
Di sebuah bangunan dengan cat dinding berwarna-warni, di mana anak kecil bermain dengan riang bersama teman-temannya. Terdengar suara-suara mungil yang membuat setiap orang ingin rasanya mengecup dan mencubit pipi-pipi yang menggemaskan. Wajah-wajah polos dengan keceriaan khas, mampu menarik hati siapa pun yang melihatnya.
Dari jauh, seorang pria dan wanita menatap anak laki-laki dengan senyum yang mengembang. Manik mata beranjak ke sana ke mari, mengikuti gerak kaki anak laki-laki tersebut.
"Anakmu ternyata sangat lucu dan tampan, Roy!" seru Jessy sembari mengusap-usap perutnya. Senyuman yang semula melengkung ke atas, kini tertarik ke bawah. "Aku tidak bisa memberimu keturunan, Roy. Tragedi memilukan itu membuat aku harus kehilangan sesuatu yang berharga," lirih Jessy sesak.
"Bersabarlah Jessy ... sebentar lagi kita akan mendapatkan anak itu. Ezio akan menjadi milik kita. Karena sangat jelas, secara hukum aku adalah ayah biologisnya," ucap Roy tersenyum licik.
"I hope so ... lagi pula Rona dalam waktu dekat ini akan melahirkan, kan? Aku rasa dia akan merelakan anak itu untuk kita," sahut Jessy percaya diri.
Roy memiringkan badan dan meraup wajah cantik kekasihnya. "Mau tidak mau, dia akan merelakan Ezio untuk kita. Karena aku sudah memiliki hasil tes DNA, yang menyatakan kalau gen aku dengan anak itu memiliki kecocokkan."
Jessy sumringah lantas merebahkan kepala ke atas bahu lelakinya. "Aku sudah tidak sabar mengarungi bahtera rumah tangga denganmu, Roy! Bertiga dengan putra kita, Ezio."
Kedua pasangan kekasih itu beranjak dari tempat mereka berdiri karena Ezio terlihat tengah menunggu seseorang di depan sekolahnya.
"Hai... adik manis. Kenapa sendirian di sini, Mommy-nya mana?" tanya Jessy menyejajarkan tubuhnya dengan Ezio. Ezio yang tidak mengenali orang asing di hadapannya, dia sontak berjalan mundur. Namun, Roy lebih dahulu berdiri di belakang sembari merentangkan tangan.
"Kami bukan orang jahat kok," timpal Roy. Dia membungkukkan badan lalu mengusap-usap kepala Ezio. "Kami teman dekat Mommy Rona sama Daddy Edward," tambahnya memengaruhi pikiran Ezio.
Ezio melihat ke arah Jessy lantas menatap ke arah Roy. Dia pura-pura tersenyum ramah lantas menginjak kencang kaki Roy. Anak kecil dengan tas biru di punggungnya, berlarian ke dalam sekolah sembari berteriak meminta tolong.
"Miss... help... di luar ada penculik!" teriak Ezio memanggil gurunya.
Seorang gadis muda keluar dari dalam bangunan cat warna-warni tersebut, dengan raut cemas juga terkejut. "Ada apa, Ezio sayang? Kenapa berlari-larian?"
Ezio menoleh ke arah Roy dan Jessy sembari menunjuk ke arah mereka. "A-ada orang asing, Miss. Ada penculik!"
__ADS_1
Sepasang kekasih tersebut berjalan mendekat memperlihatkan senyum ramah jua sopan. Tidak ada guratan mencurigakan maupun menakutkan. "Kenalkan, nama saya Jessy dan ini kekasih saya, Roy."
Jessy mengulurkan tangan ke arah guru Ezio bergantian dengan Roy. "Kami bukan penculik. Kekasih saya ayah kandung anak ini. Dia hanya ingin melihat Ezio karena merindukan putranya."
Wanita yang dipanggil miss tersebut mengerutkan kening lantas memeluk Ezio sangat erat. Dia tidak ingin memercayai perkataan wanita asing di depannya begitu saja. "Ezio putra dari tuan Edward dan saya mengenalnya. Jadi, anda jangan coba-coba untuk menipu saya!"
Roy merogoh saku jas dan mengeluarkan dua lembar surat. "Ini bukti nyata kalau saya ayah kandung Ezio, hasil pemeriksaan dari Rumah Sakit. Silakan anda cek keabsahannya."
Guru sekolah Ezio yang bernama miss Dara, mengambil surat yang disodorkan Roy lantas membacanya dengan saksama. Dia sesekali melirik ke arah laki-laki yang mengenakan kaca mata hitam, dengan raut tidak percaya.
"Bagaimana, Miss ... sudah percaya, kan?" tanya Roy sinis.
Miss Dara menganggukkan kepala lemah seraya mengembalikan surat yang dia genggam kepada Roy. "La-lalu maksud anda berdua ke mari, apa? Kenapa tidak datang langsung ke kediaman tuan Edward?"
Roy bersitatap dengan Jessy. Meminta kekasihnya itu untuk membantu dia menjawab pertanyaan Miss Dara. Meyakinkan gadis yang bersurai pirang, bahwa dia tidak memiliki niat jahat kepada Ezio.
Dara manggut-manggut lalu merundukkan badan dengan tangan diletakkan di atas pundak anak didiknya. "Ezio sayang... Uncle dan Aunty ini bukan orang jahat ataupun penculik. Mereka hanya ingin bertemu dan bermain dengan Ezio."
Ezio melihat ke arah Roy menggunakan sudut matanya. "Tapi Mommy bilang, Ezio tidak boleh dekat-dekat dengan orang asing. Uncle dan Aunty ini kan, orang asing Miss!"
Dara masih berusaha meyakinkan Ezio. Beruntung suster Ola lebih dahulu datang bersama Arlo. Gadis itu mengerling ke arah Roy lalu lekas-lekas membawa Ezio dari dekapan Dara. "Kok orang-orang ini mencurigakan ya?"
"Terimakasih ya Miss sudah melindungi Ezio. Tolong jauhkan anak majikan saya, dari orang asing. Siapa pun itu!" sindir Ola karena merasa curiga pada kedua orang di belakangnya.
"Sa-sama-sama Suster," ucap Dara tergagu.
Suster Ola bergegas membawa Ezio ke dalam mobil seraya melirik ke arah Jessy dan Roy. Dia menutup pintu mobil. Namun, sebelum kendaraan melaju, dia menyempatkan untuk mengambil gambar kedua orang tersebut.
__ADS_1
"Ayo jalan, Arlo!"
...***...
Di dalam sebuah mobil, seorang gadis terus-menerus menatap sang kekasih dengan beribu tanda tanya. Ia begitu heran karena kekasihnya itu mengajak dia pergi. Namun, tidak menjelaskan arah tujuannya.
"Kita mau ke mana sih? Kok, kamu tidak mau menjawabnya, Feliks?" ketus Claire melingkarkan tangan di atas dada. Dia merasa kesal lantaran lelakinya itu sedari tadi hanya terbungkam, menutup mulut rapat-rapat. "Ish... aku merasa seperti radio rusak. Didengarkan tapi tidak dianggap!" sungut Claire.
Ocehan Claire tidak diindahkan Feliks. Lelaki itu hanya memasang wajah cool serta kedua biji mata menatap jalanan yang sedikit padat merayap.
"Aku turun di sini saja!" rajuk Claire membuka kunci pintu mobil. Akan tetapi, Feliks sigap mengaktifkan central lock. "Astaga Feliks... kenapa hari ini kamu berubah menyebalkan?" omel Claire.
"Eh... bukan hari ini saja sih, kamu memang menyebalkan setiap hari!" Ralat Claire, berbicara sendiri. Feliks sekuat tenaga menahan tawa karena sikap absurd kekasihnya. Padahal ingin rasanya dia tertawa terbahak-bahak saat ini juga.
"Kita sebentar lagi sampai." Untuk pertama kalinya, Feliks membuka suara. "Ayo pakai penutup mata ini!" titah Feliks melingkarkan kain hitam di atas mata gadisnya.
"Apa-apaan sih Feliks? Sikapmu benar-benar tidak jelas!" cerca Claire. Dia berniat melepas ikatan di matanya. Akan Tetapi, Feliks menahannya.
"Please... jangan dibuka. Percaya padaku," ucap Feliks lembut. Claire mengurungkan tangannya dari membuka kain tersebut.
"Feliks mau apa sih? Laki-laki ini kadang waras ... kadang ada gila-gilanya!" batin Claire di dalam hati.
...*****...
...Mohon maaf, baru Up. Kondisi badan sedang drop 🙏...
...Semoga teman-teman pembaca semua, selalu diberikan kesehatan oleh Allah ta'ala....
__ADS_1