
"Berhenti atau dengan terpaksa kami akan menembak anda Nyonya!" Polisi memberi peringatan, Amber masih saja berlari. Kemudian satu tembakan akhirnya diluncurkan kembali dan mengenai kaki kanannya.
DORRR!!!
Petugas kepolisian terpaksa melumpuhkan Amber dengan satu tembakan. Namun bukan Amber namanya kalau menyerah begitu saja. Dengan kondisi kaki yang pincang, dia masih sempat berusaha melarikan diri.
Peluru kedua diluncurkan dan diarahkan pada kaki kiri Amber. Wanita tua itu terjungkal ke atas trotoar. Tubuhnya roboh dengan darah yang mengalir dari kedua kakinya yang terluka. Dua orang polisi menarik badan Amber dan mengamankannya seraya menunggu tiga unit ambulan datang untuk mengevakuasi Richard serta Leona dan membawa Amber untuk diobati.
Kondisi Mansion kacau balau, Richard yang masih saja pingsan sedangkan Leona dengan luka dalam di lehernya. Rona menekan luka tersebut menghentikan darah yang keluar dari bekas sayatan.
"Edward tolong telepon Roland, bagaimanapun juga dia suami Leona. Dia harus tahu kondisi istrinya!" titah Rona. Dia memberikan ponsel miliknya dan Edward segera menghubungi adik iparnya itu.
Leona meraba lengan Rona. "Kak maafkan Leona ya..." pintanya dengan suara yang tercekat.
Rona menggenggam tangan Leona. "Bertahanlah Leona. Demi janin yang kamu kandung."
Kepala menggeleng. "Leona sudah tidak kuat Kak... Leโ"
"Itu ambulan datang!" ucap Edward yang bersiap mengangkat tubuh Leona, tetapi Roland datang mendahuluinya. Dia membopong Leona dan berjalan cepat menuju bangkar ambulan.
Sementara Richard, dia diangkat oleh dua petugas medis. Edward mengikuti dari belakang dan Rona menyusulnya.
"Kamu temani Leona saja, dia membutuhkanmu..." pinta Edward yang memegang pintu ambulan. Dia menatap Richard yang tengah dipasang alat bantu pernapasan.
"Ta- tapi..." timpal Rona yang tidak nyaman karena harus berdekatan dengan Roland.
"Tidak apa-apa. Aku paham betul bagaimana Roland." Edward naik ke dalam kendaraan yang membawa Richard. Rona dengan gamang dia melangkahkan kaki menuju ambulan di sampingnya.
Rona duduk berhadapan dengan Roland. Dia melirikan mata, tampak pria di depannya memandang ke arah Leona dengan mimik muka penuh kekhawatiran.
"Jangan melihatku seperti itu Rona. Aku bukan binatang yang tidak punya hati. Melihat istriku dalam kondisi tidak berdaya seperti saat ini, aku ikut terguncang!" Tatapan Roland beralih ke arah Rona, menyatukan tatapan. Rona memalingkan wajahnya.
"Ma- maaf bukan maksudku seperโ"
__ADS_1
"Sudah, jangan banyak bicara, lebih baik diam dan doakan adik iparmu bisa selamat!" Roland menarik tangan Leona lalu mengecupnya.
Rona mengerutkan kening, menajamkan penglihatannya melihat sikap Roland pada Leona yang jauh berbeda tidak seperti biasanya.
...****...
"Kakiku..." raung Amber saat satu peluru berhasil dikeluarkan. Dia meraung kembali ketika peluru kedua dicongkel dari salah satu kakinya.
"Jangan menangis Nyonya, kami sudah memberikan anda peringatan. Namun anda tidak bisa berkooperatif dengan kami!" seru salah satu anggota. Dia memasangkan borgol ke pergalangan tangan Amber dan menyuruh wanita tua itu untuk turun dari ranjang pasien.
"Saya ingin memanggil pengacara saya. Saya tidak terima diperlakukan layaknya seorang penjahat seperti ini. Awas saja, kalian semua akan saya tuntut!" Amber mengarahkan jari telunjuk, menantang pria berseragam di depannya.
"Sudahlah Nyonya, apapun yang ingin anda katakan ... sampaikan saja nanti di kantor Polisi."
Amber ditarik paksa dengan luka yang masih basah. Dia berjalan sempoyongan, dan lagi-lagi menangis. "Tolong Sir, pakai kursi roda saya tidak kuat berjalan," rengek Amber yang tidak mendapat respon. Dia diseret menuju mobil tahanan, dengan kondisi kaki dibalut perban. Darah merembes, Amber merintih.
"Bagaimana Mom, apa sudah bertaubat?" Edward yang sedari tadi menunggu Amber digiring keluar kamar perawatan, bertanya dengan sinis.
Edward mengusap cairan yang mengenai wajahnya lalu menyeringai. "Ini balasan atas perbuatanmu sendiri, wanita ular!"
Amber mengacungkan jari telunjuknya. "Dengarkan aku baik-baik! Selama nyawaku masih utuh, aku tidak akan membiarkan kalian hidup tenang. Aku tidak main-main dengan ancamanku!"
Edward mendekatkan jaraknya. "Sepertinya keinginanmu tidak akan tercapai, Amber. Karena sebentar lagi kamu akan mati dengan penyakit kelamin!" Edward menatap sekilas ke arah petugas yang memegang lengan Amber. "Silakan bawa perempuan ini, sebelum dia menggigit kalian dengan bisa mematikan!"
Amber diseret kembali dan didorong secara kasar untuk masuk ke dalam mobil tahanan. Dia menggumamkan umpatan dan juga sumpah serapah.
...***...
Seorang wanita berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU, menanti kabar keadaan mertua dan adik iparnya. Berkali-kali dia melihat ke arah pintu berharap ada seseorang yang keluar, namun pintu di hadapannya tertutup dengan rapat.
"Tidak bisakah kamu diam dan berhenti berjalan bolak-balik seperti setrika yang panas Nyonya Edward?" geram Roland. "Kalau tidak diam juga, akan aku pastikan tubuhmu itu berada dalam pelukanku sekarang juga!"
Rona menelan saliva lalu memicingkan matanya. Dia mendengus kesal dan terpaksa mendaratkan tubuhnya di samping Roland, karena tidak ada lagi tempat duduk yang tersedia.
__ADS_1
"Kamu manis kalau patuh seperti ini," sindir Roland. Dia menyimpulkan senyuman karena bisa berada sedekat ini dengan wanita pujaannya.
"Ehm..." deham Edward cemburu. Dia duduk di tengah-tengah adik ipar dan istrinya, membuat Roland menggerutu dan terpaksa mengalah. Dia berdiri seraya melipat kedua tangan di atas dada.
"Sikapmu tidak pernah berubah, Edward. Masih saja tengil!" cibir Roland mengerlingkan bola matanya.
Edward terkekeh, tangannya merengkuh pundak Rona lalu mengecup pipi kirinya. "Apa yang sudah dilakukan lelaki buaya ini? Apa dia menggodamu?"
Rona memberi sanggahan dengan gerakan kepalanya. "Sudahlah sayang... abaikan saja pria kesepian itu. Mending kita berdoa untuk keselamatan Papa Richard juga Leona."
Edward mengangguk. Dia menggenggam tangan Rona dan menghembuskan napas kasar. "Di sini ada tempat peribadatan?"
"Ada, di ujung koridor. Di depan tangga menuju apotek, di situ ada ruang khusus ibadat," sela Roland yang menguping pembicaraan sepasang suami istri. Edward mengajak Rona untuk berdoa dan meninggalkan Roland seorang diri.
"Kalau sudah ada kabar mengenai keluargaku, hubungi saja kami...."
"Hm..." jawab Roland malas.
15 menit kemudian
"Keluarga pasien?" tanya seorang perawat.
"Saya suami pasien..." aku Roland.
"Em... maksud saya keluarga pasien Mr. Richard?" Perawat mempertegas pertanyaannya.
"Saya menantunya..." imbuh Roland yang sudah gereget menunggu kabar mengenai istrinya, namun yang ada malah kabar mertuanya.
"Baiklah Tuan... hasil diagnosis pasien atas nama Richard Liam, terdapat gumpalan darah di kepala yang terjadi di luar pembuluh darah. Ini akan sangat beresiko sekali. Karena itu kami meminta persetujuan untuk mengambil tindakan operasi, kalau tidak kita bisa kehilangan nyawa pasien kapanpun juga." Perawat tersebut menyodorkan surat tanda menyetujui operasi untuk ditandatangani keluarga pasien.
...***...
...Maaf lagi, telat lagi ๐๐...
__ADS_1