Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Candle Dinner


__ADS_3

Rona menggeliat, lalu menatap langit yang terbias warna keemasan. Senyumnya tersimpul, saat menolehkan kepala, seorang pria memeluk tubuhnya erat.


Hingga detik ini baginya masih sebuah mimpi akan menikah secepat ini. Pernikahan yang dipenuhi kebahagiaan. Namun, sebenarnya tak sempurna untuknya.


Dia meraih ponsel dari atas nakas, lalu membuka gallery. Wajahnya mendadak mendung, memandangi potret kedua orangtuanya. "Maafkan Rona pa... ma... bahkan di hari penting seperti ini, Rona tidak mengabari kalian."


Ranjang bergoyang tipis, Edward merenggangkan tangannya. Senyum terulas menatap bibir mungil yang sedikit bengkak.


"Ke- kenapa kamu melihatku seperti itu, Edward?" tanya Rona panik. Dia menggeserkan tubuhnya, tetapi Edward mencengkeram kuat.


"Lagi...."


"La- lagi?" ulang Rona. "Aku lelah Edward, bahkan dari pagi belum sempat mandi."


Edward terkekeh, "Aku hanya bercanda sayang, aku juga bukan robot yang tidak punya rasa lelah."


"Lagi lihatin apa sih, kok serius sekali?" Edward menegakkan tubuhnya dan melirikkan mata ke arah benda yang Rona genggam.


Rona menyodorkan ponsel di tangannya lalu memperlihatkan gambar dua orang yang dia sayangi. "Aku rindu mereka...."


Edward menarik kepala Rona ke pundaknya lalu memiringkan kepalanya sendiri. "Kalau urusan-urusan pentingku sudah selesai, kita temui mereka."


"Benarkah?" tanya Rona antusias. Dia beringsut, meluruskan tubuhnya. Mata berbinar bagai kejora di waktu fajar.


"Kamu meragukanku, honey?" Edward merangkum wajah istrinya. Garis muka membayang di dalam netra cokelat yang jernih.


Rona menggeleng. "Tentu tidak ... karena mulai saat ini aku harus belajar mempercayaimu sepenuhnya."


Bola mata Edward bergerak-gerak, dia mengusap puncak kepala Rona dengan menarik tipis bibirnya. "Bersihkan tubuhmu, aku sudah mempersiapkan makan malam pertama kita...."


...***...


Bulir kesedihan musnah, tetesan lara hilang. Berganti suka dan bahagia. Dua raga yang sempat membenci, kini hanya ada rasa cinta. Cinta yang datang secepat cahaya, sekilat angin. Semakin kuat dan bertambah rekat.


"Edward, kamu mau membawaku ke mana?" Rona meraba-rabakan tangannya. Namun, tidak mendapati apa pun.


"Sabar, sebentar lagi kita sampai..." ucap Edward yang menutup mata Rona menggunakan telapak tangan. Dia menuntun istrinya hingga tempat yang dituju.


"Kita sampai...!" Edward melepaskan tangannya. "Dalam hitungan tiga buka matamu perlahan," titah Edward yang dibalas anggukan.

__ADS_1


"Satu...."


"Dua...."


"Tiga...."


Rona membuka mata sedikit demi sedikit, telapak tangannya sontak menutupi mulut yang menganga dengan bola mata bercahaya.


"Waw... candle dinner? Ah... ini sungguh manis, Edward." Rona menatap Edward lalu melihat meja yang ditata begitu sempurna secara bergantian. Tangannya menekan dada dengan lembut merasakan debarannya sendiri.


"Silakan duduk my wife...," Edward menarik kursi untuk sang istri lalu mengecup pucuk kepala. Bibirnya bergetar dengan mata yang terpejam.


"Terima kasih, my husband..." balas Rona lembut.


Edward berjalan lalu mendaratkan tubuhnya di kursi yang berhadap-hadapan. Beberapa pria datang membawa alat musik di tangan bersamaan dengan dua orang waiter yang siap melayani.


Malah syahdu semakin syahdu, diiringi alunan musik merdu. Dua netra bersitatap, saling beradu pandang. Berbicara dari mata ke mata, mengutarakan apa yang ada di dalam hati.


...***...


Seorang gadis yang tengah dirundung pilu, mengerjapkan mata menatap ke sekeliling. Dia memegangi kepala yang terasa pening. Tubuhnya sangat lemas dengan kerongkongan yang terasa kering. Sudah enam jam dia terlelap, hanya tarikan napas yang mengatakan kalau si pemiliknya masih bernyawa.


Feliks menggosok-gosok matanya, wajahnya sumringah mendapati Leona yang sudah sadarkan diri. "Syukurlah, kamu sudah siuman Leona. Aku sangat khawatir...."


Leona tersenyum tipis, lalu menatap langit-langit kamar. "Kak Feliks untuk apa di sini? Leona tidak ingin dikasihani. Sebaiknya Kak Feliks pulang saja. Leona tidak ingin melihat wajah laki-laki yang sudah menyakiti hati Leona."


"Nah kan, benar apa yang saya pikirkan. Leona seperti ini gara-gara kamu!" sentak Amber yang tiba-tiba datang dari balik punggung Feliks. "Kamu tahu kan di mana pintu keluarnya, silakan angkat kaki tanpa harus saya usir!"


Feliks menarik langkah keluar dari kamar Leona, kepalanya sesekali menoleh. Namun, Leona memalingkan muka. Dia bingung berada dalam situasi yang tidak dia mengerti. Kondisi yang membuatnya serba salah dan merasa bersalah.


Lamunan Feliks terburai karena ponsel di saku celana bergetar.


Feliks


Hallo, ada apa?


xxx


Lapor Bos kami sudah mengantongi identitas pelaku yang menyerang Bos Edward!

__ADS_1


Feliks


Bagus, kapan kalian akan membawa mereka ke hadapanku?


xxx


Segera!


...***...


"Berhenti menatapku seperti itu Rona..." ketus Edward. Dia berusaha menahan hasrat yang mulai naik karena Rona terus saja menggodanya dengan tatapan nakal sembari menyapukan lidah ke atas bibir.


Seorang waiter menuangkan wine ke gelas milik Rona, tanpa sadar dia meminumnya dalam sekali tegukan.


"Wine?" tanya Rona pada waiter. Dia menautkan dua alisnya dengan pandangan yang tidak suka.


Rona tiba-tiba gelisah, tubuhnya bergerak-gerak. Dia mengusap bibirnya berkali-kali merasakan kerongkongan yang kering dan panas.


"E- Edward ada apa denganku?" Rona merasakan panas di sekujur tubuhnya. Edward menyeringai, mengulum senyuman.


"Ah... Edward aku kepanasan. Ayo kembali ke kamar!" Rona mengibas-ngibaskan tangannya ke arah leher dan dada. Edward mengangkat tubuh Rona ala bridal style. Rona melingkarkan tangannya dengan menahan aliran tak biasa di dalam tubuh.


Edward membuka pintu kamar lalu menutupnya kembali menggunakan kaki. Rona yang sudah tidak tahan, dia meminta untuk diturunkan.


"Ah... panas Edward..." teriak Rona. "Bantu aku sayang!" Rona melucuti pakaiannya lalu mengejar Edward yang berjalan mundur seraya melepas kancing kemeja. Melihat tubuh indah sang suami, Rona semakin kelojotan.


"Kemari sayang, puaskan aku..." goda Edward. Dia tersenyum licik melihat istrinya tersiksa karena obat yang sudah dicampurkan ke dalam minuman.


Seolah tertantang Rona berlari lalu menubruk tubuh Edward. Dia merangkak kemudian melumatt bibir Edward dengan ganas. Tangannya sigap melepaskan kemeja dari tubuh atletis dan membelai lembut dada pria yang membuat Si pemiliknya mendesahh.


Rona mengakhiri lumatannya, bibirnya beralih ke leher sang suami. Mengecup, menyesap dan menggigit. Edward menikmati setiap sentuhan yang diberikan istrinya. Semakin lama Rona tidak bisa mengendalikan diri. Dia sadar ada sesuatu yang berbeda di dalam tubuh. Namun, tidak bisa dia lawan.


Bibir mungil dengan lidah tipis menggelitik dada bidang dan perut kotak-kotak. Tangannya menjelajah ke seluruh tubuh sang suami. Jemari lentik mulai menurunkan tautan celana panjang. Rona menarik penutup tubuh bawah lelakinya. Napas Edward mulai tak beraturan, dia tahu pasti apa yang akan istrinya lakukan setelah ini.


...*****...


...Masih hawa pengantin baru ya, mohon maaf kalau masih disisipi adegan yang membuat hareudang....


...Selamat siang dan selamat beraktifitas....

__ADS_1


__ADS_2