Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Test Pack


__ADS_3

Pagi yang bersemi, tetapi berkabut nestapa. Dunia yang indah, runtuh seketika. Tangannya bergetar memegang benda pipih yang dia temukan di dalam laci meja rias putrinya. Benda pipih yang terbuat dari plastik dengan tanda dua garis di tengahnya.


"A- apa putriku...? Apa ini milik putriku?" Tubuh wanita tua itu melemas dan menjadikan ujung lemari sebagai pegangan.


"Ba- bagaimana bisa putriku hamil. Ah tidak-tidak ini pasti bukan milik putriku. Putriku bukan seorang jalangg sepertiku!" Mata Amber memanas, dia mendengar suara putrinya dari dalam kamar mandi tengah mengeluarkan isi perutnya.


"Leona!" bentak Amber. "Jujur sama Mom, kamu muntah-muntah karena masuk angin atau efek morning sick?"


Mata Leona mencelang, dia terperangah mendengar pertanyaan yang dilontarkan ibunya secara tiba-tiba. Bibirnya mengatup, Leona memilih bungkam.


"Jawab Mom, Leona. Jawab!!!" Amber menarik rambut Leona ka belakang, membuat kepala Leona mendengak.


"Ah... sakit Mom ... tolong lepas," rengek Leona seraya berusaha menarik cengkeraman tangan Amber di rambutnya. Namun, Amber mencengkeram lebih kuat.


"Cepat katakan, test pack ini milik siapa, hah? Jawab Mom Leona!!" sentak Amber yang memperlihatkan benda di tangannya.


Rona dan Edward yang berada di ruang makan sontak terperanjat mendengar suara teriakan Amber dari balik kamar Leona. Mereka bersitatap lalu berjalan tergopoh-gopoh menaiki anak tangga.


"I- itu milik Leona Mom..." ungkap Leona yang diiringi tangisan. Amber yang naik pitam dia menjambak rambut putrinya dan menampar wajah Leona berkali-kali lalu mendorong gadis tak berdaya itu hingga terjungkal. Namun, untung saja Leona mampu menopang tubuhnya menggunakan kedua tangan.


Rona yang melihat Leona terjerembab dengan wajah berlinang air mata, segera berlari ke arah adik iparnya itu lalu membantu untuk berdiri.


"Apa yang Mom lakukan?" bentak Edward mendorong kasar tubuh Amber.


"Jangan sentuh aku anak kurang ajar. Harusnya kamu tanya sama adik kesayanganmu. Dosa apa yang telah dia perbuat!"


Edward melihat ke arah Leona, sejujurnya dia juga menaruh curiga atas kondisi adik satu-satunya itu. Namun, dia memilih untuk menyimpan prasangkanya.


Edward mendekati Leona lalu memeluknya. Dia membelai lembut rambut adiknya kemudian mengecup kening. "Katakan pada Kakak, apa yang sebenarnya terjadi? Kakak janji, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyentuhmu!" Edward menoleh ke arah Amber, membidik wajah ibu tirinya yang murka.


Leona menatap bola mata yang dalam lalu melirik ke arah netra mata yang teduh. Dia menundukkan kepala seraya mengungkapkan rahasia besar yang dia pendam.


"A- aku diperkosa Kak...!" lirih Leona yang membuat perasaan semua orang serasa tertusuk sembilu. Edward memaku, tubuh Rona membeku. Sedangkan Amber berjalan mendekat dengan kepalan tangan yang mengerat.


"Katakan siapa yang sudah menodaimu, Leona? Mommy akan memberikan dia perhitungan sekarang juga!"

__ADS_1


Di tengah-tengah isakan, Leona memaksakan diri untuk berbicara. Kepalanya menegak, matanya mengarah ke posisi di mana Rona berdiri.


"O- orang yang menyetubuhi, merusak kehormatan Leona adalah pria yang bernama Nath. Dan dia sahabatnya Kak Rona."


Bagai tersambar petir, tubuh Rona seolah membatu. Belum usai rasa sakit dikhianati oleh sahabat sendiri, kini dia mendengar fakta lain tentang sahabatnya yang lebih memilukan.


PLAKKK!!


Amber menampar wajah Rona.


PLAKKK!!


Tamparan kedua mendarat. Rona tidak mengelak sedikit pun karena pikirannya tengah melayang. Dia pasrah saja ketika Amber melayangkan pukulan berkali-kali. Pipinya memanas, tetapi Rona tetap bergeming.


"Ini pasti gara-gara kamu wanita sialan! Kamu pasti yang menyuruh pria bejat itu untuk menodai anakku! Wanita lugu sepertimu, memang menyimpan bau busuk!!!"


Amber mengangkat tangannya kembali bersiap untuk menghajar Rona. Namun, tangan Edward mencekalnya. "Ini bukan kesalahan Rona, ini karma dari apa yang aku perbuat Mom. Kalau mau menghukum seseorang, hukumlah aku!" Edward mencondongkan wajahnya.


"Kalian bertiga membuatku gila!" Amber mendorong tubuh anak tirinya lalu menarik rambutnya sendiri. Dia menarik langkah membawa amarah lalu memutar kepala. "Bawa aku pada pria bejat itu, aku ingin memberinya pelajaran!"


"Kenapa Nath, kenapa...?" Rona berteriak sekeras mungkin. Tangisan pecah, tubuhnya bergetar hebat.


Hati Edward tersayat melihat kedua wanita yang dia sayangi turut terpuruk oleh pria yang sama. "Ini salahku. Ini dosaku!" Edward merutuki dirinya sendiri.


...***...


Sementara Richard yang baru saja sampai dari Rumah Sakit, dia mencari istrinya. "Amber... Amber. Ambilkan aku minum!" Richard duduk di atas kursi panjang, menyandarkan punggungnya dengan kaki yang menjulur ke depan.


"Amber...! panggilnya lagi. Namun, yang datang menghampiri malah Fiona.


"Mana istriku? Kenapa aku panggil dia tidak menyahut, apa dia pergi?" tanya Richard geram.


Fiona bingung harus menjawab apa pada majikannya, dia akhirnya memilih diam membisu. Richard yang tidak peduli akan keberadaan Amber, dia memilih memejamkan mata, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.


Sedangkan di bagian bumi yang lain,

__ADS_1


"Gas dong mobilnya Edward! Kenapa lambat sekali?" Amber yang sudah tidak tahan, terus saja mengoceh tidak jelas.


"Sabar Mom, sebentar lagi kita sampai!" ujar Edward yang menghentikan laju mobilnya karena lampu lalu lintas berubah merah.


"Terobos saja, apa susahnya sih? Perkara kena teguran, itu urusan belakangan. Kita punya uang dan kuasa, bebas berbuat sesuka hati!" racau Amber yang membuat Edward naik darah.


"Please Mom, diam. Aku pusing mendengar ocehan Mom dari tadi seakan tiada habisnya!" Edward menyalakan lagu metal dengan irama musik yang menghentak. Amber teriak-teriak, tetapi suaranya bagai buih di lautan.


Lima belas menit kemudian, keduanya sampai di tempat yang dituju. Amber berjalan dengan langkah yang lebar. Memintasi tatapan orang-orang asing. Lalu berbicara dengan lantang tanpa segan dengan pria berseragam di depannya.


"Tolong pertemukan saya dengan penjahat yang bernama Nath Lucano!" pinta Amber pada petugas kepolisian.


"Baik, Nyonya. Tapi maaf, hanya boleh satu orang yang menemui tahanan," jawab pria di hadapannya seraya menyodorkan buku daftar pengunjung.


"No problem!" sahut Amber seraya menarik pena lalu menuliskan namanya di atas kertas putih.


"Silakan ikut saya!" ucap pria tersebut mempersilakan. Amber mengangguk lalu mengikuti dari belakang. Dia diminta menunggu lalu duduk di atas bangku kayu.


Betapa terkejutnya Amber, saat melihat wajah seseorang yang sudah satu bulan menghilang. Keluar dari arah penjara dengan kedua tangan diikat rantai besi dan didampingi dua orang sipir.


"Josh...!" Amber memanggil nama samaran Nath. Laki-laki yang dia panggil namanya, mendongak lalu melayangkan senyuman.


Amber bingung karena dia mengenali pemuda di hadapannya dengan nama Josh Eagle. Sedangkan nama yang tersemat di atas baju tahanannya, Nath Lucano.


"Jadi, kamu sebenarnya siapa? Josh atau Nath?!"


...*****...


...Amber.. Amber... kebanyakan gaya. Kan shock, kan......


...Terimakasih banyak untuk semua dukungan untuk novel karya Senja dan Senja pribadi....


...Selamat malam dan semoga sehat selalu....


...Love You all...

__ADS_1


__ADS_2