Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Puber Kedua


__ADS_3

Memang benar adanya kalau keluarga adalah harta yang paling berharga. Tempat kembali pulang ketika dunia bermuram durja. Tempat yang selalu menanti kita dengan sambutan hangat penuh cinta. Dan tempat terakhir di mana akhir hidup meninggalkan kisahnya.


Seorang anak yang bertahun-tahun lamanya kehilangan sosok ayah penyayang, sosok laki-laki yang bijak. Kini perlahan dia mendapatkan semuanya kembali.


Sempat berpikir bahwa Tuhan tak adil pada dirinya, saat Dia merenggut kebahagiaannya secara bertubi-tubi. Mencuri kehidupan ibunya dan mengambil kasih sayang sang ayah karena kehadiran wanita baru di kehidupannya. Karena itu, saat ini dia seolah tidak ingin berada jauh dengan sosok itu. Dia yang terus menghimpit tubuh renta dan menggenggam tangan yang mulai keriput.


Sementara dari balik kaca spion sang istri memperhatikan dengan raut berseri. Dia tidak peduli kalau suaminya terlihat seperti anak kecil yang manja. Dengan melihat ekspresi wajah sang suami diliputi kebahagiaan menjadi suatu kebahagiaan juga untuknya.


"Ayo Pa, turun..." ajak Edward pada Richard yang masih berdiam diri.


"Tidak ah, Papa menunggu di dalam mobil saja," jawab Richard ketus tanpa menoleh.


"Ayolah Pa..." bujuk Edward yang ingin Richard berbaikan dengan Maria.


"Sekali tidak, tetap tidak! Papa masih ingat bagaimana wanita itu memperlakukanmu ... menghinamu, Edward!" geram Richard yang bersikukuh tidak ingin menemui Maria.


"Huh... dasar pria tua bangka! Sudah bau tanah pun masih saja memendam dendam!" sungut Edward memancing Richard untuk turun dari mobil. Dan benar saja pria paruh baya itu keluar untuk mengejar putranya.


"Dasar anak kurang ajar!" Richard melepas topinya kemudian memukul kepala Edward menggunakan penutup kepalanya itu.


Rona yang menyaksikan pertikaian antara ayah dan anak tersebut, tertawa terpingkal-pingkal. Lantas meninggalkan keduanya untuk masuk ke dalam rumah yang pintunya sedikit terbuka.


"Ma... Rona pulang," teriak Rona mencari keberadaan Maria. Dia mengendus aroma yang membuat perutnya kembali bergoyang dan menarik kakinya untuk melangkah menuju dapur. Terlihat Maria dan Ezio sedang memberi topping whipped cream dan lemon curd di atas pavlopa.


Ezio yang menyadari keberadaan ibunya langsung beringsut dari atas kursi kemudian berlari. "Mommy... Mommy akhirnya pulang. Ezio punya sesuatu untuk Mommy...."


Ezio menuntun tangan Rona dan memperlihatkan makanan yang dibuat Maria dengan dirinya. "Lihat Mommy, ini Ezio yang buat bersama Oma Maria."


"Waw... ini pasti lezat sekali. Mommy jadi lapar!" Rona menyapu sekeliling bibirnya seraya mengelus-elus perutnya. "Mommy jadi tidak sabar ingin langsung menghabiskannya." Rona mencolek whipped cream menggunakan telunjuknya, Maria mengeplak tangan Rona.

__ADS_1


"Ish, jorok! Cuci tangan dulu sayang, baru boleh colek-colek," cerca Maria yang memperlakukan Rona seolah Marissa putrinya.


Tiba-tiba terdengar keributan dari arah ruang tamu, mengalihkan perhatian Rona dan juga Maria. Maria dengan keningnya yang mengkerut bergegas untuk melihat apa yang tengah terjadi di dalam rumahnya. Matanya tidak sengaja bersitatap dengan Richard.


"Eh ternyata ada mantan besanku," sindir Maria pada pria yang memicingkan mata ke arahnya. Maria mengulurkan tangan untuk berjabatan, Richard memalingkan muka.


"Kita sudah tua Tuan Richard, besok lusa bisa saja maut menjemput. Apa anda ingin membawa kebencian ke liang lahat?" ujar Maria dengan tangan yang masih mengulur menunggu Richard menyambutnya.


Richard terpaksa menolehkan sedikit kepalanya lalu mengulurkan tangan sesaat dengan mulut yang bersungut-sungut. "Aku belum mau mati, kamu duluan saja sana!"


Maria menggeleng-gelengkan kepala mendengar ocehan Richard. "Mohon maafkan semua kesalahan saya di masa lalu. Saya tahu dulu sangat keterluan pada anakmu. Tapi itu semata-mata karena saya sangat terpukul kehilangan Marissa."


Richard mendengus pelan, memutar badannya menghadap Maria. "Baiklah... kita tutup masa lalu dan membuka lembaran baru. Lagi pula kamu sudah bersikap baik pada menantuku. Jadi tidak ada alasan untuk meneruskan peperangan kita."


Senyuman merekah di antara bibir Maria, menjelang usia senjanya dia terus berdamai dengan diri dan hidupnya. "Oh iya... saya dan Ezio membuat pavlopa untuk kalian. Mari dicicipi...."


Maria mengajak semua orang menuju ruang makan. Di atas meja, sudah terhidang beberapa jenis makanan. Semua menelan saliva melihat sajian yang menggoda mata.


"Ini untukmu Tuan Richard," ucap Maria menyodorkan piring berisi makanan yang diinginkan Richard.


Richard menoleh ke arah Maria dengan senyuman yang terukir semanis mungkin. "Terimakasih Maria... ma- maaf maksud saya Nyonya Maria."


Maria mengangguk lalu menelisik raut Richard yang mencicipi makanannya. "Bagaimana, enak tidak?"


Richard nampak berpikir, dia menggeram dengan biji mata yang berputar-putar. Maria menunggu jawaban dengan tidak sabar.


"Bagaimana?" ulang Maria.


"Em... ini sangat enak, Maria!" puji Richard dengan mengolengkan kepala.

__ADS_1


"Benarkah?" sahut Maria berbinar.


"Benar... ini benar-benar enak!" Richard mempertegas pujiannya. "Kalau begitu boleh saya sering-sering berkunjung ke rumahmu, Maria?"


Edward yang mengendus gelagat tidak mengenakan dari ayahnya, memotong pembicaran kedua orang tua di hadapannya.


"Wah... sepertinya ada yang mengalami masa pubertas kedua nih!" pukas Edward mengerling ke arah Richard. Rona mencubit paha Edward, suaminya hanya terkekeh.


"Kamu ya... iseng sekali!" bisik Rona karena kelakuan pasangannya. Edward hanya mengekeh sambil mengelus-elus pahanya yang dicubit sang istri.


"Nanti di rumah saja main cubit-cubitannya sayang. Pusakaku kamu cubit berkali-kali pun, aku pasrah!" seloroh Edward yang dibalas dengan bergidigan.


Richard yang duduk di samping Edward tidak sengaja mendengar celoteh memalukan putranya. Dia kembali melayangkan pukulan ke arah kepala anaknya. "Jaga sikapmu, Edward! Jaga image-lah sedikit!"


Rona menahan tawa dengan melipat mulutnya. Kemudian membisikkan sesuatu yang membuat mata Edward membelalak. "Mampus! Memang enak?!"


Edward tidak ingin kalah dari istrinya, dia membalas dengan membisikkan kalimat yang membuat Rona menelan ludahnya. "Ya enaklah sayang... apalagi pas kamu menyesap milikku. Uuuhhh...."


Kedua mata bulat nan jernih sibuk bergulir ke sana ke mari, memperhatikan sikap orang dewasa di dekatnya. Dia menyuarakan isi hati seraya melipat kedua tangan di atas dada." Mommy... Daddy... Oma... Opa... kenapa semua mengacuhkan Ezio? Ezio marah! Ezio sebal! Ezio kesal! Semuanya tidak asyik!"


Ezio menggebrag meja dan turun dari atas kursi makannya. Edward berdiri berjalan mengitari meja makan, kemudian memangku tubuh mungil putranya. Dia memberondong wajah sang anak dengan kecupan juga ciuman.


"Maafkan Daddy dan Mommy... Ezio mau kan memaafkan Daddy?" Edward bertanya dengan iris mata menatap hangat putranya.


Ezio menganggukkan kepala lantas memeluk leher sang ayah. "Iya, iya... Ezio maafkan Daddy. Karena kata Mommy, tidak boleh marah lama-lama. Nanti tampannya hilang."


Edward mengacak-acak rambut Ezio lalu mengacungkan ibu jarinya. "Good boy!"


...*****...

__ADS_1


...Maafkan terlambat Up... Ilham masih sulit diajak kerja sama nih. Kabur-kaburan terus... 🙏...


...Terimakasih banyak untuk yang setia dengan karyaku ini, sehat selalu ya......


__ADS_2