
Julia begitu senang, bertemu dengan sahabat lamanya walaupun dengan wajah yang berbeda, setelah kepergian Kendrick dan Matheo, Julia beberapa kali memeluk dan mencium wajah Eliana, sementara itu Eliana mirip seorang bocah kecil yang tidak memahami situasi. Hanya tersenyum tanpa arti. Eliana sangat menyukai Nina, ke duanya begitu interaktif. Nina juga mengatakan kepada julia kalau aroma keringat Eliana mirip seperti mamanya. Saat Nina mengatakan hal itu, Julia langsung menangis.
"Bibi Julia, bisakah malam ini aku tidur dengan dia." Tanya Nina ragu ragu. Yang di maksud 'Dia' adalah Eliana. Eliana menganggukkan kepalanya, tangan kirinya mencubit dagu Nina.
Julia tidak bisa menjawab, air matanya menetes tiba tiba.
Nina, seandainya kamu tau. Yang di depanmu, atau yang kamu sebut 'Dia' adalah mama kamu. Jika saja kamu mengerti....Aku akan mengatakan padamu sekarang tapi aku tak sanggup.
"Kenapa saat aku memelukmu rasanya seperti memeluk mama?" Tanya Nina untuk yang ke dua kali. Air mata Julia semakin tidak bisa di bendung. Nina memeluk Eliana dengan erat. Dia tidak mau melepaskan.
"Tidak masalah, asal bibi Eliana berkenan. Eliana apa kamu tidak keberatan?" Tanya Julia, Eliana menganggukkan kepalanya.
Nina sangat senang, kemudian dia menari nari dan berhenti tepat di depan televisi.
"Julia, kenapa aku merasa dekat sekali dengan putrimu? Padahal kita baru saja kenal." Tanya Eliana, tatapannya tidak pernah beralih dari Nina.
Julia menarik napas panjang, kemudian dia berjalan memutari sofa dan duduk di samping Eliana.
"Nina bukan putriku." Jawab Julia singkat, dia ingin memancing reaksi Eliana.
"Bukan putrimu? Lalu di mana orang tuanya?"
"Ada, tidak jauh dariku."
"Lalu kenapa dia tidak merawatnya? Atau jangan jangan Nina di buang?"
"Tidak! Mamanya ada, tidak jauh dariku, hanya saja dia sedang sakit." Ucap julia, Eliana masih tidak mengerti.
"Oh, apa boleh mengenal ibunya?"
"Tentu saja, bahkan aku masih menyimpan beberapa fotonya. Apa kamu mau melihat?"
Eliana menganggukkan kepalanya. Kemudian Julia membuka galeri yang ada di dalam ponselnya.
"Ini, kamu bisa menggesernya ke kanan."
Julia menerima ponsel Julia, melihat beberapa foto Nina dengan mamanya di kala itu, tanpa di sadarinya foto itu adalah dirinya dengan wajah asli.
__ADS_1
Eliana menitikkan air mata, mengusap layar ponsel beberapa kali. Hatinya tiba tiba merasa sakit, dia mulai menangis sesunggukan.
"Sudah jangan menangis. Suatu saat kamu akan mengerti, dia wanita yang cantik dan sangat baik. Eliana mengusap air matanya dan kemudian menganggukkan kepalanya.
"Dan bagaimana perasaanmu jika dekat Nina?" Julia kembali bertanya, sedikit memancing emosinya.
"Terasa sesak, aku merasa pernah dekat dengan Nina!" Jawab Eliana sambil menekan dadanya.
Bukannya pernah dekat! Dia memang anakmu, anak yang kamu lahirkan.
Batin Julia, bisa saja dia mengatakannya sekarang hanya saja, mental Eliana belum siap.
Sementara itu di Park House Bogota, di kediaman kepala mafia
Untuk kesekian kalinya nyonya Kendrick cemburu dan marah, dia hilang akal. Dari ucapan Noela dia akhirnya mengerti, kebenaran ucapan Embre yang mengatakan kalau beberapa hari ini Kendrick tidak tinggal di club D'Oreon. Dari Embre pula dia dapat mengetahui kalau Kendrick tinggal di apartemen miliknya. Apartemen termewah di wilayah Bogota.
Pagi tadi dia terprofokasi dokter Noela, hanya karena sindiran yang santai akhirnya emosi nyonya Kendrick terpancing.
"Aku gak mau tau, pergi sekarang juga ke apartemen suamiku, cari wanita yang sudah membuat Kendrick berubah." Ucap nyonya besar, dia tidak sadar kalau selama ini Kendrick tidak pernah berubah. Tidak akan pernah ada rasa cinta untuk wanita ini. Jangankan dia, bahkan Noela juga tidak mendapatkan simpati dari Kendrick.
"Tapi nyonya besar, alamat lengkapnya?" Ucap Embre kesal.
Padahal bagi Embre pembunuhan ini bukan yang pertama kalinya. Perasaan takut ketahuan apalagi karma.
"Kali ini saya rasa upahnya kurang. Karena resikonya lebih besar." Ucap Embre dengan perasaan enggan.
"Berta, keluar kamu sekarang!" Teriak nyonya besar, kali ini hanya tinggal mereka berdua di dalam kamar yang terletak di kastil timur.
Nyonya besar melangkah menuju pintu, membolak balikkan kepalanya guna memastikan siapa yang datang. Setelah di anggap aman, nyonya besar kemudian menutup pintu dan mengunci.
Embre tersenyum, dia bangga melihat nyonya besarnya tau apa yang dia mau. Menggigit bibir bawah lalu menjilat ludah yang hampir menetes. Matanya sedikit berair dan sesuatu bergerak di bawah sana, padahal dia sama sekali belum menyentuh majikannya.
Hari ini sudah sangat malam, para pelayan semua sudah tidur. Hanya ada suara gonggongan anjing penjaga rumah. Nyonya Kendrick melebas gulungan rambutnya, mengangkat gaun tidur merahnya hingga sebatas paha, di angkatnya gaun itu di bagian kanan, terlihat kulit paha berwarna putih, serat serat uratnya terlihat karena begitu halus permukaan kulitnya. Embre semakin panas dan menggila.
"Ini yang kamu mau bukan?" Tanya Nyonya Kendrick. Dia tau apa yang di inginkan Embre. Nyonya Kendrick berjalan memutari Embre, ujung kuku jari telunjuk kanan di sentuhkannya ke kulit leher bagian belakang Embre.
"Kamu menyukainya?" Tanya majikan perempuan itu. Embre mengangguk yakin. Embre butuh penyokong tenaga, agar semakin semangat dan tidak ada rasa takut.
__ADS_1
"Aku akan memberimu kepuasan tapi dengan satu syarat." Ucap Nyonya Kendrick, mengangkat jari telunjuknya membentuk angka satu.
"Jangan sampai gagal, seperti yang terjadi pada Noela, jika kamu gagal kali ini. Aku tidak akan melepaskanmu.
Embre mengangguk cepat, dia sudah tidak tahan lagi menahan gejolaknya. Di tambah sentuhan sentuhan majikannya begitu menggugah birahinya, sesuatu di bawah sana sudah ingin meledak. Ke duanya bergumul tanpa memikirkan status mereka, hingga ke duanya lupa daratan meneguk manisnya madu yang beracun.
Tanpa di sadari ke duanya Berta di depan pintu kamar, tertutup jambangan bunga yang besar, tengah memata matai yang di lakukan Embre dan majikan wanitanya.
Berta menyunggingkan senyum di sudut bibirnya, ekspresi sinis. Tidak lupa dia merekam setiap adegan yang di lakukan majikannya, pikirnya suatu saat rekaman itu akan berguna.
Malam semakin larut, ke dua pasang manusia berlawanan jenis itu masih bergumul di dalam kamar.
Hingga tanpa di sadari ke duanya, sebuah mobil sedan hitam memasuki kastil barat, kendaraan yang di kendarai Marco dan Kendrick. Malam ini Kendrick sudah menitipkan Eliana kepada Julia, di tambah permintaan Eliana untuk dapat tidur dengan Nina.
Sudah beberapa hari ini Kendrick tidak menemui Leyton, dan selama dokter Noela tinggal di kastil barat Leyton tak mau lagi tidur di sana. Tentu saja seorang anak akan tersaingi jika papanya membawa wanita lain pulang ke rumah.
Setelah turun dari mobilnya, Kendrick langsung menuju kastil timur untuk menemui Leyton. Langkah kakinya meninggalkan suara ketukan, terdengar hingga ke kamar utama. Pakaian yang di kenakan masih menggunakan setelan jas dan kemeja putih, karena Kendrick baru saja pulang dari kantor.
sementara itu Marco tetap berjaga di luar.
Saat memasuki ruang tengah Kendrick melihat Berta yang tengah berdiri di balik jambangan bunga.
"Ada apa kamu di situ!" Bentak Kendrick, karena merasa kaget.
"Tuan besar?" Ucap Berta terkejut.
" Apa Leyton sudah tidur?"
"Emmm. Sepertinya belum tuan, tuan Leyton masih di dalam kamar memainkan komputer."
"Lalu apa yang kamu lakukan! Kenapa tidak menemaninya?"
Berta tidak bisa menjawab, baru saja dia akan mengatakan sesuatu, Kendrick sudah pergi meninggalkan Berta dan menuju kamar Leyton.
"Nyonya nyonya!" Ucap Berta dengan intonsi pelan kemudian beberapa kali mengetuk pintu.
Majikannya ke luar dari kamar dengan pakaian seadanya, memasang ekspresi marah.
__ADS_1
"Nyonya! Ada tuan besar Kendrick di kamar tuan muda Leyton."
"Apa?!"