
Malam itu terasa sunyi, hanya deru nafas Kendrick yang terdengar beraturan, begitu merdunya bagaikan nafas burung sirit dari surga. Burung sirit adalah burung pembawa kabar kematian, suaranya kecil dan lembut tetapi sanggup memekakkan telinga.
Kendrick benar benar melemah, kemarahannya bahkan murkanya hilang hanya menyisakan umpatan umpatan kasar yang keluar dari bibirnya yang merah dan sedikit tebal. Bagi Elizabeth perangai Kendrick masih bisa di maafkan, asalkan lelaki itu tidak membuang apalagi menjualnya untuk di jadikan wanita penghibur. Jangankan menjadi wanita penghibur, menjadi wanita pendampingpun Elizabeth tidak bersedia Kengerian akan penilaian Nina terhadap dirinya sungguh menakutkan.
Elizabeth merasa walaupun Nina anak hasil dari perkosaan, tetapi tidak ada yang lebih berharga dari pada putri cantiknya. Elizabeth akan memberikan yang terbaik untuk putrinya.
Elizabeth menatap lelaki yang tengah tertidur di depannya. Lengan besar milik Kendrick masih di jadikan bantalan kepalanya, Elizabeth menatap wajah Kendrick yang tampan, bak lukisan titisan dewa turun dari surga. Bulu mata hitam dan lentik itu sungguh mempesona. Elizabeth mengusap ujung hidung Kendrik dengan jari telunjuknya, menyisir hingga berhenti tepat di dada berbulu milik Kendrick. Di usapnya dada itu, irama jantung berdegup kencang, bagaikan genderang perang. Untungnya lelaki di depannya tidak terbangun, andai saja terjadi betapa malunya Elizabeth.
Perubahan Kendrick secara tiba tiba tentu menjadi tanda tanya besar bagi Elizabeth, walaupun ke duanya tidak melakukan sesuatu di luar batas. Tetapi perlakuan Kendrick kepadanya di luar batas wajar. Sedikit lembut dan perhatian, walaupun kata kata kasar sering di lontarkan Elizabeth masih bisa bertahan. Elizabeth hanya menemani Kendrick tidur, dan tidak lebih.
Hampir tujuh tahun lamanya Kendrick terikat dengan obat tidur, insomnia akibat penghianatan Elizabeth dan tragedi berdarah, memaksa ke dua matanya untuk selalu terjaga. Itu semua di luar kendali.
Penghianatan Elizabeth membuat dirinya menjadi workoholic dan sadis. Nama Kendrick begitu di kagumi dan di takuti di kalangan mafia. Tidak sedikit yang berusaha menjegal apalagi membunuhnya.
Saat semalam Elizabeth meninggalkan kamar VIP karena dia menyadari Kendrick membutuhkan tempat untuk beristirahat. Namun sebuah suara mengagetkannya.
"Selangkah lagi kamu berjalan ke arah pintu, kepala sabuk ini akan kembali mendarat di punggungmu."
"Aku...Marco..." Ucap Elizabeth, dia hendak mengatakan kalau ingin menemui Marco karena pekerjaan yang di tugaskan padanya sudah selesai.
"Ada apa dengan Marco? Apa kamu tidak cukup puas hanya dengan satu laki laki? Masih kurang? Apa aku harus memuaskanmu?"
Ucapan Kendrick terdengar seperti sindiran, hanya saja Elizabeth tidak menyadari arti ucapan Kendrick. Demi tujuannya Elizabeth harus mengalah, dia harus cepat cepat menuntaskan masalah ini dan segera pergi sejauh mungkin.
"Tidak, aku hanya tidak mau mengganggumu, kamu terlihat kelelahan. Itu saja."
"Biasa melihat laki laki kelelahan? Atau kamu yang sudah membuat mereka kelelahan?"
Ucapan Kendrick langsung menghujam ke jantung Elisabeth, sakitnya hingga mampu menembus sumsum tulangnya. Elizabeth bukanlah anak kelas tiga sekolah dasar. Dia paham betul kalau lawan bicaranya sedang kesal, Elizabeth menahan diri. Menundukkan wajahnya dan sedikit berpaling.
"Tatap wajahku, beraninya membuang muka. Takut muntah?"
Elizabeth mengangkat wajahnya, menatap mata Kendrick dengan lekat, ada apa dengan lelaki ini. Bahkan dia terlihat lebih cerewet.
Kendrick tidak mengenakan apapun di tubuhnya selain celana hitam yang masih menempel di bagian bawahnya.
Elizabeth tidak sempat menyaksikan keindahan tubuh Kendrick, hanya ada ketakutan pada dirinya.
"Mau ke mana?"
Elizabeth menunjuk sofa besar berwarna merah dengan jarinya, seolah mengatakan ' Aku mau ke sana'.
__ADS_1
"Menjauh dariku?"
Lagi lagi Elizabeth tidak menjawab hanya menggelengkan kepalanya.
"Kemari! Ini sudah malam, sudah waktunya istirahat. Aku sangat capek. Dan aku tidak mau ada suara sedikitpun dan aku mau ketenangan."
'Tidak mau ada suara sedikitpun' Bukankah ini club malam? Setenang tenangnya pasti masih terdengar suara jedak jeduk walaupun samar, kebisingan itu masih bisa menembus tembok. Kenapa tidak beristirahat di rumah?
"Kemari!"
Elizabeth sedikit mendekat ke arah di mana Kendrick membaringkan tubuhnya.
Langkahnya terdengar halus.
Kemudian dia berhenti tepat di samping tubuh Kendrick. Menyadari itu Kendrick nampak kesal.
"Lama!"
Kendrick menarik lengan Elizabeth, sedikit mendorong tubuh Elizabeth, Elizabeth terjerembab tepat di samping tubuh Kendrick. Tubuh mereka semakin dekat, sentuhan lembut kulit keduanya membangkitkan gairah aneh yang lama terpendam. Keduanya terdiam, geleyar geleyar di seluruh tubuh hingga menembus pori pori. Telapak tangan basah, bibir menganga. Ke duanya menunggu reaksi lawan jenis. Tetapi sesaat kemudian ke duanya tersadar ketika terdengar suara ketukan di daun pintu ruangan VIP yang di tempatinya. Kendrick merasa kesal.
"Siapa?"
"Marco bos.
"Masuk!"
"Bos, Matheo sedang menunggu di bawah."
"Katakan besok aku akan menemuinya. Dan malam ini aku tidak mau di ganggu."
Marco melihat secara langsung kalau bos Kendrick dan Elizabeth tengah berduaan di tempat tidur yang sama, dalam keadaan Kendrick tidak mengenakan pakaian.
"Mengganggu saja!"
Marco mendorong pintu kamar itu dan menutup kembali.
"Kemari, lebih mendekat."
Elizabeth sedikit menggeser badannya agar lebih mendekat. Tidak di pungkiri rasa takut apa yang akan di lakukan Kendrick padanya.
"Jangan takut, aku tidak tertarik dengan wanita tidak bersih."
__ADS_1
"Masuk!"
"Ke mana?"
"Neraka, ya selimut. Bodoh!"
Elizabeth masuk ke dalam selimut bulu berwarna merah kontras dengan seprai yang berwarna lebih terang.
Dia sedikit lebih mendekati Kendrick. Wangi rambut Elizabeth tercium oleh hidung Kendrick, dia menghirupnya lebih dalam.
"Bagaimana dengan luka dan memarmu? Apa sudah lebih baik? Atau gigitannya perlu di tambah?"
Elizabeth sedikit menjauh, dia takut jika yang di katakan Kendrick benar benar di lakukan. Elizabeth menelan ludahnya karena ketakutan. Tetapi matanya tidak terlepas dari pandangan Kendrick.
"Kenapa menjauh? Bagaimana di rumah sakit? Nyaman? Siapa saja yang menemani kamu?"
"Santa." Jawab Elizabeth dengan gugup.
"Dan?"
"Marco."
"Lalu?"
"Hanya itu. Aku tidak memiliki siapa siapa? Kamu mengharapkan jawaban apa?"
Elizabeth tidak mungkin mengakui kalau sebenarnya Diego menemui dan menemaninya, di saat Santa ataupun Marco tidak ada di tempat. Kendrick seorang psikopat, Elizabeth menghawatirkan keadaan Diego, bagaimana kalau sampai Kendrick menangkap Diego dan menyiksa seperti yang di alami dirinya?
"Hay wanita tidak bersih, aku tidak suka di bohongi."
"Maksudnya apa?"
"Kamu pikir sendiri. Saat ini aku hanya butuh tidur, awas jika kamu bergerak dan pergi. Aku akan mengikat kakimu. Dan satu lagi besok aku punya kejutan buatmu."
"Maksud kamu."
Kendrick tidak menjawab pertanyaan, hari ini dia cukup lelah, sedikit keanehan terjadi padanya, dia ingin memejamkan matanya. Padahal bertahun tahun dia tidak merasakan kelelahan seperti ini.
Kendrick menarik pinggang Elizabeth menekan dan memeluknya, keduanya masuk ke dalam selimut tebal. Elizabeth merasa heran dengan perlakuan Kendrick, tak berapa lama kemudian terdengar dengkuran halus di telinga Elizabeth, nafas yang teratur, Kendrick tertidur matanya terpejam, wajahnya bak malaikat malam sungguh tampan.
Club D'Oreon bukanlah tempat yang bagus buat beristirahat apalagi tidur, suara hentakan musik terdengar walaupun cukup halus namun sanggup menembus dinding.
__ADS_1
Padahal baru saja mengatakan kalau Elizabeth bukanlah wanita yang bersih, bahkan membencinya. Lalu kenapa malah mengajaknya tidur bersama?
Happy new year 2022. Gracias. Semoga kita selalu damai dan aman. Jangan lupa Like Komen And Vote.😘😘😘