Cinta Wanita Kumal

Cinta Wanita Kumal
Eliana Atau Elizabeth


__ADS_3

Laki laki misterius itu tiba tiba bangkit, seolah bangun dari kematian. Wajah dan tubuh penuh darah tapi masih sanggup bertahan. Laki laki itu mencekik Embre dan memukul kepalanya, pistol yang ada di genggaman Embre terlepas dan terlempar jauh.


Keduanya bergumul saling memukul, tendangan kaki keduanya merusakkan seluruh perabotan. Di tambah angin yang berhembus dari kaca jendela apartemen yang pecah terkena tembakan Embre.


Eliana berpikir keras bagaimana caranya agar bisa menyingkirkan ke dua laki laki itu.


Paling tidak salah satu harus mati dulu. Eliana berlari menuju letak pistol Embre saat terlempar. Eliana melompati ke dua laki laki yang tengah bergumul. Eliana melupakan keadaan kakinya yang masih sakit. Yang ada dalam pikirannya adalah keselamatan Nina dan Julia.


"Kamu pergi selamatkan Nina, apapun yang terjadi katakan kalau aku mencintainya." Ucap Eliana, sudut matanya basah, Eliana menggenggam ke dua telapak tangan Julia. Ada tatapan penuh arti di matanya.


"Tentu saja!" Julia menganggukkan kepalanya, dia berusaha tersenyum. Dalam keadaan seperti ini Eliana berbicara dengan lancar, padahal selama ini Eliana bak kura kura yang baru menetas, penakut!


"Julia, aku menyayangimu. Aku percayakan Nina kepadamu." Ucap Eliana sekali lagi. Julia terus di dorong Eliana untuk masuk ke dalam kamar.


"Kamu?" Tanya Julia heran, dia mulai curiga, apa Eliana mengingat kalau dirinya adalah Elizabeth? Mereka berpelukan sangat erat, kemudian Julia masuk ke dalam kamar dan mengunci rapat rapat. Eliana menemani Nina di dalam.


"Nina, apa kamu baik baik saja?" Tanya Julia kepada Nina, Nina meringkuk di sudut kamar lari menghambur ke pelukan Julia. Tangis ke duanya pecah.


"Dimana bibi Eliana?" Tanya Nina dia menangis sesunggukan.


'wuwuwu'.


"Bibi akan memastikan kesalamatanmu, karena bibi Eliana sudah berpesan agar selalu menjagamu." Ucap Julia sambil tangannya membelai rambut Nina, mereka berpelukan sangat erat.


Julia masih penasaran dengan sikap Eliana. Saat menatap Eliana, Julia merasa seperti Elizabeth yang dulu di saat masih berkerja sebagai pelayan di Carlos store. Bukan seperti Eliana yang terpengaruh afrodisiak.


Apa mungkin ingatan Elizabeth kembali? Mengapa tatapannya begitu dalam saat melihat Nina? Dan kekuwatirannya tentang keselamatanku juga Nina?


Julia begitu yakin kalau Eliana benar benar sudah mengingat siapa dirinya.

__ADS_1


Dari dalam kamar, Julia dapat mendengar suara benturan dan benda berjatuhan di ruang tamu. Bahkan pintu kamar beberapa kali terkena benturan.


Julia baru saja tersadar kalau ponselnya tertinggal di meja dapur, bagaimana cara dia mengambilnya.


Bodoh! Aku memang bodoh!


Batin Julia, jika saat ini ponsel nya tidak ketinggalan di dapur, mungkin Julia bisa menghubungi Kendrick ataupun Matheo.


Cukup lama Julia dan Nina berada di dalam kamar, hingga akhirnya terdengar suara letusan senjata api. Tapi letusan itu terdengar sangat halus kemudian disusul suara orang terjatuh.


Elizabeth....Jangan kamu yang tertembak. Aku bersumpah jika kamu berani mati, selamanya aku tidak akan menikah.


Batin Julia bergejolak, apalagi dia sudah tau kalau ternyata Eliana adalah benar Elizabeth, Julia menitikkan air mata. Dipeluknya Nina semakin keras, dia sudah pasrah dengan yang akan terjadi pada dirinya ataupun Nina. Di luar sana langit yang tadinya cerah sekarang berubah mendung. Suasana menjadi hening, tidak ada pergerakan sama sekali. Jika saja sedikit ada keberanian untuk membuka pintu, tapi sayang sama sekali tidak ada. Hingga akhirnya terdengar ketukan pintu dari sisi luar, Julia dan Nina terkejut.


"Bibi Julia, Nina takut. Bisakah tidak di buka pintunya. Bibi lebih baik menunggu paman Kendrick." Rengek Nina, gadis kecil itu belum juga berhenti menangis.


Julia sangat sedih, anak sekecil ini sudah mengalami dua kejadian tragis. Yang pertama perlakuan Leyton di kolam renang dan tragedi yang terjadi saat ini.


"Nina!" Tiba tiba terdengar teriakan memanggil nama Nina. Suara itu adalah suara Eliana. Ada ketakutan dari suara teriakannya.


Julia merasa lega, akhirnya sumpahnya tak berlaku.


"Elizabeth! Maksudku Eliana." Ralat Julia, ada Nina di sampingnya. Dia tidak memiliki hak untuk memberitahu Nina. Dan untungnya Elizabeth tidak mendengar.


Julia menurunkan Nina, dia berpesan agar Nina tetap sembunyi. Julia membuka pintu sedikit, tidak mau sesuatu terjadi kepada dirinya dan Nina. Terlihat Elizabeth berdiri di balik pintu, pakaiannya berlumuran darah. Tangan kirinya memegang besi penindih kertas, sementata tangan kanannya masih memegan sepucuk senjata api.


Eliana mendorong pintu dengan keras, kemudian menghambur berlari mendekati Nina. Tapi Nina menolak bahkan menangis. Tentu saja Nina ketakutan, apalagi penampilan Elizabeth mirip hantu gentayangan.


Elizabeth sangat sedih, dia ingin memeluk Nina. Julia kembali menggendong Nina dan mencoba menenangkannya.

__ADS_1


Eliana berjalan pelan dan masuk ke dalam kamar mandi kemudian dia menyalakan kran air shower. Tidak ada kata kata yang keluar dari mulutnya. Elizabeth menampakkan wajah kecewa. Bekas perlawanan masih nyata terlihat


Di kejadian sebelumnya, tekat Eliana untuk membunuh dua laki laki benar benar terkabul. Lelaki misterius itu memukul Embre dengan membabi buta, beberapa kali menghajar tubuh Embre hingga terkulai lemas tak berdaya, perlawanan Embre tidak berdampak sama sekali, apalagi ukuran tubuh ke duanya tidak sebanding, laki laki misterius bertubuh besar dan atletis, sementara Embre hanya seorang preman kampung, kurus dan dekil.


Hingga saat saat terakhir, di waktu Lelaki misterius itu hendak menghantamkan sebuah bola besi penahan kertas sebesar kepalan tangan orang dewasa, dan hendak di pukulkan wajah Embre, Eliana tersadar kemudian Eliana menarik pelatuk pistol, tepat di jantung lelaki itu, dan bidikannya tepat, lelaki itu mati, dari mulutnya mengeluarkan begitu banyak darah. Eliana memungut bola besi itu dan sedikit menjauh.


Jika saja Embre tidak terbangun, mungkin nasibnya terselamatkan. Tapi ternyata Embre masih bisa membuka matanya. Bahkan dalam keadaan tidak sadar sepenuhnya Embre mencoba menyerang Eliana.


Padahal wajah dan tubuhnya berlumuran darah.


"Wanita Kendrick! Aku harus membunuhmu!" Ucapan Embre dengan terbata.


Embre berjalan sempoyongan hendak mencekik Eliana.


Eliana mengarahkan senjata tepat ke kepala Embre.


'Cleck, cleck'


Suara senjata api milik lelaki misterius ternyata sudah kosong, pelurunya sudah tidak ada.


"Kamu mencari ini?" Tanya Embre.


Tangan kirinya menggenggam beberapa butir peluru, kemudian dia membuangnya, peluru itu berserakan entah ke mana.


"Siapa yang membayarmu?"


"Wanita kaya!, wanita kaya istri Kendrick."


Eliana membanting pistol yang ada di tangannya, dia ingin menyerah, tapi saat tersadar kalau tangan kirinya masih menggenggam bola besi. Di hantamkannya bola besi itu ke wajah Embre. Eliana memukulnya berkali kali hingga tidak ada lagi gerakan Embe. Wajah Embre hancur seolah gumpalan daging terbungkus darah.

__ADS_1


Embre benar benar mati menyusul laki laki misterius, Eliana bahkan belum berhenti memukul wajah Embre. Bahkan tubuh Eliana juga berlumuran darah.


__ADS_2