Cinta Wanita Kumal

Cinta Wanita Kumal
Baiklah Kamu Yang Minta


__ADS_3

Di area parkir VIP yang luas tanpa ada satu orangpun yang melintas, hanya Marco yang berada di samping pintu mobil Mercedes hitam milik Kendrick.


"Kendrick jangan begini."


Kendrick menarik pinggang Elizabeth dan di dudukkannya di atas ke dua pahanya. Satu tangannya mengangkat rok pendek milik Elizabeth mengelus dan mengusap apa yang ada di dalamnya, meletakkan dagunya di atas pundak Elizabeth. Matanya mulai nanar, nafasnya terasa berat. Gesekan itu membuat sesuatu semakin mengeras.


"Ingin sesuatu yang lebih menarik?"


"Apa maksudmu? Jangan kasar begini. Remasanmu terlalu keras, kamu menyakitiku."


"Apa kamu menginginkan yang lebih sakit? Atau kamu menginginkan hukuman dariku. Seperti ini?" Tangan Kendrick semakin bergerak liar.


"Aku pernah melakukan di kamar, di hadapan Matheo dan Marco, apa kamu masih ingat? Walaupun mereka memilih membelakangi kita. Dan itu belum tuntas."


"Kendrick berhenti!" Ucap Elizabeth dengan berteriak. Dia benar benar takut bagaimana jika ada orang lain yang melihatnya.


"Atau kamu mau aku mengingatkan lagi?"


Elizabeth terus meronta, pakaian yang di gunakan sudah tidak utuh lagi.


"Hust! Jangan berteriak, tidak tau malu. Masa hanya seperti ini saja sakit."


Kendrick membanting tubuh Elizabeth, mendominasi dan menunjukkan seolah olah Elizabeth hanyalah sebagai pemuas nafsunya saja. Kendrick menindih dan mengunci gerakan Elizabeth.


"Sudah ku bilang jangan macam macam. Wanita seperti kamu lebih menyukai pria tua kan? Kalau begitu akan ku tunjukkan bagaimana rasanya pria muda"


"Jangan begini, jangan seperti ini!" Elizabeth menghiba. Matanya mulai mengkristal.


"Jangan begini bagaimana?" Kendrick mulai berani mencium.


"Maksudku jangan melakukan di sini, kita pindah saja ke tempat lebih aman. Aku malu, aku takut ada orang yang melihat kita."


"Malu? Kalau begitu biar aku buka kaca mobilnya. Biar semua orang menyaksikan siaran langsung."


"Tidak, tidak begitu."


"Lalu apa?"


Gerakan Kendrick semakin kasar, dia benci wanita di depannya. Menganggap Elizabeth murahan. Bukankah dia sudah menikahi lelaki tua, kenapa sekarang berubah menjadi tunangan laki laki berambut aneh.


"Jangan berteriak, bukankah kamu sudah biasa berbuat seperti ini. Berapa laki laki yang sudah memasukimu?"


"Tidak, bukan seperti itu. Aku malu. Bagaimana kalau ada yang merekam."


Dengan cepat Kendrick membuka kaca mobil, menekan tombol berwarna silver.


Marco menyadari punggungnya membelakangi kaca mobil, dia menggeser tubuhnya sedikit ke samping.


"Sudah, di sana ada CCTV, bukankah kamu ingin di rekam?"


Dengan gerakan cepat Elizabeth kembali menaikkan tombol silver, kaca mobil kembali tertutup.


"Baiklah, aku mau. Aku mau." Ucap Elizabeth.


"Cihh dasar murahan, jangan berlagak sok bersih, tadi berteriak dan bilang tidak mau, sekarang malah meminta. Dasar tak tau malu."


Kendrick melakukannya dengan kasar.


"Kamu tau kesalahanmu apa?"


Setiap pertanyaan Kendrick di barengi gerakan yang kasar.


"Aku tau, aku salah."


"Coba katakan padaku kesalahanmu apa?"


Lagi lagi Kendrick memasukinya dengan kasar.

__ADS_1


"Bertemu dengan laki laki lain."


"Lalu?"


"Tunangan tanpa seijinmu." Padahal tunangan hanyalah kebohongan, itu semua adalah akal akalan Juan.


"Kemudian?"


"Berniat kabur dari club malam milikmu."


Kendrick menghentikan gerakannya. Padahal bukan itu jawaban yang di inginkannya tetapi malah mendengar pengakuan kalau Elizabeth berniat kabur.


Kendrick menghentikan gerakannya, dia mati rasa dan tidak ingin melakukan itu lagi.


"Pakai bajumu."


"Kamu...belum..."


"Diam, malas melakukan denganmu, teriak teriak! Kalau orang lain mendengar di kiranya aku memperkosa kamu. Padahal kamu begitu menikmati, bahkan meminta."


"Tidak, jangan begini. Aku menginginkannya. Asal jangan di dalam mobil." Elizabeth memohon, karena dia paham kemarahan Kendrick tidak akan berakhir sampai di sini.


"Sudah malas!"


Kendrick kembali menutup celanya yang sedikit terbuka, dan menunjukkan sikap kepada Elizabeth bahwa dia hanyalah akan di jadikan sebagai alat pemuas saja, sangat ironis. Sebenarnya Kendrick adalah lelaki tampan, tetapi jangan sampai tertipu dengan ketampanan, dia tidak ubahnya seorang psikopat dan manusia berhati iblis.


Kendrick melemparkan pakaian yang teronggok di bawah jok mobil ke wajah Elizabeth.


"Pakai, aku malas memasukimu. Masih banyak wanita bersih yang mengantri untuk mendapatkanku."


Elizabeth memakai pakaiannya dengan cepat, dia takut kalau sampai Kendrick berubah pikiran.


"Lalu aku kemana? Rumah tinggal sementara sudah aku tinggalkan kemarin."


"Baiklah, karena kebaikanku. Kamu bisa tinggal di apartemenku."


Kendrick menyatukan giginya, dia paling tidak suka dengan kalimat bantahan. Perubahan wajah Kendrick terlihat oleh Elizabeth.


"Maksudku, jika aku tinggal di club... Akan lebih mudah bertemu denganmu. Dan aku tidak kesepian." Ucap Elizabeth sambil menundukkan wajahnya, Kendrick menyukai ucapan Elizabeth, mencubit dagu Elizabeth dan mengangkat sedikit wajah wanita itu.


"Baiklah, aku turuti. Sebenarnya malas sekali bila tiap hari melihat wajahmu." Ucapan Kendrick dengan kebohongan.


"Mau kemana?"


"Kembali ke D'Oreon."


"Siapa yang menyuruhmu?"


"Tadi kamu bilang?"


"Tadi, dan bukan sekarang!"


Elizabeth tidak mengerti maksud ucapan Kendrick, tangan kirinya sudah berada di knop pintu mobil, dan siap untuk pergi. Tetapi mendengar ucapan Kendrick seperti itu sangatlah membingungkan.


"Ikut aku."


"Kemana?"


"Ke atas."


"Atas mana?"


"Atasmu! Kamu mau benar benar aku memperkosamu di area parkir ini!"


Yang di maksud Kendrick ke atas adalah menuju ruang kantornya, padahal sudah memasuki sore hari, lalu kenapa masih harus balik ke kantor? Bukankah lebih baik langsung pulang saja, atau menuju D'Oreon misalnya?


"Tidak mau!"

__ADS_1


"Siapa memberi ijin untuk menolak."


"Tidak, maksudku...Pakaianku seperti ini. Aku malu.."


Pakaian milik Elizabeth memang sudah tidak berbentuk lagi, kusut dan sedikit robekan. Apalagi di bagian rok pendeknya.


Kendrick mengetuk kaca mobil sebanyak tiga kali, dengan tanggap Marco membuka pintu dan menundukkan sedikit kepalanya. Kendrick melangkah keluar kemudian membalikkan badan dan ke dua tangannya meraih bagian belakang pinggang dan leher Elizabeth. Kendrick membawa Elizabeth ke dalam lift kapsul kusus pimpinan, lift kapsul itu langsung menuju ruangannya, Marco mengikuti dari belakang.


"Kendrick, stop jangan seperti ini."


"Diam, berani meronta? Apa mau di lempar?"


Elizabeth ketakutan, menenggelamkam wajah kecilnya tepat di dada Kendrick.


"Memalukan! Tadi menolak, sekarang menikmati. Lihat wajahku."


Elizabeth menarik sedikit wajahnya, dan melihat wajah tampan Kendrick.


Kendrick menggigit bibir bawah Elizabeth dengan gemas.


"Jangan begini ada kak Marco."


"Kakak?"


"Aku menganggap dia kakakku, merasa aman saja di klub, soalnya banyak laki laki iseng, paling tidak mereka menganggap aku adalah adik Marco"


"Baik juga."


Sebaliknya dengan Marco, dia berpura pura tidak mengetahui apa yang di lakukan oleh bosnya, walaupun pantulan dari cermin di lift kapsul itu nyata terlihat.


Pintu lift terbuka, seorang asisten laki laki berbaju hitam membuka pintu kantor, benar ucapan Kendrick kalau lift kapsul itu langsung terhubung dengan ruangan kantornya.


Kendrick meletakkan Elizabeth di atas sofa besar di ruang kantor yang bernuasa maskulin itu.


Kendrick berniat melanjutkan kegiatan yang tertunda, dia kembali melakukan pemanasan.


"Pintunya?" Tanya Elizabeth.


"Belum di kunci." Ulangnya.


"Tidak akan ada yang berani masuk, bahkan tikus kecilpun harus meminta ijin."


"Oh, baiklah. Sekarang?"


"Cih! Wanita tidak bersih, sama sekali tidak bisa menahan! Kalau begitu baiklah, tapi karena kamu yang meminta."


Baru saja Kendrick hendak melanjutkan, sebuah ketukan membuyarkan pikirannya.


"Sialan!"


Kendrick menutup tubuh Elizabeth dengan jas hitam miliknya. Seorang asisten laki laki membuka pintu dan memasuki ruangan. Dia terlihat gugup karena walaupun Kendrick berusaha menutupi tubuh Elizabeth yang meringkuk, tetap saja asisten itu dapat melihat bagian kaki Elizabeth yang putih.


"Ada apa? Kalau berita itu tidak penting, ku tembak kepalamu."


"Ada tuan Leyton dan nyonya di bawah."


Dunia seperti kiamat, apapun boleh terlihat buruk, tapi jangan di hadapan Leyton. Putra kesayangannya dan penerus bisnisnya kelak. Dia harus kelihatan sempurna di mata Leyton. Kalaupun di mata istrinya dia kelihatan buruk tidaklah masalah.


"Bodoh! Tahan dulu di bawah."


Elizabeth begitu kebingungan, tidak tau kenapa Kendrick terlihat panik, siapa tuan Leyton? Kenapa perasaannya menjadi tidak enak?


"Kendrick." Ucap Elizabeth lirih, dia mencoba mencari penjelasan dari Kendrick.


"Diam!"


Air mata Elizabeth tiba tiba meluncur deras, perasaan apa yang ada di hatinya sangatlah membingungkan, bahkan air mata itu tidak di hiraukan oleh Kendrick.

__ADS_1


Trimakasih yang sudah menyukai novelku, jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya. S3makin banyak jejak yang anda tinggal, semakin semangat aku berimajinasi. Gracias.


__ADS_2