Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Hukuman untuk Seorang Pengkhianat


__ADS_3

"Kamu jangan mengada-ada, Edward! Tidak mungkin anak itu terkena AIDS!" Amber mulai merasa takut terlebih si pemuda yang sudah menggaulinya. Mereka berdua bagai mata rantai, terjebak dalam penyakit menular dan mematikan.


"Aku tidak mengada-ada Mommyku sayang... lihat ini!" Edward menyodorkan data medis yang dimiliki Nath. Di situ disebutkan kalau pasien atas nama Nath mengidap penyakit AIDS. "lihat baik-baik tanggal pemeriksaan yang tertera di situ!" Edward menunjuk bagian titi mangsa.


Amber tertawa seperti orang yang mengalami tekanan mental, kemudian merobek kertas yang dipegangnya hingga berkeping-keping. "Ini tidak mungkin...!" teriak Amber tidak percaya. Dia berusaha menyerang Edward menggunakan kukunya, lengan Edward terluka.


Edward menggerak-gerakkan jarinya, salah seorang anak buah memberikannya tongkat baseball. Tanpa perasaan, Edward menghantamkan benda keras itu ke salah satu kaki Amber. "Ini untuk Leona yang hampir kehilangan nyawa dan janinnya!"


Edward mengacungkan lagi tongkat baseball, dia memukulkan ke arah kaki yang satunya lagi. "Ini untuk papa yang hampir meninggal karena ulahmu!"


Amber berteriak kesakitan, tubuhnya tersungkur. Dan serangan terakhir mengenai betis kedua kakinya. "Dan ini untuk ibuku yang kamu bunuh, Amber!!"


Teriakan Amber semakin kencang, dia merasakan tulang kakinya patah juga remuk. Dia meraung, air mata bercucuran. "Bunuh saja aku Edward, bunuh!!"


Edward terbahak. "Tidak semudah itu Amber. Aku ingin melihatmu mati secara perlahan dan mengenaskan. Kamu harus membayar setiap dosa yang sudah kamu perbuat!"


Tatapan Edward kini dialihkan pada pria yang berdiri seraya terkencing-kencing, lalu mendekatinya. "Uhow... lihat si pemuda perkasa ini, pipis di celana?"


"A-ampun Tuan, ampuni aku!" pinta pria tersebut yang saat ini berdiri dengan kedua lututnya. "A-aku tidak ingin mati Tuan, kumohon. Anak istriku bagaimana nanti nasibnya?" tanyanya lagi meminta belas kasihan.


"Meminta kehidupan itu pada Tuhan, bukan padaku. Pria busuk!" Edward merogoh senjata api di dalam saku celana lalu menembakkannya pada paha pria tersebut. "Itu hukuman ke dua, karena kamu sudah berkhianat kepada hukum!"


Tubuh pemuda tersebut ambruk seraya melepaskan teriakan. Tubuhnya berguling-guling dengan kedua tangan memegangi kakinya yang terluka. "Sakit Tuan... ampun!"


Edward melihat kembali ke arah Amber. "Mom mau merasakan tajamnya peluru juga?" Edward memainkan benda yang dia genggam di atas kepala Amber, Amber menangis tersedu-sedu.


"Bunuh saja aku, anak kurang ajar. Ayo bunuh!! Karena selama aku belum mati, aku akan terus berusaha menghancurkan kebahagiamu, Richard juga Rona!"

__ADS_1


Edward gelap mata, dia memelintir tangan Amber hingga suara tulangnya berbunyi. "Aku akan membuat kaki dan tanganmu cacat, Amber! Hingga hidupmu tiada guna!"


"Aaa...!" Amber lagi-lagi berteriak. Air mata mulai mengering, dia hanya bisa terisak.


"Aku akan mengirimmu kembali ke penjara. Dan akan aku pastikan hukumanmu semakin berat!" Edward mengacungkan jari telunjuk ke arah Amber lalu memberi kode pada anak buahnya untuk menyeret Amber dan cecunguknya kembali ke penjara.


Dua orang tersebut diseret kasar, ruang gelap dan bau kini berselimutkan sepi. Edward berteriak hingga suaranya menggema seisi gudang. Dia melepaskan sisi hitamnya yang tidak diketahui siapapun.


"Bos, baik-baik saja?" tanya Feliks yang masuk ke dalam gudang.


Edward menggeleng. "Sungguh balas dendam ini sangat menyiksa, Feliks. Tapi aku tidak mungkin membiarkan orang-orang yang aku sayangi terus-terusan berada dalam bahaya karena wanita iblis itu masih hidup dengan kondisi sehat dan bugar!"


"Saya mengerti bagaimana posisimu, Bos. Tidak mudah menghadapi semua situasi ini. Bos masih waras saja, saya sudah bersyukur." Feliks menepuk-nepuk pundak Edward. Edward memutar kepala dengan kedua mata menyalang.


"Asisten gila!" umpat Edward. Dia mengeplak kepala Feliks, menumpahkan kekesalan. "Ayo pulang, aku butuh istriku!"


Edward melangkahkan kaki ke arah pintu diikuti Feliks yang menggerutu. Tangannya mengusap-usap bagian kepala yang terkena pukulan. Dia ingin membalas perlakuan bosnya, tapi apalah daya. Memang dia yang memancing amarah singa lapar.


Jam makan malam sudah tiba, Rona duduk di kursi teras dengan gelisah. Matanya menatap jam di dinding berkali-kali. Dia menunggu kepulangan sang suami, yang pergi sejak tadi.


"Edward kemana ya, kok belum pulang juga?" gumam Rona yang kini tengah mondar-mandir. Dia bisa merasakan bahwa lelakinya dalam kondisi tidak baik-baik saja.


"Mommy... ayo masuk. Kasihan dedek bayi kedinginan." Ezio menarik tangan Rona menuntunnya untuk masuk ke dalam rumah. "Adik Ezio juga belum makan, nanti lapar." Ezio mengajak Rona untuk makan malam. Sudah ada Leona dan Roland yang duduk di meja makan.


"Mau Ezio ambilkan makanannya, Mommy?" Ezio mengangkat piring keramik, Rona mencegahnya.


"Biar Mommy saja sayang, piring ini berat." Rona mengambil piring dari genggaman Ezio lalu menyendok hidangan yang sudah disiapkan. Dia kesulitan saat menjangkau makanan yang berada jauh dari posisinya, seseorang mengambilkan untuknya.

__ADS_1


"Ini Kak." Leona menyodorkan masakan yang diinginkan Rona.


"Terimakasih, Leona," ucap Rona berseri. Leona menarik kepalanya ke bawah, tidak bersuara. Roland menggenggam tangan Leona memberi penghargaan kecil atas kebaikan yang istrinya lakukan.


Suasana makan malam sepi dan hening, hanya dentingan suara sendok yang memecah kesunyian. Semua larut akan pikiran dan khayalannya.


"Daddy pulang...!" Edward merentangkan kedua tangannya memandang ke arah belahan hati juga jiwanya. Ezio turun dari atas kursi lantas berlari menyambut kepulangan sang ayah. Dia membenamkan tubuh mungilnya ke dalam dekapan hangat pria yang dirindukannya.


"Ezio rindu Daddy, Mommy juga." Ezio melepaskan pelukannya lalu merangkum wajah Edward. "Daddy tahu tidak, dari tadi Mommy menunggu Daddy pulang! Mommy tidak mau makan kalau tidak disuapi Daddy," seloroh Ezio yang membuat Edward tergelak.


"Benarkah itu?" Edward menatap paras istrinya lalu melihat piring yang berada di depannya dengan makanan yang masih utuh.


Edward mengukir senyum manisnya kemudian menarik kursi dan duduk di samping sang pujaan. Dia mengangkat wadah yang berisikan makanan lalu mulai menyuapi Rona.


"Kamu merindukanku, hm?" Edward menyapu bibir Rona yang dipenuhi mayonaise.


"Sangat..." timpal Rona dengan manik mata yang tidak ingin lepas. "Kamu kemana saja, seharian ini aku mencemaskanmu?!" Air mata mulai menitik, Rona menangis. Suster Ola yang berdiri tidak jauh dari pasangan suami istri itu, langsung menuntun tangan Ezio dan mengajaknya ke ruangan yang lain.


"Ezio sayang, ikut Suster Ola yuk. Suster punya buku cerita yang baru untuk Ezio," bujuk Ola yang disambut antusias.


"Benarkah itu, Suster Ola?" tanya Ezio girang.


"Benar dong, kan tadi siang Mommy Rona memberi Suster Ola uang yang sangat... banyak," ungkap Ola yang mendapat uang ganti ikan dengan jumlah berkali-kali lipat."


Ezio sumringah dan melupakan bahwa dia tengah merindukan ayahnya. Membiarkan kedua orang tuanya bermesraan tanpa ada seorang pun pengganggu.


...*****...

__ADS_1


...Senja sangat terharu, banyak yang memberi vote, hadiah, likenya juga 😭 Terimakasih banyak, semoga tergantikan dengan yang lebih....


...Jumlah favorite juga semakin bertambah. Terimakasih banyak untuk semua dukungannya. Terimakasih......


__ADS_2