Cinta Wanita Kumal

Cinta Wanita Kumal
Tembak Menembak


__ADS_3

Elizabeth berlari kencang tanpa menoleh lagi kebelakang, berlari dengan kaki tertatih tatih. Yang ada di dalam pikirannya saat menabrakkan tubuhnya ke kaca jendela dan melompat dari lantai tiga hanya menyelamatkan diri dari Juan. Dia belum berbuat banyak untuk putrinya.


Elizabeth jatuh dan menimpa tumbuhan perdu dan semak, kulitnya tersayat ranting ranting kering dan tajam, dahinya membentur batang tanaman. Saat melihat kembali ke atas, Elizabeth menyaksikan kalau Jade dan anak buahnya menengok ke bawah, mata mereka saling bertatapan.


"Kejar dia dan ikat kakinya." Kalimat itu yang sempat di dengar telinganya. Elizabeth tidak memperdulikan rasa sakit pada sekujur tubuhnya. Darah yang mengalir di dahinya beberapa kali di hapusnya dengan telapak tangan. Matanya menggelap, ada ketakutan di sana. Kendrick dan Jade bukanlah orang yang sama, tetapi ke duanya memiliki temperamen yang tidak berbeda, hanya saja Elizabeth lebih mempercayai Kendrick, cinta pertamanya.


Elizabeth tidak mau kembali ke wilayah selatan, wilayah bebas perdagangan obat terlarang. Jika dia di nikahi oleh Jade maka peluang tipis kembali ke wilayah kekuasaan Kendrick. Bagaimana dengan putrinya? Di tambah Elizabeth tidak menyukai Jade.


Terbersit perasaan bersalah terhadap Juan. Apa sampai saat ini Juan baik baik saja? Apa mereka tidak mencelakainya?


Beberapa petugas keamanan rumah sakit hendak menolongnya, sayangnya mereka kalah karena todongan senjata. Petugas keamanan tak berkutik. Di bawah teriknya matahari siang, suasana makin memanas.


Elizabeth terus berlari, napasnya terus memburu. Hingga di sadarinya para pengawal semakin mendekat. Jarak mereka tinggal beberapa langkah lagi. Deru nafasnya memburu. Elizabeth tidak memperdulikan lagi kakinya. Untuk kali ini dia merasa membutuhkan Kendrick. Wajah Nina berseliweran di matanya, harapannya cuma itu!


Sampai saat decitan suara rem dan roda mobil terdengar sangat kencang. Mobil itu berhenti dan berputar sama persis dalam adegan film, Mobil itu sengaja menghalangi pelarian Elizabeth. Elizabeth seakan mati di tempat.


'Siapa lagi ini? Apa mereka berhasil menangkapku?' Pikirnya.


"Masuk!"


Terdengar teriakan suara Julia, pintu mobil terbuka secara paksa dari dalam, julia mengayunkan tangannya mengajak Elizabeth untuk segera memasuki mobil.


"Cepat masuk!" Ucap Julia membuyarkan lamunan Elizabeth. Elizabeth masuk ke dalam mobil yang di kendarai Julia. Belum juga Elizabeth duduk dan juga pintu belum tetutup sempurna, dengan cepat Julia menginjak pedal gas. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Para pengawal Jade merasa geram karena sudah kecolongan. Mereka mengumpat kesal. Jejak kendaraan hanya menyisakan asap dan debu. Pengawal yang mengejarnya saling mengumpat kesal.


Awalnya Julia berniat menemani Elizabeth untuk ke rumah sakit, sayangnya dia terjebak kemacetan. Saat tiba di rumah sakit, beberapa perawat tengah berlari kocar kacir, rupanya sedang terjadi tragedi.


Julia bertanya pada salah satu perawat untuk menanyakan apa yang sudah terjadi.


Perawat menunjuk tempat terjadinya ke kacauan di kamar yang di tempati Juan. Tetapi dari kejauhan dia sudah melihat beberapa lelaki berpakaian serba hitam berlari ke luar kamar yang di tempati Juan. Julia tentu saja paham, telah terjadi sesuatu pada sahabatnya. Untung saja Julia memarkirkan kendaraannya tidak terlalu jauh sehingga dengan cepat dia dapat menyusul Elizabeth.

__ADS_1


Julia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, memutari rumah sakit hingga berkali kali, matanya terus mencari keberadaan Elizabeth, hingga akhirnya matanya menangkap sosok seseorang wanita yang berlari dengan kaki terpincang. Beberapa laki laki berpenampilan serba hitam mengejarnya. Untung saja Julia bergerak cepat. Dan akhirnya Elizabeth terselamatkan.


Elizabeth membuka tutup botol minuman air mineral yang di sodorkan oleh Julia. Dia menghabiskan air mineral itu hingga tak tersisa sama sekali.


"Trimakasih!" Ucap Elizabeth, kalimat terbata bata, napasnya memburu. Peluh membasahi sekujur tubuhnya. rambutnya acak acakan, darah yang keluar di dahinya masih merembes. Luka lecet pada kulitnya terasa perih.


Julia menganggukkan kepalanya. Dia menyesal datang terlambat.


"Maafkan aku terlambat." Ucap Julia lirih. Elizabeth tidak menjawab, tapi membalas dengan sebuah senyuman. Dia mengangkat telapak tangannya sebagai isyarat agar memberinya waktu untuk bernafas lega.


Kemudian Elizabeth mengikat rambutnya sedikit ke atas. Menghetikan pendarahan di dahinya dengan selembar tisyu. Kertas tisyu berserakan di kakinya.


"Maaf, nanti akan aku bersihkan." Ucap Elizabeth sungkan, mobil ini milik Matheo, cukup baginya di selamatkan oleh Julia. Dan tidak mau memberi beban pada sahabatnya.


"Tidak masalah, tinggalkan saja nanti di situ." Jawab Julia tenang. Dia masih berkonsentrasi mengemudikan kendaraan.


"Siapa itu? Apa mobil Kendrick?" Tanya Julia tak pasti.


Elizabeth dan Julia tidak mengenali jenis kendaraan itu.


"Bukan milik Kendrick! Aku mengenal semua mobil miliknya." Jawab Elizabeth sedikit panik. Ketakutannya belum hilang dan sekarang timbul masalah baru.


"Lalu siapa?" Ke duanya bersamaan, Julia tidak menghentikan kendaraannya dia malah menambah kecepatan.


Ke duanya saling memandang, perasaan takut dan kuwatir.


"Julia, cari jalan aman, langsung masuk Park House Bogota!" Teriak Elizabeth, tubuhnya terbanting ke kanan dan ke kiri. Beberapa kali kepalanya membentur kaca kendaraan.


"Kamu baik baik saja?" Tanya Julia.

__ADS_1


"Sudah, jangan perdulikan aku lihat ke depan. Sepertinya mobil yang ada di belakang kita berniat tidak baik." Teriak Elizabeth.


Satu kendaraan Jeep berhasil menyalib, posisinya berdampingan dengan mobil Julia. Jeep itu berusaha menghentikan mobil Julia, ke duanya berserempetan hingga nyaris membuat mobil Julia menabrak tiang, untung saja Julia sangat gesit, membanting kemudi ke sebelah kanan.


"Di mana ponselmu? Aku akan menghubungi Kendrick." Tanya Elizabeth.


"Di dalam tas." Jawab Julia, sialnya ponsel miliknya tertinggal di rumah sakit.


Elizabeth menarik ponsel yang ada di dalam tas Julia, lalu menghubungi Kendrick.


"Sial tidak di angkat!" Umpat Elizabeth kesal.


"Kendrick aku akan membunuhmu!" Lagi lagi Elizabeth mengumpat. Kepanikan menjadikan otak ke duanya buntu.


Tiba tiba mobil Julia di tabrak dari belakang, ke duanya terpental. Untung saja ke duanya menggunakan sabuk pengaman.


"Ok, ok. Lebih baik aku menghubungi penjaga kastil, biarkan mereka membuka pintu gerbang lebar lebar. Bukankah sebentar lagi sudah memasuki Park House Bogota?"


"Kadang kamu terlihat cerdas. Hanya saja apa kita bisa selamat sampai di Park House Bogota? Mereka semakin beringas."


Seorang yang ada di mobil jeep itu membuka Jendela dan memerintahkan Julia untuk menepikan mobilnya.


Tapi Julia tidak mau mendengar, dia malah menambah kecepannya.


Seratus meter lagi mereka memasuki gerbang kastil, di sana terlihat pintu gerbang terbuka lebar. Beberapa pengawal bersiaga di depan gerbang dengan menggunakan senjata api, orang orang Kendrick sudah bersiap. Julia menancapkan kakinya pada pedal gas, mobil melaju kencang memasuki pelataran parkir kastil. Dan berhenti tepat di halaman kastil barat.


Tembak menembak tidak dapat di elakkan lagi. Dua mobil jeep tetap lurus dan tak berbelok. Beberapa anak buah Kendrick mengejar mereka dengan kendaraan yang sama.


Elizabeth tidak bisa ke luar dari mobil Julia, dia seakan terbang kemudian di jatuhkan dari ketinggian seratus kilo meter.

__ADS_1


__ADS_2