
Sebuah ruangan terdengar sangat riuh karena teriakan seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba mengamuk saat mengetahui siapa yang telah membuat putrinya dipenjara. Gerakannya yang brutal hampir membuat dua orang petugas keamanan kelimpungan. Dia ingin sekali menyerang wanita muda yang tengah hamil beserta suaminya. Beruntung pihak keamanan bisa menenangkan wanita itu pada akhirnya.
"Kami mohon, tenang Nyonya! Persidangan akan segera dimulai!" tegur seorang panitera kesal. "Bila anda seperti ini terus, jangan salahkan kalau kami akan bersikap tegas!" tambah seorang pria yang duduk di balik meja persidangan.
Dirasa kondisi sudah kondusif, sang panitera memanggil hakim ketua untuk memasuki ruang persidangan. Nampak seorang pria berkisar usia 60 tahun kini duduk di atas kursi kebesarannya. Dia menatap ke seluruh sudut, lalu mengangkat palu dan menetukkannya sebanyak tiga kali.
"Apakah terdakwa sudah siap untuk dihadirkan pada sidang hari ini?" tanya hakim pada penuntut umum.
"Sudah Yang Mulia..." jawab si penuntut umum.
"Kalau begitu... hadirkan terdakwa ke ruang sidang sekarang," titah hakim ketua yang tidak ingin berlama-lama.
Dua petugas keamanan membawa Grace ke dalam ruang sidang dan mempersilakannya untuk berdiri di atas podium khusus terdakwa. Dia berdiri dengan pongah seolah menantang seisi ruangan. Tidak ada gurat ketakutan maupun rasa bersalah di wajahnya.
"Apa anda dalam keadaan sehat dan siap untuk mengikuti persidangan, Nona?" tanya hakim ketua pada terdakwa. Namun Grace tidak menjawab karena perhatiannya malah sibuk memandangi sang dosen. "Sekali lagi saya bertanya, apa anda dalam keadaan sehat dan siap untuk mengikuti persidangan?" ulang sang hakim dengan suara yang meninggi. Grace terhenyak, dia gelagapan lantaran di saat genting seperti ini dia malah asyik dengan pikirannya sendiri.
"Sa-saya sehat dan saya sudah siap mengikuti persidangan!" jawab Grace terbata-bata di awal namun lantang pada akhirnya.
Hakim utama membacakan identitas Grace, dimulai dari nama, usia, alamat tinggal dan pekerjaan. Hawa persidangan mulai panas, di saat panitera mempersilakan saksi untuk memberikan pernyataan. Monic lagi-lagi membuat kegaduhan, dia ingin menyerang Rona saat dia melewati tempat duduk wanita itu.
"Wanita wajah malaikat tapi berhati ibliss!" umpat Monic pada Rona.
Hakim kembali mengetukkan palu dan meminta Monic untuk tenang. "Nyonya... sekali lagi anda membuat keributan, kami tidak akan segan-segan mengeluarkan anda dari ruang persidangan ini!"
__ADS_1
Monic menghempaskan tubuhnya ke atas kursi, matanya tidak lepas dari menyoroti wanita yang yang baru pertama kali dia temui. Sorotannya begitu tajam bagai sorotan seekor serigala pada mangsanya.
"Silakan saksi memberikan keterangan," ucap seorang Hakim pada wanita dewasa yang saat ini berdiri tegap. Sebelum bicara, dia menatap ke seluruh ruangan terlebih dahulu untuk menegarkan dirinya. Nampak di deretan kursi pengunjung, orang-orang tersayangnya memberikan dukungan.
"Waktu itu saya melihat putra saya, Ezio tengah didekap erat oleh orang yang tidak dikenal. Sayang berjalan mengendap-endap sembari mencari sesuatu untuk melumpuhkan si penculik, dan saya menemukan sebilah balok." Rona menjeda ucapannya sejenak untuk menetralkan emosi dan kembali melanjutkan kesaksiannya. "Saat itu anak saya menggigit telinga wanita ini dan berhasil melepaskan diri dari cengkeramannya. Karena kesal tawanannya lolos, wanita ini mengeluarkan senjata api dan diarahkan pada suami saya!" geram Rona.
"Keberatan Yang Mulia, wanita ini berbohong!" Tunjuk Grace murka. "Justru saya menemukan anak itu berkeliaran sendiri tanpa orang dewasa. Saya hanya berniat membantu anak tersebut untuk bertemu orang tuanya. Bukannya berterimakasih, wanita ini malah menghantam kepala saya hingga berdarah-darah!" kelit Grace melimpahkan kesalahan pada Rona.
"Keberatan diterima!" sahut hakim ketua menerima pembelaan Grace pada dirinya.
"What? Ini tidak fair!" protes Rona pada hakim tersebut.
Grace menyeringai menang. Dia tersenyum sinis dan seolah berkata bahwa dia adalah pemenangnya saat ini. Terlebih saat pengacaranya memperlihatkan hasil visum dari dokter, dia begitu yakin kalau dia akan memenangkan persidangan ini dan mampu membalikkan keadaan.
"Wanita ini yang anda antar ke kantor polisi satu minggu yang lalu?" tanya jaksa pembela.
"Benar," jawab pria tersebut lugas.
"Bagaimana keadaan wanita ini ketika anda dan rekan anda mengantarnya ke kantor polisi. Dalam keadaan baik-baik saja atau dengan kondisi luka dalam di kepala?" tanya jaksa pembela lagi.
Tubuh pria tersebut nampak bergetar, dia berulang kali melihat ke arah Edward. Hingga semua orang turut melihat ke arah pria yang duduk menopang kaki di kursi pengunjung sidang.
"Sepertinya anda dalam kondisi tertekan," ujar pria yang berkumis tebal. "Jangan takut untuk berbicara jujur Tuan, anda berada di tempat yang aman. Keselamatan anda sangat terjamin di sini," imbuh pria tersebut seraya memilin pinggiran kumisnya.
__ADS_1
"Ba-baik Tuan," sahut pria yang akan memberi kesaksian. "Sa-saya dan teman saya waktu itu tidak tahu-menahu kejadian sebenarnya seperti apa. Kami hanya mendengar suara teriakan dari area parkir. Dan saat itu Nona Grace sudah dalam keadaan tersungkur," ungkap si petugas keamanan.
"Lalu setelah itu, mereka menyuruh anda dan rekan anda membawa wanita ini, tanpa tahu masalahnya di mana?" Jaksa pembela mendesak pria tersebut. Keringat dingin mulai membasahi pelipis, telapak tangan berubah dingin.
"I-iya... dan Tuan yang tengah duduk di sana memberikan kami sejumlah uang. Dia bilang seret wanita ini ke penjara dengan tuduhan percobaan penculikan dan pembunuhan. Padahal jelas-jelas wanita ini yang menjadi korban. Dan wanita itu si pelaku kejahatan." Tunjuk pria yang bertubuh tambun ke arah Rona menggunakan dagunya.
"Saya sudah selesai Yang Mulia," ucap jaksa pembela.
"Saya keberatan Yang Mulia!" seru jaksa penuntut.
"Keberatan anda ditolak." Hakim mengetuk palu karena suasana sidang kembali riuh. Terdengar helaan dan ungkapan kekecewaan dari pihak keluarga Liam. "Kita istirahat sejenak, lalu dilanjutkan dengan menghadirkan saksi ke tiga," ucap hakim ketua membuat atmosfer semakin memanas.
"Sepertinya akan ada yang menggantikan posisi putriku dipenjara," cibir Monic pada Rona. Rona beringsut dari bangkunya untuk melakukan perlawanan.
"Jangan senang dulu Nyonya... karena ini semua belum berakhir! Saya pastikan, putri kesayangan anda akan mendekam lama di penjara. Dan anda sendiri akan menangis darah meratapi nasib putri semata wayang membusuk di penjara!" geram Rona yang memancing amarah Monic.
"Kamu!" Monic mengarahkan jari telunjuk ke wajah Rona. "Kalau sampai putri saya dipenjara, saya akan mengutukmu dan juga anak yang sedang kamu kandung!" bentak Monic yang dibalas tamparan oleh suaminya.
"Mami... please... jangan menambah masalah lagi! Biarkan hakim yang akan memutuskan bagaimana nasib anak kita nanti." Jourdy menarik paksa lengan Monic untuk menjauh dari Rona. Monic mencampakkan tangan Jourdy lantas mendorong tubuh suaminya itu hingga terjerembab ke atas lantai.
...*****...
...Terimakasih banyak untuk dukungan teman-teman semua. Semoga Novel ini masih bisa dinikmati jalam ceritanya meski babnya sudah menginjak 155 bab 🙏...
__ADS_1