Cinta Wanita Kumal

Cinta Wanita Kumal
Berobat


__ADS_3

Ruangan besar terlihat sangat bersih dan rapi, perabotannya tertata indah, tempat tidur juga nyaman. Sebuah meja dan kursi kayu jati berukir bertengger di sudut ruangan.


Seorang laki laki tertidur pulas, tangan kirinya tersambung dengan dua selang berisi cairan berwarna bening dan merah.


Detak jantung lelaki itu terhubung dengan mesin kotak kecil, tampilan pada layar membentuk gambar tak beraturan.


Saat laki laki itu tersadar hari sudah memasuki jam dua pagi. Udara yang dingin menusuk di setiap tulangnya. Lelaki yang tidak lain adalah Diego itu mengeram kesakitan. Dia masih bingung dengan keberadaannya. Mengapa bisa berada di ruangan yang asing.


Hari masih pagi, bahkan tidak ada satu orangpun yang nampak di bagunan luas ini. Keadaan begitu hening dan sepi.


Selama ini Diego hidup di bawah tekanan Juan, tinggal di apartemen sempit dengan berbagai ancaman, baik keselamatan Elizabeth ataupun Nina. Keadaan tubuh Diego yang terkena penyakit asma akut tidak bisa leluasa, baik berkerja ataupun melindungi keluarganya. Juan mendatangkan ahli terapi dari negeri Cina, tetapi juga hanya beberapa kali saja.


Suara langkah kaki terdengar semakin mendekat, pintu kamar terbuka lebar. Nampak seorang laki laki gagah dan berkarisma memasuki ruangan.


"Bagaimana keadaan kesehatan...?"


"Diego." Ucap Diego memperkenalkan diri.


"Kendrick." Ucap Kendrick.


"Kenapa anda menyiksaku, aku sama sekali tidak mengenal anda."


"Maafkan anak buahku yang bodoh sudah melakukan kesalahan."


"Maksud anda apa, setelah membuat tubuhku seperti ini."


Ucap Diego sambil tersengal. Diego sangat marah, tetapi kondisi tubuhnya sama sekali tidak mendukung. Yang di kuwatirkan adalah dengan kepergiannya, keselamatan Nina menjadi taruhan. Bagaimana kalau Juan menyadarinya dan menyakiti Nina. Dan lagi Elizabeth akan kecewa untuk kesekian kalinya. Diego semakin merasa menjadi kakak yang tidak berguna.


"Anda tidak tau, yang kalian lakukan bisa mengancam jiwa kami."


"Kami? Maksudnya?"


"Sudahlah, sebaiknya lepaskan saja aku."


"Aku akan bertanggung jawab, aku akan mengirim anda berobat ke luar negri."


"Tidak! Biarkan aku pergi."


"Dengan kondisi anda seperti ini? Mana mungkin!"


"Anda tidak tau yang menimpa kami. Nyawa seseorang bergantung pada kepergianku."


"Maksud anda? Nyawa Elizabeth?"


"Anda mengenal adikku?"


"Tentu bahkan dia bekerja padaku, jadi aku akan menolongnya jangan kuwatir."

__ADS_1


Diego sedikit tenang, sebenarnya dia sedikit putus asa. Jika saja dia tidak sakit sakitan mungkin tidak jadi masalah.


Suara dering ponsel di saku celananya menghentikan pembicaraan. Beberapa hari ini, Elizabeth tidak di perbolehkan meninggalkan kamar VIP miliknya di Club malam D'Oreon, tetapi menurut informasi yang di dapat dari anak buahnya Elizabeth menghilang dari kamar itu. Bahkan dia sanggup mengelabui Marco. Kendrick merasa murka, dadanya bergemuruh. Membanting ponsel yang ada di genggamannya.


Diego yang melihat itu sangat terkejut. Laki laki di depannya ternyata tabiatnya tidak berbeda dengan preman. Diego memang sudah lepas dari Juan, tapi sekarang malah di bawah tekanan Kendrick. Bukankah sama saja lepas dari mulut singa masuk ke dalam mulut buaya.


Kendrick meninggalkan kamar yang di tempati Diego tanpa berpamitan, kemudian membanting pintu dengan keras. Baru saja dia merasa kasian kepada Diego, tetapi sekarang malah Elizabeth membuat ulah. Kabur dari kamar VIP D'Oreon.


Sementara itu Diego merasa kecewa, padahal baru saja dia akan menceritakan semua kejadian yang menimpa Elizabeth, tak terkecuali tentang Nina. Tetapi malah Kendrick meninggalkan kamar dengan marah.


Diego akan mencoba lagi besok, siapa tau Kendrick benar benar mau menolongnya.


Bebarapa pengawal mendobrak pintu kamar Diego sambil mendorong brankar, tanpa banyak bicara memindahkan dan mengangkat tubuh Diego.


"Apa yang kalian lakukan, biarkan aku bicara dengan bos kalian. Berhenti!"


Ucapan Diego sama sekali tidak di dengar oleh para pengawal itu. Mereka langsung mendorong brankar dan memasukkannya ke dalam ambulance. Kemudian mobil melaju kencang entah pergi ke mana.


"Di mana dia? Apa kamu sudah memeriksa apartemennya?" Pertanyaan Kendrick di tujukan kepada Marco sesaat setelah dia tiba di club malam D'Oreon. Bahkan sebelumnya dia sudah mengendarai mobilnya keliling kota besar di Bogota. Elizabeth masih juga belum di temukan.


Hari ini banyak sekali kejadian, setelah dua hari sebelumnya Kendrick baru mengetahui kalau Diego adalah kakak dari Elizabeth, sedikit menyesal. Dan untungnya dia belum terlambat. Mengirim Diego ke luar negri untuk berobat menggunakan jet pribadi miliknya. Sayangnya tanpa di sadari campur tangan Kendrick akan merugikan Elizabeth.


"Bukan apartemen bos, rumah tinggal sementara."


"Iya, lalu?"


"Bodoh!" Kendrick memberikan pukulan tepat di wajah Marco hingga terjerembab, Marco berusaha bangun.


"Enyah! Percuma aku menggaji kalian."


Kendrick berjalan meninggalkan club miliknya, karena janjinya kepada Matheo, bahwa ada sesuatu yang akan di bicarakan. Maka Kendrick bergegas menuju kantor pusat Kend Grup. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, matanya tetap mencari dan memperhatikan, andai saja ada sosok Elizabeth. Tetapi hingga tiba di kantorpun Kendrick tidak menemukan itu.


Kendrick tiba di kantornya hari sudah mulai siang, kemeja Armani yang di pakainya tidak begitu rapi, bahkan hari ini dia belum makan sama sekali. Kekesalan menumpuk di dadanya. Tidak ada satu karyawanpun yang berani mendekat walau hanya sekedar menyapa.


"Ada apa lagi, siang ini kelihatan kusut."


Ucap Matheo sesaat setelah memasuki kantor Kendrick, dia membanting tubuhnya dan duduk di atas Sofa berbahan kulit. Kendrick tidak menjawab, dia membolak balikkan file yang bertumpuk di atas meja.


"Eli hilang lagi? Atau jangan jangan kabur?"


"Tutup mulutmu."


"Sudah aku ingatkan berkali kali, kalau kamu menyukainya, lebih baik bebaskan saja. Aku sudah bosan mendengar cerita ini. Dan jangan sampai kamu menyesal. Kalau tidak dia akan bernasip sama seperti primadona itu."


Lagi lagi Kendrick membiarkan Matheo berbicara sendiri. Bahkan tidak menganggap kehadirannya.


"Kita makan siang di luar, akan ku kenalkan kamu dengan pengusaha dari selatan. Dia ingin mengenalmu dan bekerja sama."

__ADS_1


Janji Matheo mengenalkan Juan kepada Kendrick.


"Selatan? Kamu sudah gila! Wilayah selatan?"


"Dia hanya pengusaha. Aku sudah menyelidikinya. Tidak ada kaitannya dengan Mafia di wilayah itu."


"Aku malas."


"Ayolah, kali ini saja. Dia kawanku."


"Kawan? Sejak kapan kamu memiliki teman selain aku?"


"Ayolah jangan begitu, aku janji. Kamu akan mendapatkan banyak keuntungan."


"Hanya satu jam. Aku harus mencari Eli."


"Baik, satu jam! Setelah itu aku akan membantumu mencari Eli."


Kendrick melangkahkan kakinya meninggalkan kantor di ikuti Matheo di belakangnya. Mereka menuju rumah makan milik Kendrick dengan menggunakan satu kendaraan, mobil milik Kendrick.


Tidak beberapa lama mereka sampai di The Arturo, rumah makan bertema clasik, semua mata tertuju pada ketampanan Kendrick, bahkan para wanita memberikan senyuman untuk menarik perhatiannya. Sayangnya Kendrick sekarang bukanlah Kendrick yang dulu. Tidak mudah tertarik dengan sembarang wanita.


"Masih lama? Kalau tidak sebaiknya aku kembali ke kantor."


"Jangan bercanda, bahkan tempat dudukmu belum cukup hangat."


Minuman dingin sudah di sajikan, Kendrick masih serius memainkan layar ponsel. Memantau pergerakan saham dan suku bunga. Matheo melihat Juan dari kejauhan, memasuki pintu rumah makan bersama seorang wanita.


"Selamat siang Matheo, senang berjumpa lagi dengan anda."


Matheo tidak menerima uluran tangan Juan, dia tidak menyangka Juan berani membawa Elizabeth bersama. Awalnya Matheo mengira Juan tidak senekat ini. Ini bukan rencana awal. Bukankah dia ingin berbisnis dengan Kendrick? Mengapa membawa Elizabeth.


Kendrick menyadari kedatangan lelaki yang akan di kenalkan Matheo kepadanya, tetapi setelah mengetahui siapa wanita di sampingnya betapa terkejutnya dia.


"Apa apaan ini! Beraninya!"


"Matheo, bisakah anda memperkenalkan saya kepada tuan Kendrick?"


"Tidak perlu!" Ucap Kendrick, kemudian dia menarik tangan Elizabeth dengan keras.


"Hai tuan, halus sedikit ini tunangan saya." Ucap Juan.


"Tunangan?" Mata Kendrick tertuju pada Elizabeth, tangannya mencengkeram dengan keras. Sementara itu Elizabeth sangat ketakutan. Permainan apa yang di rencanakan oleh Juan dia terperosok di dalamnya.


"Kendrick lepaskan aku, benar kata dia, aku tunangannya."


Kendrick memukul wajah Juan dengan keras hingga Juan terpelanting, sementara itu Matheo mencoba menghentikan, namun tak luput sebuah pukulan juga mendarat di pipi Matheo.

__ADS_1


Sampai di sini dulu ya. Jangan lupa Like Komen and Vote. Bab mulai memanas..Gracias.


__ADS_2