
Buah anggur itu masuk ke dalam mulut Julia, seketika caci makinya berhenti dan Julia mulai mengunyah.
Matheo mengulangnya lagi hingga suapan ke tiga. Anehnya Julia langsung mengunyah tanpa perasaan bersalah.
"Hentikan!" Teriak Julia, tangannya masih memeluk Nina dengan erat.
"Kamu menikmatinya."
"Jangan menggoda orang yang sedang marah."
"Aku tidak menggodamu, tapi perkenalkan dulu siapa namamu dan gadis cantik ini." Ucap Matheo sambil mencubit pipi Nina. Matheo sangat menyukai anak anak, jadi melihat Nina dengan wajah cantik bak boneka tentu dia sangat senang.
"Bukankah aku sudah memperkenalkan diri saat di lobi tadi?"
Ucap Julia tanpa bersalah, Matheo hanya menggelengkan kepalanya sambil mengangkat ke dua bahunya.
"Namaku Julia dan gadis cantik ini Nina."
"Anakmu?"
"Bukan, aku tadi sudah mengatakan padamu kalau dia putri Elizabeth."
"Oh."
"Oh?"
"Ya sudah kenapa harus mendatangiku?"
"Sebelum Elizabeth menghilang dia berpesan, jika sesuatu terjadi aku harus menemuimu."
"Kenapa aku?"
Tanya Matheo, dia memang tidak menyukai Elizabeth. Walaupun terkadang merasa kasihan kepadanya. dia menuduh Elizabeth yang membuat Kendrick depresi.
"Karena kamu orangnya baik dan jujur kata Elizabeth."
"Bukan itu maksudku!" Bentak Matheo.
"Lalu apa?" Tanya Julia tak kalah galak.
"Kenapa mencariku? Aku tidak ada hubungannya dengan Elizabeth." Sanggah Matheo.
"Entahlah." Ucap Julia sambil mengangkat ke dua pundaknya.
"....." Matheo.
Matheo berdiri hendak pergi meninggalkan ruangan kantor. Rapat hari ini tertunda karena tragedi kedatangan Julia. Sedikit kesal karena kedatangan wanita sambil membawa anak Elizabeth, dia mengira wanita ini menuduhnya sebagai ayah Nina.
Mimpi!
"Mau kemana?"
"Pulang, sudah tidak ada selera lagi untuk berdiam di kantor."
"Ok, barangku ada di pos satpam."
"Apa maksud kamu?" Tanya Matheo mencoba memotong pembicaraan Julia.
"Aku menginap di rumahmu."
"Mana bisa?"
Julia berdiri, mendudukkan Nina di sofa.
__ADS_1
"Aku tidak punya rumah, kontrakanku sudah lama aku tinggal. Dan bagaimana dengan Nina dia masih kecil."
"Cari bapaknya! Dan aku bukan bapaknya."
"Jika saja bisa, dan aku juga tau kamu bukan bapaknya. Elizabeth tidak akan mau dengan pria seperti kamu. Dan jika kamu memiliki anak mana mungkin secantik Nina."
Matheo menggulung kemeja putihnya sambil matanya tidak lepas menatap Julia, mulut perempuan yang begitu pedas.
Membuka pintu dan berniat pergi, tetapi Julia mengikutinya, tangan kirinya menggandeng tangan Nina. Langkah keduanya begitu cepat demi mengimbangi langkah Matheo.
Ketiganya memasuki lift kapsul, suasana hening. Baik Julia ataupun Nina memandang wajah Matheo dengan wajah memelas.
"Kalian melihat apa?"
Julia dan Nina tak bergeming, ke duanya tetap diam. Matheo tidak tega melihat wajah imut Nina. Tetapi Matheo berusaha tidak untuk perduli.
Pintu lift terbuka, Matheo tidak perduli dengan dua wanita yang mengikutinya. Melihat pemandangan yang tidak biasanya tentu para pekerja kantor bertanya, siapa perempuan yang membawa anak kecil itu. Apa dia anak dan wanitanya bos Matheo?
Hingga sampailah Matheo di area parkir mobil. Matheo membuka pintu mobil dan saat hendak masuk, terdengar suara orang memanggil Julia.
"Nona, nona."
Panggilan itu menghentikan ketiganya.
"Nona ini tas anda." Ucap satpam sambil memberikan tas milik Julia.
"Trimakasih pak." Ucap Julia kepada satpam. Setelah menundukkan kepala kepada Matheo, beberapa saat kemudian satpam pergi meninggalkan ketiganya.
"Ayo masuk." Ucap Julia kepada Matheo, Julia sibuk memasukkan tas dan memangku Nina di kursi belakang.
Matheo merasa geram. "Kamu kira aku supirmu? Pindah ke depan!"
"Oh baiklah." Lagi lagi Julia merasa tidak bersalah.
Matheo mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, menghadapi perempuan yang baru saja di kenalnya tidaklah mudah, wanita sangat sangat cerewet.
"Kamu bisa mengaturnya, jangan di matikan. Aku kegerahan."
"Hah, tidak manusiawi."
"Ya! Kamu menumpang di mobil milikku. Masalahnya apa? Tidak manusiawi dari mana?"
Julia menekuk wajahnya, bibirnya yang mungil bergumam tak karuan. Matheo hanya melirik sedikit, lama kelamaan wajah Julia terlihat manis. Matheo tersenyum tanpa sebab.
Matheo menyadari itu dia langsung mengubah ekspresinya dan lebih serius.
"Masih jauh?"
"Ya, aku akan mencarikanmu apartemen untuk kamu tinggali bersama Nina."
"Tidak mau!"
"Kenapa? Jangan kuwatir, aku yang membayarnya, aku memberimu pinjaman atau hutang dan kamu harus menggatinya nanti."
"Tidak mau! Menurut Elizabeth, lebih aman jika aku dan Nina tinggal bersama kamu, lagi pula kamu laki laki. Perhitungan sekali."
"Bukan begitu."
"Lalu apa?"
Matheo tidak menjawab, akhirnya dia mengalah. Lebih memilih membawa Julia ke apartemennya.
Mobil sudah berhenti tepat di area parkir, persis yang di duga Matheo, Julia akan berkomentar sesuatu padanya.
__ADS_1
"Ini apartemen yang di tempati Elizabeth dulu."
Ucap Julia memelas, tidak sesuai dugaan Matheo, ternyata wanita di depannya bisa bersedih.
"Iya, dulu. Tapi di unit berbeda."
Matheo membantu Julia membawa dua tas yang cukup besar. Sementara itu Nina berada di dalam gendongan Julia. Nina tertidur, hari ini banyak sekali drama yang terjadi.
"Lagian siapa yang akan mencelakaimu? Memangnya kamu siapa?"
"Ya tentu saja, siapa yang mengenalku? Tapi..."
"Tapi apa?"
"Bisakah kamu membuka pintu apartemenmu, aku capek dan lapar!"
"Hmmm mulai lagi."
Matheo membuka pintu tanpa di persilahkan Julia menerobos pintu dan masuk ke dalam. Menidurkan Nina di atas sofa ruang tamu.
"Kamu mau apa?"
"Memindahkannya? Bukankah lebih baik dia tidur di kamar?"
"Tidak boleh! Aku tidak membiasakan Nina tidur di kamar sebelum dia makan malam. Karena sejak di berpisah dengan Elizabeth, dia sangat sulit menelan makanan, jadi aku harus memaksanya."
"Bahkan kamu lebih paham dia dari pada mamanya."
Julia menunduk, hatinya sangat sedih, dia dan Elizabeth melebihi saudara kandung. Kasih sayang ke duanya saling melengkapi.
"Baik, aku belum makan. Apa ada sesuatu untuk di masak?"
"Tentu saja, dapurnya ada di sebelah kanan."
Julia asik dengan bahan masakan, mempersiapkan bahan masakan kemudian mencuci sayurannya.
Dari kejauhan Matheo memandang punggung Julia yang kecil, baru beberapa jam lalu Julia datang ke kantor dan membuat heboh seluruh penghuni dan kini wanita itu berani mengacak ngacak dapurnya.
Merasa di awasi Julia membalikkan badannya, dan ternyata benar, Matheo tengah berdiri di pintu menuju dapur, ke dua tangannya di lipat, satu kakinya menyilang di kaki kanannya.
"Kenapa? Dari pada melihatku seperti itu, lebih baik membantu memotong sayuran."
Anehnya Matheo menuruti perkataan Julia. Dia mulai memotong satu buah wortel yang baru saja di kupas Julia.
"Nina sangat menyukai wortel, aku selalu masakkan kuah sup wortel untuknya."
"Kamu mengenal baik Nina, bahkan mamanya tak lebih baik dari kamu." Ucap Matheo.
Julia menghentikan sejenak, kegiatan memasaknya.
"Kamu tidak tau apa apa tentang Elizabeth dan Nina."
"Wanita yang menitipkan anaknya pada orang lain dan kemudian meninggalkannya. Kurang apa lagi aku mengenalnya."
"Semuanya berawal saat Juan menyandera Nina, dan mengancam Elizabeth."
"Maksud kamu?"
"Nina adalah anak sah Kendrick."
"Apa?"
Matheo sangat terkejut, jari tangannya teriris. Darah keluar, Matheo menghentikan kegiatannya, mencuci jari dan membungkusnya dengan tisyu yang ada di atas meja.
__ADS_1
"Hanya teriris sedikit saja kamu sudah ketakutan, bagaimana jika kamu menjadi Elizabeth? Putri semata wayangnya di sandera. Elizabeth rela memasuki klub D'Oreon demi putrinya. Tetapi ayah biologis putrinya malah berniat menjual Elizabeth. Menurutmu apa sebutan yang pantas untuk sahabatmu itu?" Julia tersenyum sinis, dia memang sengaja mempermalukan Matheo, karena Elizabeth pernah bercerita padanya kalau dari awal Matheo tidak menyukai bahkan mencurigai Elizabeth. Padahal kedekatannya dengan Kendrick adalah murni perasaan cinta.
Sampai saat ini aku meminta para penyuka novelku untuk memberikan dukungan baik Like Komen and Vote. Gracias.