
Suasana kamar serba abu abu, dengan perabotan serba mewah juga dekorasi warna monokrom terkesan elegan. Matahari sembunyi dalam kabut tebal, hujan siang ini tidak begitu lebat. Udara cukup dingin.
Elizabeth memasuki kamar yang biasa di tempatinya bersama Kendrick, kamar saksi bisu di mana saat Elizabeth pernah di siksa dan di perlakukan seperti binatang. Tapi di kamar ini pula Elizabeth pernah merasakan cinta Kendeick yang begitu besar.
Elizabeth memasuki kamar, mendorong pintu perlahan lahan. Bibi Aise mengikutinya dari belakang. Bibi Aise memegang handuk basah dan air hangat, terlebih dahulu menambahkan aroma terapi agar menengkan.
"Apa Marco sudah datang?" Tanya Elizabeth kepada bibi Aise.
"Saya belum melihatnya, sepertinya hari ini Marco terlambat." Jawab Aise, Aise menyodorkan handuk basah dan air hangat itu kepada Elizabeth.
Elizabeth mendekatkan jari telunjuknya ke bibir, mengingatkan Aise agar jangan terlalu berisik. Aise menganggukkan kepalanya. Elizabeth tidak mau kalau pembicaraan ini akan mengganggu Kendrick yang tengah tertidur.
"Sebaiknya nyonya menunggu tuan Marco, karena sangat berbahaya." Aise meragukan kekuatan Elizabeth, karena Aise tau beberapa hari ini nyonya Elizabeth bekerja di kantor tuan Kendrick sehingga kondisi badannya yang terlihat capek.
"Tidak, aku sendiri bisa. Kamu pergilah, jangan sampai Kendrick memarahimu." Sanggah Elizabeth, terlebih dahulu dia mendorong tubuh Aise ke pintu, Aise sedikt oleng karena dorongan Elizabeth, tetapi Aise mencoba menyembunyikan kesedihannya. Aise sangat prihatin dengan kondisi majikannya. Wanita semuda itu terpaksa menjadi tulang punggung keluarga. Aise menarik napas panjang, dia menuju ke dapur untuk memasak, Aise sudah di angkat sebagai kepala pelayan. Tentunya dia sudah hapal apa yang nyonya Elizabeth inginkan.
Pelayan yang lama sudah di ganti oleh pelayan baru.
Tak beberapa lama kemudian saat Aise tengah memasak dengan beberapa pelayan lainnya, Marco memasuki kastil barat melalui pintu samping. Kebetulan Aise melihatnya kemudia dan dia mendekati Marco.
"Kenapa anda terlambat? Nyonya Eli sudah menanyakan keberadaan anda."
"Aku harus mengambil berkas di kantor, ada yang perlu di tanda tangani oleh nyonya Eli."
"Begitu boleh, tapi nyonya masih di kamar, seperti biasa nyonya Eli akan berlama lama di sana." Ucap bibi Aise, seolah menghawatirkan kondisi Elizabeth.
"Bibi Aise, tolong antarkan aku ke kamar tuan." Ucap Marco tegas namun sejatinya sangat menghawatirkan kondisi nyonya.
__ADS_1
"Ya sebaiknya lekas kau bantu, aku sudah menawarkan bantuan tapi nyonya menolak, sepertinya dia lebih nyaman jika seorang laki laki membantunya." Ucap Aise sarkas.
Masakan di atas meja sudah siap, dengan dekorasi rumah yang begitu mewah, juga perabotan yang sangat antik tapi di atas meja makan hanya tersedia menu makanan untuk anak anak.
Leyton, Nina dan David juga Eliana kecil sudah berada di ruang makan. Mereka beraktifitas tanpa mengeluarkan suara. Menjadi peraturan baru yang di terapkan oleh Elizabeth, bahwa penghuni kastil barat tidak di perbolehkan mengeluarkan suara apalagi kegaduhan.
Mereka makan dengan tertib, terutama Leyton. Leyton mengawasi adik adiknya, bahkan ke dua pelayan yang mendampingi David dan Eliana merasa takut jika mereka melakukan kesalahan karena tak segan segan Leyton marah.
Kastil barat tak pantas di sebut rumah, karena setiap penghuninya di larang mengeluarkan suara apapun. Mirip sebuah penjara.
Saat tragedi tertembaknya Kendrick. Elizabeth meminta tolong kepada Diego untuk menjemput putra putrinya juga bibi Aise agar kembali tinggal di kastil barat. Awalnya Nina merasa keberatan, trauma yang di alami Nina belum hilang. Hingga akhirnya Leyton merayunya melalui sambungan telepon selluler. Akhirnya Nina bersedia, walaupun dengan terpaksa. Satu bulan berlalu, Nina mulai bisa menerima.
Sayangnya sekarang anak anak harus hidup dengan keheningan, mereka menuruti peraturan baru yang sudah di terapkan oleh Elizabeth.
Setelah sarapan Leyton dan Nina berangkat ke sekolah, ke duanya di antar oleh detektif Vito. Vito di pekerjakan kembali untuk menjaga anak anak. Tapi Vito sudah tidak menjadi detektif, dia di pekerjakan demi menjaga keluarga besar Kendrick.
"Tidak bisakah membawa mobilnya kemari?" Protes Nina, dia mengeluhkan letak garasi yang di bangun cukup jauh. Walaupun dalam satu lokasi dengan kastil, seharusnya tidak masalah asal Vito membawa mobil itu untuk menjemputnya. Sayangnya Elizabeth tak mengijinkan. Elizabeth membenci suara kebisingan. Mereka tidak berani memprotes peraturan baru itu.
Vito tak menuruti permintaan Nina, karena Vito pernah menyaksikan bagaimana kemarahan Elizabeth saat mendengar sedikit kebisingan. Di kastil barat tidak di perbolehkan ada suara bahkan demi kesunyian para pelayan menjauhkan binatang piaraan dan mengosongkan kolam renang.
Awalanya mendapatkan protes dari anak anak, tapi menyadari perubahan sikap Elizabeth akhirnya semua penghuni kastil barat menyadari, hanya Nina yang selalu memprotes peraturan baru ini.
Vito sudah mengantar Leyton dan Nina berangkat sekolah.
Saat ini di depan pintu kamar Marco dan bibi Aise tengah berdiri. Marco tidak berani mengetuk pintu. Ke duanya menunggu pintu terbuka dengan sendirinya. Hampir satu jam mereka di sana. Kaki bibi Aise bahkan kram dan kesemutan.
"Tuan Marco, sebaiknya aku ke dapur saja. Jika tetap berada di sini, di samping kaki dan pinggangku juga sakit aku juga harus menyelesaikan tugasku di dapur." Ucapan bibi Aise dengan nada sangat pelan. Dia takut jika Elizabeth mendengarnya.
__ADS_1
Pernah sekali waktu seorang pelayan menjatuhkan keramik mahal dan pecah, Elizabeth tidak menyalahkan pecahnya keramik itu. Tapi dia marah karena suara yang di timbulkan. Bahkan tukang kebun juga pernah di hukum hanya gara gara tengah memotong rumput dengan menggunakan mesin, hal itu tentu membuat siapapun yang mengenal Kendrick dan Elizabeth merasa prihatin.
Dan sampai sekarang tukang kebun itu memotong rumput hanya memakai pisau manual saja. Dapat di bayangkan betapa lamanya. Tapi Elizabeth tidak perduli.
"Bibi Aise sebaiknya tetap di sini. Kalau tidak ingin mendapat kemarahan nyonya Eli." Ucap Marco dengan nada sangat pelan. Suara jam dinding berdentang sangat pelan bahkan nyaris tak terdengar. Marco baru teringat sesuatu kalau kalau beberapa saat yang lalu nyonya Elizabeth menyuruhnya menyingkirkan jam dinding itu. Marco menelan salifa.
Baik Marco dan bibi Aise sangat prihatin atas perubahan sikap Elizabeth.
Pintu di buka perlahan bahkan sangat pelan. Dari gerakannya dapat di pastikan kalau Elizabeth membukanya dengan sangat hati hati.
Elizabeth muncul dari dalam kamar, menatap ke dua manusia itu dengan tatapan marah, meletakkan jari telunjuknya di depan bibir.
Elizabeth berjalan dengan berjinjit menuju dapur. Jarak antara dapur dan kamar utama sangatlah jauh. Marco dan Aise mengikutinya dari belakang.
Namun Elizabeth membelokkan langkahnya menuju ruang kerja Kendrick di susul oleh Marco dan Aise.
"Sudah aku perintahkan buang semua jam dinding, aku tidak mau Kendrick terganggu tidurnya! Dan kamu Aise pindahkan anak anak ke kamar paviliun."
"Tapi nyonya." Bantah Aise. Ruang paviliun memang cukup bagus dan mewah, tetapi letaknya di belakang.
"Jangan membantah ini demi Kendrick."
"Nyonya, jika tuan Kendrick tau akan hal ini, pasti tuan tidak suka."
Tiba tiba Elizabeth menangis terisak, meletakkan kepalanya di atas meja kerja. Tekanan dari pemegang saham dan masalah di Kend Grup membuat Elizabeth semakin terguncang.
'Jika Kendrick tidak mengalami musibah!' Batin Elizabeth.
__ADS_1