
Malam ini terasa ada yang berbeda dari malam biasanya. Seorang asisten dari Presdir sebuah Rumah Sakit swasta terbesar, yang memiliki paras bak seorang artis drama Korea, menunggu kedatangan seseorang di apartemen dengan perasaan gundah gulana. Ia merapikan kamar yang semula berserakan, lalu menyemprotkan wewangian. Beberapa hidangan dia siapkan di atas meja makan, dengan lilin kecil di tengah rangkaian bunga.
"Sudah seperti kencan satu malam saja ya?"
"Ish, aku bukan Edward yang sesuka hati mencicipi tubuh wanita hanya untuk bersenang-senang!"
Di tengah lamunannya, terdengar pemberitahuan sebuah pesan masuk dari nomor seseorang yang tengah ia nantikan.
Baby Leona
Aku sudah ada di depan
"Di- di depan?" gumam Feliks.
Secepat kilat, Feliks berlari lalu membuka pintu. Senyuman manis terulas dari bibir ranum bak buah mangga, mengkal dan segar.
"Hai, My Baby!" sapa Feliks dengan raut wajah konyol.
"Hahaha... apa sih Kak?!" jawab Leona dengan mengebaskan telapak tangannya. Lalu dia masuk ke dalam apartemen, tanpa dipersilakan.
"Wow ... aku suka sekali kamarmu, Kak!" ungkap Leona. "Artistik!" puji Leona dengan mata masih meneliti setiap jengkalnya.
"Bolehkah aku duduk?" tanya Leona menunjuk sebuah sofa berwarna hitam.
"Tentu, silakan!" jawab Feliks. "Sebentar ya!" ucap Feliks yang menghilang begitu saja.
Jiwa keingintahuan Leona, tiba-tiba muncul. Dia berjalan mengendap-ngendap, mengikuti ke arah mana Feliks melangkah. Dia melihat seorang laki-laki tengah berdiri di dalam dapur. Dan ...
"Duarrrr!" Leona mengejutkan Feliks.
Feliks yang saat itu tengah memegang cangkir yang berisikan kopi panas, terperanjat dan menumpahkan minuman itu ke tangannya sendiri.
"Ah...!" keluh Feliks mengibas-ngibaskan tangan yang terasa terbakar.
"Astaga... maafkan Leon Kak," pinta Leona dengan menyentuh tangan Feliks lembut lalu menariknya ke bawah keran. Dia mengucurkan air dingin ke atas luka bakar sebagai pertolongan pertama.
Rasa sakit yang menyentuh kulit, tiba-tiba menghilang begitu saja, saat tangan lembut itu menggenggamnya.
"Sakit ya Kak?" tanya Leona sambil meniup-niup luka bakar yang tiba-tiba terasa dingin. "Ada salep untuk luka bakar, Kak?" tanya Leona yang masih menghembuskan napas di atas luka.
"Ada," jawab Feliks singkat lalu dia beranjak berdiri.
"Biar sama Leona saja Kak. Di mana Kakak menyimpannya?" tanya Leona lagi.
"Di dalam lemari obat di atas bufet tv Leon," ucap Feliks tanpa mendapatkan Jawaban.
Leona mengambil salep itu kemudian mengoleskan dengan penuh kehati-hatian dan Feliks sangat menikmati momen langka seperti ini. Dia terus menatap gadisnya dan menyunggingkan senyuman tanpa lelah. Hingga pada satu momen, dua pasang mata saling menatap dengan tangan saling menggenggam.
"Di saat seperti ini aku berharap, waktu berhenti untuk sesaat. Karena tak ingin ia berlalu begitu cepat. Biarkan aku menggenggam tangan ini. Tangan yang bukan tercipta untukku."
__ADS_1
"Selesai Kak," ujar Leona memecah kecanggungan.
"Terima kasih Leon!" ucap Feliks.
"Kak ... kak Edward main perempuan lagi ya?" tanya Leona menyelidik.
Feliks mengangguk dan menjawab, "Iya."
"Terus kenapa bisa sampai terluka seperti itu?" Leona bertanya kembali.
"Dipukul sama perempuan yang dia tiduri. Salah sasaran!" ungkap Feliks yang menggantung.
"Salah sasaran, maksudnya?" tanya Leona bingung.
Feliks menjawab dengan suara yang pelan. "Dia memerkosa seorang dokter!"
Kelopak mata Leona terbuka dengan sempurna. "Me- memerkosa seorang dokter?" tanyanya dengan suara meninggi.
"Ta- tapi kenapa bisa Kak?" tanya Leona tergeleng-geleng.
"Ntah!" jawab Feliks sembari menarik bahunya ke atas.
"Ish... asisten tidak berguna!" cibir Leona.
"Kak, aku pulang ya. Kekasihku sudah menunggu di basement!"
Tanpa memberi kesempatan Feliks untuk menjawab, Leona sudah berlalu pergi dari hadapannya. Rasa kecewa bercokol di dalam hati. Mengharapkan gadis seperti Leona, "bagai pungguk merindukan bulan".
...***...
"Selamat pagi dokter Rona," sapa seorang perawat.
"Pagi juga Gisel!" jawab Rona sembari meletakkan hand bag di atas meja.
"Dokter sehat?" tanya Gisella.
"Em... memangnya aku terlihat sedang sakit?" tukas Rona.
"Iya, Dokter pucat sekali hari ini," ungkap Gisella yang tengah merapikan file rekam medis.
Rona merogoh lipstik berwarna merah bibir dan memulaskan lipgloss setelahnya. Sedikit menutupi wajah pucat pasi menjadi sedikit lebih segar.
"Dok sudah siap dengan pasien pertama?" tanya Gisella.
Rona mengangguk dan melingkarkan stetoskop ke lehernya. Dia menyiapkan senyum merekah menyambut pasien mungil nan manja.
"Hai... aku dokter Rona. Anak tampan namanya siapa?" tanya Rona ramah.
"Aku Ezio, dokter cantik."
__ADS_1
"Ezio demam dan batuk ya sayang?" tanya Rona menatap hangat anak laki-laki yang baru berumur 3 tahun.
"Iya Dok, demam tinggi sama batuk-batuk sampai muntah," jawab seorang wanita paruh baya yang mendampingi anak tersebut.
"Ikut Dokter yuk tiduran di sana. Dokter mau memeriksa Ezio," ajak Rona dengan menunjuk ke arah bed pasien.
Anak laki-laki itu menurut meski terlihat raut ketakutan dari wajahnya. "Tidak apa-apa, Dokter hanya mau memeriksa saja kok," ungkap Rona sembari menarik pakaian anak itu dan menyentuh tubuh mungilnya dengan alat yang tadi dia kalungkan.
"Sekarang coba buka mulutnya, a..." pinta Rona.
Anak kecil itu kembali menuruti perintah Rona dengan membuka mulut. Rona memeriksa rongga mulut anak tersebut menggunakan senter kecil yang ada di saku jas dokternya.
"Sudah selesai...."
Anak kecil itu tersenyum lalu Rona menggendong dan memberikannya kembali pada wanita yang dipanggil oma.
"Cucu saya sakit apa, Dok?" tanya wanita paruh baya itu cemas.
"Ezio sakit radang tenggorokan Bu. Perbanyak minum air putih, makan buah-buahan, sayuran dan jangan dulu makan es ya...," Rona memberi nasehat.
"Tuh dengar apa kata dokter cantik, makan buah-buahan sama sayuran," omel sang oma pada cucunya.
"Iya nih Dok, cucu saya susah sekali makan buah sama sayur, minum air putih juga jarang," beber wanita tersebut.
Rona menuliskan resep serta kembali mengingatkan anak laki-laki tersebut. "Ini Dokter resepkan obat buat Ezio, nanti diminum dan dihabiskan. Jangan lupa pesan Dokter, minum air putih yang banyak, makan buah dan...."
"Dan sayuran," tambah Ezio melanjutkan perkataan Rona.
"Terima kasih Dokter cantik," ucap anak laki-laki yang memiliki mata bening seperti dirinya.
"Sama-sama sayang..." jawab Rona.
Anak laki-laki tersebut turun dari pangkuan neneknya lalu berjalan mendekati Rona. Rona tersenyum lalu menundukkan kepala. Pipinya menghangat karena satu kecupan mendarat dari bibir merah nan mungil.
"Sampai berjumpa lagi Dokter cantik," pamit anak kecil bernama Ezio.
"Sampai berjumpa lagi juga sayang...."
"Terimakasih banyak ya Dok," ucap wanita sembari menuntun cucunya.
"Sama-sama Nyonya. Semoga lekas sembuh untuk Ezio," jawab Rona.
Wanita itu mengangguk, lalu keluar dari ruangan seraya menahan tawa mengingat kelakuan cucunya.
.
.
...*********...
__ADS_1
...☆Jangan lupa untuk memberikan dukungan ke karya Author yang kedua ini ya☆...
...☆Terimakasih☆...