Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Drop Out!


__ADS_3

Suasana kampus pagi ini hiruk pikuk oleh suara mahasiswa yang berdesak-desakkan di depan papan pengumuman. Teriakan kebahagiaan terdengar silih berganti dengan telunjuk yang menjulur mencari nama di atas kertas tipis berwarna hijau. Namun tidak sedikit yang menelan kekecewaan karena harus mengulang beberapa mata kuliah, salah satunya statistik.


Seorang gadis dengan rok mini dan kaos tanktop berdada rendah yang hampir memperlihatkan semua aset miliknya, kali ini menjadi sorotan tajam orang-orang. Seringai mencemooh menyambut kedatangannya yang menerobos masuk di antara kerumunan. Bola mata besar terbelalak karena namanya tercantum dalam daftar mahasiswa yang di-drop out dari kampus ini.


Wajahnya berubah murka, dengan garang dia menubruk tubuh orang-orang di sekitarnya. Sorak sorai bergemuruh, balasan dari sikap arogan yang diperlihatkan olehnya.


"Grace?" panggil seorang laki-laki yang tidak ingin dia temui.


"Wajahmu kenapa suram seperti itu. Ada masalah?" tanya pria tersebut yang menarik tangan Grace ke samping dinding perpustakaan. Lalu mengungkungnya.


"Lepaskan aku Roy! Sudah berapa kali aku katakan, jangan pernah menampakkan kembali wajah jelekmu di hadapanku!" Grace mendorong dada Roy, pria itu membalas dengan mendorong Grace ka atas dinding.


"Jangan menolakku kalau kamu tidak ingin aku berbuat kasar!" ancam Roy. Dia mengarahkan jari telunjukknya tepat ke arah muka Grace yang pucat.


"Ayolah, Roy... kamu punya Jessi. Sebentar lagi kalian akan menikah. Berhentilah mengusik kehidupanku lagi!" ucap Grace memelas.


Roy mendekatkan wajahnya menyejajarkan bibir warna kehitaman dengan bibir berwarna nude. Tanpa permisi, dia melumatt kasar dan menggigit gemas bibir bawah gadisnya. Grace menendang pusaka milik Roy, laki-laki di hadapannya mengaduh dengan kaki meloncat-loncat.


"Gila kamu Roy, bibirku sakit tahu!" bentak Grace kesal. Grace cepat-cepat pergi meninggalkan Roy, sayangnya tangan Roy lebih dulu menarik rambut panjangnya.


"Mau kemana kamu Grace, kita belum selesai bicara?" Kaki Roy merapat, menutupi selangkangannya yang terasa ngilu. "Aku ingin membuat kesepakatan denganmu, kamu pasti suka!"


Sinyal otak Grace langsung menangkap kesepakatan yang akan menguntungkan dirinya. "Apa itu?"


Roy menyalakan lintingan tembakau, lalu menghisapnya dalam. "Aku tahu, kamu tergila-gila pada sepupuku yang sudah tua itu. Aku bisa membantumu untuk mendapatkannya, asal...."


"Asal apa?" potong Grace antusias.


"Asal kamu menuruti semua permintaanku, dan...."

__ADS_1


"Dan apa?" Grace yang tidak sabar, terus saja memotong pembicaraan.


Seringai licik nampak menakutkan, Grace tidak sanggup menatap lama-lama pria yang selalu menghalalkan segala cara agar keinginannya tercapai.


"Kamu sudah tahu pasti apa keinginanku Grace! Tidak perlu aku jelaskan, harusnya kamu paham." Roy meniup lubang telinga Grace, Grace bergidig. Bulu kuduknya menegak, karena gelenyar yang menggelitik ruang kewanitaannya.


"Tidak masalah, asal aku bisa mendapatkan lelakiku! Kalaupun bukan hatinya, setidaknya tubuhnya bisa aku miliki, aku rasakan." Grace menarik sebatang nikotin yang terselip di antara bibir Roy, lalu turut menyesapnya.


...***...


Sudah hampir dua bulan lamanya tubuh lemah Richard terbaring tak berdaya di atas ranjang pasien. Namun anggota badannya mulai memberikan respons bila ada yang datang menjenguknya. Seperti hari ini saat Rona berinisiatif melihat keadaan mertuanya ke Rumah Sakit.


"Papa... ini Rona, menantu Papa. Papa cepatlah bangun, agar bisa menyaksikan cucu-cucu Papa berkembang dengan sempurna." Rona mengajak Richard berbicara meski tidak ada jawaban maupun sahutan.


"Kenapa cucu-cucu? Itu karena Rona pun saat ini tengah mengandung. Papa bangunlah, cucu-cucu Papa membutuhkan Grandpa-nya."


"Rona sayang Papa. Orang tua Rona berada sangat jauh di seberang samudra. Dan di sini ... hanya Papa yang Rona miliki." Air mata menitik ke atas punggung tangan yang mulai keriput, jemari Richard bergerak, mata Rona membola.


"Pa... Papa bisa mendengar suara Rona, kan?"


Kelopak mata mengerjap lemah, ujung-ujung jari tangan dan kaki turut bergerak. Rona yang lupa kalau dirinya tengah berbadan dua, dia berlari keluar ruangan memanggil dokter dan juga perawat.


"Kenapa Nona anda berteriak-teriak?" tanya William seraya berjalan tergopoh-gopoh.


"Papa saya, Dok. Papa saya...," Rona menunjuk ke arah kamar perawatan. William lantas masuk dan menyiapkan alat yang menggantung di lehernya.


"Kenapa dengan Papamu?" William memeriksa denyut nadi dan jantung Richard. Dia menempelken stetostop ke atas dada pasiennya.


"Tadi jari-jari Papa bergerak, Dok. Sa-saya lihat kelopak matanya juga mengerdip." Rona berdiri bersebrangan dengan William, melihat dengan intens setiap inci tubuh mertuanya. Mencari pergerakan yang tadi dilihatnya.

__ADS_1


William melepas alat yang tertaut di telinganya dan mendesahh pelan. "Mungkin kamu tadi salah lihat, kondisi Richard belum ada peningkatan. Bersabarlah, Nak."


Raut kekecewaan jelas tersirat di paras yang semula penuh harap. William pamit undur diri, Rona duduk melandai di atas kursi.


"Aku tadi tidak salah lihat. Tanganku tadi tidak salah merasakan. Kalau tangan Papa bergerak. Mata Papa juga mengerjap. Rona yakin ini semua bukan ilusi, cepatlah sadar Pa... kami semua merindukan Papa."


Rona menatap benda yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Dia membuang napas, lalu beranjak dari tempatnya. "Pa... maaf ya Rona tidak bisa lama-lama menemani Papa. Karena hari sudah menjelang malam. Oh iya Pa, boleh Rona mencurahkan isi hati Rona? Jujur saja Rona merasa kesepian, karena akhir-akhir ini Edward sangat sibuk. Rona tidak tahu apa yang Edward lakukan di luar sana. Yang Rona tahu dia hanya bekerja sebagai dosen, tapi selalu pulang larut malam."


"Ya sudah ya Pa... Rona pamit pulang. Dua hari lagi Rona mengunjungi Papa. Dan Rona harap, Papa sudah sehat dan bugar." Rona menggantungkan tali tas selempang ke atas bahunya lalu menarik diri dari hadapan sang mertua.


Richard yang sebenarnya sudah sadar dari koma, dia cingak cinguk untuk memastikan kalau menantunya sudah berada jauh dari kamarnya. Dia mengeluarkan ponsel yang disembunyikan di bawah bantal kemudian menelepon sahabatnya. Tidak perlu menunggu lama, Willam datang dengan wajah ditekuk.


"Sampai kapan kamu akan merahasiakannya?" William menarik kursi lalu mendaratkan tubuhnya. Dia meraih pisau dan apel merah, lantas mengupasnya.


"Kalau sudah waktunya, aku pasti akan memberitahu anak menantuku. Tapi untuk saat ini, aku ingin hidup tenang tanpa terbebani masalah rumah tangga salah satu anakku. Aku ingin mereka bertambah dewasa, tanpa kedua orang tua di sisi mereka." Richard melahap sepotong apel yang disodorkan William. Pikirannya menerawang karena perkataan menantunya.


"Kenapa?" William menangkap gelagat tidak menyenangkan di wajah sahabatnya.


Richard memutar wajah lantas membuang napas. "Aku ingin meminta tolong lagi satu hal, kamu bisa menolongku?"


William menarik kedua pundaknya ke atas. "Sure, selama aku bisa, kenapa tidak?"


Kepala Richard yang semula tertunduk kini menoleh ke arah William. "Tolong selidiki putraku, apa yang sedang dia kerjakan dan dia perbuat. Aku mencium aroma yang tidak mengenakkan.


...*****...


...Terimakasih atas dukungan teman-teman semua. Terimakasih karena selalu setia dengan karyaku ini....


...Sehat dan bahagia selalu untuk semua......

__ADS_1


__ADS_2