
Ketenangan mansion keluarga Liam pagi ini terusik oleh kedatangan Roy beserta orang-orang yang tidak dikenal. Mereka mengaku bahwa mereka adalah utusan dari pengadilan. Selain itu, beberapa orang pengacara pun turut bersama mereka.
"Ada apa kalian datang ramai-ramai ke mansionku?" Edward yang tengah menikmati kopi panasnya, menyalang murka. Dia menghadang orang-orang tersebut seraya berkacak pinggang.
"Aku ingin membawa kembali anakku yang sudah kamu rampas!" jawab Roy tidak kalah menyalang.
Edward tergelak. "Anak? Anak yang mana maksudmu, pengecut?"
Roy tidak menjawab perkataan Edward, dia malah melewati sepupunya itu dan berusaha masuk ke dalam mansion. Mulutnya memanggil nama Ezio berulang kali. "Ezio... Ezio ini Daddy datang, Nak. Ayo kita pulang...."
"Apa kamu tidak diajarkan sopan santun, Roy?" Edward menarik lengan pria di depannya lalu menghempaskan dengan kasar. "Sekarang kamu bawa cecunguk-cecunguk ini pergi. Sebelum aku panggilkan pihak yang berwajib!"
"Aku tidak akan pergi tanpa Ezio di tanganku!" Roy kembali menerobos pertahanan Edward. Suaranya bertambah lantang memanggil nama sang anak. Semua orang yang mendengar keributan di depan mansion, berbondong-bondong keluar untuk mencari tahu ada perkara apa, tidak terkecuali Rona dan Ezio.
"Ada apa ini. Dan kalian siapa?" tanya Rona kepada orang-orang yang mengenakan jas berwarna hitam.
Salah seorang dari mereka melangkah maju lalu menyodorkan sebuah map dengan logo family law. "Kami dari pihak pengadilan, Nyonya. Kami diperintahkan untuk membawa putra Tuan Roy, yang bernawa Ezio Roy Liam. Dan itu surat perintahnya."
Rona membuka berkas tersebut dan mulai membacanya dengan saksama. Dia sudah membayangkan ini semua sebelumnya, kalau Roy akan membawa masalah hak asuh Ezio ke pengadilan.
Edward berjalan gusar lalu merebut berkas yang berada di tangan sang istri. Berkas tersebut dia cabik-cabik kemudian dilemparkan ke arah beberapa pria di hadapannya. "Ezio anak saya, tidak ada satu pun yang bisa merubah itu semua. Saya memiliki birth certificate (Akta Kelahiran) yang menyatakan bahwa Ezio anak kandung saya!"
"Anda bisa mengajukan banding nanti ke pengadilan. Namun, data-data yang kami terima dari Tuan Roy sangat akurat. Tidak bisa menafikan bahwa ananda Ezio adalah putra tunggal dari Tuan Roy. Dan kami di sini hanya menjalankan tugas," jawab pengacara Roy.
"Tugas, tugas apa? Tugas mengacau ketenteraman keluarga kami, iya?" Edward mengangkat ponsel mengancam untuk melaporkan Roy dan lainnya ke pihak keamanan. Akan tetapi, tawa meremehkan yang dia dapatkan.
"Silakan telepon saja, aku tidak takut. Paling yang digiring ke kantor Polisi adalah kamu sendiri, Edward. Karena telah berani melawan pihak pengadilan!" ujar Roy mengesalkan. "Ayolah ... jangan membuat semua ini menjadi rumit! Kamu hanya perlu menyerahkan Ezio padaku. Selesai urusan!"
"Apa katamu?" Edward menghajar wajah Roy dengan tenaga penuh. Pemuda itu terjerembab seraya meringis kesakitan. Namun, Roy sengaja tidak membalas perlakuan Edward agar pihak pengadilan merasa yakin memberikan hak asuh Ezio padanya.
__ADS_1
"Tuan-tuan lihat sendiri bukan, bagaimana kasarnya Tuan Edward? Ayah mana yang tega membiarkan putranya tinggal bersama pria arogan dan berhawa pembunuh seperti ini!" cibir Roy memancing amarah Edward.
"Apa kamu bilang?!" Edward menghantam Roy yang berpura-pura tidak berdaya di atas lantai. Roy membiarkan Edward memukulinya, hingga ucapan pihak pengadilan menghentikan kebrutalannya.
"Hentikan itu Tuan Edward, kami bisa menuntut anda dengan hukuman 15 tahun penjara!" ancam salah satu pria berjas hitam. "Dan dengan terpaksa, kami akan membawa ananda Ezio bersama kami sekarang juga. Agar terhindar dari lingkungan yang bisa membuat psikologisnya terganggu!"
"Tidak ada yang bisa membawa Ezio dari kami!" teriak Rona saat salah seorang dari bagian perlindungan anak mendekati putranya. "Ezio adalah anak kami, cucu dari Richard Liam!" Rona merengkuh erat tubuh sang anak, tidak ingin siapa pun merampas malaikat kecil itu darinya.
Roy berjalan sempoyongan ke arah Rona, kemudian berlutut. "Kumohon ... berikan Ezio padaku. Jangan menjadi orang yang egois dan rakus! Anda sebentar lagi akan melahirkan, pasti putraku akan anda singkirkan pelan-pelan."
"Biarkan Ezio tinggal dengan ayah kandungnya dan anda hidup bahagia dengan anak-anak anda," tambah Roy sinis. "Impas, kan?" Roy menarik lengan Ezio dari dekapan Rona. Anak kecil itu menangis histeris menggenggan erat jemari ibunya.
"Tidak mau ... Ezio tidak mau pergi bersama Om. Om jahat, Ezio benci sama Om!" rengek Ezio mengibas-ngibaskan cengkeraman tangan Roy.
Roy menoleh ke belakang. "Anda semua bisa melihatnya, kan? Anak saya didoktrin untuk membenci saya, ayahnya!"
"Jangan mengada-ada kamu, Roy!" bentak Rona. "Kami tidak pernah memengaruhi Ezio untuk membenci siapa pun! Kami selalu mengajarkan kebaikan, sikapmu lah yang membuatnya takut!" sergah Rona.
Roy memilih mundur dan membiarkan pihak pengadilan serta pengacaranya yang melakukan kewajiban. Dia cukup menunggu dengan santai sembari bertopang kaki di dalam mobil.
"Nyonya ... kami mohon kerja samanya. Tolong berikan Ezio pada kami," ucap seorang wanita. "Bila Nyonya tetap menghalangi pihak pengadilan untuk bertugas, jangan salahkan kami kalau anda harus berurusan dengan pihak yang berwajib!"
Rona enggan menyerahkan Ezio pada wanita tersebut. Dia tetap mendekap erat putra sulungnya yang terus berteriak dan menangis. "Ezio putra saya, anda tidak berhak!"
Wanita tersebut menarik paksa lengan Ezio, membuat tangis Ezio semakin kencang lantaran rasa sakit di tangannya. Edward yang tidak terima anaknya diperlakukan dengan kasar, sontak saja naik pitam. "Jangan bersikap kasar pada anak saya! Saya tidak akan segan-segan untuk membunuh anda!!!"
Edward menarik rambut wanita itu lalu mendorongnya hingga terjungkal. Ezio kembali ke pelukan sang ibu, batinnya semakin tersiksa. "Mommy... Ezio takut Mommy. Mereka orang-orang jahat, Ezio tidak suka!"
Suasana mulai kacau, hingga salah seorang berteriak mengeluarkan ancaman. "Kalau Tuan Edward dan Nyonya Rona masih terus berupaya menghalangi kami. Dengan terpaksa kami harus membawa anda berdua ke kantor Polisi!"
__ADS_1
"Nak... mengalah dululah, kasihan istrimu. Apa kamu tega melihat Rona digiring ke kantor Polisi dalam kondisi perut membesar seperti itu? Saat ini mengalah saja, nanti kita pikirkan rencana ke depannya." Richard membuka suara karena keadaan sudah semakin tidak kondusif. "Nanti kita bisa bicarakan masalah ini secara kekeluargaan dengan adik Papa, Om Theo."
Edward menoleh ke arah Rona meminta persetujuan, tentu saja Rona menggeleng cepat, tidak ingin menyerahkan Ezio meski hanya sementara waktu.
"Silakan bawa Ezio. Tapi tolong perlakukan anak saya dengan lembut. Jangan sampai psikologisnya terganggu gara-gara sikap kasar kalian." Edward mengalah, dia tidak bisa bersikukuh karena posisi dia dan Rona saat ini lemah.
Rona mengernyit tidak percaya, dengan apa yang didengarnya. "Apa yang kamu katakan, Edward? Kamu merelakan Ezio dibawa oleh mereka? Apa kamu sudah gila?"
Edward tidak menjawab dan membiarkan wanita di hadapannya kembali mendekat pada Ezio. Sekarang ini dia tidak memiliki kekuatan untuk melawan pihak pengadilan. Semuanya terjadi bergitu saja dengan sangat cepat.
"Mari Nak... ikut Aunty. Nanti Aunty belikan Ezio mainan yang banyak," rayu wanita tersebut.
"Tidak mau ... Ezio tidak mau mainan, Ezio hanya ingin dengan Mommy and Daddy," tolak Ezio. "Daddy Ezio cuman Daddy Edward," rengek Ezio.
Perempuan yang mengenakan blazer warna hitam menarik tubuh Ezio dari dekapan Rona. Ezio menggenggam erat tangan Rona sembari menangis tersedu sedan. "Mommy... Ezio takut Mommy. Ezio mau sama Mommy...!"
Rona turut menangis, dia menggenggam tangan Ezio tidak kalah erat. Namun, semakin lama genggaman itu terlepas karena Ezio kini berada pada pangkuan seseorang. Bertambah jauh dan tidak terjangkau. Ezio berteriak memanggil sang ibu, begitu pun juga dengan Rona memekik menyebut nama putranya. Wanita berbadan dua itu terus mengikuti ke mana Ezio dibawa. Tidak ingin berpisah dengan malaikat kecilnya.
"Ezio...!" rintih Rona. Dia menoleh ke arah pria yang berdiri mematung bak seorang pecundang. "Edward bodoh, bawa kembali Ezio padaku. Kenapa kamu diam saja, bodoh...?!"
"Ezio... jangan pergi, Nak ... Mommy ingin bersama Ezio." Rona mengulurkan tangan. Namun sayang, pintu mobil sudah lebih dahulu ditutup. Dan kendaraan yang membawa Ezio langsung melesat tanpa perasaan.
Rona berjalan menghampiri Edward kemudian menghentak-hentakkan kepalan tangan ke atas dada. "Kamu bodoh Edward. Kamu bodoh! Aku membencimu, pengecut!!"
Edward merengkuh tubuh sang istri dan membawanya ke dalam pelukan. Rona masih saja meracau seraya memukul dada lelakinya. Hingga suaranya hilang tertelan isak tangis kehilangan.
"Maafkan aku Rona... aku tidak berdaya...."
...*****...
__ADS_1
...Mohon maaf ya, niat hati ingin double up, tapi gagal terus. Badan masih belum bisa diajak kerja sama ππ₯Ίπ...