
Gaun Panjang menutupi tumit berwarna merah menyala dengan payet berwarna senada, renda terpasang di setiap tepian jahitan. Mahkota bersinar terang dengan selendang transparan menutupi wajahnya.
Sebenarnya agak ganjil menggunakan gaun pengantin berwarna merah, hanya saja di balik niat baik Eva tersimpan niat mempermalukan Elizabeth, apapun caranya. Hanya saja dengan memakai gaun merah Elizabeth semakin terlihat cantik.
Elizabeth terlihat memukau, cantik dan mempesona. Hanya saja gaun itu terlihat sangat mencolok jika di kenakan pada hari besar pernikahan. Eva sengaja memakaikan gaun pernikahan yang mahal kepada Elizabeth sebagai bentuk trimakasih karena sudah membebaskan dirinya dari jeratan renternir.
"Eli, kamu terlihat cantik hari ini. Lihat!" Ucap Eva. Eva berdiri di belakang Elizabeth yang duduk menghadap cermin.
Elizabeth hanya menganggukkan kepalanya. Tatapan matanya kosong, dari awal peristiwa penusukan itu, mulut Elizabeth seakan terkunci. Dia hanya menganggukkan kepalanya.
Hutang keluarga Chloe sudah di hapuskan oleh bos renternir. Rumah mewahnya di kembalika bahkan di atas namakan Eva. Uang mahar sebesar dua puluh milyar sudah di persiapkan. Semua itu di anggap sah jika bos renternir sudah resmi menikah dengan salah satu anak dari keluarga Chloe.
Awalnya adalah Eva sebagai jaminan hutang, tetapi Eva yang licik mengatakan kalau dia bukanlah gadis yang bersih, sehingga bos renternir tidak mau menikah dengannya. Sebagai gantinya Eva menunjukkan foto Elizabeth kepada bos renternir, tentu saja di bumbui dengan pujian pujian.
Karena bujukan itu, seketika bos renternir sangat tertarik, dan langsung menyukai Elizabeth. Bahkan dengan senang hati berniat menikahinya. Eva menyebut bos renternir itu sebagai bandot tua. Walaupun tidak dipungkiri bekas bekas ketampanan masih cukup terlihat di wajah bos renternir itu.
"Cantik." Ucap salah satu perias pengantin yang tengah merapikan rambut Elizabeth.
"Iya, sayang sekali pengantin prianya..."
'Phak'
Sebuah tamparan mendarat di pipi lelaki berperawakan wanita itu. Seketika semua perias mempelai wanita ketakutan, saat mendapati salah satu kawannya di tampar oleh Eva.
"Apa kalian tidak bisa diam? Aku sudah membayar kalian dengan mahal. Jadi bekerja yang benar!" Ucap Eva setengah berteriak.
Suasana menjadi hening. Tidak ada lagi yang berani mengeluarkan suara. Di luaran hujan sangat deras, tetesan air yang jatuh dari langit membentuk sebuah tirai raksasa. Kilatan petir menyala seperti lidah api. Elizabeth masih betah duduk di depan cermin besar di salah satu ruangan yang di persiapkan di dalam aula. Aula berukuran sedang terletak di gedung perhelatan lantai sembilan. Pikirannya dan pandangan kosong tak berujung.
__ADS_1
Elizabeth akan minum jika seseorang memberikan segelas minuman, dan akan makan jika seseorang memberikan secuil makanan. Otaknya benar benar terkunci dan mati. Untung ada Diego yang membantunya, hanya saja sampai detik ini Diego tak menunjukkan batang hidungnya, sementara itu perut Elizabeth masih kosong. Dia terlihat semakin lemah, hanya saja Eva tidak memperhatikan itu. Seandainya Eva tahupun dia tidak akan perduli dengan keadaan Elizabeth.
"Sudah waktunya." Seorang laki laki memakai setelan toksedo dan kemeja putih.
"Ayo." Ucap Eva di tujukan kepada Elizabeth.
Eva menggandeng lengan Elizabeth, buket mawar merah di berikannya kepada calon pengantin wanita. Senyum Eva mengembang, tidak dengan Elizabeth.
Semua tamu undangan telah hadir. Bukan pesta besar, hanya saja kebanyakan yang hadir adalah teman bisnis dari mempelai pria. Pesta yang di adakan di aula gedung catatan sipil lantai satu.
Eva menggandeng lengan Elizabeth lalu mengantarkan Elizabeth naik ke atas panggung kecil. Semua mata memandang kepada mereka. Bahkan tanpa berbisik seorang laki laki berkata 'Pengantin wanitanya cantik'
Seorang laki laki setengah abad menunggu kedatangan mereka, di ujung panggung berbentuk T dengan seorang pendeta berjubah putih. Di depan pendeta berbaju putih terdapat meja mimbar kecil untuk meletakkan sebuah buku besar.
Eva memlepaskan pegangannya pada lengan Elizabeth. Kemudian menyerahkan Elizabeth kepada lelaki setengah abad yang masih terlihat gagah.
"Kalian bisa melanjutkannya sekarang." Ucap Eva di tujukan kepada Carlos dan pendeta.
"Di mana orang tua wanita?" Tanya pendeta.
Karena sesuai kebiasaan di negara Kolombia, pernikahan wajib di hadiri oleh ibu dari kedua mempelai secara langsung, terutama dari pihak wanita.
"Tidak apa apa, lanjutkan saja secepatnya." Eva mengatakan dengan gugup.
"Tidak! Kita tunggu saja sebentar lagi." Timpal pendeta.
Eva sedikit memaksa, karena dari semalam mamanya terlihat sedikit aneh, beberapa kali hendak membatalkan pernikahan Elizabeth. Tentu saja Eva tidak mau seperti itu, kalau mamanya berubah fikiran renternir akan menarik dirinya untuk di nikahi. Eva tak mau ini terjadi, dia masih ingin menggapai mimpinya.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain di waktu yang sama. Di dua tempat yang berbeda. Luci sedikit marah kepada dirinya sendiri. Kecemasan tak beralasan, hingga emosi yang tak berkesudahan. Luci ingin mengabaikan acara pernikahan Elizabeth toh sebentar lagi semuanya sudah terbayarkan dan hartanya sudah kembali. Hanya saja di lubuk hati yang terdalam merasakan keanehan, kecemasan tanpa sebab. Hingga akhirnya dirinya nekat mendatangi pernikahan Elizabeth walaupun harus menembus derasnya hujan. Jilatan api petir tidak di hiraukannya. Dengan menaiki bus kota, dia terlebih dahulu mendatangi sebuah halte yang cukup jauh dari rumah sakit hanya berbekal sebuah payung warna hitam.
Suasana jalan yang sedikit banjir menyulitkan kendaraan untuk melaju kencang, hingga menimbulkan kemacetan di mana mana. Jantung Luci berdetak kencang suaranya hingga seperti genderang perang.
Di tempat lain di waktu yang bersamaan juga, rumah sakit jiwa di kota Chia di hebohkan oleh kedatangan mafia yang di kenal oleh sebagian penduduk kota. Mafia tampan yang yang tengah mengenakan setelan baju hitam, dua kancing kemeja di biarkan terbuka, dada bidang yang berbulu memancing setiap wanita yang melihatnya.
Mafia yang tak lain adalah Kendrick tengah murka dan kecewa. Kedatangannya untuk menjemput mamanya tidak berhasil, bahkan ternyata di ketahui beberapa jam yang lalu Sara tidak di temukan. Sara kabur dari rumah sakit jiwa di Chia. Kendrick menendang semua yang ada di depannya. Dia tidak mau kembali kehilangan ibunya. Di tambah beberapa hari yang lalu dirinya juga belum menemukan keberadaan Elizabeth. Semua masalah datang bersamaan.
Marco sama sekali tidak bisa menenangkan Kendrick, salah satu ruang perawatan di rumah sakit Chia itu dalam keadaan kacau, kursi dan meja terbalik. Dokter ataupun perawat menjadi sasaran sumpah serapahnya. Yang lebih tragis, penjaga keamanan rumah sakit di jadikannya samsak sebagai pelampiasan emosinya. Untungnya sebuah telepon menghentikan semua kekacauan yang di timbulkannya.
Kendrick: "Katakan padaku ada kabar apa. Awas, ku hajar kamu jika telponmu tidak penting."
Matheo: "Tenang, rileks, sabar."
Kendrick: "Keparat."
Emosi Kendrick semakin memuncak menganggap sahabatnya membuang buang waktu dan bercanda. Kendrick menjauhkan ponsel dari telinganya dan hendak menutup sambungan telepon. Dan itu di urungkan karena teriakan Matheo.
Matheo: "Ini tentang Sara, ibumu."
Kendrick: " Katakan cepat, kalau tidak ku potong lidahmu."
Matheo: " Mama kamu berdiri di atas gedung lantai sembilan tepatnya gedung catatan sipil, dia hendak melompat. Beberapa orang membujuknya bahkan polisi sudah mengamankan daerah sekitar gedung. Cepat datang, kalau terlambat sedikit, kamu tidak bisa menjumpai mamamu dalam keadaan hidup. Kamu akan menyesal."
Telepon di tutup, ucapan terakhir Matheo menyadarkan lamunannya. Kendrick ketakutan, bagaimana kalau ternyata dia tidak sempat bertemu mamanya. Marko sudah menunggunya di samping mobil Mybach hitam anti peluru.
Setelah memasuki mobil hitamnya, Kendrick merasa sedikit tenang. Merapikan lengan kemeja dan menyandarkan kepalanya dan menutup mata sejenak. Musik lagu Weghtless dari Marconi Union berhasil menurunkan ketegangan Kendrick untuk sesaat. Suasana di dalam mobil mulai tenang. Marko mengemudikan dengan kecepatan sedang. Sedangkan di belakang mobil mereka, deretan mobil hitam mengikuti mobil Maybach milik Kendrick. Terlihat mencolok bagi semua yang melihatnya.
__ADS_1
Hay pembaca apakah suka novel ini? Tolong Like and Vote ya. Terus terang membuat novel berbeda dari novel yang lain butuh imajinasi tanpa batas. Kepuasan bagi penulis novel kalau novelnya sangat di hargai. Trimakasih untuk tidak menjiplak. Semoga penyuka novelku di beri kesehatan dan umur panjang. Amiiiin