Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Welcome Back, Daddy!


__ADS_3

Edward dan Rona bersitatap. Rona mengernyih sedangkan Edward mengiba. "Jangan dipikirkan perkataan Ezio ya sayang, dia hanya menginginkan seorang adik...."


Rona berpura-pura sedih, matanya kini berair. Ilmu yang didapatkan ketika mengikuti kelas teater semasa high school dulu, dia pakai untuk mengerjainya suaminya.


"Hey jangan menangis sayang... kita bisa mencobanya lagi, lagi dan lagi," bujuk Edward yang menangkap kesedihan di raut wajah istrinya.


"Daddy... di perut Mommy ada adik Ezio. Percaya sama Ezio," sela Ezio yang yakin kalau ibu sambungnya tengah mengandung.


"Iya sayang iya..." sahut Rona. "Sekarang biarkan Daddymu menyantap sarapannya ya. Daddy sudah terlambat," ujar Rona menatap hangat.


"Baik Mommy... kalau begitu Ezio main sama suster Ola saja," ucap Ezio yang turun dari atas pangkuan Edward lalu menghampiri gadis belia yang mengenakan seragam baby sitter.


"Anak pintar," puji Rona pada sikap patuh anak kesayangannya.


Edward yang masih khawatir akan perasaan Rona, dia berdiri lalu menggeser kursinya. Kemudian duduk tepat di samping sang istri.


"Aku suapi ya sayang..." tawar Edward. Rona mengangguk, di saat hamil seperti ini dia sangat ingin dimanjakan oleh suaminya.


Edward menyuapi istrinya dengan telaten. Semakin hari Edward memperlihatkan sisi lembutnya. Meski terlihat arogan dan kasar, tapi bila sudah mencintai seseorang, dia akan memperlakukan wanita itu bak seorang ratu. Oleh karena itu wajar saja setelah istri pertamanya meninggal dia sangat terpukul dan terpuruk.


"Jangan bersedih lagi ya sayang, soal anak itu rahasia Tuhan." Edward mengecup puncak kepala Rona sangat lama mencurahkan segenap perasaan.


Rona mengangguk dan membuka mulutnya lagi menerima suapan makanan dari lelakinya.


"Makan yang banyak ya, a..." ucap Edward. Dia menyodorkan suapan ke sepuluh, Rona menolaknya.


"Aku sudah kenyang, Edward." Rona menggeleng-gelengkan kepalanya cepat dan mendorong sendok yang dipegang suaminya. Edward bersikukuh menyodorkan sesuap makanan.


"Satu suap lagi ya..." bujuk Edward. Rona terpaksa menelan suapan yang terakhir.


Huek...huek... Rona merasakan dorongan dari dalam perutnya, dia beranjak menuju wastafel dengan mengatup mulut yang terasa asam. Akan tetapi suara ketus seseorang menahan langkahnya sesaat.

__ADS_1


"Dih... aku pulang bukannya disambut, malah pura-pura muntah. Yang hamil itu aku bukan kamu Rona!" cibir Leona yang baru saja kembali dari Rumah Sakit bersama Roland.


"Apa aku semenjijikan itu, aku datang kamu sampai muntah-muntah?!" tambah Leona yang tidak mendapat respons. Rona berjalan cepat karena rasa mual semakin tak tertahan.


Huek... huek...


"Kamu kenapa sayang...?" tanya Edward panik karena mendengar suara istrinya muntah-muntah.


"Em... aku tidak kenapa-kenapa Edward, mungkin masuk angin. Kan kamu tahu sendiri beberapa malam kemarin kita kurang tidur," kilah Rona yang masih ingin merahasiakan kehamilannya.


"Maaf ya... pasti gara-gara aku memaksamu makan padahal sudah kenyang," ucap Edward merasa bersalah. Untuk kedua kalinya Rona memuntahkan isi perutnya. Keringat dingin membasahi wajahnya yang berubah pucat pasi.


"Kita ke dokter ya sayang." Edward mengurut tengkuk Rona yang masih tertunduk di atas wastafel.


Rona menggeleng lalu menyandarkan kepala ke dada bidang suaminya. "Tidak perlu Edward. Aku hanya butuh istirahat saja," jawab Rona dengan mata terpejam.


Edward melingkarkan tangannya ke atas pundak lalu memapah istrinya menuju kamar. Rona berjalan sempoyongan, dia merasakan kepalanya seakan berputar-putar.


"Ku-kuat kok..." timpal Rona.


Wajah pucat semakin pucat, tubuh Rona hampir saja terhuyung. Beruntung Edward sigap menahannya lalu mengangkat tubuh Rona.


"Kakak ipar pintar sekali bermain drama. Apa aku harus mengatakan wow sembari bertepuk tangan?" cerca Leona yang berdiri di depan tangga.


"Sudahlah sayang... lebih baik kita kembali ke kamar. Kamu juga butuh istirahat," ujar Roland memutar tubuh Leona, merangkulnya menaiki tangga. Roland menoleh sekilas ke arah Rona dan Edward dengan tatapan yang sulit dimengerti.


"Kamu juga ya sayang, istirahat. Aku antar ke kamar kita." Edward membopong istrinya meniti anak tangga. Dia membuka pintu, kemudian membaringkan tubuh wanitanya ke atas ranjang.


"Tidur ya... mudah-mudahan nanti pas bangun, badan kamu sudah membaik." Satu kecupan mendarat di atas kening dengan tangan yang menarik selimut menutupi tubuh ringkih sang istri.


Rona mengangguk lantas memejamkan matanya. Melihat istrinya telah tertidur, Edward berjalan mengendap-endap keluar dari kamar dan bersigera menyiapkan segala sesuatu yang dia butuhkan.

__ADS_1


...***...


Sudah 2 minggu Edward mengambil cuti. Hari ini dia kembali ke rutinitasnya sebagai seorang dosen statistik. Banyak yang berubah dalam hidupnya sekejap mata. Apa yang dia punya dan apa yang dia miliki raib, karena pengorbanannya demi adik tercinta.


Seperti biasa sosoknya selalu dikagumi dan menjadi pusat perhatian. Meski dia melepas status lajangnya untuk kedua kali, akan tetapi pesona dan kharisma yang dimiliki tidak lekang oleh waktu.


Semua orang berbisik-bisik, terutama gadis-gadis cantik dengan pakaian serba mini. Selepas kabar pernikahan Edward merebak. Mereka semakin tertantang untuk menjadi seorang pelakor.


"Welcome back, Daddy!" sapa salah seorang mahasiswi dengan tidak sopannya. Edward menggeleng-gelengkan kepala melewati begitu saja godaan di depan mata. Namun gadis itu tidak menyerah, dia terus membuntuti lalu menghalangi langkah Edward dengan tangan kanan yang memalang ke pinggiran pintu kelas.


Edward menatap tajam, perempuan itu semakin tertantang. Dia sudah tidak peduli kalaupun semester ini harus mengulang kembali mata kuliah statistik. Yang di otaknya saat ini, dia berhasil menaklukan pria yang diidam-idamkan 2 tahun lamanya.


"Menyingkir atau saya tendang kemaluannmu!" ancam Edward tidak main-main. Semua orang yang mendengar perkataan dosennya terbelalak dan menahan saliva. Mereka pikir setelah menikah, Edward akan berubah menjadi sosok yang lebih lembut, tapi ternyata pemikiran mereka salah.


Gadis di depannya menurunkan lengan yang menghalangi gerak Edward. Sebelum sempat dia menyingkir, Edward melewati gadis tersebut dengan menubruknya sangat kencang. Wajah bengis mewarnai hari pertama dia kembali mengajar.


Suasana hening semakin hening, yang terdengar hanya suara teriakan Edward yang memekikkan telinga saat mahasiswinya yang kurang ajar tanpa merasa malu masuk ke dalam kelas dan duduk di tempat yang berhadapan langsung dengan meja dosen.


"Kamu keluar atau saya yang menyeretmu dari dalam kelas?!" bentak Edward. Semua orang di dalam kelas tertunduk, hanya gadis yang di depannya yang masih berani mendongak.


"Seret saja Sir! Saya malah suka tubuh saya disentuh oleh tangan berototmu itu," kelakar wanita yang tidak tahu malu.


Edward keluar dari mejanya lalu menarik rambut mahasiswi tersebut yang diikat seperti ekor kuda. Gadis itu mengaduh, karena cengkeraman kuat tangan Edward.


"Sir Edward ampun, ini sakit Sir," rengek mahasiswi itu mengiba. Tetapi Edward tidak menggubris rengekannya, dia terus menyeret lalu mencampakkannya ke luar kelas.


"Saya akan membuatmu Drop Out dari kampus ini!"


...*****...


...Saya haturkan terimakasih untuk semuanya. Semoga novel ini masih bisa untuk dinikmati 🙏...

__ADS_1


__ADS_2