
Seperti biasa sejak kepulangan Elizabeth di kehidupan Kendrick dia harus tinggal di kastil barat, kebiasaan rutin di pagi hari adalah berjalan kaki mengelilingi taman. Kali ini Elizabeth hanya sendiri. Beberapa pelayan tengah sibuk di dapur dan membersihkan halaman.
Perut Elizabeth semakin membesar, beberapa kali dia menarik napas dan kemudian menghembuskannya, di rasa cukup Elizabeth mengistirahatkan kakinya dengan duduk di atas bangku kayu yang ada di tepi kolam.
Seseorang berjalan mendekat, berniat mencelakakan Elizabeth, dengan cara mendorong pundaknya agar Elizabeth terjatuh ke dalam kolam, tapi beruntungnya Elizabeth menyadari dan membalikkan kepalanya.
"Jangan coba coba, kalau tidak aku akan berteriak!" Bentak Elizabeth.
"Memangnya apa yang akan aku lakukan? Kamu bukan sosok yang penting hingga aku harus turun tangan!" Ucap Eva sinis.
"Oh, pantas saja sampai saat ini kamu masih aman! Mari kita bicara baik baik, karena kita saudara. Duduklah!" Sindir Elizabeth, dia mulai bersikap tegas. Tentu Eva tidak mau duduk di samping adiknya, dia memilih berdiri dengan angkuh, ke dua tangannya saling menyilang di atas dadanya. Posisinya membelakangi matahari, membuat mata Elizabeth silau jika menatap ke atas.
"Sebaiknya pembicaraan ini kita mulai dari mana?" Tanya Elizabeth.
"Kematian mama! Kamu harus mempertanggungjawabkan kematian mama!"
"Kamu kira?"
"Ya! Kamu sudah membunuh mama, bukankah sebelumnya kondisinya sudah mulai membaik?"
"Lalu kamu mencurigaiku, begitu?"
Eva tidak menjawab, tapi senyum mencibir.
"Kamu kira dengan perlakuan mama terhadupku, lalu aku dengan tega melenyapkannya? Picik! Aku masih waras."
"Tapi bukti mengarah padamu!"
"Bukti apa? Rekaman CCTV? Polisi sudah menemukan kejanggalan dan aku memiliki alibi. Eva, sejahat jahatnya aku, tidak akan durhaka sampai menghilangkan nyawa orang yang sudah melahirkan kita."
"Tapi aku tidak percaya, aku akan menuntut balas. Lihat dirimu jika tanpa Kendrick apa yang bisa kamu lakukan? Bahkan dia mengeluarkan uang banyak demi membebaskan kamu!"
"Masalahnya apa, dia suamiku. Dan asal kamu tau, aku tidak meminta di bebaskan, tanya saja pada Kendrick apa yang dia lakukan sampai memaksaku tinggal di kastil brengsek ini!"
"Dengan merebut suami kakaknya, dasar murahan! Dan melahirkan dua anak haram."
"Kamu kira siapa yang murahan? Awalnya dia adalah kekasihku hingga dengan sukarela kamu naik ke atas tempat tidurnya dan merayap, hingga melahirkan Leyton! Aku ragu jangan jangan Leyton bukan anak Kendrick."
__ADS_1
Kemudian Eva menampar pipi Elizabeth dengan keras hingga tertinggal tanda lima jari di pipi chabi itu. Dari kejauhan Maria sudah mengawasi mereka dari sebelumnya. Maria berteriak keras.
"Nyonya!"
Eva dan Elizabeth membalikkan kepala bersamaan. Dengan isyarat mata Elizabath melarang Maria mendekat. Tangan Elizabeth masih menahan pipinya yang masih terasa pedih. Moment seperti ini yang paling di bencinya, memeperebutkan suami dengan kakak kandungnya, dia tidak mau saling menyakiti. Apalagi perasaan jijik jika berhubungan intim dengan Kendrick karena setidaknya harus berbagi ranjang dengan Eva.
Seluruh penduduk Kolombia tau jika Kendrick memiliki tiga istri, dua di antaranya berstatus sebagai saudara kandung.
"Jika kamu meragukan status Leyton, tanya pada Kendrick. Bahkan dia sudah melakukan tes DNA dan hasilnya 99% darah dagingnya. Itu artinya aku dan Kendrick melakukannya atas dasar suka sama suka."
Elizabeth benar benar kesal, kehamilan ini benar benar membuat emosinya tidak setabil, kecemburuannya benar benar memuncak. Ke duanya saling memanas manasi.
"Eva, kamu kira dengan menamparku maka jejak hubungan di antara aku dan Kendrick akan hilang? Kamu keliru. Tanyakan sendiri pada Kendrick siapa di antara aku dan Kendrick yang mengemis. Tanyakan!"
"Setidaknya kamu sadar statusmu hanya sebagai seorang perempuan murahan!"
Mendengar kalimat sindiran Eva, Elizabeth merasa geram, kemudian dia berganti melayangkan tangannya tepat di pipi Eva. Eva tidak menghindar sama sekali. Elizabeth merasa heran, bagaimana bisa Eva tidak melawan, ini tak seperti biasanya.
Dari kejauhan Eva melihat Kendrick mendekat, dua tangannya menggandenga Leyton dan Nina, dari sudut pandang Elizabeth tentu dia tidak tau kalau Kendrick mendengarkan perbincangan Elizabeth dan Eva. Wajah Kendrick suram.
Wajah Kendrick suram, demikian juga dengan Leyton, anak laki lali itu memdengar ucapan ke duanya. Leyton menundukkan kepalanya, dia sangat bersedih. Bibi kesayangannya mengatai dia anak haram. Leyton berlari kembali ke dalam kastil barat. Kendrick menyerahkan Nina kepada Maria agar di bawa masuk ke kemar kastil barat.
Kendrick menatap tajam wajah istri ke tiganya, dia benar benar kecewa. Kendrick menarik tangan Elizabeth dengan kasar, Kendrick berjalan cepat, Elizabeth mengikuti di belakang sambil berjalan tertatih satu tangannya menahan perutnya.
"Kendrick hentikan! Lepaskan tanganmu!"
Dari lejauhan Eva tersenyum puas, dia mengusap air mata palsunya dengan kasar.
Mampus!" Umpat Eva, menunggu hasil memuaskan, harapannya Elizabeth kembali di siksa Kendrick lalu kembali menghilang, dengan itu akan memudahkannya menyingkirkan Elizabeth tanpa pengawasan dari Kendrick.
Kendrick menarik paksa tangan Elizabeth, memasuki kamar utama kemudian membanting pintu.
Kendrick menatap tajam Elizabeth, bukan masalah dirinya di sebut mengemis cinta. Tapi mengatakan Leyton anak haram sangat menyakitkan. Leyton jelas jelas darah dagingnya. Diapa yang berani mencurangi hasil tes DNA?
"Tarik ucapanmu tentang Leyton!" Bentak Kendrick. Suhu kamar yang dingin tidak serta merta menurunkan emosi Kendrick.
Elizabeth tidak segera menarik ucapannya, dia hanya bingung bentakan Kendrick mengingatkan masa lalunya. Kendrick mengepalkan tinjunya, kemudian kepalan tangan itu menghantam dinding hingga punggung jarinya berdarah.
__ADS_1
"Aku memang mengemis cintamu, semata mata merasa bersalah sudah pernah menyakitimu. Tapi jika memang hubungan ini sangat menyiksamu, aku mengijinkan kamu pergi, atau kamu ingin kembali dengan Artur. Bahkan aku tidak melarangmu membawa Nina."
Kali ini Elizabeth yang kecewa, di hati Kendrick hanya ada satu anak yaitu Leyton, bahkan mengiklaskan Nina untuk di bawa pergi.
Kendrick keluar kamar dan membanting pintu dengan keras, Elizabeth menangis menyesali permasalahan yang semakin melebar, dia sudah terpancing amarah Eva.
Elizabeth mencari keberadaan Nina, kali ini dia ingin menenangkan diri. Dia berniat mengajak Nina pergi dari kastil.
Elizabeth menggandeng tangan kiri Nina, tangan kanannya menarik koper yang lumayan besar, Kendrick hanya melihatnya dari balkon kamar dengan wajah datar, dia harus menghukum ustri ke tiganya, mendidik wanita itu agar tidak mudah terprofokasi Eva.
"Bos. Nyonya?" Ucap Marco yang berdiri di belakang Kendrick.
"Biarkan saja, antarkan dia. Pastikan tinggal di tempat yang layak."
"Baik." Ucap Marco kemudian turun mengejar nyonya Eli.
Sesampainya di bawah Marco menawarkan diri untuk mengantar Elizabeth, Elizabeth tentu tidak menolaknya karena jarak kastil ke jalan besar sangatlah jauh.
Elizabeth duduk di barisan belakang bersama Nina, Nina gadis manis yang penurut, dia tidak mengeluh sama sekali.
"Mau di antar ke mana?"
"Turunkan sampai depan."
"Bos Kendrick memerintahkan agar anda mendapatkan tempat yang layak, jadi saya harus mengantar anda ke mana? Karena kenyamanan nona Nina yang paling penting."
"Kenyamanan Nina? Bukankah anak Kendeick hanya Leyton?"
"Kenapa anda bicara begitu? Apa hanya karena bos Kendrick tidak menemani anda saat di rumah sakit menjaga nona Nina? Taukah anda masalah sesungguhnya? Tuan muda Leyton di ancam di penjara karena sudah mencelakai anak laki laki yang sudah menyakiti nona Nina?"
"Benarkah?"
"Kenapa Kendrick tidak cerita padaku?"
"Untuk apa? Toh masalahnya sudah selesai, tuan Kendrick bergerak cepat, seseorang mencoba memeras tuan. Dan sudah ada kata sepakat, damai!"
Elizabeth merasa malu, tapi ini terlalu malam, dan dia harus cepat beristirahat.
__ADS_1