Dokter Rona And Hot Daddy

Dokter Rona And Hot Daddy
Perjuangan Edward


__ADS_3

Dirasa sudah cukup aman, Rona mulai melonggarkan kecepatan mobil dan melaju dalam batas normal. Dia bisa menarik napas dengan lega namun tiba-tiba sebuah mobil menghadang di depannya, dia menginjak pedal rem kuat-kuat hingga ban mobil berbunyi memekikkan telinga. Kendaraannya berhenti tepat di depan mobil Edward. Rona menundukan kepala disertai detak jantung yang sangat kencang.


"Rona... Rona..." panggil Edward seraya mengetuk-ngetuk jendela mobil.


"Rona...!" panggilnya lagi dengan perasaan khawatir karena Rona masih saja menundukkan kepala. Edward terus berteriak memanggil nama wanitanya.


Rona menarik kepala lalu menyandarkan ke headrest mobil, matanya terpejam dengan denyut jantung yang masih berderap cepat. Dia menolehkan kepala sepintas lalu kembali menutup matanya. Edward terus saja berteriak dan bertingkah seperti orang gila karena rasa waswas melihat Rona yang terus berdiam diri.


Selang sepuluh menit, Rona membuka kunci mobil, Edward langsung menarik handle pintu. Rona keluar dari kendaraan dengan lunglai dan terus memegangi jantungnya.


"Apa kamu sudah gila, hah?" teriak Rona. "Apa kamu ingin aku mati brengsekk?!" Rona berteriak meluapkan kekesalan. Dia tidak tahan untuk tidak berkata kasar karena saat ini benar-benar berada dalam kondisi yang sangat tertekan.


"Ma-maaf, aku tidak bermaksud—"


"Maaf dan maaf terus, aku sudah muak!" potong Rona dengan suara naik satu oktaf.


"Dengarkan penjelasanku dulu..." pinta Edward. Dia menarik lembut lengan Rona. Namun, gadis itu menepisnya.


"Penjelasan apa lagi hah? Aku lelah Edward, sikapmu selalu berubah-ubah!" Rona mulai terisak dan tubuhnya bergetar hebat. Edward mencoba mendekat untuk menenangkan gadisnya. Namun, penolakan yang dia dapatkan. Rona menahan tubuh lelakinya menggunakan kedua tangan lalu menghenyakkan dengan kasar. Edward menarik tangan Rona dan membawanya ke dalam pelukan, tetapi sebuah tamparan membuat pipinya terasa panas.


"Lepas! Biarkan aku hidup dengan tenang. Aku ingin bebas dari pria bajingan sepertimu Edward! Rona memutar tubuhnya hendak kembali ke dalam mobil, akan tetapi suara bariton menghentikan langkahnya.


"Apa kamu lupa dengan perjanjian kita? Kamu sudah menyetujui selama satu tahun untuk menjadi wanita simpanan. Atau kamu mau video itu aku sebarkan?" Edward memberi ancaman, berharap gadis itu kembali luluh. Namun, pemikirannya salah besar.


"Terserah! Aku sudah menyerah, aku benar-benar lelah. Kalau kamu mau menyebarkan video itu, aku sungguh tidak peduli. Lagi pula hidupku sudah hancur, sangat hancur!!!" Rona meraung-raung tanpa memberi Edward kesempatan untuk membela diri.


Gadis yang tengah dilanda kekalutan, dia kembali ke dalam mobil dan menghidupkan mesinnya. Terlihat Edward menghalangi jalan dengan merentangkan kedua tangan. Rona yang kesal, dia menekan klakson berulang kali. Namun, Edward tetap tidak mau menyingkir. Rona menarik tuas, lalu memundurkan mobilnya untuk memberi jarak. Dia berhasil melewati Edward yang berdiri menegang.


Pria yang tengah dirundung rasa panik berteriak sekuat tenaga, lalu menendang ban mobil miliknya melampiaskan amarah. Dia mengusap wajahnya kasar dengan punggung melandai bersandar ke badan mobil.


"Maaf Rona kalau sikapku menyakitimu. Aku tadi diam, bukan tidak ingin membela. Tapi aku hanya ingin memancing keberanianmu, agar siapa pun tahu kamu bukan gadis yang mudah ditindas."

__ADS_1


...***...


Malam yang dingin terasa semakin dingin. Kehangatan tubuh seseorang tak lagi dia dapatkan. Dia yang tengah gusar hanya berguling-guling di atas ranjang, merindukan sentuhan sang kekasih di raganya.


Dia menarik rambut frustrasi, lalu melihat jam weker sudah menginjak pukul tiga pagi. Namun, matanya tidak ingin mengerjap seakan ada yang mengganjal sepasang palpebra.


"Ah... aku membutuhkanmu, Rona!" gumam Edward. Dia melirik ponsel yang sejak tadi sepi lalu meraihnya. Jarinya berkelana mencari nama seseorang yang tengah dia rindukan, tetapi nomor kontaknya sudah lebih dulu di-block.


"Ah... semarahnya itu kamu!" Pada akhirnya Edward hanya bisa menatap wajah Rona dari gambar yang dia ambil secara diam-diam. Dia tersenyum seraya membelai layar ponsel lalu memperbesar gambar. Dia menatap foto Rona dan menciuminya. Membayangkan wanita itu sedang bersamanya saat ini.


Sementara di sudut lain, seorang gadis tak kalah gelisahnya. Dia merasa seperti ada sesuatu yang hilang. Tangan yang selalu melingkar di pinggang dan tubuh kokoh yang menghangatkan tubuh, saat ini hanya bisa dibayangkan. Kerinduan membuncah seiring rasa benci yang mulai bersemi kembali.


...***...


"Selamat pagi, Dok..." sapa semua orang. Rona berjalan dengan wajah sumringah dan penuh semangat. Dia masuk ke dalam ruangan dan mendapati sebuah kotak berisi makanan beserta beberapa tangkai bunga edelweis. Seperti biasa ada kartu ucapan yang terselip di sela-sela helai bunga.


My lovely cat, pagi ini aku menyiapkan sarapan khusus untukmu, tolong habiskan...


Rona yang membaca untaian kalimat di dalam kartu, menjulurkan lidahnya seperti hendak muntah. Dia meremas benda berukuran 7x10 cm tersebut lalu membuangnya ke dalam keranjang sampah. Begitu pun juga dengan bunga abadi, nasibnya tidak berbeda. Rona melemparnya ke wadah yang tersimpan di pinggir lemari besi. "iyyyuh... alay!!!"


"Gisella!" panggil Rona pada asistennya.


"Dokter memanggil saya?" tanya Gisella.


"Iya, ini buat kamu." Rona menyodorkan kotak yang berisi makanan dan Gisella dengan senang hati menerimanya.


"Terimakasih, Dok. Kebetulan sekali saya belum sarapan," tutur Gisella yang langsung berjalan mundur kembali ke tempatnya. Dia lalu menikmati sarapan gratis yang dibuat penuh cinta.


Sementara pria di balik layar monitor, harus menelan kekecewaan karena pemberiannya ditolak mentah-mentah. Dia mendenguskan napas lalu menaruh kedua tangan di belakang kepala dengan wajah mendongak ke langit-langit ruangan.


"Haish... susahnya kalau perempuan sudah marah. Kucing manis pun sekarang berubah kembali menjadi kucing liar!"

__ADS_1


"Tapi aku tidak akan menyerah, sampai mendapatkanmu kembali, dokter Rona!"


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Rasa letih mulai terasa dan rasa kantuk menyergap. Selepas pasien terakhirnya ditangani, Rona tertidur di atas kursi dengan kepala menunduk di atas meja. Dia menggunakan lengannya sebagai tumpuan.


Edward menyilangkan tas selempang milik Rona ke pundaknya, lalu mengangkat tubuh gadis itu dan membopongnya keluar ruangan. Orang-orang di sekitar yang melihatnya sontak terbelalak. Melihat pria tampan yang mereka incar tengah membawa seorang gadis dalam dekapan. Seperti pada umumnya, bisikan-bisikan sumbang mulai keluar dari mulut-mulut pemakan bangkai saudaranya.


"Ada hubungan apa ya duda keren itu sama dokter Rona?"


"Yah, aku patah hati ... Mr. Edward ternyata menyukai dokter Rona."


"Aku iri sama dokter Rona."


"Dokter Rona pintar ya, menggaet duda tampan karya raya. Bahkan kekayaan orang tuanya tidak akan habis tujuh turunan."


Begitulah manusia, selalu mudah mengeluarkan kata-kata yang sebenarnya dia sendiri tidak tahu. Hanya pintar menyimpulkan dari apa yang dia lihat.


...*******...


...Terimakasih banyak yang sudah setia dengan karyaku ini, semoga terus setia ya. hihihi...


...Jangan lupa untuk tap gambar hati...


...Klik Like...


...Tinggalkan comment...


...Klik vote...


...Beri rating 5 bintang...


...Selamat tahun baru semoga semua harapan terkabul...

__ADS_1


__ADS_2