Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Stop it, Arabella!!!


__ADS_3

"Kamu sudah terlalu banyak minum, Arabella!" Terlihat seorang pria merebut gelas yang berisikan minuman keras dari tangannya. Arabella tidak ingin mengalah begitu saja, dia berusaha merebut gelas itu kembali. Namun, pria di hadapannya lebih dulu melempar benda yang dia genggam ke atas lantai. Arabella memicingkan mata seraya mendengus kasar.


"Kamu bukan siapa-siapaku lagi, Roland! Aku sudah tidak menganggapmu Kakakku. Jadi jangan pernah mengatur hidupku lagi. Pergi sana, pergi!!" Arabella mendorong dada bidang lelaki di depannya dengan tubuh terhuyung-huyung.


Roland sigap menahan tubuh Arabella, kedua tangan melingkar di atas pundak adiknya. "Ayo kita pulang... Kakak antar ya?"


Arabella mendelik seraya mencebikkan bibirnya. Dia mengerdikan bahu lalu mencampakkan lengan Roland dari tubuhnya. Gadis itu mengindahkan perkataan saudara laki-lakinya dengan kembali ke depan meja mini bar.


Bibir sensual berwarna merah merona, memanggil seorang bartender kemudian memintanya untuk menuangkan kembali segelas vodka. Dan lagi-lagi Roland mencegahnya.


"Stop it, Arabella! Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada kehamilanmu?" Roland menyeret lengan adiknya, Arabella melawan.


"Lepas!" Arabella menarik lengannya dari cengkeraman Roland, wajahnya merah padam karena amarah. "Justru itu yang aku inginkan, aku ingin bayi di dalam kandunganku mati! Aku masih muda, aku masih ingin menikmati hidup!"


"Tapi bayi itu tidak berdosa, Bella. Dia juga berhak hidup!" sahut Roland yang ingin adik perempuannya menyadari kesalahan.


"Cih, sok bijak!! Kemarin ke mana saja saat adikmu ini membutuhkanmu? Saat aku frustasi dan Kak Roland malah tidak ingin dihubungi. Sementara Mami dan Papi, tidak ada satu pun yang peduli pada nasib putrinya!" lirih Arabella kecewa.


"Kakak hanya ingin kamu bisa hidup lebih mandiri dan bertanggung jawab, Bella. Hanya itu!" Roland menaruh kedua tangan di atas pundak Arabella, Arabella menepisnya.


"Alibi! Yang jelas Kakak asyik sendiri dengan dunia Kakak," lirih Arabella yang merasa kesepian. "Jadi please, biarkan Arabella menikmati dunia Arabella sendiri!"


Kondisi Arabella yang tengah berbadan dua, tidak mengurangi perhatian pria hidung belang terhadapnya. Wanita muda tersebut menghampiri seorang pria yang mengacungkan sebotol minuman ke arahnya, lalu duduk di atas pangkuan dengan senyuman menggoda.


Pria asing itu menuangkan whiskey ke atas dada ranum Arabella lantas menjilat lalu melumattnya. Arabella menikmati setiap sentuhan, bibir sensualnya mengeluarkan suara-suara seksi nan parau.


Kedua mata Roland terbelalak, dia mengeratkan kepalan tangannya seraya berjalan dengan langkah besar. Siapa pun yang melihatnya sudah bisa memastikan kalau dia tengah murka dan bersiap untuk menghancurkan apa pun di hadapannya.


Tangan kuatnya mengangkat satu botol minuman yang tergeletak di atas meja. Dan dengan satu ayunan, Roland menghantam kepala pria yang sudah menyentuh adik perempuannya menggunakan botol tersebut. Pria itu langsung tersungkur dengan darah merah mengalir membasahi wajah.


Arabella menjerit dan langsung beranjak dari pangkuan seorang sugar daddy. Dia menarik lengan Roland untuk secepatnya keluar dari klub malam agar terhindar dari serangan para bodyguard pria tersebut. "Ayo Kak, kita pergi. Sebelum orang-orang suruhannya membunuh kita!"

__ADS_1


"Kakak tidak akan pergi sebelum memecahkan kepala pria bajingann ini!" Roland mengangkat tangannya bersiap melayangkan pukulan. Akan tetapi, cekalan tangan Arabella menghentikannya.


"Ayo kita pulang Kak, Arabella akan pulang sama Kakak." Arabella berbicara sehalus mungkin, meyakinkan Roland untuk menghentikan aksinya. Roland mengangguk dan menuntun tangan Arabella membawanya keluar dari bangunan terkutuk ini.


Di dalam mobil,


"Kamu mau Kakak antar ke mana. Ke rumah atau ke apartemen?" Roland menoleh ke arah Arabella sebelum melajukan kendaraannya.


"Ke apartemen, Kak. Arabella sudah tidak memiliki rumah," jawab Arabella dengan tersenyum getir.


Roland mengangguk lemah lalu memutar kemudi meninggalkan tempat hiburan malam menuju bangunan milik adiknya. "Baiklah... Kakak antar kamu ke apartemen. Kamu sudah makan?"


Arabella menggeleng cepat tanpa ingin menjawab atau pun melihat ke arah Roland. Dia asyik dengan pikirannya sendiri, memandang ke arah jalan raya dengan tatapan kosong.


"Bella?" Roland menyebut adiknya dengan panggilan kesayangan.


"Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi, Kak. Aku tidak suka. Dan Kakak tahu itu!" Arabella melihat dengan sudut mata, memperlihatkan ekpresi wajah tidak suka.


"Oke-oke, maafkan Kakakmu ini, Arabella." Roland menjeda ucapannya, dadanya terasa berat. "Kamu tidak ingin mencari laki-laki yang sudah menghamilimu?" tanya Roland dengan hati-hati karena tidak ingin melukai perasaan adik satu-satunya.


"Kamu tahu di negara mana? Ayo kita cari pria itu, meski ke lubang tikus sekalipun!" berang Roland dengan netra mata berkilatan.


Lagi-lagi Arabella menggelengkan kepala. Terdengar suara helaan napas sebelum dia menjawab pertanyaan kakak lelakinya. "Aku tidak tahu Kak. Karena tidak ada seorang pun yang mau mengatakannya. Meski aku sudah mengiming-imingi mereka uang dengan nominal yang sangat banyak."


Roland mengerang kesal seraya memukul setir mobilnya sangat kencang. Tangannya menarik rambut dengan kasar, bimbang akan nasib adik perempuannya yang amat menyedihkan.


"Ini semua karena Edward. Kalau saja dia tidak membuat kakiku cacat, aku tidak akan bertolak ke Inggris. Dan pastinya aku tidak akan mengalami kejadian memilukan ini!" geram Arabella menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri.


"Itu juga karena kesalahanmu sendiri, Arabella! Setiap melihat pria tampan, kamu dengan sukarela menjajakan tubuhmu. Dan itu hadiahnya!" Roland tersenyum miris seraya menunjuk ke arah perut Arabella yang membulat.


Arabella terkekeh lalu tertawa begitu saja. Tangannya bertepuk serta kepala yang menggeleng-geleng. "Mantra apa yang sudah Leona berikan pada Kakak, hingga membuat Kak Roland berubah 180 derajat seperti sekarang ini? Sampai-sampai Kak Roland melupakan semua rencana balas dendam kita untuk membuat Edward dan istrinya hancur dan hidup dalam penderitaan."

__ADS_1


"Sudahlah Arabella... lupakan semua dendammu! Menyimpan kebencian dan amarah, hanya akan menghancurkan dirimu secara perlahan. Mulai saat ini belajarlah untuk berdamai dengan dirimu sendiri," ujar Roland bijaksana.


Arabella menarik bibirnya tidak simetris lalu membuang muka ke arah jendela di sampingnya. Semua perkataan Roland mulai merasuki akal sehatnya sedikit demi sedikit. "Berdamai dengan diri sendiri, apa aku bisa?"


...***...


"Hentikan itu Edward, aku tidak tahan!" rengek Rona akan rasa geli yang menjalari seisi tubuhnya.


Rengekan Rona terdengar bagai sebuah bisikan untuk membuat Edward semakin dalam memasukkan lidahnya ke dalam tubuh inti. Punggung Rona menegang, miliknya semakin basah. Menandakan bahwa dia telah mendapatkan pelepasan pertamanya.


"Sebentar!" Edward beranjak dari depan ranjang lalu mengambil kaleng soft drink yang sudah disiapkan sebelumnya. Dia mengocok-ngocok kaleng tersebut lantas membuka dengan satu kali tarikan. Minuman tersebut menyembur membasahi tubuh Rona. Rona menggelinjang karena rasa dingin yang menyentuh kulitnya.


Edward merangkak naik, memperlihatkan raut wajah yang berkabutkan gairah. Dadanya merunduk, membersihkan minuman di atas tubuh Rona menggunakan lidah dan bibirnya. Lidahnya berputar-putar, mengecap setiap lekuk dan juga setiap inci. Rona mendongakkan wajah, matanya terpejam merasai setiap sensasi yang baru pertama kali dirasakannya.


Mata terpejam kini terbuka sempurna, karena kepemilikan suaminya telah menerobos tubuh intinya. Kedua tangan kembali mencengkeram kain seprai, bibirnya menganga meloloskan lenguhan. Edward memasukkan jari telunjuk ke dalam mulut Rona, Rona lantas menyesapnya untuk menahan rasa geli dan juga rasa nikmat.


Edward mempercepat gerakan pinggul dengan memaju-mundurkan kejantanannya di dalam dinding uterus. Isapan Rona di jari telunjuk suaminya semakin kuat dan semakin dalam. Kepalanya menengadah menyambut akan rasa nikmat tiada tara.


"Kamu di atas!" Edward membalikkan posisi, dia di bawah sedangkan istrinya di atas. Kini gliran Rona mengambil alih permainan. Punggungnya sangat lincah meliuk-liuk di atas tubuh inti suaminya. Panggulnya pun turut bergerak naik turun membuat Edward mengerang dan merauh.


"Kiss me, baby!" racau Edward mengerucutkan bibirnya.


Rona tersenyum nakal lantas menjulurkan lidah memainkan bibirnya sesensual mungkin. Tangannya meremass dadanya sendiri, menjadikan api gairah suaminya bertambah tinggi.


Tubuh sintalnya turun naik tiada henti menyiksa suaminya dengan rasa geli dan juga rasa nikmat. Hingga suara erangan panjang menyalak dari bibir merah kehitaman, mengiringi puncak kenikmatan yang membasahi rahim sang istri.


Tubuh Rona ambruk di atas dada bidang suaminya, napasnya terputus-putus karena kelelahan akan permainannya sendiri. Tenaganya terkuras hingga tak tersisa, dia terkulai tak berdaya.


"Terimakasih sayang untuk malam ini...," Kalimat sakti yang selalu terucap dari bibir Edward setelah menggagahi istrinya. "Kita lanjutkan besok pagi ya," tambah Edward tanpa mendapat balasan, karena Rona sudah lebih dulu terlelap. Menggapai mimpi indah, yang mana tak seindah kehidupan di dunia nyata.


...***...

__ADS_1


...Terimakasih banyak untuk doa dan dukungan dari teman-teman semuanya....


...I Love you all...


__ADS_2