
...Malam yang sepi tak urung terikat waktu. Langit yang hitam, tak sehitam batu arang. Karena masih menyimpan indah di akhirnya. Keindahan senja yang terpancar meski hanya sebatas lamunan, namun mampu mengikis galau di hati. Kurelakan senja tinggalkanku, karena malam pun akan datang untuk menepati janjinya....
...*****...
Saat minda lelah dan tubuh pun melemah, hanya sentuhan yang terkasih menjadi sumber kekuatan. Sejahat-jahatnya manusia, sekasar apapun mereka bila cinta sudah menyapa akan melunak dengan sendirinya.
"Aku merindukanmu sayang...," Edward menyisipkan jemarinya ke dalam rambut Rona, lalu menarik tengkuk leher. Kepalanya memiring satu kecupan lembut mendarat di atas bibir sang istri.
"Ehm..." deham Roland.
"Uhuk... uhuk... uhuk...!" Leona berpura-pura terbatuk.
Edward mengacuhkan suara-suara bising yang mengganggu suasana. Bibirnya terus mengitari bagian wajah istrinya yang nampak sensual. Ciumannya semakin dalam dan menuntut lebih.
"Kak... ayolah kasihani kami," rengek Leona tanpa berkedip menyaksikan pemandangan yang membuatnya iri.
"Kenapa mesti meminta belas kasihan, bukankah kita juga bisa melakukannya bahkan lebih panas hm?" sahut Roland yang menjimpit dagu istrinya.
Leona tersipu lalu memalingkan wajahnya, senyuman tersimpul dari bibir Roland. Dia menarik dagu Leona lantas mengatup bibir yang sedari tadi memanggil ingin dihangatkan. Dua pasang pengantin, saling mencurahkan apa yang tersirat di hati dengan cumbuan.
"Kita ke kamar yuk," ajak Roland dengan tatapan mendamba. Leona mengiyakan ajakan suaminya dengan mengerjapkan kedua mata seraya mengalungkan tangannya ke leher Roland. Tangan kekar dengan urat yang tegas, mengangkat tubuh ringan Leona menuju kamar. Menciptakan cinta dengan bercinta hingga tidak ada lagi bayangan wanita lain yang mengusik keharmonisan.
Sementara itu, Edward dan Rona melepas pagutan karena Rona tiba-tiba merasa mual. Dia berlari ke arah dapur, dan menumpahkan semua makanan yang sudah dia telan.
"Kamu sering sekali muntah-muntah kalau malam hari. Besok kita ke dokter saja ya atau aku panggilkan dokter keluarga sekarang?" tanya Edward yang merasa khawatir akan kondisi istrinya.
Lagi-lagi Rona menolak ajakan suaminya. Dia mendekap tubuh Edward lalu menyandarkan kepalanya.
"Aku ingin tidur, aku hanya butuh istirahat." Alasan klasik yang selalu Rona ucapkan. Edward tidak bisa melawan keinginan istrinya. Dia hanya bisa pasrah dengan menyimpan kegusaran.
"Baiklah, aku papah kamu ke kamar. Tapi kalau besok-besok masih seperti ini, kamu harus mau aku bawa ke Rumah Sakit!" ujar Edward tegas.
"Iya-iya, cerewet!" sungut Rona yang kesal mendengar ocehan suaminya. Edward menanggapi dengan santai ucapan istrinya, kemudian mengangkat tubuh Rona seperti biasa.
__ADS_1
Di dalam kamar
"Tidurlah...," Edward mengecup kening Rona. "Aku masih banyak pekerjaan." Edward membalikkan badan menuju ruang kerjanya, akan tetapi tangan dingin Rona menahannya
"Temani aku," rengek Rona manja. "Tidur di sini." Rona menepuk-nepuk bagian ranjang yang kosong. Edward mendengus pelan dan memutar badannya kembali lalu merebahkan tubuhnya di samping sang istri.
Rona melingkarkan tangannya ke pinggang Edward dengan membenamkan kepala ke dalam rengkuhan. "Jangan pergi, temani aku...."
Edward mengeratkan pelukannya dan menghujani pucuk kepala Rona dengan ciuman. "Tidurlah, aku di sini menemanimu...."
Kedua kelopak mata mulai terkulai karena sentuhan lembut yang diberikan Edward di atas kepala. Seiring waktu, Edward pun turut memejamkan matanya.
Saat tengah malam, Edward terbangun bermaksud untuk melanjutkan pekerjaannya. Akan tetapi lampu kamar seluruhnya padam. Dia meraba-raba ke arah samping, tidak menemukan keberadaan Rona. Edward sangat panik, dia bangkit sembari berteriak memanggil nama istrinya. Tangannya mencari saklar lampu, kemudian memencetnya. Lampu kamar kembali menyala.
Edward mengerdipkan matanya karena cahaya lampu kristal yang berkilauan. Tangannya menggosok-gosok matanya yang pedih lalu mengadaptasikan penglihatan. Nampak seorang bibidari tersenyum sumringah kepadanya.
"Happy birthday... happy birthday. Happy birthday, My Husband...!" Rona menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk suaminya dengan mata berkaca-kaca. Demikian juga Edward, pupil matanya berair karena rasa haru yang sulit diungkapkan.
"Selamat ulang tahun suamiku." Rona mengecup bibir Edward sekilas. "Ayo make a wish!" Rona menyodorkan kue tar dengan lilin kecil yang mengelilinya.
"Sudah...!" seru Edward. Dia meniup semua lilin yang menyala hingga tak bersisa. Kemudian mengecup pipi istrinya. "Terimakasih sayang...."
"Terimakasih juga sayang, karena kamu sudah menjadi laki-laki yang sangat... luar biasa." Rona menempelkan telapak tangan di pipi Edward, menatap penuh cinta. "I love you, My husband...."
"I love you too, My wife. Hadiahnya mana?" Edward menengadahkan telapak tangan, dengan bibir yang dilipat.
"Ada... ayo tutup matamu!" titah Rona yang sudah menyiapkan kejutan besar untuk suaminya. Edward merapatkan kedua mata menunggu hadiah apa yang akan diberikan istrinya.
"Wait... wait...!" Edward membuka matanya lagi. "Aku punya satu permintaan." Tersungging raut licik dari wajah Edward.
"Apa itu, sayang? Aku pasti akan mengabulkannya, karena hari ini hari spesialmu...."
Edward mencondongkan kepalanya lalu berbisik, "Aku ingin ... kita gempur sampai pagi."
__ADS_1
Rona terbelalak kemudian menelan salivanya. Dia melirik ke arah Edward yang terkekeh dengan tatapan menelanjangi. "Ta-tapi... bagaimana bisa?"
Edward menempelkan jari telunjuk di atas bibir Rona. "Stttt... tidak ada kata tapi. Kamu hanya cukup terlentang dan aku yang bermain."
Rona menepuk keningnya dengan hembusan napas berat. "Oke-oke... berbuatlah sesuka hatimu!"
Edward kembali terkekeh dan menggerak-gerakkan alisnya ke atas. "Mana hadiah yang mau kamu tunjukan? Aku sudah siap!" Edward memejamkan mata tanpa diminta.
"Iya sayang... dalam hitungan tiga, buka mata kamu!"
"Satu...."
"Dua...."
"Tiga...."
Pria yang tidak menyangka bahwa hadiah yang diberikan istrinya adalah permohonan pada Tuhan yang diucapkannya tadi, hanya membatu menatap benda pipih dengan dua garis horizontal berwarna biru. Bibirnya mendadak kelu, matanya berkabut karena rasa bahagia.
"Benarkah ini sayang?" tanya Edward yang belum percaya akan apa yang dia lihat.
Rona menganggukan kepala lalu memperlihatkan hasil pemeriksaan dari dokter kandungan. "Iya sayang... aku hamil. Kita akan memiliki anak kedua," ucap Rona semangat.
Edward berteriak kencang meluapkan deru bahagia di dalam dada. Dia memeluk erat sang istri dengan ucapan terimakasih tiada henti.
"Terimakasih sayang... terimakasih." Edward menciumi setiap inci wajah Rona tanpa tersisa. Lantas mendekap istrinya kembali seolah tidak ingin berada jauh.
"Sekarang kita tidur saja, bercinta masih banyak waktu. Kesehatanmu dan kesehatan anak kita, itu jauh lebih penting." Edward mengecup perut Rona dan mengajaknya berbicara.
"Hai sayang... ini Daddy. Sehat-sehat di dalam perut Mommy ya... Daddy sayang kamu dan juga Mommy," ucap Edward sembari mengelus-elus perut istrinya.
Malam panjang yang sudah dibayangkan, terpaksa harus direlakan demi sang istri dan janin yang sedang tumbuh di dalam rahim. Kesehatan Rona dan kesehatan bayinya menjadi prioritas utama saat ini. Tidak ada lagi kebahagiaan yang diinginkan, karena ia sudah merasa sangat sempurna.
...*****...
__ADS_1
...Terimakasih banyak untuk dukungan teman-teman semua. Sehat selalu ya... 🙏...