Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
One by One


__ADS_3

...Malamku dirundung pilu. Saat pagi membuka mata, aku tersenyum semanis madu. Hari kemarin sudah kulewati, hari ini sedang kujalani. Sedangkan esok hari?...


...*****...


Pria yang rambutnya telah memutih dengan kulit mengeriput. Memandang potret lawas dirinya dengan cinta yang Tuhan renggut dari tangannya. Jemari yang kulitnya sudah tak lagi kencang, membelai paras cantik dan bersahaja dari balik kaca. Deraian tak terbendung, menitik membasahi bingkai putih yang kini mulai lusuh.


"Aku merindukanmu Lesham...."


"Mengapa Tuhan membawamu pulang lebih cepat...?"


"Aku kesepian di dunia ini, semuanya telah berubah tak seindah dulu."


Richard memeluk foto kebersamaannya dengan mendiang istri pertama, yang sudah memberikan banyak kenangan indah dan mendalam. Baginya Lesham tidak bisa tergantikan oleh siapapun.


Di saat mengingat romantisme kenangan lama, Richard teringat akan perkataan Rona yang menganggu pikiran. Dia menghubungi orang kepercayaan untuk mencari tahu mengenai istri keduanya.


Richard


Tolong selediki istriku


Saya tunggu laporannya 1x24 jam


Yyy


Siap tuan!


Richard


Bayaranmu saya transfer sekarang!


Yyy


Terimakasih, tuan Richard!


"Kita lihat nanti, menantuku yang salah atau istriku sendiri yang sudah berkhianat! Kalau Rona yang benar, artinya aku telah memelihara 'anjing terjepit' selama ini!"


"Papa... Papa sedang apa, kok gelap-gelapan di dalam gudang?" Amber yang membuntuti suaminya, berkata dengan manja. Dia sengaja menggoda Richard seperti kebiasaannya dulu menggoda pria hidung belang.


"Aku sedang mencari barangku yang hilang dari kamar. Aku pikir ada di gudang, tapi tidak ada!" Richard menepis tangan Amber dari dadanya.


"Memangnya Papa mencari apa, biar aku bantu carikan!" Amber mengendus-enduskan napasnya menggelitik jiwa kelelakian Richard yang sekian lama terpendam.


"A- aku mencari jam dinding yang lama. Mau aku pasang lagi," kilah Richard yang tidak ingin Amber tahu kalau dia masih menyimpan foto Lesham.

__ADS_1


"Oh... aku kira mencari apa." Amber mendorong Richard ke daun pintu, lalu meremass milik suaminya. Dia ingin Richard melupakan apa yang sudah dia dengar tadi dari mulut menantunya dengan membuatnya tidak berdaya.


Kucing mana yang akan tahan bila disuguhi seekor ikan, meski ikan tersebut sudah tidak segar dan dikerubuni lalat hijau. Richard akhirnya menyerah, membiarkan Amber memuaskan dirinya. Yang paling penting saat ini adalah otaknya masih aman dan waras.


Amber menyesap milik Richard dan meneguk cairan untuk melepaskan dahaga sek-s yang sudah lama tidak dia dapatkan. Semenjak Nath berada di penjara, dia terpaksa harus memuaskan dirinya sendiri.


"Masih lezat ternyata," seloroh Amber menutup kembali resleting celana suaminya. Dia tersenyum puas melihat Richard yang kewalahan karena ulahnya. Meski usianya sudah tak lagi muda, namun pesona Richard masih sangat menggoda di mata Amber.


"Pa... aku kan sudah memuaskan Papa... aku minta uang dong!" pinta Amber menengadahkan tangannya.


"Aku kan sudah memberimu kartu credit, Amber. Kenapa meminta uang lagi?" tanya Richard curiga.


"Em... aku sedang butuh uang cash, Pa. Tidak banyak kok, aku minta 1 juta dollar saja," jawab Amber enteng. "Aku mau mengirim uang untuk adikku yang mau dioperasi."


Richard mengangguk. "Baiklah, nanti aku berikan kamu cek, kamu cairkan sendiri saja uangnya ke Bank!" Richard membalikan badannya lalu keluar dari gudang diikuti Amber yang tersenyum riang.


...***...


"Sayang... ayo bangun. Aku sudah menyiapkan makanan yang kamu pesan. Shrimp Spicy Barbeque sama Lemon Pie!"


Edward langsung saja beranjak dari tidurnya dan menyantap makanan yang dibawa Rona tanpa minum ataupun cuci muka. Mulutnya merauh karena rasa pedas dengan keringat membasahi wajah.


"Ini enak sekali sayang..." ucap Edward yang menelan semua makanan seperti tanpa dikunyah.


"Kamu doyan apa kelaparan?" Rona menatap heran sembari menelan saliva berkali-kali. Air liurnya terasa asam melihat Edward melahap Lemon Pie yang menurutnya sangat masam.


Huekkk... heukkk...


"Ah... perutku benar-benar tidak enak!" Edward memegang dinding wastafel untuk menahan tubuhnya. Rona menarik tisu kering lalu mengelap sisa-sisa muntahan di bibir Edward.


"Aku belikan obat pereda mual ya..." tawar Rona. Edward hanya mengangguk lemah. Lalu kembali berbaring di atas ranjang.


Rona menggunakan mantelnya dan meraih kunci mobil yang menggantung di dinding. Lalu menuruni tangga dengan hati-hati karena tubuhnya sendiri sedang tidak baik-baik saja.


"Mau kemana Kakak iparku tersayang?" Roland menghalangi jalan Rona.


"Mau ke apotek," jawab Rona pendek.


"Aku antar ya? Sepertinya Kakak ipar sedang kurang sehat." Roland mendekati Rona lalu mendekap kedua pundaknya. Rona menggerak-gerakkan bahunya, melepaskan tangan Roland.


"Apa kamu senang kalau aku kesusahan, Roland?" Rona memelas. "Gara-gara kamu, Leona jadi membenciku!" Rona cepat-cepat pergi dari hadapan Roland, dia tidak ingin Leona semakin murka dan salah paham.


"Maafkan aku Rona..." lirih Roland.

__ADS_1


Leona yang memperhatikan suaminya dari lantai atas. Menggeram dengan tangan yang dikepal. Dia merasa cemburu karena Roland lebih memperhatikan Rona ketimbang istrinya sendiri.


"Aku harus bagaimana untuk mendapatkan hatimu? Aku sudah capek menjadi orang baik. Jujur saja aku tersiksa dengan sikapku saat ini, tapi ini semua karenamu, Kak...."


...***...


"Permisi Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pegawai apotek.


"Saya membutuhkan obat lambung dan test pack...."


"Baik, tunggu sebentar Nona."


Rona mengangguk lalu mendaratkan tubuhnya di atas bangku kosong. Dia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku mantel lalu membuka email dan akun sosial media. Banyak yang mencarinya karena sudah beberapa hari tidak nampak di Rumah Sakit.


"Dokter Rona..." sapa seseorang. Rona menolehkan kepala lalu tersenyum hangat.


"Dokter Brandon!" Rona berdiri lantas menjabat teman sejawatnya.


"Apa kabar, sudah lama ya kita tidak berjumpa?!" Brandon melepaskan jabatan tangannya. "Saya dengar Dokter Rona, resigned. Benarkah?"


Rona mengangguk seraya mengajak Brandon untuk duduk di sampingnya. "Iya, Dok. Saya mengundurkan diri."


Brandon manggut-manggut tanda mengerti. "Semoga secepatnya mendapat pekerjaan lagi ya, Dok." Brandon terdiam sesaat. "Kebetulan sekali kita bertemu di sini, ada yang ingin saya sampaikan."


Rona mengerutkan keningnya. "Apa itu Dok?"


Brandon mengeluarkan ponselnya kemudian memperlihatkan foto seseorang. "Ini sahabatmu, kan?"


Rona mengangguk. "Iya, ini Nath sahabatku. Ada apa memangnya?" tanya Rona penasaran. Perasaannya mendadak tidak enak, melihat ekspresi Brandon yang berubah muram.


"Dia pasienku. Saat ini dia berada di penjara, kan?" Brandon menyimpan ponselnya kembali lalu menoleh ke arah Rona sekilas.


"Iya, dia sedang menjalani masa tahanan. Lalu apa yang terjadi padanya?" tanya Rona khawatir.


Brandon menahan saliva, tenggorokannya terasa kering. "Dia mengidap penyak—"


"Nona Rona, obatnya sudah siap," ucap pegawai apotek. Rona berdiri lalu meninggalkan Brandon yang belum selesai berbicara.


...***...


...Maafkan hari minggu banyak acara kondangan, baru Up jam segini 🙈...


...Terimakasih untuk semua yang masih setia dengan novelku....

__ADS_1


...Salam sayang,...


...Senja Merona...


__ADS_2