
Masih ingat kesakitan Leyton tahun lalu? Demam yang tak kunjung turun, dan kepanikan Kendrick mendapati sang penerus kesakitan? Saat itu setelah di rawat oleh dokter selama satu minggu, demam Leyton berangsur menurun. Kendrick tidak melanjutkan pemeriksaan pada Leyton, di tambah Eva juga keberatan, berdalih demam yang menimpa Leyton hanyalah karena radang ataupun masuk angin.
Sekarang terjadi lagi, bahkan Leyton tidak sadarkan diri. Sudah dua jam Leyton di dalam ruang gawat darurat.
Sebelumnya setiba Kendrick di pelataran rumah sakit, beberapa anak buahnya sudah mengamankan area parkir dan mengosongkan ruangan UGD khusus sang putra penerus. Bukankah tidak begitu sulit, karena rumah sakit juga dalam naungan Kend Grup?
Kendrick menggendong tubuh Leyton yang lemah, dia berlari tanpa memperdulikan lagi Elizabeth dan Nina. Beberapa pengawal ikut berlari di belakangnya.
Hidung Leyton mengeluarkan darah, matanya terus memejam, demam yang semakin meninggi.
Elizabeth tak henti menitikkan air mata. Ada ketakutan akan kemarahan Kendrick. Kenapa hanya karena memakan kentang goreng dan daging ayam saja bisa seperti itu? Apakah ini alasan Kendrick melarang Leyton memakan makanan cepat saji?
Elizabeth berlari tanpa mengenakan sepatunya, Nina menagis dalam genggaman tangannya.
"Mama, apa Leyton akan mati?"
"Nina! Jaga bicaramu!" Elizabeth cemas.
"Wuw wuw wuw, kenapa tidak ku berikan saja kentang gorengku, jika saja ku berikan mungkin Leyton tidak akan seperti ini. Dia marah padaku!" Tangis Nina, padahal bukan seperti itu alasan sesungguhnya.
Elizabeth tidak sempat lagi mereda tangis Nina. Hatinya berkecamuk penuh penyesalan, andaikan dia tidak mengajak ke rumah makan itu.
Kendrick duduk di depan ruang emergency, dia menghisap rokok Cuba, tatapannya sangat kosong. Entah dia menyalahkan siapa. Sebenarnya hatinya kesal pada Elizabeth, tapi bagaimana lagi dia yang mengijinkan untuk makan di restoran cepat saji, tetapi sebelum dokter mengatakan hasil yang sesungguhnya, mungkin dia tidak akan mengambil keputusan.
Kendrick memandang Elizabeth bersama Nina di ujung koridor, melihat tubuh Elizabeth yang lesu hati Kendrick tak tega.
Terdengar suara langkah kaki mendekati Kendrick, Matheo bersama Julia datang. Dia lebih cepat datangnya dari pada Eva. Karena Eva tengah berlibur, jadi jarak yang di tempuh lumayan lama.
"Kamu merokok? Ini rumah sakit." Ucap Matheo, Kendrick tersadar dan membanting puntung rokok kemudian menginjaknya.
"Bagaimana kata dokter?" Tanya Julia.
"Belum ada, sekarang baru ada pemeriksaan dan cek darah." Jawab Kendrick lirih.
"Yang baru saja kamu katakan lewat telepon itu benar?" Tanya Matheo penasaran.
__ADS_1
"Memang ada apa? Apa yang kamu katakan?" Selidik Julia penuh curiga.
"Kendrick mengatakan, Leyton keracunan makanan cepat saji dan yang mengajak adalah Elizabeth!" Jawab Matheo menjelaskan kepada Julia.
Saat mengucapkan itu Matheo melirik Elizabeth yang duduk menjauh bersama Nina.
"Yang benar saja. Aku menyuapi Nina dari balita sampai sekarang dengan makanan cepat saji, dia baik baik saja walaupun memang tidak boleh terlalu sering, sementara Leyton baru kali ini. Tadi kamu bilang Leyton keracunan, jangan bilang kalau kamu menuduh Elizabeth mencoba meracuni, kamu jangan coba coba asal menuduh! Kendrick, Elizabeth tidak ada motif membunuh purtramu, dasar..." Belum selesai ucapan Julia, tangan Matheo menutup mulut Julia, Matheo tersenyum pahit, memandang wajah Kendrick yang murka.
"Maafkan Julia, sore ini belum meminum obatnya." Sela Matheo.
"Memangnya aku kenapa? Sampai harus meminum obat?" Selidik Julia, dia tau yang di ucapkan Matheo adalah sindiran, Julia waras!
"Bawa pergi wanitamu, tidak ada yang bilang kalau Eli meracuni Leyton." Jawab Kendrick kesal, wajahnya mulai memerah menahan marah.
"Kendrick bilang Leyton keracunan, dan itu beda!" Nasehat Matheo di tujukan Julia. Menarik tangan wanitanya agar menjauh dari Kendrick, takutnya Kendrick akan melubangi kepalanya dengan senjata api yang ada di dalam selipan pinggangnya.
Sayangnya ucapan Matheo tentang meracuni terdengar Elizabeth, kalimat itu di tangkap berbeda oleh telinga Elizabeth. Elizabeth kecewa, wajahnya semakin murung.
'Aku tidak meracuni Leyton.' Batin Elizabeth lirih.
Pintu ruang darurat terbuka, lampu warna merah di atas pintu sudah padam.
"Tuan muda Leyton sudah sadar, demamnya sudah menurun, pendarahan pada hidung juga sudah di hentikan, dan sudah melewati masa kritis." Ucap dokter gemetar, di depannya bukanlah orang sembarangan, bahkan lebih menakutkan dari pada presiden negaranya.
"Lalu apa sakitnya?" Selidik Matheo.
"Belum dapat di lihat hasilnya sekarang, segera akan saya sampaikan begitu hasil tes keluar. Untuk sementara kemungkinan besar faktor kelelahan."
"Apa benar sebab utamanya karena memakan makanan cepat saji? Lalu kalau hanya kelelahan apa mungkin separah ini?" Tanya Julia untuk memastikan.
"Tidak seperti itu. Selama tidak berlebihan tidak masalah, bahkan saya sudah memeriksa lambungnya, tidak perlu di kuwatirkan."
"Tuh aku bilang apa, mengapa kamu menuduh Eli...."
'Plop'. Lagi lagi mulut Julia di bungkam oleh telapak tangan Matheo.
__ADS_1
"Pastikan putraku baik baik saja, jika terjadi sesuatu, jangan harap kamu bisa memakai gelar doktermu. Ijazahmu tidak akan terpakai!" Ancam Kendrick. Dokter menelan ludahnya kasar.
Kendrick tau akan kesalahannya, dia sudah menuduh Elizabeth yang bukan bukan. Jangan katakan isi hati Kendrick, dia sangat menyesal. Berapa kali dia melukai hati istri ke tiganya? Tak terhitung!
Dokter sudah meninggalkan mereka, Kendrick mencari Elizabeth, dia harus mengantarkan istrinya pulang, tetapi sayang sekali Elizabeth sudah tidak terlihat.
"Apa kalian tau di mana Eli?" Tanya Kendrick pada Matheo dan Julia.
Ke duanya bersamaan melihat kursi yang sebelumnya di duduki Elizabeth dan Nina. Tapi kursi itu kosong.
Kendrick mencoba menghubungi Elizabeth, tapi ponselnya sudah tidak aktif.
"Biarkan aku yang mencarinya, mungkin belum terlalu jauh." Julia menawarkan diri untuk mencari Elizabeth.
Julia mencari di sekitar rumah sakit namun belum juga menemukannya, hingga saat berada di depan kamar kecil Julia melihat Julia menggandeng tangan kecil Nina.
"Eli, mengapa kamu tidak memakai alas kaki?"
"Tertinggal di dalam mobil Kendrick."
"Kamu ceroboh!"
Karena melihat kondisi Nina yang sudah kelelahan, di tambah hari menjelang malam, Julia menawarkan diri untuk mengantar pulang Elizabeth. Terlebih dahulu Julia menghubungi Matheo, mengatakan kalau saat ini Elizabeth dan Nina bersamanya.
Di dalam mobil tak hentinya Julia mengumpat kesal tentang sikap Kendrick yang kekanak kanakan.
Sebaliknya Elizabeth hanya mendengarkan saja. Tanpa membantah sedikitpun.
"Kenapa aku yang menjadi kesal? Kalau menurut aku laki laki seperti itu lebih baik tinggalkan saja! Jika Matheo seperti itu sikapnya, pasti aku tinggalkan! Ikutlah bersamaku, tinggal di apartemen Matheo, atau pindah saja di apartemen yang di tempati Carlos dan Luci sebelumnya."
Julia tidak tau, masalahnya tidak semudah itu.
Jika saja dia bisa meninggalkan Kendrick, ataupun jika dia mati, pasti Kendrick akan menghidupkan kembali dan lalu menghukumnya. Mustahil! Tapi itu adalah pribahasa yang paling ektrim.
Elizabeth tidak memikirkan itu, yang menjadi prioritas adalah keadaan Leyton. Julia tidak akan tau betapa menyesalnya Elizabeth, beberapa hari yang lalu sudah membuat Leyton sedih dan sekarang Leyton kesakitan gara gara dirinya. Elizabeth merasa yang di katakan Kendrick benar, dirinya sudah meracuni Leyton. Kalau saja saat ini Elizabeth di minta menukar nyawanya untuk Leyton, Elizabeth pasti bersedia. Rasa sakit ini tidak bisa di gambarkan, bahkan seperti tersiram air keras.
__ADS_1
'Sakit!'
Elizabeth merasa patah semangat gara gara Leyton, tidak ada yang bisa melukiskan luka di hati Elizabeth.