Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Hampa


__ADS_3

Rona mendorong tubuh Edward, tetapi pria yang tengah mencumbunya semakin beringas. Lidahnya kembali menelusup lalu membelit benda kenyal milik Rona dan menyesapnya kuat-kuat. Suara decakan bersahutan diiringi suara napas yang memburu.


"Jangan membuatku cemburu lagi Rona!"


"Kenapa?" jawab Rona menantang.


"Karena kamu hanya milikku!" geram Edward. Urat-urat di lehernya menegang disertai sorot mematikan.


"Ayolah... bahkan aku bukan siapa-siapa kamu!" sanggah Rona. Dia berusaha menegakkan badan tetapi Edward mendorongnya kembali. Terdengar suara gemeretak dari dalam rahang Edward. Tanpa ampun, pria yang tengah cemburu melumatt habis bibir cherry milik Rona. Tidak ada setitik pun sudut yang tersisa. Tubuhnya semakin merapat, hasrat semakin ingin mengangan bebas.


"Kamu milikku!" bisik Edward. Bibirnya menyentuh leher Rona dan menggigitnya sangat lama, hingga meninggalkan warna merah pekat.


"Malam ini tidurlah di apartemenku, aku merindukanmu!" Sapuan napas Edward terasa kasar di wajah Rona. Dia mengerti kalau lelaki yang tengah memojokkan dirinya menahan gejolak yang teramat hebat.


"Apa kamu tidak meridukanku? Merindukan belaian, sentuhan dan permainan yang selalu membuatmu lupa daratan!" Edward membelai wajah Rona. Jemari menelusup ke dalam tengkuk gadisnya. Lalu membelai punggung Rona dan menurunkan resleting gaun gadis itu.


"A- apa yang kamu lakukan?" Rona tergugup dan merasakan tiupan angin di punggungnya. Tubuhnya meremang karena rasa dingin menyergap.


"Kalau kamu tidak mau ke apartemenku, kita main di sini!" Edward menekan tubuh serta merapatkan dada bidangnya. Sembari tangan mengusap lembut punggung gadisnya.


"Apa kamu sudah gila?" Rona tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Aku memang sudah gila! Kamu yang membuatku gila!" bentak Edward. Tubuh Rona bergetar, ketakutan menyelimuti dirinya.


"Karena itu menikahlah denganku...."


Rona meledek Edward dengan mengulang perkataan lelakinya sembari mencebikkan bibir. "Karena itu menikahlah denganku...."


"Omong kosong! Wanita itu butuh aksi bukan cuman bualan tanpa makna, Tuan Edward Liam!"


"Satu lagi, meski di dunia ini laki-laki yang tersisa cuman kamu seorang, aku tetap tidak mau menikah denganmu!" tolak Rona.


Edward tersenyum kecil lalu menarik handle pintu dan mendorong tubuh Rona hingga terjerembab ke atas Bench Seat. Dia menindih tubuh Rona dan mengucapkan kalimat yang mengejutkan. "Kalau begitu biarkan aku menanam benih di rahimmu lagi, lalu kamu hamil dan pada akhirnya kita menikah!"


"Tidak semudah itu!" sergah Rona.


"Benarkah?" Edward melepas kancing kemeja satu persatu dengan tatapan tak lepas dari manik mata Rona. Tubuh atasnya terekspos dengan sempurna dan Rona menelan saliva. Edward mengulum senyum, melihat eskpresi yang diperlihatkan Rona. Dia menurunkan tubuhnya. Namun, suara seseorang menghancurkan gelora yang ada di dalam dada.

__ADS_1


"Bos... kasihanilah pria tuna asmara ini!" ucap Feliks yang duduk di kursi kemudi. Edward terkejut lalu menarik jas yang dia tautkan di atas headrest dan menjadikannya selimut.


"Ish... aku lupa kalau ada buaya putih!" sahut Edward. "Ka-kamu tidak melihat tubuh Rona kan?"


"Sedikit... mulus ya Bos!" lontar Feliks. Edward mencekik Feliks sekilas karena kesal.


"Yah Bos, bercandanya tidak lucu!" seloroh Feliks sambil terbatuk-batuk.


"Tidak usah banyak bicara, ayo jalan!"


...***...


Tiga minggu berlalu...


Selepas malam itu, Edward tidak pernah menampakkan lagi wajahnya di hadapan Rona. Kejutan-kejutan yang dia berikan, tidak lagi menghiasi meja kerja Rona. Semua tiba-tiba terasa hampa seperti ada sesuatu yang hilang.


Rona menutupi isi hati dengan wajah ceria. Padahal dia sangat merindukan pujaan hatinya. Rona selalu bersemangat bertugas. Namun, sekalipun dia tidak bertemu dengan lelakinya.


Hari demi hari, kerinduan semakin menyiksa. Menguliti hati yang tak pernah berdusta. Dia sangat merindukan lelakinya. Rasa kehilangan perlahan menelisik ke dalam jiwa.


"Kok bengong, Dok?" tegur Gisella. Rona mengacuhkan asistennya dan asyik masyuk menatap bunga edelweis pemberian Edward yang sempat dia buang. Tangannya menopang wajah dengan pikiran terbang melayang.


"Dokter Rona...!" pekik Gisella. Rona terkejut dengan memangil nama lelakinya.


"Iya Edward, aku juga merindukanmu!"


"Ah astaga... Gisella ma-maaf aku sedang tidak konsen!" terang Rona.


Sang asisten menahan senyum, dia mengerti kalau dokternya tengah merindukan duda tampan yang membopong dirinya tempo lalu.


Hanya wajah-wajah polos dengan senyum tulus yang bisa menghiasi hari-hari Rona yang terasa tawar. Harus dia akui kalau kerinduan semakin membuncah, mestinya dia sadari bahwa rasa cinta bukan untuk dilawan ataupun dihindari.


Setiap sepulang dari Rumah Sakit, Rona selalu menyempatkan diri mendatangi apartemen Edward. Menatap dan menanti dari kejauhan. Namun, pria yang selalu dia harap kehadirannya, tidak pernah terlihat. Rona kecewa dan merutuki diri karena menolak keinginan Edward untuk menikahinya. Dia hanya ingin lelaki itu memperlihatkan keseriusan bukan birahi berkepanjangan.


Sepi, kosong hidup bagai tak bergairah. Begitulah raga yang dirundung patah hati. Makan tak sedap, tidur pun tak enak. Hidup segan mati pun tak mau, terombang-ambing oleh perasaan yang tak menentu.


"Ah... Edward kenapa kamu menjauh?"

__ADS_1


Hati yang gundah gulana tetiba berbunga karena sosok yang dia rindukan nampak di depan mata. Edward berjalan ke arahnya dengan tegap dan penuh wibawa, diikuti Feliks yang berjalan di belakang. Rona hendak menyambut kekasih hati dengan perasaan bahagia. Namun, pria di hadapannya hanya melewati dirinya tanpa menoleh sedikit pun.


Rona memutar kepala menatap punggung Edward yang berlalu begitu saja dan mengacuhkannya. Hatinya terluka, tetapi dia sendiri bingung terluka karena apa.


"Maaf Rona aku lelah, aku memilih mundur dari memperjuangkanmu. Menyakitkan rasanya bila perasaan kita tak berbalas. Cintaku hanya bertepuk sebelah tangan. Aku bertepuk dan kamu berpaling."


...***...


"Dokter Rona..." panggil seorang anak kecil. Dia berlarian menghampiri Rona seraya menyebut namanya. Rona membalikkan badan, terlihat Ezio tengah menarik langkah cepat ke arahnya.


"Ezio..." balas Rona sembari melandaikan tubuh. Kini posisinya sejajar dengan tinggi badan anak laki-laki yang mengecup pipi kiri.


"Ezio rindu Dokter cantik..."


"Dokter juga rindu Ezio, sudah lama ya Ezio tidak mengunjungi Dokter...?" Rona membelai puncak kepala Ezio sembari menoleh ke kanan dan ke kiri. "Oma mana, sayang?"


Seorang pria dewasa berjalan ke arahnya dengan tatapan datar, raut dingin, rahang tegas menyiratkan kekakuan. Sementara Rona, dia harus sekuat hati melerai detak jantung yang kian berpacu. Berusaha bersikap normal, tidak terbawa perasaan.


"Aku sama Daddy...."


"Daddy?" tanya Rona penasaran.


"Iya, Dokter cantik. Itu Daddy-ku," ungkap Ezio seraya mengarahkan jari telunjuk. Dia menarik lengan Rona dan membawanya mendekati Edward. Gadis itu salah tingkah, tetapi Edward bersikap seolah tidak mengenalinya.


"Ini Dokter cantik yang sering aku ceritakan, Daddy ... gimana cantik, kan?" tanya Ezio berbinar.


"Tidak ah, biasa saja..." jawab Edward sinis. "Ayo sayang, kita ke sana saja. Jangan bicara dengan orang asing...."


...Benarkah Edward menyerah? Kita tunggu episode selanjutnya......


...*****...


...Terimakasih untuk semuanya, pencet tanda love. Pencet like, tinggalkan comment, rate bintang 5 dan vote....


...Selamat Beraktifitas......


...Mampir juga ke karya temanku,...

__ADS_1



__ADS_2