Cinta Wanita Kumal

Cinta Wanita Kumal
Identitas Nina


__ADS_3

Eva duduk tenang sambil menikmati secangkir kopi manis di pagi hari, tidak ada yang lebih menyenangkan selain berita yang baru saja di dapatnya. Kepulan asap kopi panas menyapu wajahnya, semburat merah di dagu dan pipinya. Dia menyesapnya perlahan. Eva lebih memilih menyendiri, memisahkan diri dari keceriaan Elizabeth dan Kendrick.


Benar ucapan Noela bahkan dia sudah menyadari sejak lama. Mendapatkan gelar nyonya Kendrick bahkan di kenal di seluruh dunia, tetapi di tidak ada tempat di hati Kendrick. Tetapi sekarang, Eva akan mengerahkan tipu dayanya demi menyingkirkan Elizabeth, adik kandungnya. Sudah cukup baginya untuk bersabar.


Tampak kepergian Kendrick ke dalam penginapan pantai. Saat ini hanya tinggal Elizabeth sendirian. Elizabeth duduk termenung menikmati matahari pagi.


Eva berjalan mendekatinya, kemudian duduk di samping Elizabeth. Gaun ke duanya memiliki corak hampir mirip. Entah di sengaja atau tidak tetapi ke dua gaun itu sama sama hadiah dari Kendrick.


Eva duduk di samping Elizabeth, Elizabeth memberikan sedikit tempat untuk kakaknya dan menggeser sedikit tubuhnya. Mengamati gaun yang di kenakan hampir sama persis coraknya, Elizabeth tersenyum getir. Entah ada kejanggalan di hatinya. Pernikahan ini salah, dia sudah menjadi madu bahkan seteru kakaknya.


"Apa kabarmu pagi ini?" Tanya Eva. Nada bicaranya berubah sedikit ramah. Cantik dan Elegan bahkan terlihat jauh lebih dewasa. Berbanding terbalik dengan Elizabeth, rendah diri dan merasa tidak pantas.


"Ah, baik." Jawab Elizabeth, berusaha menyembunyikan keterkejutannya atas perubahan sikap kakaknya.


"Apa kamu tidak berenang pagi ini?" Ucap Eva ringan.


"Mungkin nanti tapi entahlah, akan lebih seru jika berenang bersama anak anak."


Ke duanya terdiam, pembicaraan yang sangat membosankan. Ada dendam di antara ke duanya. Tetapi perasaan Eva lebih dominan.


"Aku rasa nasibku sangat lucu." Kalimat Eva memecah suasana.


"Maksud kamu." Tanya Elizabeth menyelidik.


"Ya, bagaimana tidak lucu. Harus berbagi suami dengan adik sendiri. Bahkan aku di paksa menerima pernikahan kalian."


"Aku.... Bukan seperti itu maksudku. Aku tidak bermakdud merebut Kendrick. Tetapi keadaan yang memaksaku menikahi Kendrick. Lagi pula dia adalah cinta pertamaku."


"Lalu kenapa kalau cinta pertama, berapa juta orang mengalami cinta pertama, toh mereka tidak harus kembali memiliki. Di mana hati nurani kamu? Bahkan suami saudara sendiri kamu nikahi."


"Aku..." Ucapan Elizabeth terputus dia tidak bisa menjelaskan posisi dirinya. Tetapi perasaan bersalah mendominasi hatinya. Eva harus berusaha gigih menekan perasaan Elizabeth, harapannya Elizabeth merasa bersalah dan kemudian meninggalkan Kendrick.


"Ah sudahlah semua sudah terjadi, dan kamu menikmatinya."


Elizabeth menundukkan kepalanya, pernikahan ini memang sebuah kesalahan tidak seharusnya menikahi iparnya.


Terdengar derap langkah kaki dan gelak tawa. Elizabeth dan Eva membalikkan kepalanya. Dari arah belakang Leyton dan Nina berjalan beriringan. Mereka menuju kolam renang di sekitaran penginapan pantai. Elizabeth melihat interaksi ke duanya. Sangat akrab dan sangat mirip.

__ADS_1


"Nina sangat cantik. Terlihat sangat senang bersama Leyton."


Mendengar ucapan Eva, Elizabeth hanya membalasnya dengan senyuman.


"Bibi Eli." Teriak ke dua bocah kecil itu dan berlari mendekat, tetapi Leyton menghentikan langkahnya setelah tau siapa yang ada di samping Elizabeth, keceriaannya tiba tiba menghilang.


Nina mendekat dan memeluk Elizabeth.


"Hay bibi Eva." Sapa Nina memberi hormat. Eva membalas dengan cara menarik satu bagian bibirnya ke atas sehingga tampak sebuah seringaian.


Setelah memberikan kecupan di dahi Nina dan Leyton ke dua bocah kecil itu berlari menjauh bersama Maria.


"Apa benar Nina putri Julia dan Matheo?"


"Ya!" jawab Elizabeth singkat. Membuang pandangannya, menghindari kecurigaan Eva.


"Tapi aneh sekali Nina sama sekali tidak mirip dengan mereka."


"Aku tidak terlalu mengamati itu."


"Kenapa tanganmu gemetar? Kamu mungkin bisa membohongi Kendrick tapi tidak dengan aku."


"Apa maksud kamu?" Elizabeth membalikkan tubuhnya mencari jawaban apa maksud Eva.


"Kita coba saja, jika Kendrick tau kalau Nina adalah putrimu hasil perkosaan. Apa yang akan di lakukannya? Membuangmu ataukah membunuh anak itu."


Eva berniat meninggalkan Elizabeth yang ketakutan. Dia hendak pergi. Tetapi tangan Elizabeth menahannya.


"Eva, apa yang kamu inginkan." Eva kembali duduk, dia meletakkan tubuhnya dengan Elegan.


"Tinggalkan Kendrick! Pergi dari hidupnya."


"Apa kamu tidak tau. Berapa kali aku menghilang, tapi Kendrick berhasil menangkapku."


"Itu mudah aku sudah mempersiapkan surat cerai kamu tinggal menandatanganinya, sisanya serahkan padaku. Kamu cukup menghilang."


"Tapi..."

__ADS_1


"Itu pilihan yang bagus buatmu, atau kamu lebih memilih Kendrick merebut Nina dari tanganmu?"


Itulah perbedaan Elizabeth dan Eva. Dulu Eva memang di persiapkan menjadi anak yang mandiri berotak cerdas. Pembelajaran apapun di ikutinya walaupun dengan biaya yang mahal. Sementara Elizabeth selalu di tindas di dalam keluarganya.


"Mengenai biaya hidup, akan ku berikan uang. Kamu juga bisa membawa Nina. Bukankah itu tujuanmu?"


"Tapi aku tidak yakin jika melakukannya sekarang, dia tau tujuanku untuk menemui mama dan Carlos. Kemungkinan ....."


Terdengar langkah kaki mendekati mereka, Kendrick berjalan dengan tubuh yang Elegan.


"Aku akan ke kota, ada sesuatu yang harus aku lakukan bersama Marco, apa kamu membutuhkan sesuatu?" Tawar Kendrick kepada Elizabeth, dia tidak memperdulikan keberadaan Eva di samping Elizabeth. Kemudian mengecup puncak kepala Elizabeth menghirup aroma wangi sampo.


Eva mencibir melirik adegan di depannya, sumpah serapah di dalam otaknya, tangannya mengepal. Kendrick meninggalkan ke duanya, pergi bersama Marco. Demikian juga dengan Eva, dia sangat perduli dengan niatnya tetapi dia harus merencanakannya secara matang.


Elizabeth mecari keberadaan Nina dan Leyton, menurut salah satu pengawal mengatakan kalau anak anak pergi di temani Maria menuju pantai, tapi beberapa waktu berjalan Elizabeth belum juga menemukan keberadaan mereka. Elizabeth mulai panik, ada perasaan takut dengan ancaman Eva padanya.


Hingga akhirnya dia mulai berinisiatif menuju tebing siapa tau dia bisa meligat keberadaan Nina dan Leyton. Elizabeth berlari sambil menaiki tebing, tentu itu tidaklah mudah. Nafasnya tersengal bahkan keringat bercucuran. Elizabeth tidak memperdulikan lagi keselamatan dirinya. Bahkan dia berdiri di bibir jurang. Angin yang kencang membuat gaun yang di kenakan berkibar demikian juga rambutnya, pandangannya mulai terhalang, tanpa di rencanakan dia menginjak batu rapuh, Elizabeth tergelincir, tetapi dia masih bisa mempertahankan pijakan kakinya, Elizabeth berteriak meminta tolong. Semua penghuni ada di bawah pantai. Tinggal Noela dan Eva yang masih berdiam di penginapan.


Tetapi yang pertama kali mendengar teriakan Elizabeth adalah Eva. Dengan sepontan Eva berlari mencari sumber suara. Dia melihat Elizabeth menggantung.


Eva tersenyum mencibir.


"Eva tolong aku."


Eva memberikan tangannya, belum juga kulitnya menyentuh tangan Elizabeth, dia sudah menariknya lagi.


"Ups, kamu membutuhkan bantuan dariku?"


"Eva tolong aku."


"Tolong? Apa yang akan ku dapatkan?"


"Aku akan meninggalkan Kendrick secepatnya, bukankah tadi aku sudah menandatangani berkasnya?"


Elizabeth masih acuh tak acuh.


Tetapi pikiran Eva berubah, dia memiliki rencana lain.

__ADS_1


__ADS_2