
Sudah satu minggu sejak Elizabeth di bully, keadaan tubuhnya sudah semakin membaik, Elizabeth sudah memohon pada pria misterius itu agar menarik dirinya untuk ke luar dari jeratan Kendrick, tetapi sialnya dia tidak mendapatkan ijin itu.
Bebarapa foto di kirimkan oleh lelaki misterius, foto Nina dengan senyum dan kecantikan alami orang Spanyol. Rambut ikal dan mata biru, hidung mancung.
Nina nampak bahagia dan ceria. Nina terlihat gemuk dan cantik, hati Elizabeth sedikit lega melihat keadaan Nina baik baik saja. Elizabeth beberapa kali mengusap foto itu, dia sangat merindukan Nina. Jika saja dia tau di mana mereka menyekap Nina, Elizabeth akan menyelamatkannya. Kenapa lelaki itu tega memisahkan Elizabeth dengan buah hatinya. Walaupun ada senyuman di wajah Nina tetap saja dia merindukan mamanya.
Selama dirinya di rawat di rumah sakit besar Kolombia tidak satu orangpun yang bersimpati pada dirinya. Hanya dokter Noela yang dengan sabar membantu dan menemaninya. Kendrick sama sekali tidak perduli, lelaki yang sudah menjerumuskannya ke dalam masalah besar itu tidak menunjukkan batang hidungnya. Kesakitan dan kemarahan Kendrick tak beralasan.
Elizabeth mendengus kesal, hari ini dia sudah kembali bekerja. Mendekati Kendrick nampaknya akan sulit, tapi itu tujuan utamanya. Jika saja dia sanggup dan berani bertanya mengapa Kendrick semarah itu pada dirinya. Dan andai saja dia dapat menjelaskan bahwa semua adalah di luar kendalinya. Kematian bukan hanya menimpa Sara, tetapi papanya juga menjadi korban keserakahan mamanya. Dia bisa apa?
"Eliz!" Suara yang lumayan di kenalnya memanggil namanya.
"Tuan Marco."
"Jangan panggil tuan, aku sama sepertimu. Panggil saja Marco."
"Baik, karena kamu lebih tua bolehkah aku memanggilmu kakak? Kak Marco. Ada apa?"
"Tidak masalah, kamu bebas memanggilku apa aja, asal jangan embel embel tuan."
Elizabeth sedikit menarik ucapannya. Bagaimanapun dia tau kalau sebenarnya Marco adalah kaki tangan Kendrick. Demi mendekati Kendrick dia harus memulainya dari Marco.
"Kamu di pindahkan, maksudku tidak di bagian kebersihan lagi. Tapi di..."
Belum selesai ucapan Marco, Elizabeth sudah memahami ke adaan.
"Wanita pendamping tamu kan?"
"Ya. Maaf."
"Aku sudah menduganya. Tidak apa apa, baiklah aku harus bersiap. Bukankah aku bekerja di sift malam?"
__ADS_1
"Ya. Maafkan aku."
"Tidak masalah. Paling tidak aku masih di pekerjakan di sini. Masih ada keluarga yang harus aku hidupi."
Elizabeth berjalan ke lantai dua menggunakan lift kapsul, dia akan beristirahat sejenak. Sebenarnya hati kecilnya menolak untuk melakukan ini. Hanya saja dia terpaksa. Demikian juga dengan Marco. Dia tidak tega melihat wanita yang masih tergolong muda di perlakukan begitu. Dendam majikannya pada wanita ini sangatlah berlebihan. Dia tidak tau lagi harus berfikir bagaimana. Menolong wanita itu tidak mungkin, bisa bisa kepalanya tertembus peluru panas.
Hingar bingar dunia malam mulai terasa. Gemerlap lampu malam menari nari seakan terbius irama musik. Manusia dengan aksi dan kepentingan masing masing memenuhi ruangan di club malam D'Oreon. Aroma tembakau Afrika dan anggur memabukkan mendominasi seluruh ruangan. Dj cantik meliuk liuk mengikuti alunan musik, dentuman nadanya mendebarkan hati dan jantung sekaligus.
Elizabeth menggunakan pakaian sedikit terbuka, bahkan lebih mengarah pakaian kekurangan bahan, beberapa kali dia menurunkan sedikit roknya ke bawah. Elizabeth terlihat lebih sibuk, karena dia harus ke luar masuk ruangan VIP untuk mengantar pesanan minuman anggur.
Ruangan dengan dekorasi yang mewah, di atas sofa kulit itu terdapat beberapa laki laki yang memakai jas Armani hitam. Juga terdapat wanita dengan penampilan seorang serketaris. Mereka seolah mengadakan pertemuan rapat. Salah seorang berpenampilan mencolok, terlihat lebih tampan, dan elegant dari pada pria lainnya. Bahkan dia lebih mendominasi.
Elizabeth berdiri di sudut ruangan, karena ruang VIP itu di desain minim pencahayaan maka sepintas Elizabeth tidak nampak terlihat. Elizabeth akan mendekati mereka jika memang di butuhkan, baik menuangkan anggur ataupun bahkan menemani minum.
Seorang laki laki melambaikan tangannya, kemudian menunjuk gelas yang mulai kosong. Karena hari ini adalah hari pertama Elizabeth kerja tentu saja dia terlihat gugup.
"Apa yang kamu lakukan di sana? Tuang anggur itu, aku sudah membayarmu mahal." Ucap salah seorang laki laki berkulit hitam.
"Siapa namamu? Baru?" Ucap laki laki yang terlihat mendominasi. Lelaki tampan! Sayangnya Elizabeth tidak tertarik.
"Berapa tarifmu semalam?" Ucap lelaki itu. Lagi lagi semua laki laki menganggap dirinya seperti itu.
"Saya hanya pendamping dan menemani para tamu untuk minum. Jadi jika anda berniat melakukan itu, saya bisa mencarikan teman saya."
"Maksudmu kamu menolakku?"
"Saya tidak menolak, hanya saja ada bagian masin masing..."
"Baiklah kalau begitu temani aku minum."
"Baik, tapi tidak lebih satu gelas."
__ADS_1
"Beraninya kamu! Aku sudah membayarmu, jadi kalau aku memerintahkanmu minum ya minum!"
Itulah yang di benci Elizabeth, ketampanan tidak menunjang otak seseorang.
Baru saja kemarin dia keluar dari rumah sakit hanya karena tamu dengan model seperti ini.
Apa mungkin sekarang akan terulang kembali? Elizabeth benci ini. Tidak ada yang tau kalau dia tidak bisa meminum alkohol terlalu banyak. Tubuhnya terlalu lemah untuk menerima itu.
"Kamu menolak? Ternyata D'Oreon tidak seprofesional yang saya pikirkan" Ucapan orang itu tidak enak di dengar dan memanaskan telinga.
Elizabeth merasa ketakutan, bagaimana jika Kendrick tau? Apa mungkin dia akan di siksa lagi? Ini hari pertamanya kerja. Jika terjadi apa apa bagaimana dengan Nina.
"Bagaimana? Bukankah tugas kamu adalah menemani para tamu untuk minum dan bersenang senang?"
Lelaki itu nampak terlihat meremehkan Elizabeth. Siapapun yang ada di situ hanya menonton Elizabeth, apalagi mereka nampak sebagai anak buah dari lelaki yang ada di depannya.
"Bagaimana? Menemaniku bersenang senang di kamar kamu menolak, menemani minum anggurpun kamu menolak? Kamu di bayar sebagai pajangan saja?"
Elizabeth mendengar itu menjadi emosi. Kemudian mengangkat gelas yang sudah terisi anggur hitam dan berniat meminumnya.
"Bersulang! Semoga anda panjang umur." Gerakan Elizabeth seperti itu hanyalah bertujuan meredakan suasana, dia tidak mau meributkan masalah ini. Sudah cukup baginya di sudutkan. Elizabeth bertekad jadi kuat.
Sudah tiga gelas Elizabeth memasukkan anggur hitam itu ke dalam mulutnya, dia mulai tidak kuat, berhalusinasi dan mulai berkata tak karuan.
"Lemah!" Ucap lelaki itu kesal.
Semua yang ada di situ mencibir, bahkan sebelumnya mereka sudah mendengar cerita tentang pelayan ini, bagaimana bisa bos mafia bisa turun tangan menangani masalah pelayan baru.
Bagaimana Kendrick minggu lalu menghancurkan laki laki yang sudah membully Elizabeth. Bos pegawai pemerintahan yang ternyata bernama Roberto mendapatkan nasib sial. Dan karena ke kurang ajaran Roberto, Club malam milik Kendick menjadi berantakan, imbasnya Roberto di tugaskan ke luar pulau terpencil di Kolombia. Padahal di Bogota Roberto memiliki jabatan lumayan tinggi. Tapi hanya karena wanita penghibur Kendrick melalukan seperti itu. Dan berita itu sudah tersebar luas baik masmedia cetak ataupun elektronik.
Trimakasih yang sudah meninggalkan jekak, jangan lupa Like Comen and Vote.
__ADS_1