
Bogota Kolombia, pagi ini hujan turun dari langit dan memercikkan lompatan bunga air sangat indah.
Elizabeth menikmati dinginnya udara pagi ini dengan perasaan yang sedih, dia tidak merasakan perasaan cinta lagi kepada Kendrick hanya ketakutan merasa di kekang, butiran air yang jatuh ke tanah memantulkan bunga bunga percikan yang indah, tapi tidak dengan hati Elizabeth.
Untuk apa Kendrick mengekang dan mengurungnya, bukankah sudah ada Eva di sampingnya apalagi dokter Noela sangat mencintainya.
Di lubuk hatinya yang terdalam, dia hanya mengingankan kebebasannya seperti dulu. Tetapi bersama Nina di sampingnya. Kendrick membatasi gerakannya. Bahkan ketika mengutarakan keinginannya untuk melihat Juan, Kendrick akan mencekiknya. Kemarahan Kendrick tanpa bisa di pahami.
"Hanya melihat kondisinya!" Ucap Elizabeth meyakinkan Kendrick.
"Dia baik baik saja, kedatanganmu tidak akan bisa menyembuhkannya. Dia akan tetap koma." Kendrick melarangnya tetapi kata katanya masih lembut.
"Tapi paling tidak aku bisa membantu untuk membangunkannya. Dan siapa tau setelah mendengar suaraku Juan terbangun." Elizabeth masih tidak menyerah.
"Elizabeth! Aku tidak mau mengulang perkataanku." Bentakkan Kendrick mengejutkan Elizabeth. Dia mundur beberapa langkah.
"Tapi aku berhutang budi padanya."
"Aku sudah membayarnya dengan menempatkan dia di rumah sakit besar dan tetap menjaga perusahaannya agar tetap stabil, lalu apa lagi?" Kendrick mulai menaikkan suaranya.
"Tapi." Elizabeth tidak mengerti mengapa Kendrick melarangnya menemui Juan, bukankah Juan bukanlah tandingannya.
"Haruskah aku membunuhnya agar kamu bisa melupakannya?" Bentak Kendrick, dia mulai tidak menyukai permintaan Elizabeth, merengek demi laki laki lain.
Elizabeth mengingat perkataan Kendrick seperti itu, ancaman dan tekanan. Tak ayal nyali Elizabeth menciut. Ketakutannya kepada kendrick kembali muncul. Elizabeth membatalkan niatnya untuk mengunjungi Juan tetapi sebenarnya dia hanya menundanya.
Kendrick mulai mengumumkan rencana pernikahannya kepada seluruh pelayan, persiapan mulai di lakukan. Nina terlihat senang mendapati Elizabeth hendak menikah dengan orang tertampan di Bogota. Tetapi tidak dengan Elizabeth jika dia menikah dengan Kendrick selamanya akan menyembunyikan Nina, dia tidak mau itu.
Keinginan Elizabeth sangatlah mudah. Hidup sederhana bersama Nina di pinggiran pantai atau perkampungan dengan lahan yang besar.
Leyton sudah mulai dekat dengannya, kasih sayang yang tidak pernah di dapat dari Eva membuat Leyton lebih nyaman bila berdekatan dengan Elizabeth.
Persiapan pernikahan yang begitu meriah akan di adakan minggu depan hal itu tentu saja memancing kemarahan Eva. Dia memanggil Leyton ke kastil timur, sudah berhari hari Leyton tidak mengunjunginya dan lebih senang berada di kastil barat menemani Elizabeth.
__ADS_1
Suara ketukan pintu di kamar Eva menyadarkan lamunanya.
"Masuk!" Eva tau kalau yang akan datang adalah putra kesayangan Kendrick, maka dengan cepat dia berjalan ke arah pintu. Bersamaan itu tangan kecil mendorong pintu.
Eva menarik tangan kecil itu dengan keras hingga pemiliknya terjerembab.
Leyton tersungkur tetapi dengan cepat dia mencoba kembali berdiri, mamanya tidak suka dia menjadi lelaki cengeng. Leyton kembali berdiri tegak bersandar di sudut tempat tidur.
Leyton yang tampan dengan wajah tirus nan rupawan meringis kesakitan.
"Mama..."
"Apa?" Eva duduk di sudut ranjang, menekan ke dua bahu Leyton semakin lama semakin keras. Tekanan tangan Eva seolah meremukkan tulangnya, Eva semakin tak terkendali.
"Percuma membawamu, lebih baik saat itu aku membuangmu ke tempat sampah!"
Teriakan Eva sama sekali tidak di mengerti oleh Leyton. Dia kesakitan tetapi mulutnya terkunci bahkan tidak berani mengeluarkan suara walaupun untuk menangis. Hingga sebuah suara menyadarkan Eva.
"Nyonya! Lepaskan, jika tuan Kendrick tau nyawa anda akan melayang. Usaha anda selama ini akan sia sia." Ucap Bertha, dia tidak sengaja memasuki kamar majikannya karena sebenarnya dari awal dia tau kalau tuan Leyton memasuki kamar majikannya, dan seperti biasa majikannya akan menyiksa tuan Leyton, tetapi dia tidak menyangka majikannya senekat ini.
"Nyonya apa yang anda lakukan? Bukanlah masih ada cara lain mendekati tuan Kendrick?" Ucap Bertha.
"Anak bodoh itu sama sekali tidak bisa membantuku, percuma aku membawanya. Kenapa aku tidak membuangnya saja dulu?!" Teriak Eva. Bertha terkejut, apa maksud majikannya? Membawa Leyton? Bukankah memang seharusnya? Karena dia memang ibunya. Tetapi Bertha menepis pikirannya, mungkin majikannya sedang marah, jadi pikirannya seperti tiupan angin ribut saja.
"Nyonya harus tenang, pernikahan tuan Kendrick dan nona Elizabeth tidak akan terjadi." Bujuk Bertha.
Elizabeth terkejut dengan ucapan Pelayannya, kemudian dia memutar posisi duduknya. Udara yang tadinya memanas kini mulai berkurang.
"Maksud kamu apa?" Tanya Eva tak sabar.
"Nona Elizabeth tidak akan mau menikahi tuan Kendrick!" Ucap Bertha penuh keyakinan.
"Ya lalu apa, katakan cepat kalau kabar itu tidak bagus aku akan merobek mulutmu!"
__ADS_1
"Baik baik nyonya." Ucap Bertha terbata bata." Dia yakin majikannya akan menyukai kabar yang di bawanya. Bertha berjalan ke arah pintu memastikan tidak ada yang mendengar kemudian menutup pintu rapat rapat. Kepala pelayan berkeliaran ke mana mana!
"Karena semalam, aku mendengar mereka bertengkar." Ucap Bertha yakin.
Ekspresi Eva berubah senang, dia memuji pelayan yang satu ini. Dulu sedih kehilangan Embre tapi ternyata Bertha tidak buruk juga. Menjada mata mata tapi tidak mengeksekusi.
"Masalah apa yang mereka ributkan! Cepat katakan!" Eva mulai tak sabar
"Nona Elizabeth hendak mengunjungi lelaki lain bernama Juan, tetapi tuan Kendrick cemburu dan melarangnya bahkan tuan juga mengancam jika nona Elizabeth masih nekat maka tuan Kendrick akan membunuhnya!"
Tiba tiba senyuman licik nampak di sudut bibirnya. Menjentikkan dua jarinya seakan mendapatkan sebuah ide gila.
*******
Kembali ke kastil barat, Elizabeth duduk termenung hingga hujan mulai mereda, lamunannya di kejutkan oleh suara langkah kaki berlari memasuki teras samping kolam renang. Kaki kecil menginjak genangan air meninggalkan suara tak beraturan. Elizabeth membalikkan kepalanya, berharap itu Nina, tetapi dalam keadaan hujan begini tentu sebagai orang tua dia menguwatirkannya.
"Leyton! Kenapa kamu hujan hujanan?" Teriak Elizabeth, Leyton hendak menghindarinya dan berlari menuju kamarnya. Tetapi tangannya di tangkap oleh Elizabeth.
"Lepaskan!"
Sebagai perempuan dia tidak akan tega melihat anak sekecil ini berlari sendirian, dimana pelayan yang selalu bersamanya? Leyton meronta, tetapi Elizabeth kehilangan kesabarannya. Menggendong tubuh kecil yang kebasahan itu kemudian membawanya ke kamar Leyton.
"Apa yang kamu lakukan turunkan aku. Aku bukan anak kecil!" Benar benar wajah yang imut.
Elizabeth tidak mendengar kemudian memasukkan Leyton ke kamar mandi.
Leyton mengerti maksud tujuan Elizabeth.
"Aku bisa mandi sendiri, aku bukan anak kecil!"
Elizabeth memberikan privasi kepada Leyton kemudian menutup pintu kamar mandi. Dia menarik baju hangat di lemari Leyton. Leyton keluar dari kamar mandi dalam keadaan basah hanya mengenakan piyama putih, tapi dia sudah tidak kedinginan lagi. Anak kecil itu terlihat tampan, bahkan sangat mirip dengan Kendrick. Jika saja di adu ketampanan mereka dengan umur yang sama Elizabeth akan memilih Leyton, kharismanya benar benar memancar.
"Berikan pakaian itu."
__ADS_1
Elizabeth tidak mendengarkan perintah Leyton, malah dia mengangkat tubuh Leyton agar naik ke atas kasur, Elizabeth hendak memberikan punggung dan dada Leyton dengan minyak hangat. Saat membuka piyama mandi betapa terkejutnya Elizabeyh, di temukan memar di ke dua pundak Leyton!
Benar benar perlakuan biadab!