Cinta Wanita Kumal

Cinta Wanita Kumal
Akhirnya Terbiasa


__ADS_3

Pohon yang berderet di tepi jalan seolah mengolok Elizabeth, nasib hidupnya tidak secantik namanya. Pandangannya hanya terhalang gelapnya malam, meletakkan kepala di kaca mobil, pikirannya melayang entah ke mana.


Ciuman yang baru saja di lakukan bersama Jade, begitu intens dan mendomanisi. Tapi tidak ada rasa sama sekali, hambar dan hampa!


Elizabeth memejamkan matanya dan mencoba mengingat memori apa yang terjadi antara dirinya dan Jade. Tapi sampai kepalanya berubah jadi kapaspun dia tidak mengingatnya, bagaimana mau mengingatnya kalau sebenarnya memang tidak terjadi apa apa.


Mobil yang di kendarai Jade sudah sampai di kastil, Elizabeth melihat mobil milik Lisa dan Carlos sudah ada di area garasi. Elizabeth keluar dari mobil di bantu oleh Jade, kursi roda sudah di siapkan di depannya oleh Sosa, lagi lagi Sosa memasang wajah kaku.


Setelah tubuh Elizabeth di gendong dan dipindahkan oleh Jade ke atas kursi roda, Sosa langsung mendorongnya dari belakang. Seorang pembantu lain mendatanginya sambil membawa nampan, di atasnya terdapat sebuah gelas dan sebutir obat berwarna putih.


Pembantu itu langsung meletakkan nampan berisi obat itu ke pangkuan Elizabeth.


"Tapi aku belum masuk rumah sama sekali." Ucap Elizabeth lirih, wajahnya memandang wajah Jade. Berharap Jade akan menolong dirinya, Elizabeth tidak mengerti bagaimana orang orang penghuni kastil itu begitu tega padanya, padahal Elizabeth belum masuk kastil untuk sekedar cuci tangan, tetapi kenapa mereka memaksa dirinya untuk menelan obat itu?


Etaukah mereka terlalu menghawatirkan Elizabeth?


"Lalu kenapa? Apa kamu tidak ingin sembuh?" Ucap Jade di telinganya.


"Tapi aku belum cuci tangan."


"Ok." Ucap Jade singkat.


Memerintahkan pembantu itu untuk mengambil kain basah yang akan di pergunakan oleh Elizabeth.


Bebarapa saat kemudian pembantu itu membawa kain lap basah dan menyerahkan kepada Jade.


Jade membersihkan jari jari Elizabeth hingga ke sela sela jarinya, berbeda dengan di saat berada di rumah sakit ataupun di mana saja.


Saat ini Jade membantu Elizabeth memegang segelas air putih itu, Elizabeth memasukkan pil putih itu ke dalam mulutnya, sedikit ragu. Namun Jade membujuknya melalui gerakan tangan. Membantu memegang gelas pada saat Elizabeth meminum air itu.


Elizabeth tidak suka pil ini, setelah ini dia akan tertidur dan sebelumnya akan berhalusinasi.


Tetapi demi kesembuhan tulang panggulnya dia akan menurut saja.


Ini kamar tamu terbesar di kastil milik Carlos, Walaupun begitu Elizabeth tetap merasa asing. Elizabeth belum membersihkan sisa make up di wajahnya, dia meraih kursi roda dan pergi ke kamar kecil, saat tanpa sengaja Elizabeth melihat cermin yang tergantung di situ, Elizabeth merasa sedih.


Elizabeth melihat pantulan wajah cantiknya di kaca itu, tetapi mengapa sekarang asing. Dia sama sekali tak mengenali wajahnya, ke dua tangannya mengusap wajah itu dengan air dingin. Setelah mengeringkannya dia kembali untuk pindah ke atas kasur, jantung Elizabeth mulai berdetak kencang. Bayangan bayangan mulai hadir. Sosok anak kecil yang menari nari. Kemudian bayangan laki laki yang tampan mendekatinya, tiba giba wajah itu berubah menjadi jelek, dan semakin jelek. Menyeramkan!

__ADS_1


Benar saja, Elizabeth mulai merasakan gelisah di setiap indranya. Rasa seperti ini yang tidak dia sukai. Jade sudah membawanya masuk ke dalam kamar, menggendong Elizabeth dan meletakkannya di atas kasur.


Sebelum Jade pergi, tunangannya itu sempat mencium keningnya. Sekarang dia hanya sendiri di dalam kamar.


Siksaan halusinasi itu terus berlanjut. Tali berduri memukulinya, kulitnya berdarah dan kembali mengering lagi. Kilatan warna terang begitu bagus, bola bola kapas yang memantul dengan warna gelap kemudian hilang.


Bayangan itu timbul beberapa kali dan kemudian menghilang. Lama kelamaan matanya tidak bisa terbuka lagi, biasanya Elizabeth akan tertidur hingga siang hari.


Sebulan berlangsung, tidak ada lagi pemaksaan saat Elizabeth meminum obat. Bahkan Elizabeth terkesan menurut pada Jade.


Benar ucapan semua penghuni kastil kalau dia akan terbiasa.


Menerima kebaikan Jade dengan apa adanya, tanpa curiga atau rasa takut lagi.


Dengan kata lain, apapun yang di inginkan Jade, Elizabeth akan menurutinya, Elizabeth semakin yakin dan percaya kalau Jade adalah kekasihnya. Keduanya semakin mesra. Walaupun di lubuk hati Elizabeth yang terdalam hanya rasa hambar dan kosong.


Elizabeth tengah berlatih berjalan bersama Sosa di taman. Langkah demi langkah di cobanya, walaupun sedikit tertatih tetapi semangatnya benar benar membara.


Jade mendatanginya mengganti tangan Sosa menopang pinggang Elizabeth, Elizabeth menyibakkan rambutnya dengan sedikit gerakan.


Memalingkan wajahnya, dan melihat raut wajah Jade. Lelaki tampan di sampingnya kini memapahnya berjalan.


"Betulkah?"


Keduanya berjalan ke sebuah bangku taman. Jade membantu Elizabeth untuk duduk di atas kursi itu.


Ke duanya tampak romantis dan serasi. Matahari pagi yang bersinar menerpa wajah Elizabeth hingga pipinya memerah, keringat mengalir di dahinya. Membentuk butiran butiran kecil mirip tetesan embun yang menyebar.


Jade meraih sapu tangan yang ada di dalam saku celananya mengusap keringat itu dan mencubit dagu Elizabeth.


Ke dua mata mereka bertemu, tatapan Jade sangat mendominasi. Jade merasa tujuan awal untuk merebut harta warisan Carlos kini berubah, semakin ingin memiliki wanita yang ada di depannya.


"Ada apa?"


Tanya Elizabeth, pipinya semakin memerah. Ini bukanlah wajah aslinya, tetapi akhirnya Elizabeth sudah terbiasa.


Rahasia rekaan tentang dirinya di ceritakan oleh Luci dan Jade hanya menurut versi mereka. Memutar balikkan fakta.

__ADS_1


Elizabeth lupa akan Nina ataupun Kendrick. Bahkan tentang Eva, Luci selalu menyangkal keberadaannya.


"Aku menyukaimu." Ucap Jade.


"Bukankah kita memang saling suka sejak dulu?"


"Maksudku makin sayang." Ucap Jade menutupi kesalahan.


Elizabeth sedikit menarik tubuhnya ke belekang. Gerakan itu tidak di rencanakan. Tapi semua itu adalah dorongan dari hatinya.


"Aku mau ke dalam, matahari sangat panas, aku ingin berpindah tempat." Ucap Elizabeth. Awalnya dia mengucapkan saling suka. Tapi Elizabeth tidak bisa membohongi hatinya. Dia tidak jatuh cinta pada Jade.


"Baiklah, aku akan membantumu." Pelukan Jade terasa asing, tidak ada getaran di hati Elizabeth.


Saat Jade menuntun langkah Elizabeth memasuki rumah besar itu, Luci dan Carlos duduk di sofa ruang tamu.


"Sebaiknya kalian cepat menikah, bukankah sudah saatnya?" Ucap Luci.


Carlos Eman duduk di sampingnya, sambil jarinya menggapit sebuah cerutu Kuba, kaki kananya bertumpu di atas kaki kirinya. Carlos menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Bagus itu." Ucap Carlos.


Elizabeth tidak memperdulikan ucapan mereka, bahkan dia asing dengan laki laki yang di panggilnya papa. Elizabeth merasa tidak mengenali Carlos.


Jade mengantar Elizabeth memasuki kamarnya, Jade sangat perhatian.


"Jade, bisakah kita menikah setelah cideraku membaik?"


"Tentu saja. Aku akan menunggu dan bersabar." Ucap Jade, ke dua tangannya mengepal, sebenarnya dia tidak sabar untuk menikah dengan Elizabeth, dengan menikah semakin cepat dia menguasai harta Carlos.


Lelaki dewasa seperti Jade bukanlah lelaki penyabar, Jade juga memiliki banyak wanita. Carlos juga mengetahui hal itu. Tetapi sesama lelaki busuk tentu saja mereka merahasiakannya. Berpura pura baik, padahal demi sebuah ambisi.


"Nanti malam kita makan di luar, aku akan memberikan sebuah kejutan untukmu. Pakailah gaun terbaikmu ok."


"Aku tidak suka kejutan." Ucap Elizabeth.


Jade mencoba bersabar, padahal dia sangat dongkol.

__ADS_1


"Tapi kali ini kejutan itu akan menyenangkan."


Jangan Lupa Like and Komen juga Vote ya. Kejutan apa yang akan di terima Elizabeth. Trimakasih untuk menyukai novelku. Gracias.


__ADS_2