
Bentangan langit cerah menyebarkan hawa kehangatan, pelukan itu semakin erat dan menekan perutnya. Deru napas bahkan terasa di tengkuknya. Kendrick tidak melepaskan Elizabeth sama sekali. Mengapa Kendrick berlaku seperti ini, perlakuannya berubah ubah. Ada sesuatu yang di ketahui Kendrick dari Elizabeth tetapi dia masih menahannya. Andai saja Elizabeth mengetahui isi kepala Kendrick tentu saja keadaan lebih mudah.
Elizabeth menganggap perubahan Kendrick yang naik turun hanya di karenakan pekerjaan di kantornya. Beberapa kali ini saat sebelum di kurung di dalam gudang bawah tanah Matheo sempat memberi tahu kalau proyek Cahaya Timur mengalami tekanan dari seseorang, bahkan seseorang itu begitu kuat seolah olah ada yang membekingi di belakangnya.
Kemarahan Kendrick begitu terlihat di rasakan oleh Elizabeth. Bahkan sekarang ucapan kotor dari mulutnya keluar begitu saja. Elizabeth yang tak terbiasa mendengar kalimat seperti itu tentu saja merasa takut dan kecewa. Sesaat setelah Elizabeth mandi dia melihat Kendrick duduk bersandar dengan meletakkan kepalanya di kepala ranjang. Tentu saja rasa malu tak bisa di hindari, walaupun tentu saja Kendrick tidak merasakan seperti itu. Tubuh tanpa sehelai benang itu terpampang jelas di depan mata Kendrick. Sebagai lelaki normal di tambah dia sudah tidak pernah menyentuh wanita lain sejak kembalinya Elizabeth tentu saja Kendrick merasa kehausan. Sesuatu di bawah sana memberontak dan mengeras. Senjata itu ingin di manjakan oleh sentuhan wanita yang di cintai sekaligus di bencinya. Sialnya wanita itu berdiri di depannya tanpa mengenakan pakaian apapun.
"Kemari mendekat."
Elizabeth berpura pura tak mendengar, diam mematung menggigit bibir bawahnya. Dia takut kemarahan Kendrick kembali terulang, apalagi siksaan beberapa hari yang lalu masih terasa sakit. Namun tak di pungkiri kaki apalagi tubuhnya menghianatinya, dia semakin mendekat bahkan memposisikan tubuh itu menjadi gerakan yang menantang.
Kendrick tidak bisa sesabar itu. Menarik tangan Elizabeth hingga terjatuh tepat di atas dadanya.
"Auhhh."
Kendrick menggigit bibir Elizabeth dengan keras, sedikit luka dan mengeluarkan darah hingga tercium bau besi berkarat, anehnya Elizabeth menyukai itu. Kendrick meninggalkan beberapa gigitan di leher dan di dada Elizabeth, kepemilikan itu meninggalkan cetakan bibir indah Kendrick, terlena namun sebentar.
Elizabeth mendorong dada Kendrick yang bidang itu dengan Kencang, tak ada perubahan bahkan tidak berdampak sedikitpun. Bahkan Kendrick semakin bersemangat.
"Patuh. Atau kamu mau, aku merobek bagian bawahmu?" Ucap Kendrick dengan tatapan marah. Elizabeth sangat kesal di tambah saat mengingat dengan teganya Kendrick meninggalkan dirinya di gudang bawah.
Kendrick menghujam Elizabeth dengan kasar, bahkan sedikit liar.
"Sakit..."
"Patuh!"
Lagi lagi Kendrick mengucapkan kata patuh.
Elizabeth tidak berani membantah, kalau saja dia mau melarikan diri sesuai rencana hari ini, Elizabeth ragu mengenai hal itu. Kendrick mencapai pelepasan setelah beberapa kali menghujam milik Elizabeth bahkan wanita itu terkulai tak berdaya.
Dan paginya keduanya terkulai lemas.
Elizabeth terbangun saat mendengar suara air di kamar mandi, dia tau Kendrick tengah membersihkan tubuhnya. Elizabeth tidak berani bangun dari tempat tidurnya, kebiasaan lelaki itu terlalu terbiasa. Akan mengulang pergumulan untuk ke sekian kalinya. Elizabeth kelelahan, dia harus berpura pura tidur. Terdengar pintu di buka. Ternyata dugaannya salah, Kendrick mengenakan kemeja kerja yang di kirimkan oleh Marco.
__ADS_1
Suara ketukan pintu terdengar, Kendrick membuka pintu perlahan dan Elizabeth mendengar percakapan mereka. Walaupun dengan suara pelan namun tetap saja telinga Elizabeth menangkap percakapan mereka.
Ada kekuatiran di antara keduanya, bahkan sedikit di bumbui kecemasan.
"Bos, ada masalah di proyek Cahaya Timur."
Tak ada jawaban dari Kendrick. Seolah tidak ada kekuwatiran sama sekali, dia masih menghadap cermin merapikan kemejanya, Elizabeth masih berpura pura tidur. Dia lagi lagi membungkus tubuhnya dengan selimut tebal hingga mirip seperti kepompong.
"Katakan pada Matheo agar menyiapkan berkas tuntutan pada penentang. Kamu kirim sekretaris He untuk menemui pendemo. Katakan pada mereka pimpinan Cahaya Timur akan mengganti direksi perencanaan. Bukankah mereka menuntut mengganti kepengurusan?"
"Tapi bos, bukan itu saja. Sepertinya mereka juga menuntut agar di pekerjakan dalam proyek itu."
"Itu mudah, katakan saja kita akan tetap merekrut mereka tapi dengan jalur yang benar. Suruh mereka memasukkan lamaran dan katakan semua harus melewati seleksi. Paham?"
"Paham bos."
Marco keluar dari kamar itu, matanya sedikit melirik tumpukan selimut tebal yang ada di atas kasur. Lirikan yang tidak sengaja itu tertangkap oleh mata Kendrick. Kendrick tidak menyukai itu, memandang Marco dengan bengis. Tentu saja Marco mengetahui maksud bosnya. Memundurkan kakinya dan segera pergi dari ruangan itu.
Pintu tertutup kembali, Kendrick menarik selimut yang menutupi tubuh Elizabeth, gerakan itu membuat Elizabeth terkejut.
Elizabeth membuka matanya, hanya memakai gaun tidur transparan yang di gunakan semalam.
Kendrick memberikan kain dasi kepada Elizabeth.
"Ini apa?"
"Kamu kira? Kamu berharap aku mengikat ke dua tanganmu di sandaran dipan?"
Elizabeth menunduk malu dan memakaikan dasi dengan cepat, tangannya begitu lincah dan cekatan. Setelah itu Elizabeth berjalan sedikit menjauh meletakkan tubuhnya di atas sofa, dia duduk dengan tenang. Kendrick memberikan beberapa ikat uang kertas mata uang Peso. Elizabeth menerimanya dengan sedikit keheranan.
"Apa ini?"
"Kamu kira?" Lagi lagi Kendrick menjawab kalimat yang sama.
__ADS_1
"Itu bayaranmu semalam karena sudah melayaniku. Dan aku akan membayarmu setiap kamu memuaskan aku."
"Kend apa maksudmu?"
"Kita tidak seakrab itu, jadi kamu tidak bisa memanggil nama panggilanku. Kamu bisa mengucapkan namaku dengan benar kan?"
"Iya maafkan aku. Tapi aku tidak bisa menerima ini."
Elizabeth meletakkan kembali dua bendel uang kertas itu di atas meja kaca. Elizabeth merasa sedih dan terhina. Merasa harga dirinya terinjak injak. Bagaikan pisau belati panas yang langsung menghujam jantungnya. Sakit!
"Bukankah kamu selama ini juga seperti ini? Di bayar berapa kamu oleh Juan? Apa uang dariku masih kurang. Bukankah itu sudah lebih mahal dari bayaran Juan? Kamu tau saat aku mencarimu mendapati Juan tidur dengan seorang p******r dengan bayaran sedikit?"
Elizabeth meneteskan air mata, bukan penghinaan Kendrick yang membuatnya sedih namun nasib anaknya di pertaruhkan di sana.
"Kendrick suatu saat kamu akan menyesal. Jika saatnya tiba jangankan kamu memohon maaf dariku, bahkan sampai aku jatuh ke jurangpun jangan harap bisa menerima maafmu."
"Jangan mimpi! Seorang wanita sepertimu memang pantas di perlakukan begini."
Kendrick berdiri dengan sombongnya di depan Elizabeth yang tertunduk lemah. Pantulan tubuhnya terlihat di cermin oval itu begitu menyedihkan.
"Mulai saat ini aku bebaskan kamu melakukan apa saja. Bahkan aku tidak menghalangi kepergianmu. Jika kamu mau angkat kaki dari sini silahkan. Dan ketahuilah aku sudah mengetahui maksud dan tujuanmu kembali menemuiku. Bukankah itu atas perintah Juan? Katakan padanya dia tidak akan menemukan apapun selain tubuh rapuhmu di D'Oreon jadi kalian mimpi mendapatkan barang itu. Paham!"
Elizabeth begitu terkejut, bagaimana bisa Kendrick mengetahui tujuannya datang menemui Kendrick. Malu dan takut tidak bisa tidak bisa di hindari. Tapi bagaimana nasib Nina? Walaupun Juan sudah merubah rencana tetap saja semua percuma. Elizabeth terlanjur buruk di mata Kendrick.
"Kalian berdua memang sama sama penjahat remeh! Tidak pantas berada di D'Oreon apalagi mendekatiku!"
'Tidak pantas mendekatiku'.
Kalimat itu begitu menghujam jantung Elizabeth. Lalu bagaimana yang di lakukan sebelum penghinaan ini? Pergumulan semalam bahkan hari hari sebelumnya? Sampah! Itulah pandangan Kendrick tentang dirinya.
"Kalau kamu masih mau melayaniku, tinggal di sini dengan patuh. Aku akan membayar sesuai tarifmu. Dan jika kamu ingin meninggalkan tempat ini jangan harap untuk berjalan tegak! Lakukan dengan merangkak hingga ke jalan raya. Paham!"
Elizabeth ingin menangis sejadi jadinya tapi tangisan itu tertahan di dadanya. Bagai gumpalan batu semen, tidak mungkin bisa tertelan. Ucapan Kendrick tidak pantas untuk di dengar. Dan jika saja dia bisa meminta. Ingin rasanya telinganya tuli untuk selamanya. Kendrick meninggalkan kamar yang di tempati Elizabeth dan tidak menoleh lagi.
__ADS_1
Maaf ya kalau isi tulisannya sedikit kasar. Tapi memang itu adanya. Menggapai mimpi setinggi langit. Itu sah adanya. Jangan lupa Like Komen and Vote. Gracias.