Cinta Wanita Kumal

Cinta Wanita Kumal
Psikotropika.


__ADS_3

Entah sudah berapa lama Elizabeth tertidur, dia benar benar lupa ini hari yang ke berapa sejak kecelakaan itu.


Elizabeth masih bermalas malasan, ingin sekali dirinya melangkahkan kakinya ke luar kamar. Ingatannya tentang semua penghuni kastil ini hanyalah berupa cerita atau imajinasi yang di ciptakan oleh Luci. Semua adalah rekaan demi mengunci ingatan Elizabeth tentang Kendrick.


Elizabeth merasa seperti implusive.


Memikirkan hal itu Elizabeth menggeser tubuhnya dan meraih segelas air putih, dia meneguknya perlahan.


Kamar dengan sistim pencahayaan yang cukup, sinar matahari dengan mudahnya memasuki ruangan itu. Ingatan Elizabeth belum sepenuhnya hilang, tetapi pengaruh lilin aroma terapi yang di hirupnya benar benar merilekskan dirinya, meredakan emosinya.


Mengenai Elizabeth yang semalam begitu murka, saat ini dia tidak menunjukkan gejala itu sama sekali.


Dia kembali meneguk air putih yang ada di atas nakas.


'Huhhh' Elizabeth mengeluh kesal, dadanya merasakan getaran lumayan hebat.


Dia tidak menyukai tempat ini, bahkan sedikit terheran. Kastil besar dan nyaman seharusnya Elizabeth menyukainya, tetapi mengapa hatinya kosong.


Ada kursi roda di samping tempat tidurnya, seandainya dia tak ada cidera mungkin tak sesulit ini. Elizabeth meraih kursi roda itu dengan ke dua tangannya dan kemudian menggeser sedikit tubuhnya. Dia belum terbiasa. Dan untungnya berat tubuhnya tidaklah berlebih, sehingga sedikit meringankan gerakannya.


Seorang pembantu memasuki kamar, mengetahui Elizabeth memasuki kamar mandi dengan memakai kursi roda tentu dia langsung membantunya.


"Nona bisa menekan bel yang berada di sandaran dipan, saya di tugaskan tuan Jade untuk merawat nyonya."


Elizabeth sedikit linglung, dia bahkan tidak mengenali siapa Jade.


"Eh. Siapa Jade."


"Tunangan Nona."


Elizabeth tidak merespon, bahkan dia tidak mengenali lelaki itu.


"Ceritakan padaku tentang kecelakaanku."


"Nona, saya baru di sini, jadi tidak tau yang menimpa nona."


"Selain kamu siapa pembantu di sini."


"Di sini banyak pembantu selain saya. Dan menurut saya mereka semua juga baru bekerja di sini."


"Kenapa begitu?"


"Saya tidak tau, nona bisa menanyakan langsung kepada nyonya Luci."


Wanita itu langsung mendorong kursi roda Elizabeth ke dalam kamar mandi.


"Saya akan meninggalkan nona di sini, jika anda selesai silahkan panggil saya." Ucap pembantu itu sambil menundukkan kepala.


"Oh ya siapa namamu?"

__ADS_1


"Nona sudah menanyakannya kemarin, dan saya sudah menjawabnya, nama saya Sosa."


Sosa meninggalkan kamar mandi, dan saat hendak menutup pintu Elizabeth memanggil kembali.


"Tunggu! Apa benar aku sudah menanyakan nama kamu kemarin?"


"Ya."


"Bagaimana bisa aku lupa..."


Elizabeth merasa sedih. Mengapa dia bisa melupakan nama pembantu itu? Apa keadaan dirinya separah ini? Kalau hanya nama saja Elizabeth bisa lupa apalagi dengan yang lainnya?


Bisa jadi ucapan Jade benar adanya.


Elizabeth merasa sedih dan tak enak hati. Dia menyesal melupakan Jade.


Saat Elizabeth membasuh tubuhnya, dia meraba di bawah perutnya ada luka parut yang memanjang, Elizabeth mencoba mengingat luka apa sebenarnya ini.


Sosa mendorong pintu kamar mandi, kembali membantu Elizabeth untuk ke luar. Setelah Elizabeth memakai pakaian lengkap dan berdandan seadanya Elizabeth meminta Sosa untuk mendorongnya ke balkon. Berjemur matahari pagi, menikmati bentangan rumput bak permadani.


Sosa memberikan sepiring roti dan tortila tidak lupa kuah pelengkap. Elizabeth menyukai itu, di bawah sana dia bisa melihat mobil sedan putih meninggalkan halaman kastil. Melihat sosok laki laki yang mengendarai adalah Jade, lelaki itu tersenyum padanya.


Bagi Elizabeth itu bukanlah sebuah senyuman tapi lebih tepat di sebut seringai.


Elizabeth bergidik ngeri, suara langkah kaki membuyarkan lamunanya. Luci memasuki kamar dan tembus ke balkon.


Melihat makanan di atas meja kecil itu tandas, Luci terlihat senang. Entah apa maksud Luci, tapi Elizabeth hanya bisa mencurigainya.


Elizabeth menganggukkan kepalanya.


"Hanya menanyakan, ada luka parut di bagian bawah perutku, itu...luka karena apa?"


"Kamu tidak mengingatnya?" Tanya Luci, matanya berbinar. Lilin itu benar benar mempengaruhi daya ingatannya.


"Operasi usus buntu, tujuh tahun yang lalu. Kenapa? Apa sekarang kembali sakit?"


"Tidak. Hanya saja luka parut itu terlihat aneh."


"Aneh apanya. Kalau bukan karena Juan yang membiayai operasimu siapa lagi."


Ada perasaan aneh pada diri Elizabeth, mengapa dia merasa ketakutan saat di dekati oleh Luci, bukankah dia mamanya. Orang tua kandungnya. Elizabeth ingin menanyakannya langsung tetapi belum ada keberanian.


Elizabeth menganggukkan kepalanya. Terdengar langkah kaki mendekati mereka. Elizabeth dan Luci membalikkan kepalanya bersamaan.


"Siapa?" Tanya Elizabeth, tatapan tanda tanya di tujukan Luci.


"Dia papa kamu." Jawab Luci Enteng, untuk kali ini ucapan Luci tidak berbohong. Elizabeth adalah darah daging Carlos.


"Hubungannya dengan Jade?"

__ADS_1


"Jade adalah anak angkat papa kamu."


"Oh, mengapa begitu pelik? Bahkan aku melupakan semuanya."


"Sabarlah nanti juga akan terbiasa."


Lagi lagi ucapan itu ' Nanti akan terbiasa'.


"Kapan perban di wajahku akan di buka?"


"Nanti Sore, Jade sudah membuat janji dengan dokter."


Sosa mendorong kursi roda Elizabeth, sesuai permintaan Elizabeth dia ingin menikmati suasana taman pada pagi hari ini. Sosa mendorong kursi roda itu pelan pelan.


"Sosa, kenapa aku merasa tidak mengenali semua yang ada di sini. Baik penghuni ataupun perabotannya." Ucap Elizabeth, kepalanya menunduk ke bawah, ke dua tangannya di letakkannya di atas pegangan kursi roda.


"Karna nona koma selama dua bulan."


"Jadi itu?"


Elizabeth menjambak sedikit rambutnya, kepalanya terasa berat. Antara benar dan halusinasi.


Sementara itu di dalam kastil Luci bersama Carlos berdebat mengenai Elizabeth.


"Sebaiknya tunda niatmu untuk menjodohkan Jade dan Elizabeth." Ucap Carlos, dia juga berambisi menjodohkan ke duanya tetapi tedak saat ini.


Baik Carlos ataupun Luci mengharapkan bisnis milik Carlos tidak berpindah ke tangan Jade semata, dengan menikahkan mereka harta Carlos akan tetap aman di tangannya.


Tetapi yang menguatirkan Carlos adalah, obat yang di berikan ke pada Elizabeth melalui minuman dan lilin aroma terapi adalah tergolong obat psikotropika.


Psikotropika adalah zat atau obat yang bekerja menurunkan fungsi otak serta merangsang susuan syaraf pusat sehingga menimbulkan reaksi berupa halusinasi, ilusi, gangguan cara berpikir, perubahan perasaan yang tiba-tiba, dan menimbulkan rasa kecanduan.


Bagaimanapun juga Elizabeth adalah putrinya, putri yang hampir saja dia nikahi.


Bahkan Carlos menyesal, jika sedetik saja pernikahan itu lebih cepat di langsungkan, mungkin saja akan menjadi aib untuk dirinya. Dan penyesalan itu tidak akan pernah terbayangkan.


Saat ini Carlos sudah menikahi Luci, wanita yang di cari dan di cintai sejak lama.


"Ini semua gara gara kamu, jika saja kamu tidak mewariskan hartamu ke pada Jade, mungkin saja aku tidak segegabah ini." Ucap Luci mulai kesal.


"Dan jika waktu itu kamu tidak menuruti kata kata James, semua tidak akan seperti ini. Paham!" Bentak Carlos.


Ternyata ke duanya meributkan masalah harta yang sudah di limpahkan kepada Jade.


Lagi lagi Luci tega mengorbankan Elizabeth.


"Kenapa harus anakku yang kamu korbankan! Kenapa bukan Eva anak James?"


"Jika saja bisa." Jawab Luci kesal.

__ADS_1


Trimakasih untuk yang menyukai novelku. Berharap novelku berbeda dengan yang lainnya. Gracias. Jangan lupa Like Komen and Vote. Trimakasih dukungannya.


__ADS_2