Cinta Wanita Kumal

Cinta Wanita Kumal
Singkirkan Dulu Maria


__ADS_3

Elizabeth menatap tubuh lemah Eva, terbaring dengan selang yang di hubungkan pada sebuah cairan warna bening. Hidup Eva di tunjang oleh beberapa alat dan kabel. Jika satu mesin itu di cabut maka selesai sudah tugasnya hidup di dunia. Dokter sudah menyarankan melakukan itu, tetapi Elizabeth menolak. Eva adalah saudara satu satunya, tidak perduli perlakuan apa yang sudah di terima Elizabeth itu tidak penting.


Ruangan yang tidak begitu besar dengan perabotan kamar yang sederhana berbanding terbalik bangsal yang di tempati Noela.


'Inikah yang kamu dapatkan sekarang?' Batin Elizabeth, keserakahan kakaknya tidak membuahkan hasil apa apa bahkan ancaman nyawa di terimanya.


'Kendrick kamu sangat kejam, bahkan Eva juga ibu dari anakmu. Tidak bisakah kamu membuka mata walau hanya sebelah saja?'


Seorang perawat mengganti cairan infus dan menyuntikkan beberapa cairan obat. Perawat nampak tak senang, melayani dengan setengah hati.


"Apa pasien ini tidak punya keluarga? Miris sekali, luangkan waktu untuk menjaganya, di sini pasien cukup banyak, tidak hanya dia saja. Merepotkan kalau harus bolak balik memeriksa kondisinya!"


Ucap perawat itu sedikit kasar, bukankah memang tugasnya? Tetapi Elizabeth cukup maklum, dia selalu menitipkan Eva pada salah satu perawat, sebenarnya di butuhkan satu orang keluarga untuk menjaganya. Tetapi tentu Elizabeth cukup kesulitan dia juga memiliki bayi yang masih harus di urus. Bisa saja dia membayar seseorang untuk menjaga tetapi Kendeick tidak mengijinkan.


Elizabeth mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan di selipkan di saku perawat itu, perawat bersikap sedikit baik.


Setelah kepergian perawat, Elizabeth mengusap dahi Eva membisikkan kalimat di telinganya, menyampaikan keluh kesahnya.


"Eva, setelah kamu tersadar, aku rela melepaskan Kendrick untukmu. Bagaimanapun juga kita saudara, aku harap kamu jangan membenciku."


Kemudian Elizabeth pergi meninggalkan ruangan Eva. Dia harus menemui Julia di kedai tak jauh dari rumah sakit.


Elizabeth lari berjinjit, melewati depan ruang VIP yang di tempati Noela, sekelebat dia melihat bayangan Kendrick yang tengah duduk di kursi hitam di samping brankar Noela, tangannya di genggam erat oleh wanita itu, ada senyum mencibir di wajah Elizabeth. Bohong jika dalam hatinya tidak cemburu. Sangat aneh, saat dulu Noela baik padanya, Elizabeth tidak benar benar merasakan perasaan ini, tapi kali ini berbeda. Perasaan cemburu hingga berkali kali lipat. Tapi dirinya sangat sadar kalau cinta Kendrick sudah terpecah. Elizabeth harus berusaha melepaskan Kendrick. Elizabeth merasa, mulai sekarang harus menata perasaan dan merubah sikap.


Marco tengah duduk di depan bangsal itu, Elizabeth hanya melewatinya dan menyapa sekedarnya, pengawal serba bisa itu sedikit berjengit kaget. Menganggukkan kepala menghormati Elizabeth


"Anda mau kemana?" Tanya Marco tiba tiba, Elizabeth tau pertanyaan Marco hanyalah pertanyaan pemutus atau penutup keterkejutannya. Marco duduk di atas kursi tunggal, kemudian kembali berdiri, mengusap dahinya yang sedikit berkeringat.


"Sudahlah, tidak masalah. Aku akan bertemu Julia di kedai depan. Katakan pada junjunganmu jangan mengurusku atau membayar seseorang membuntutiku. Urus saja urusannya sendiri." Ucap Elizabeth, jarinya menunjuk di mana arah kedai berada. Eizabeth melangkah pergi meninggalkan Marco yang tengah kebingungan.


Elizabeth memasuki kedai kecil, kedai sederhana dengan interior yang sangat mencolok. Elizabeth membolak balikkan kepala mencari keberadaan Julia. Pandangan jatuh pada perempuan berambut blonde.

__ADS_1


Elizabeth mengenal wanita itu adalah sahabat terbaiknya.


Elizabeth menepuk pundak Julia.


"Ada hasil?" Tanya Elizabeth. Menjatuhkan bokongnya di atas kursi kayu. Julia menyodorkan segelas minuman yang di pesannya.


Julia membuka map coklat berlogo pemerintahan.


"Aku mendapatkannya, tepatnya bukan aku tapi Matheo."


Elizabeth membuka map dan membaca lembar demi lembar, matanya terbelalak. Seulas senyum di bibirnya.


"Noela, kamu benar benar licik!" Ejek Elizabeth, julia tertawa mendengar dengusan sahabatnya.


"Mana pujian untukku?" Tanya Julia, karena sukses membantu temannya.


"Bukan kamu yang pintar, tapi Matheo." Elak Elizabeth.


"Tidak masalah." Jawab Elizabeth ringan.


"Untuk kali ini apa yang akan kamu lakukan dengan bukti ini?" Tanya Julia sambil memasukkan tortila pedas ke dalam mulutnya. Wajahnya memerah tak sabar mendengar jawaban Elizabeth.


"Menyingkirkan Maria."


"Dengan cara? Jangan kamu katakan menghabisi nyawanya." Julia mengatakan sambil tertawa.


"Bila perlu." Jawab Elizabeth tenang, dia menggerakkan tangannya memanggil pelayan, meminta tambahan menu makanan dan menyodorkan kepada Julia.


Mendengar itu Julia sangat kaget, bahkan gigitan tortila terlepas hingga menjadi remahan kecil.


"Perlakuan Kendrick mencemari pikiranmu, Maria hanyalah tikus kecil." Ucap Julia mengingatkan sahabatnya.

__ADS_1


"Pesan makanan lagi, bukankah kamu masih lapar?" Elizabeth tak bergeming mendengar nasehat Julia. Hingga akhirnya ke duanya berpisah dengan perut mereka kenyang.


Kendrick sudah meninggalkan rumah sakit besar, awalnya Noela menolak di tinggalkan tetapi karena bujukan Kendrick akhirnya Noela mengiklaskan.


"Apa yang dia katakan?" Tanya Kendrick, Kendrick duduk di kursi belakang, Marco mengemudikan dengan tenang.


Mendengar pertanyaan itu Marco enggan untuk menjawab.


"Kata nyonya ke tiga, sebaiknya bos tidak ikut campur dan nyonya ke tiga juga tau kalau di selama ini di buntuti."


Rahang Kendrick mengeras. Dia benci sikap berani Elizabeth, di tambah ancaman perceraian. Tidak mengertikah Elizabeth kalau dia sangat mencintainya. Tapi Kendrick mulai kuwalahan dengan sikap Noela, bersikap manja dan tidak mau jauh darinya. Kendrick memijit ke dua dahinya, ternyata beristri tiga sangat menyulitkannya. Di tambah Elizabeth yang mulai berani padanya padahal di hati Kendrick sangat menginginkan Elizabeth menjadi satu satunya wanita belahan jiwa.


Sementara di kastil barat, Elizabeth duduk di ruang tengah, satu kakinya di letakkan pada kaki lainnya. Ke dua tangannya di silangkan. Matanya yang tenang dengan lembaran kertas di depannya.


Kemarin Noela tidak mengakui melimpahkan rumah mewah pada pelayan Maria, tetapi mereka lupa kalau Matheo bekerja di pemerintahan juga, tentunya dia dapat melacak kegiatan apa yang ada di wilayah kekuasaannya.


Surat permohonan pengalihan sertifikat, dalam masa banding. Pantas saja Elizabeth kesulitan mencari bukti, karena masih dalam proses banding.


"Kamu masih tidak mengakui?"


"Benar nyonya ke tiga, aku benar benar tidak tau apa apa. Tentang surat itu bagaimana bisa atas nama ayahku."


"Oh, tidak masalah. Aku akan memberi tahu Kendrick. Mungkin kesalahan data. Dengan begitu kamu akan tersangkut pencurian surat berharga." Ucapan Elizabeth adalah ancaman.


"Nyonya ke tiga jangan lakukan itu. Ayahku terdesak. Maafkan aku, jangan adukan pada tuan Kendrick."


"Terdesak apa? Kalian menerima dan kamu menipuku dan Kendrick" Jawab Elizabeth ringan.


Elizabeth tidak mau menunggu lagi, dia mengotak atik ponselnya hendak menghubungi Kendrick.


"Nyonya ke dua yang menyuruhku. Tentang kejadian pada Noela dan luka pada nyonya ke dua itu benar."

__ADS_1


__ADS_2