Cinta Wanita Kumal

Cinta Wanita Kumal
Pengorbanan Elizabeth 1


__ADS_3

Eva melihat penampilan Elizabeth merasa kesal, depresi yang di alami adiknya dianggap itu sepantasnya. Karena kebencian dan rasa iri kepada adiknya sudah memuncak. Tetapi tiba tiba seringai licik ke luar dari sudut bibir merahnya.


Hanya Eva dan Luci yang berada di rumah sakit, sementara itu Diego dan Elizabeth berdiam diri di rumah.


Kondisi James sudah mulai stabil, tetapi itu hanya bersifat sementara. Dua opsi di berikan dokter dalam menangani penyakit jantung James, dengan cara operasi atau meminum obat, tetapi dengan mengkonsumsi obat kondisi James tidak akan bertahan lama. Dan harga obatpun tidak tergolong murah.


Penyakit jantung tidak dapat disembuhkan. Jalan satu satunya James harus segera di operasi.


Hanya saja ke dua opsi yang di berikan dokter sama sama berat dan membutuhkan uang yang sangat banyak. Dari mana Luci mendapatkan uang itu. Usahanya sudah sangat maximal, sebagai istri dia sudah cukup berusaha.


Luci menangis di ujung koridor rumah sakit, dirinya sudah tidak sanggup berfikir, tidak ada jalan keluar lagi. Uang apa yang bisa menyelamatkan suaminya. Suasana sangat sepi, tidak ada saudara satupun yang membantunya. Itu karena selama ini Luci hidup dengan kesombongan. Pikirannya sudah buntu. Bahkan hatinya hancur sesaat menyadari Eva harus di korbankan.


"Mama." Bisik Eva di sampingnya. Dengan kecantikan dan kelembutannya, siapapun akan senang melihat senyumannya. Tidak terkecuali mamanya yang tengah bersedih, karena kehadiran anak gadisnya seketika kesedihannya sejenak sirna.


"Hmm." Jawab Luci dengan sesunggukan. Senyum tipis terlihat dari sudut bibirnya. Wajah Luci terlihat kucel dan kusut.


"Mama aku punya jalan keluar, ini sedikit memaksa, tetapi menurutku ini jalan yang terbaik." Luci menatap heran wajah putrinya. Pemikiran apa sebenarnya.


Eva mendekatkan bibirnya ke telinga Luci.


Setelah mendengarkan bisikan Eva, terlihat senyum menyeringai dari bibir Luci. Seperti mendapatkan emas sebesar kerbau.


"Kenapa tidak terpikirkan dari kemarin. Anak mama memang cerdas." Ke dua tangan Luci menangkup ke dua pipi Eva. Tiba tiba wajah Luci berganti kebahagiaan.


"Kalau begitu cepat telepon penagih utang sekarang juga ma."


"Ok, apapun demi kamu."


Meninggalkan suaminya yang terbaring lemah, menjanjikan kepada staf rumah sakit untuk membayar uang operasi.


Satu jam mereka meninggalkan James sendirian, kembali ke rumah keluarga Chloe, Luci menunjukkan wajah sedih. Setelah mendorong pintu masuk dan memasuki rumah, Luci sekilas melihat Diego yang tertidur di atas sofa besar. Luci merasa tubuh Diego semakin kurus dan tipis. Luci menuju kamar mandi untuk segera menyegarkan tubuhnya. Dia begitu lelah. Dia teringat ucapan Eva tentang syarat yang di ajukan renternir. Luci mencari cara agar usahanya lancar.

__ADS_1


Diego mendengarkan suara guyuran air di kamar mamanya tentu saja Diego ingin menanyakan keadaan papanya. Diego benar benar menghawatirkan keadaan ke duanya.


Diego berjalan perlahan, langkah kakinya pelan dan tenaganya yang lemah berjalan tertatih tatih. Tangan kanannya menekan bagian dadanya yang sakit sementara tangan kirinya bertumpu kepada tembok rumah, Diego begitu hati hati, dia takut dirinya terjatuh, tentunya dia tidak mau keluarganya mendapatkan kesulitan lagi karena penyakitnya.


"Mama." Panggilan Diego terdengar lirih dan pelan. Nampaknya Luci sudah keluar dari kamar mandi. Bahkan Luci sudah mengenakan pakaian lengkap dan rapi. Hanya saja Luci belum menyisir rambutnya.


"Bagaimana kabar papa? Kenapa mama meninggalkan papa sendirian?" Diego berjalan mendekati kasur busa itu dan meletakkan tubuhnya di sana


"Papamu sudah di pindahkan ke kamar perawatan. Dan keadaannya sudah lumayan membaik. Mama juga sudah menitipkan James pada perawat jaga."


"Syukurlah." Ucapan Diego di barengi gerakan berdiri untuk segera meninggalkan mamanya. Tetapi sebuah cekalan di tangan Diego membuat langkahnya terhenti.


"Tapi keadaan papa tidak bisa berlangsung lama, papa harus segera di operasi. Kemungkinan untuk sembuh sangat kecil. Dan tidak bisa di tunda lagi. Hanya saja mama tidak tau harus berbuat apa. Belum lagi utang mama. Rumah juga sudah tergadai."


Luci menitikkan air mata, beberapa kali dia berusaha mengusap air mata itu dengan saputangan merah.


Ke dua mata Luci melirik tajam ke arah Diego, menunggu reaksi apa yang akan di tunjukkan oleh Diego. Suasana kamar tiba tiba sepi.


"Mama...Maafkan Diego. Andai saja Diego tidak sakit sakitan. Paling tidak..." Ucap Diego dengan ekspresi sedih.


Diego terdiam, tidak tau arah pembicaraan mamanya. Luci nampak menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan pelan. Menunggu reaksi Diego selanjutnya.


"Maaa."


Luci menjatuhkan tubuhnya ke lantai marmer berwarna abu abu. Dia menutup wajahnya dengan ke dua telapak tangannya. Air matanya merembes dari sela sela jarinya. Luci bersimpuh menekuk ke dua kakinya, bahkan rambut yang basah terkena air belum sempat di sisirnya semakin terlihat acak acakan.


"Maaa, kenapa menangis?"


Belum ada jawaban dari mulut Luci, hanya terdengar isak tangis, sementara itu Diego merasa mamanya akan menyalahkannya, karena semua harta telah habis demi mengobati penyakitnya, mungkin saja mamanya akan meminta pertanggung jawabannya. Kalaupun benar, Diego sudah pasrah, dia akan mengembalikan uang itu bagaimanpun caranya. Dia akan bekerja apapun demi bisa mengembalikan uang yang telah dia habiskan. Masalah penyakit asmanya? Untuk kali ini masa bodoh, toh pengobatan juga tidak meringankan penyakitnya. Malah penyakit asmanya semakin parah. Dokter sudah menyarankan untuk menghindari barang atau makanan yang menjadi pemicu kambuhnya penyakit itu.


Tetapi semua sia sia, jalan nafasnya seakan tersumbat oleh sumpalan kain. Dadanya seolah di tekan oleh batu yang sangat besar.

__ADS_1


"Maafkan mama, kali ini hanya kamu yang bisa membantu mama."


"Iya ma, Diego akan mengumpulkan uang. Toh Diego sudah lumayan baik, Diego usahakan lebih cepat mengembalikan uang mama." Ucap Diego memelas, wajahnya tertunduk lesu.


"Bukan bukan yang itu. Bukan seperti itu." Sanggah Luci, tentunya dia tidak akan tega jika harus mengorbankan Diego.


"Maksud mama ?" Tanya Diego tidak sabar. Suasana malam itu begitu dingin dan dinginnya seakan masuk ke dalam Tulang.


"Aku mohon maafkan mama. Sebenarnya ini tidak baik, hanya saja..."


"Ma katakan dengan jelas. Diego tidak mengerti."


"Mama tau kamu sangat menyayangi Eli, mama juga sama denganmu...." Ucapan Luci berhenti sejenak. Diego merasa tidak enak hati, untuk pertama kalinya mama mengatakan sangat mencintai Elizabeth.


Luci menatap mata Diego mencoba menata kata agar tidak terjadi kesalahan. Diego membantu mamanya agar duduk di sebelahnya, dan tidak bersimpuh di lantai, hatinya sealan tidak enak. Tetapi Luci tetap menolak.


"Mama mohon kamu membujuk Eli agar mau menggantikan posisi Eva."


"Ma!"


Luci terdiam seakan dia tau jawabannya.


"Ma, jangan mengada ada, apa mama tau keadaan Eli sekarang, bahkan dia depresi tanpa kita tau penyebabnya. Bahkan mama tidak perduli. Dan sekarang mama memerintahkan Diego agar membujuk Eli menggantikan Eva?" Jangan lakukan itu ma. Kita bisa melawan renternir itu."


"Dengan apa? Apa kamu berharap papa mati karena tidak segera di operasi?"


"Tapi ma. Bukankah Eva sudah bersedia? Bahkan tadi pagi aku melihatnya seakan bahagia."


"Diego! Eva memiliki masa depan cerah, karirnya pasti cemerlang, dan kelak Eva bisa mengangkat derajat kita. Sedangkan Eli, silahkan kamu pikir sekali lagi jawabannya."


Nah sampai di sini dulu. Part ini pastilah senang Da da da. Jangan lupa Like Comen And Vote. Semoga Enjoy.

__ADS_1


BiG Love.


San San


__ADS_2