
Air mata Elizabeth tiba tiba meluncur deras, perasaan apa yang ada di hatinya sangatlah membingungkan, bahkan air matanya tidak di hiraukan oleh Kendrick. Elizabeth bersembunyi di balik ruangan kecil di dalam kamar yang tersedia di ruang kantor milik Kendrick.
Saat sebelumnya kepanikan Kendrick akibat kedatangan 'Tuan Leyton dan nyonya' benar benar menakutkan. Bahkan dengan kasarnya melemparkan Elizabeth beserta pakaiannya ke dalam kamar.
"Ingat baik baik! Apapun yang terjadi atau apapun yang kamu dengar jangan keluar dari kamar ini. Paham?"
"Tapi Kend..."
"Diam! Kalau tidak aku akan mengunci mulutmu untuk selama lamanya. Paham!"
Bentakan Kendrick kepada Elizabeth sangatlah kasar untuk di dengar, iris mata Kendrick memerah dan pelupuk matanya terbuka lebar.
'Ada apa ini? Kenapa sikap Kendrick berubah?'
Ingin rasanya Elizabeth menendang kepala Kendrick dan membenamkannya ke dalam inti bumi. Kenapa dia harus bersembunyi, Elizabeth hanya butuh penjelasan.
Kalimat nyonya membuat Elizabeth menebak siapa sebenarnya dia. Bahkan otak dan pikiran Elizabeth melayang kemana mana. Elizabeth masih mengenakan jas hitam milik Kendrick, hatinya tidak tenang.
Samar samar terdengar suara kaki kecil yang sedang berlari, bahkan tawa renyah Kendrick juga terdengar samar. Kemudian suara seorang wanita dewasa dan memanggil Kendrick dengan sebutan 'Sayang'.
Elizabeth kembali meletakkan telinganya di daun pintu, menyibakkan rambutnya demi mendengarkan pembicaraan mereka. Sayangnya suara mereka terdengar samar samar, Elizabeth semakin gelisah.
'Apa mungkin Kendrick sudah menikah? Dan punya anak? Lalu dia menganggap aku apa? Atau mungkin dia menganggapku tempat sampah, sebagai alat pemuas nafsunya saja?'
Elizabeth meninggalkan pintu itu dan duduk di atas tempat tidur ukuran kecil. Menundukkan kepalanya, dia menyakinkan hatinya untuk tidak jatuh cinta kepada Kendrick, benar ucapan Juan kalau nantinya jika jatuh cinta lagi hatinya akan sakit.
Elizabeth menarik napas panjang. Suara pintu yang tertutup cukup keras terdengar di telinga Elizabeth, kemudian hening tanpa suara. Elizabeth kembali mendekatkan telinganya di anak pintu, setelah yakin tidak ada siapa siapa di ruangan itu, Elizabeth membuka pintu dan berjalan ke luar kamar, dia tetap waspada. Siapa tau kendrick dan siapapun mereka kembali ke ruangan itu.
Elizabeth nampak kecewa, bukan karena kegiatannya yang tertunda tetapi hatinya sedih, Kendrick menganggap dirinya hanya sebagai alat. Pintu ruangan kembali terbuka, Elizabeth terkejut dan ketakutan.
"Nona Eli, ini aku. Marco."
"Nona?"
"Perintah bos Kendrick agar memanggil anda dengan sebutan nona."
"Tidak! Panggil saja seperti biasa. Aku tidak nyaman." Ucap Elizabeth.
"Tapi."
"Tidak apa apa, biar aku yang menjelaskan padanya."
"Baiklah kalau itu maumu. Ayo kuantar ke D'Oreon."
"Apa itu perintah Kendrick?"
"Tentu saja."
__ADS_1
Elizabeth menundukkan wajahnya, perubahan itu tentu saja di ketahui oleh Marco.
"Jangan Sedih."
"Mereka siapa?"
"Tanyakan langsung pada bos. Dia yang berhak menjawab."
"Aku tau, tuan Leyton adalah anaknya."
Hati Elizabeth tidak terima, bagaimana bisa di tinggalkan begitu saja tanpa penjelasan apapun. Pertanyaan tanpa ada jawaban.
Marco hanya diam, dia kesulitan untuk menjawab. Perasaan tidak tega melihat kesedihan Elizabeth.
"Ayo." Ajak Elizabeth lirih.
"Kamu tidak apa apa?"
"Memangnya aku siapa? Gadis kumal hanya pantas menjadi tempat sampah."
Marco hanya diam saja. Kalaupun ucapan Elizabeth benar adanya, dia bisa apa? Hanyalah orang miskin yang di angkat menjadi kakak oleh Elizabeth. Keduanya berjalan ke area parkir di lantai bawah. Mobil melaju pelan, Elizabeth hanya memandang ke arah kaca mobil, pemandangan di luar bahkan lebih baik dari pada suasana hatinya.
"Berapa usia anaknya?" Tanya Elizabeth.
"Sekitar enam tahun."
Elizabeth menarik napas panjang, terasa berat. Tetapi mau bagaimanapun dia sudah meninggalkan Kendrick selama hampir tujuh tahun, jadi tidak ada salahnya Kendrick membentuk sebuah keluarga.
Dari pantulan kaca sepion bagian atas, Marco dapat melihat expresi Elizabeth, dia harus melaporkan semuanya kepada bos Kendrick.
"Kak Marco..."
bolehkah nanti aku bekerja?"
"Apa sudah seijin bos Kendrick?"
Elizabeth diam tidak bersuara.
"Tapi kalau aku hanya diam di kamar, rasanya kesepian."
"Tanpa ijin dari bos Kendrick, maaf!"
Elizabeth bingung tentang statusnya. Bahkan menghadapi Kendrick dia tidak bisa menyikapinya.
Mobil sedan hitam sudah tiba di club malam D'Oreon, hari sudah mulai gelap. Terlihat kesibukan para pekerja, Elizabeth hanya melewati mereka tanpa menyapa, dia tidak perduli dengan keadaan sekitar karena di kehidupan malam hanyalah kepalsuan, bahkan para pekerja juga sudah mengetahui kalau Elizabeth adalah wanita Kendrick. Dan mereka juga berani menduga kalau hubungan Kendrick dan Elizabeth tidak akan berlaku lama, tiba waktunya Kendrick akan bosan. Sama seperti dengan wanita sebelum sebelumnya.
Sementara itu Kendrick tengah menikmati makan malam bersama buah hatinya, Leyton.
__ADS_1
Kedatangan Leyton tentu saja tidak sendiri, dia di antar oleh mamanya.
Demi Leyton dia harus pura pura baik kepada istrinya, mama dari Leyton.
Hatinya seperti teriris, perasaan sedih sudah meninggalkan Elizabeth di ruang kerjanya membuat hatinya tidak tenang.
Tetapi demi putranya dia bisa berpura pura menjadi pasangan yang serasi. Dia tau Leyton sudah di peralat wanita itu. Wanita yang menjadi istrinya saat ini, dan dia tidak mencintainya.
"Leyton, makan yang rapi. Jangan seperti itu, nanti pakaian papamu kotor."
Ucap wanita di depannya, yang tak lain adalah istrinya. Kendrick mengacuhkannya, menyibukkan diri dengan menyuapi Leyton. Bahkan kemeja miliknya terkena sedikit noda kecap berwarna kemerahan. Kendrick hanya mengusapnya dengan sapu tangan miliknya.
"Leyton jangan begitu, papa kamu juga harus makan, jangan mengganggunya."
"Bisakah kamu menutup mulut! Sekali lagi kamu mengatur kedekatanku dengan anakku, aku buang kamu kembali ke asalmu. Paham!" Ucap Kendrick setengah berbisik di telinga istrinya, dia tidak mau Leyton mendengar pertengkaran orang tuanya.
Wanita itu terkesiap, walaupun seperti biasa Kendrick tidak akan pernah mengindahkannya tetapi ucapan Kendrick yang membuat dirinya ketakutan, gigi geraham Kendrick terdengar bergemelatuk.
Kendrick memanggil pengasuh Leyton yang makan di meja terpisah.
"Berta temani Leyton." Ucap Kendrick.
Berta menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Kendrick menarik mama dari anaknya, mencari tempat sedikit agak menjauh dari Leyton.
"Apa maksudmu datang ke kantor. Sudah ku bilang berapa kali, aku menikahimu hanya karena kamu mama dari Leyton tidak lebih!" Ucap Kendrick dengan suara datar, dia sudah mengenal karakter istrinya.
Wanita itu sedikit ketakutan, tetapi bagaimanapun juga dia harus berpura pura manis, agar Kendrick menerima cintanya.
"Bukan aku, tapi Leyton yang meminta." Ucap wanita itu mencoba berkilah.
"Kamu jangan membawa bawa nama Leyton, kalau bukan akal akalanmu mana berani Leyton datang ke kantor."
"Kendrick, aku bersumpah Leyton yang memintanya. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa menanyakannya sekarang."
"Bertanya? Membuat dia sedih? Kamu tau itu tidak mungkin!"
"Kendrick sampai kapan kamu tidak percaya padaku. Dengan apa aku membuktikan kalau aku berkata benar."
"Ah, tidak usah pura pura menangis, hapus air matamu. Jangan sampai Leyton tau kita berdebat. Membuatku makin jijik saja."
Kendrick meninggalkan wanita itu sendiri. Sementara setelah kepergian Kendric, wanita itu merubah expresinya, marah dan datar, tangan kanannya meremas ujung meja.
Suatu saat kamu akan bertekuk lutut padaku, bahkan kamu akan mengemis padaku.
Trimakasih yang sudah meninggalkan jejaknya Like Comen and Vote. Aku belum ungkap nama dari istri Kendrick ya. Harap bersabar, gracias.
__ADS_1