
Senyum merekah berubah kuncup dan layu. Awal pernikahan dilalui dengan malam pertama, menjadi malam yang menyedihkan untuk yang tengah berbahagia.
"Kak Roland, a- aku mau keluar..." rengek Leona mencengkeram kuat pundak suaminya.
"Ayo keluarkan sama-sama sayang!" Roland mempercepat gerakannya. Desahann Leona semakin kencang. Roland mengerang lalu berteriak.
"Rona aku mencintaimu...!" Roland membasahi dinding uterus istrinya dengan cairann cinta. Dia memekikkan nama Rona saat mendapat puncak kenikmatan. Tubuhnya ambruk di atas dada Leona yang turun naik.
"A- aku bukan Kak Rona, Kak... Aku Leona...!" Airmata tak terbendung, berderai menangisi kepahitan yang dia dengar dari mulut suaminya.
Namun, Roland seakan tidak peduli bagaimana perasaan Leona karena menurutnya dengan menikahi Leona sudah lebih dari cukup. Dia langsung memejamkan mata menghindari perdebatan, sedangkan Leona duduk meringkuk menangisi nasib malangnya.
"Bahkan Kak Roland menikahiku karena rasa kasihan, dia mencintai Kak Rona. Pantas saja Kak Roland terus-terusan memperhatikan Kak Rona!" lirih Leona yang terdengar telinga Roland. Akan tetapi, pria itu menulikan indera pendengarannya.
...***...
Pagi ini pengantin baru yang seharusnya bersenang-senang kembali menikmati surga dunia, terbungkam seribu bahasa. Roland yang masa bodoh dan Leona yang menyimpan rasa sakit hati karena laki-laki yang kini menjadi suaminya menyebut nama wanita lain saat bercinta dengannya.
"Ayo kemasi barang-barangmu, kita pulang ke mansion sekarang!" titah Roland garang. Leona menoleh ke arah Roland dengan mata yang menyipit karena menangis semalaman.
"Kenapa ke mansion? Kenapa tidak ke apartemen Kak Roland?" tanya Leona sengau.
"Kita kan, memang akan tinggal di mansion!" Roland merapikan barang-barangnya lalu memasukkan ke dalam koper.
"Aku tidak mau, aku tidak ingin satu atap dengan Kak Rona. Aku cemburu kak!!!" Leona berteriak, Roland mencengkeram leher istrinya.
"Kalau kamu tidak bisa berhenti mengoceh, aku tidak akan segan-segan untuk menghabisimu, gadis manja!" ancam Roland tanpa rasa kasihan. Dia merenggangkan jeratan di leher Leona kemudian melepasnya. "Sekarang kemasi barang-barangmu!"
"Kak Roland jahat!" Leona meraung seraya melungsur dari atas ranjang, merapikan lalu menyusun pakaian-pakaiannya ke dalam koper dengan tangis yang terus saja berderai.
Selama di perjalanan, keduanya seperti orang asing yang tidak saling mengenal. Roland nampak fokus dengan jalanan yang dilalui, sedangkan Leona sekuat tenaga menahan rasa mual karena car parfume yang tidak nyaman di indera penciuman. Keringat dingin menitik di seluruh tubuh, sementara jarak antara hotel dan mansion masih sangatlah jauh.
"Kak... bisa berhenti sebentar?" tanya Leona membekap mulutnya sendiri.
Roland menoleh sekilas. "Ada apa?"
"Aku mau muntah Kak, sudah tidak tahan!" keluh Leona efek morning sick.
__ADS_1
Roland mencebikkan bibirnya kesal lalu menepikan kendaraan. "Ayo turun, jangan sampai kamu muntah di dalam mobil mahalku!" bentak Roland yang menambah rasa perih di hati Leona.
Huek... huek... Leona memuntahkan isi perut yang hanya berisi air putih. Roland cuek saja melihat istrinya tengah kesusahan.
"Ini minumlah...!" Seseorang menyodorkan tumbler berisikan air minum. Leona melirik ke arah pria yang berdiri di samping menggunakan sudut mata.
"Tidak perlu sok baik, Kak!" Leona menepis tangan pria yang berniat peduli padanya. Roland yang tidak terima karena ada yang mengganggu Leona, dia keluar dari dalam mobil dan membentak pria tersebut.
"Jangan dekat-dekat dengan istriku, Feliks!" berang Roland seraya menarik kasar lengan Leona. Menyeretnya untuk kembali ke dalam mobil.
"Leona sedang hamil ... bersikaplah lembut padanya, Roland!" sentak Feliks.
Roland mengacungkan jari tengah kemudian masuk ke dalam mobil. Dia membanting pintu dan melajukan kendaraan dengan kencang.
...***...
"Ezio... di mana kamu sayang...?" Rona mengendap-endap, berpura-pura mencari Ezio yang sembunyi di balik kursi makan.
"Ezio mana ya?"
Ezio terkikik seraya membekap mulutnya sendiri. Dia tidak tahu kalau Rona telah berdiri di belakang punggungnya.
"Ezio sedang bersembunyi!"
"Bersembunyi dari siapa?"
"Bersembunyi dari Mom—" Perkataan Ezio terpotong karena menyadari keberadaan Rona di belakangnya. Dia langsung saja tertawa terbahak-bahak dengan Rona yang tertawa lebar.
"Wah... anak Daddy senang sekali nampaknya, sedang main apa sama Mommy?" Edward mengangkat tubuh Ezio lalu memangkunya.
"Aku main petak umpet sama Mommy, Dad!" jawab Ezio menarik hidung Edward yang mancung. Rona mendekati suaminya, satu kecupan mendarat di pipi Rona. Ezio yang melihat Rona dikecup Daddy Edward, mengerucutkan bibir seraya melipat kedua tangan di atas dada.
"Hm... Mommy punya Ezio, Daddy! No kiss, No kiss!" protes Ezio mengangkat jari telunjuk lalu digoyang-goyangkan.
Rona tertawa renyah. "Kamu lucu sekali sih sayang, tidak seperti Daddymu yang...."
"Yang apa hm...?" sahut Edward menggerak-gerakkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Yang menyebalkan!" bisik Rona di telinga suaminya.
Ezio menoleh ke arah Edward lalu ke arah Rona, dia menepuk keningnya seraya berkata, "Ezio bingung dengan orang dewasa. Benar juga kata oma, enak jadi anak kecil tahunya cuman main dan main...."
Rona menjimpit pipi bulat Ezio. "Bicaramu seperti anak yang sudah besar saja sayang, siapa yang mengajarkan?" tanya Rona menarik-narik pipi Ezio gemas.
"Lepas, Mommy. Pipi Ezio sakit!" protes Ezio karena tingkah ibunya.
"Hahaha... habisnya kamu menggemaskan sih...."
Giliran Edward yang merengut, dengan bibir menguncup. "Ini Daddy jadi nyamuk ya ceritanya? Dicuekin sama Ezio juga sama Mommy?" Edward menggelitik perut Ezio lalu mengilik-ngilik pinggang istrinya. Keluarga kecil itu bahagia dengan canda tawa yang sederhana.
"Wah... senang sekali melihat kalian begitu girang hati!" Roland yang baru saja datang membekukan suasana.
"Hai Kakak ipar, kita bertemu lagi!" sapa Roland pada Rona tanpa malu di hadapan Edward dan Leona. Rona yang tidak ingin menggubris perkataan Roland, dia hendak menarik koper yang dibawa Leona.
"Sini Kakak bantu..." tawar Rona mengulurkan tangan. Namun, Leona menjauhkan barang miliknya.
"Tidak perlu, Leona bisa sendiri!" Leona melewati Rona begitu saja dengan memasang wajah suram. Rona menatap punggung Leona, pikirannya bertanya-tanya akan sikap sang adik ipar' yang tiba-tiba berubah.
Edward menghampiri Rona lalu merengkuh pundaknya. Mengajak istrinya untuk masuk ke dalam kamar bersama Ezio. "Jangan terlalu dipikirkan, Leona pasti sedang kelelahan karena itu mood-nya turun. Ditambah dia sedang hamil muda pasti hormonnya tidak stabil," ujar Edward membesarkan hati istrinya.
Rona mengangguk pelan lalu menyimpulkan senyuman. "Iya sayang, aku mengerti kok. Karena kita sama-sama perempuan. Aku bisa memahami mengapa Leona bisa bersikap seperti tadi," jawab Rona ambigu.
"Ya sudah... Ezio belum mandi kan, sayang? Kita mandikan Ezio dulu ya! Terus...," Edward menggantung ucapannya.
"Terus apa?" sahut Rona menarik handle pintu kamar.
"Terus kita mandi berdua!" jawab Edward yang melingkarkan tangan di pinggang Rona.
Rona menutup mulut Edward menggunakan telapak tangan dengan mata yang membola. "Jaga perkataanmu sayang, ada Ezio yang memperhatikan kita!"
Edward hanya terkekeh melihat wajah kebingungan Ezio yang menyimak obrolan orang tuanya.
...*****...
...Terimakasih atas semua dukungannya. Meski yang memberi komentar semakin berkurang, tidak apa-apa yang terpenting tetap setia membaca novel Dokter Rona and Hot Daddy 🥰...
__ADS_1
...Selamat malam semuanya, have a nice dream....