
Ada perasaan tak puas, mengganjal menghalangi pikirannya, perasaan benci, rindu dan senang, tetapi yang mendominasi hatinya adalah perasaan tak puas, kedatangan ayah yang baru saja datang demi menjenguk putri kecilnya tidak bisa di terima dengan iklas. Tidak tepat baginya bila senang bertemu Carlos Eman, apalagi memanggilnya papa. Tidak ada kerelaan walau hanya di ujung lidah memanggil Carlos dengan sebutan papa. Apalagi melihat Luci, wanita itu seakan bangga berada di samping Carlos, memamerkan hubungannya. Apa yang perlu di banggakan dari status sebagai anak hasil perselingkuhan, statusnya akan terbawa hingga mati.
Elizabeth meletakkan tubuhnya di sofa, dia hanya menunggu Nina terbangun, setelah itu akan membawanya pulang ke kastil Kendrick.
Baru saja Elizabeth memejamkan matanya, kepanikan akan kondisi Nina benar benar melelahkan, hingga di kejutkan suara langkah kaki yang terburu buru, beberapa tehnisi dan dokter juga staf rumah sakit berlari ke arah sisi rumah sakit, Elizabeth tidak menganggapnya penting, baginya jika bukan urusannya sebaiknya tidak mengetahui lebih banyak.
Elizabeth kembali masuk ke ruang perawatan Nina, kali ini dia merapikan pakaian sekolah Nina yang tercecer noda darah, beruntung sebelumnya Julia sudah membawakan pakaian ganti untuk Nina.
Elizabeth berjalan menuju kamar mandi kemudian membasuh wajahnya, langkahnya tertatih dan sedikit kesulitan, perutnya yang semakin membesar menghalangi gerakannya. Setelah di rasa cukup dia ke luar dari kamar mandi, sebelumnya dia mendengar suara pintu yang terbuka, awalnya mengira kalau Kendrick yang datang, ternyata hanya seorang dokter dan sekretaris He.
Dokter melihat kondisi luka Nina, kebetulan Nina juga sudah terjaga dari tidurnya. Di tambah dia selalu merengek meminta pulang.
"Apa kamu datang bersama Kendrick?" Tanya Elizabeth penasaran, Elizabeth sedikit kecewa, bukankah Kendrick sudah mengakui kalau Nina adalah darah dagingnya? Lalu tidak sepenting itukah?
"Bos Kendrick masih mengurusi tuan Leyton."
"Masih di sekolahan?" Tanya Elizabeth heran. Bahkan Kendrick tidak menemani dirinya menjaga Nina.
"Ya."
Jawaban singkat dari sekretaris He benar benar membuatnya kecewa. Ternyata kepentingan Leyton dan Nina tidak sebanding. Timbul perasaan cemburu Elizabeth terhadap Leyton, hanya karena lahir dari Eva, Kendrick menganggap yang paling utama, sementara Nina hanyalah anak di luar nikah seperti dirinya. Tiba tiba pikirannya mengeras. Otaknya membeku seketika. Elizabeth tidak tau sama sekali kalau sebenarnya Leyton juga menjadi korban karena membela Nina.
"Nona Eli, aku di perintahkan bos Kendrick mengantar kalian ke rumah." Sela sekretaris He.
"Ya, setelah dokter memeriksa Nina." Jawab Elizabeth datar, perkataannya hanya setengah hati.
"Baik." Sekretaris He menyadari ketidak puasan Elizabeth. Memundurkan kakinya ke belakang dan tidak berani lagi bertanya.
Sekretaris He berjalan keluar, ponsel yang ada di sakunya tiba tiba berbunyi.
"Bagaimana? Apa kamu sudah menjemputnya?" Tanya Kendrick, ucapannya menyiratkan kelelahan.
"Sudah bos, sekarang dokter memastikan kondisi nona Nina, jika di nyatakan baik segera saya mengantarkan nona Eli."
"Panggil nyonya Eli!" Bentak Kendrick. Yang di maksud 'Panggil' adalah sebutan buat Elizabeth, karena status nona sudah tidak pantas lagi, karena segera setelah ini, dia akan mengikat Elizabeth agar selalu di sisinya. Tapi nanti dulu, bukankah Elizabeth memang berstatus istrinya.
__ADS_1
"Maaf maksud saya nyonya." Ralat sekretaris He, tiba tiba bulu kuduknya meremang membayangkan kemarahan bos Kendrick.
"Hmm. Segera antarkan pulang."
Sekretaris He, hanya mengangguk dan mendengarkan perintah Kendrick melalui sambungan telepon, Elizabeth melihat dari kejauhan. Hingga pada akhirnya sekretaris He menutup sambungan telepon dan kembali ke dalam bangsal.
"Apa Kendrick menghubungimu?"
Sekretaris he tidak menjawab, tapi dia menganggukkan kepalanya dengan sopan.
"Dia menanyakan kondisi Nina? Mengapa dia tidak langsung menghubungiku?"
"Bos Kendrick hanya menanyakan kapan nyonya dan nona Nina pulang." Jawab Sekretaris He ragu, dia lebih suka di perintahkan bosnya untuk menangani masalah kantor yang sulit dari pada harus mengurusi keluarga bosnya, karena yang di lakukannya terkadang masih di salahkan.
Sekretaris He membawa tas berisi pakaian Nina dan barang lainnya, sementara Nina berada di dalam gendongan Elizabeth.
"Nyonya, sepertinya lift di sebelah samping gedung ada masalah, jadi kita harus melewati tangga. Biar saya yang menggendong nona Nina."
Elizabeth sama sekali tidak keberatan, apalagi kondisi perutnya yang membesar. Baru kali ini dirinya merasa menjadi manusia terbodoh. Menganggap dirinya paling tinggi di antara wanita Kendrick, tapi lihat saja sekarang. Bahkan darah dagingnyapun tidak menjadikan perhatian.
Seorang perawat laki laki mendorong brankar dengan tergesa gesa bahkan hampir menabrak Elizabeth, sekretaris He melihat itu langsung bereaksi, baginya jika terjadi sesuatu pada nyonya ke tiga tentu lehernya akan menjadi tarauhan.
"Woi, lihat jalan!" Bentak sekretaris He, perawat itu sekilas mengucapkan maaf kemudian kembali mendorong brankar.
Beberapa gerombolan yang mengantri di loket tengah berbincang mengenai tragedi di dalam lift.
Ibu pertama: 'Seperinya mereka kehabisan udara'
Ibu ke dua : 'Mana mungkin, bukankah mereka hanya terjebak di dalam lift selama 30 menit? Pasokan udara masih banyak bahkan sampai tiga hari.'
Ibu pertama : 'Bisa saja, nyatanya sekarang mereka koma.'
Tiba tiba hati Elizabeth pedih seakan tertembus peluru panas. Ada perasaan tidak nyaman.
Kembali terdengar rengekan Nina.
__ADS_1
"Nyonya, mari." Elizabeth tersadar dari lamunan, tidak mungkin dua manusia yang tidak tau malu itu. Bahkan Elizabeth malu menyebut mereka sebagai orang tua.
Elizabeth membetulkan syal yang ada di lehernya. Berjalan pelan menuju tangga darurat. Tapi dia tidak mau perasaan mempermainkannya, hingga tiba tiba seorang perawat perempuan melewati dirinya yang tengah berdiri mematung. Elizabeth menghentikan perawat itu, mencekal pergelangan tangannya.
"Ada apa? Kenapa semua staf berjalan terburu buru?" Tanya Elizabeth cepat.
"Anda siapa?"
"Saya pasien."
"Oh." Ucapan singkat perawat kemudian melepaskan cekalan Elizabeth dan meninggalkannya.
"Tunggu, ada dua anggota keluargaku yang baru saja menjenguk putriku, dan aku belum mendapatkan kabar dari mereka sejak mereka meninggalkan ruangan anakku." Ucap Elizabeth berbohong, padahal dia belum menghubunginya sama sekali.
Perawat sama sekali tidak perduli, karena dia juga di butuhkan di lokasi kejadian. Hingga saat sekretaris He berbalik badan mencari keberadaan Elizabeth.
"Nyonya kenapa anda menghilang?"
Perawat mengenal sekretaris He yang terkenal itu, dia menundukkan kepalanya. Sekretaris He adalah orang di balik layar urusan Kedrick selain Marco dan Matheo. Tapi Sekretaris He juga ikut terkenal.
"Jawab pertanyaan nyonya Kendrick segera! Kamu tidak mau pekerjaanmu terganggu bukan? Kalau begitu cepat jawab."
Mendengar yang di katakan sekritaris He, perawat itu sangat ketakutan, tubuhnya yang tadi tegak dan sombong berubah sedikit membungkuk.
"Ada kecelakaan di dalam lift di koridor samping, dua orang menghirup gas beracun yang berasal dari uap panas di lantai under ground. Kejadiannya baru saja, pintu lift terkunci otomatis dan sekarang sudah di tangani tehnisi."
Elizabeth merasa lega, kalimat baru saja tentu tidak menjadi kendala.
"Tapi sayang salah satu sudah di temukan meninggal karena penyakit bawaan di tambah karbon dioksida. Padahal baru saja orang tua itu menengok cucunya yang di rawat di bangsal VIP. Nasib tidak ada yang tau."
Perawat itu berkata panjang lebar tanpa di tanya kelanjutannya. Kemudian setelah berbasa basi, perawat itu meninggalkan ke tiganya.
Wajah Elizabeth tiba tiba memucat, tensi darah tiba tiba meninggi.
"Sekretaris He, aku memohon padamu, tolong antarkan Nina ke kastil barat, aku harus memastikan sesuatu."
__ADS_1
Sekretaris He menganggukkan kepalanya, tanpa berani membantah, Elizabeth mengikuti arah kemana kepergian perawat itu.