini bukanlah jalan umum, akses menuju penyimpanan peti kemas di buat khusus oleh Jade.


Tampak kepulan asap dari beberapa titik api. Kendaraan besar yang di kendarai Jade Eman mulai melambat. Beberapa anak buah sudah mulai nampak berjaga berdiri sambil membawa senjata laras panjang. Pakaiannya mirip seragam militer tetapi tak rapi, karena memang mereka memalsukannya.


Mobil beroda gardan memasuki walayah penyimpanan peti kemas, Jade turun dari kendaraannya. Ke dua tangannya berkacak pinggang, kaca mata Ray Ban bertengger menutupi mata elangnya. Dua senjata api terselip di salah satu pinggangnya dan yang ke dua persis di bawa ketiaknya. Jade sangat geram. Kebakaran yang meluluh lantakkan menghabiskan hampir setengah dari hutan. Kekesalannya tidak bisa terbendung lagi tiba tiba dia menarik senjata dan menembak ke dua anak buah tepat di kepalanya. Seketika anak buah itu terkapar dan mati. Moro dan anak buah yang masih hidup melihat kejadian itu hanya sanggup menahan nafasnya.


"Mana Santa!" Teriak Jade Eman. Santa adalah salah satu pelayan wanita yang di pekerjakan untuk mengawasi Carlos Eman dan Luci.


Moro mendorong salah satu anak buah yang bertugas menjaga keamanan akses masuk hutan rahasia.


Ragu ragu anak buah mendekati Jade. Penjaga tak langsung menjawab, menundukkan kepala dengan gemetar. Tangannya yang kasar masih menggenngam erat laras panjang.


"Jawab!" Bentak Jade mulai tak sabar, pistol masih dalam genggamnya. Cukup lama Jade menunggu jawaban hingga kesabaran juga mulai hilang.


Dua tembakan tepat mengenai sasaran, kepala penjaga keamanan itu tertembus peluru, tubuhnya terpental beberapa meter ke belakang hingga akhirnya tumbang. Darah terciprat ke mana mana.


"Bos ada yang menemukan ini!" Ucap Moro di sela sela kemarahan Jade.


Sebuah benda hitam kecil berbentuk persegi. Benda itu ternyata remote control. Remot pengendali dari jarak jauh di temukan di tengah hutan? Bukankah ini mirip stick gamers? Ini bukan remot biasa.

__ADS_1


"Sisir tepian hutan!" Teriak Jade. Semua berpencar mencari barang yang mencurigakan.


__ADS_2