Cinta Wanita Kumal

Cinta Wanita Kumal
Kecewa


__ADS_3

"Ada apa, kenapa dengan wajahmu? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" Pertanyaan Kendrick kepada Elizabeth, siapa yang tidak mengetahui wajah murung istri ke tiganya, Kendrick meragu. Apa Elizabeth mengetahui kalau dirinya baru saja dari kamar Noela? Kenapa harus marah? Bukankah Elizabeth tau hubungannya dengan Noela hanya karena balas budi dan ibu dari Eliana?


Kendrick menatap Elizabeth dengan tatapan tidak suka. Kendrick mempercepat urusannya di kantor hanya demi dirinya, demi wanita ini. Tapi mengapa Elizabeth malah mengabaikannya? Bahkan tidak melayani sama sekali.


"Apa yang kamu keluhkan! Katakan kalau memang kamu tidak menyukai kepulanganku, sebaiknya aku beristirahat di ruangan lain." Ucap Kendrick, tanpa jeda dia bangun dari sofa besar yang ada di dalam kamar. Dia sangat tidak suka wanita yang merajuk dan cengeng.


"Mau ke mana? Aku..." Elizabeth hendak mengatakan kecemburuannya, tapi dia harus menahan lidahnya. Sebenarnya dia sungguh belum siap untuk kembali ke sisi Kendrick, karena masa lalunya bersama laki laki ini tidaklah indah. Elizabeth memberikan senyum manisnya, perubahan wajahnya sangat cepat, bahkan Kendrick menangkap perubahan itu. Kendrick mengerutkan dahinya. Ada apa dengan istri ketiganya.


"Kamu jangan pergi, tetap disni ok. Aku akan memanjakanmu. Maafkan aku, masalah pesta ini membuatku gugup." Ucapan Elizabeth tentu ada benarnya, mungkin istri ketiganya ini lelah. Kendrick meletakkan tangannya di pinggang Elizabeth, dia sangat menyukai istri ke tiganya, dia sama sekali tidak memikirkan kecantikan wanita ini. Kalau di bandingkan Eva dan Noela, Elizabeth masih kalah cantik. Tetapi wajah ini memiliki keistimawaan tersendiri di hatinya, sangat manis. Dan itu yang membuat Kendrick begitu sulit melepaskan.


Ke duanya melakukan olah raga rutin, olah raga yang di tundanya selama satu bulan karena pasca melahirkan, Kendrick melakukannya dengan ganas dan lama, hingga mencapai pelepasan, sehingga tanpa terasa Elizabeth tertidur. Saat membuka mata Kendrick sudah tidak ada di sampingnya, Elizabeth mengira kalau Kendrick sudah bersiap di arena pesta, karena pakaian yang di siapkan sebelumnya juga sudah tidak ada di tempatnya. Elizabeth memasuki kamar mandi, dia membasuh tubuhnya dengan cepat kemudian berhias secantik mungkin. Pakaian yang di kenakan sangat bagus.


Melalui balkon kamar Elizabeth dapat melihat posisi Kendrick.


Ternyata benar, Kendrick sudah berada di taman tempat di mana akan di adakan acara pesta, Elizabeth tersenyum senang. Kembali memasuki kamar untuk menyemprotkan parfum kesukaan Kendrick di leher jenjangnya. Elizabeth menuruni tangga, tapi ketika kakinya sampai di anak tangga terakhir, dia melihat Noela tengah duduk di samping Kendrick, tadinya saat di balkon Elizabeth sama sekali tidak melihat karena posisi Noela tertutup oleh bunga hias yang sangat besar.


Betapa kecewanya Elizabeth, Kendrick tidak membangunkannya, tapi malah memilih mengajak Noela menghadiri acara pesta yang di persiapkan Elizabeth. Tapi Elizabeth mencoba berpikir logis, mungkin larena Noela yang membutuhkan bantuan untuk turun ke bawah, sehingga Kendrick mengajaknya terlebih dulu.


Karena akhir akhir ini Noela begitu aneh dan menunjukkan perasaan tidak suka jika berpapasan dengannya. Maka Elizabeth menarik diri. Dia mengurungkan niat untuk mendekati Kendrick dan berjalan melewati pintu samping untuk pergi ke kastil timur, bukankah dia belum melihat kedatangan Leyton, sialnya nasib Elizabeth menghindari Noela dan harus menemui Eva kakak kandungnya, padahal ke dua wanita itu yang seharusnya di hindarinya.


Elizabeth menarik nafas panjang, dia menjinjing gaunnya yang sedikit menjuntai di bagian belakang, baju putih mutiara yang di pakainya sangat cocok di bentuk badannya.


Elizabeth meniti jalan berkerikil yang ada di samping. Suara langkah kakinya terdengar lembut. Musik keramaian pesta mulai terdengar, bahkan sudah mulai mendendangkan sebuah lagu. Suara musik gitar klasik sangat mendominasi sehingga sangat kental nyanyian tradisional.

__ADS_1


Elizabeth mendorong pintu besar yang ada di samping, dia tidak menemukan siapa siapa selain Berta dan satu orang pelayan, pelayan lainnya sedang membantu acara pesta.


Elizabeth memasuki kamar Leyton, mendorong pintu perlahan, dia takut mengganggu Leyton. Leyton terlihat tidur menyamping, lampu kamar menyala terang, nampaknya dia belum tertidur.


Elizabeth duduk di samping ranjang Leyton, gerakan sangat pelan tapi masih bisa di rasakan oleh Leyton.


Dia membalikkan posisi tidurnya, memastikan siapa yang memasuki kamar.


"Bibi Eli!" Ucap Leyton senang, wajah Leyton terlihat segar, bahkan anak rambut mulai tumbuh. Leyton menjulurkan ke dua tangannya dan bagun dari tempat tidur. Dia sangat merindukan sosok ini.


"Leyton jangan seperti ini, kamu tidak boleh terlalu capek, ingat pesan dokter. Lagi pula kenapa dengan panggilanmu ke padaku? Kenapa berubah ubah? Bukankah kamu pernah memanggilku mama Eli?" Leyton menggelengkan kepalanya, anak kecil itu bahkan kecewa karena Elizabeth menolak pelukannya.


"Mama tidak suka aku memanggimu mama Eli!"


"Oh." Eli sangat kecewa. Menundukkan kepalanya, kenapa begitu sakit? Batin Eli, pada saat Leyton tidak memanggilnya mama lagi.


"Begini saja kita seperti ini, jika ada mama Eva kamu tetap memanggiku bibi Eli. Dan jika tidak ada siapa siapa apa lagi mama kamu, kamu boleh memanggilku mama. Ok?"


"Bolehkah begitu?"


"Tentu saja boleh."


Wajah Leyton bersemu merah, dia mengikatkan tangannya di leher Elizabeth. Ke duanya menangis tanpa di sadari. Air mata tumpah dari pipi Elizabeth.

__ADS_1


"Leyton sekali lagi mama bilang, maafkan mama....saat itu mama tidak mempercayaimu bahkan mencurigaimu, karena Nina terluka aku jadi panik."


Leyton menggeser tubuh mungilnya dan berpindah duduk di pangkuan Elizabeth, menarik kotak tisyu dan menghapus air mata Elizabeth.


"Tidak masalah karena Nina adikku."


Tangis Elizabeth makin pecah. Ke duanya berpelukan tanpa tau sebuah rahasia kalau sebenarnya mereka ibu dan anak.


Pintu kamar terbuka, suara itu membuyarkan kedekatan mereka.


"Sudah waktunya Leyton minum obat." Ucap Eva kaku, matanya hanya tertuju pada Leyton, sedikitpun tidak memperhatikan Elizabeth. Di belakangnya Berta mengikuti langkahnya, nampan berikut gelas air ada di tangannya. Bahkan ekor mata Bertapun ikut berbuat sama, sama sekali tidak menatap Elizabeth, entah takut atau tidak perduli.


Elizabeth dan Leyton sama sama membalikkan matanya, saat menangkap sosok seseorang yang seharusnya di hindari, Elizabeth seketika berdiri mengangkat tubuhnya, bahkan pelukan mereka terlepas, dan meninggalkan ciuman di pipi Leyton.


Menyadari kehadirannya tidak di sukai Eva, Elizabeth menarik tubuhnya dan mundur beberapa langkah mendekati pintu, kemudian dia keluar. Belum jauh Elizabeth pergi, Eva memgikutinya dari belakang. Dugaan Elizabeth bahwa Eva akan mengeluarkan racun bisanya dan akan mematuk dirinya. Sepeeti biasa marah bahkan kesetanan.


"Eli!" Teriak Eva, Elizabeth menghentikan langkahnya dan membalikkan kepala.


"Kak."


Eva tidak menjawab dan pandangan matanya menusuk dan masuk ke dalam hati Elizabeth.


Elizabeth mengunci mulutnya, tidak tau harus berkata apa. Dia hanya menunggu Eva untuk mendekat, Elizabeth memberikan senyuman, walaupun di sadari Eva tidak benar benar menerimanya sebagai adik apalagi menjadi madu untuk suaminya.

__ADS_1


"Eli tolong selamatkan aku, Kendrick akan mengirim aku ke pulau Kairo, aku takut. Aku tidak akan sanggup tinggal di sana, kamu tau sendiri. Pulau Kairo adalah pulau buangan. Jika kamu menolongku, aku siap melakukan apapun asal jangan paksa aku bercerai, aku sangat menyukai Kendrick. Huw huw."


Tangis Eva pecah, tiba tiba di duduk bersimpuh di hadapan Elizabeth


__ADS_2